
( REVISI )
"Ayo berangkat" ucap Liam. Tangannya meraih kunci mobil yang tergeletak di atas nakas laci kamar itu.
Lesya pun masih berada di kamar itu. Ia sedang merapikan rambutnya kembali karena acak-acakan akibat aksi tak terduga dari Liam beberapa menit yang lalu di atas ranjang kamar itu. Mengikat rambutnya dengan gaya kuncir kuda seperti sebelumnya dan merapikan baju kemejanya.
"Cepat sedikit" ucap Liam lagi. Karena melihat si wanitanya masih sibuk di depan cermin meja riasnya.
"Pergi saja duluan. Saya akan berangkat sendiri naik taxi saja" jawab Lesya dengan sedikit jutek sambil terus menatap dirinya sendiri di pantulan cermin.
"Aku tunggu di bawah. Kalau sampai 5 detik nanti kau belum turun ke bawah, berarti kau sudah siap menerima hukuman. Dan aku tak akan meberimu ampun lagi seperti tadi" ancam Liam dengan suara datar. Lalu menenteng tas kerjanya dan berjalan keluar dari kamar.
Lesya lagi-lagi di bikin merinding mendengar ancaman Liam. Tubuhnya menegang mengingat pergulatan panas di bibirnya beberapa menit yang lalu.
"Stop Lesya, stop... Itu benar-benar hal tergila yang pernah ku lakukan. Tapi kenapa hal itu terus saja berputar di kepalaku. Tak patut sekali kau ingat Lesya... Huuuh" Lesya bergumam dengan dirinya sendiri.
Cletaak.... "Ck.. Mana bisa aku satu mobil dengannya setelah apa yang dia lakukan padaku tadi" Lesya membanting tutup botol parfum pelan dan bergumam sendirian.
Lalu dia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia memutar bola matanya jengah setelah melihat jam di tangannya karena teringat akan ancaman waktu 5 detik yang Liam katakan tadi.
Dia melangkahkan kakinya dengan langkah malas menuruni anak tangga rumah itu. Pandangannya mengitari seluruh ruangan lantai bawah yang dapat di jangkau pandangannya dari atas tangga.
"Kenapa sepi sekali ??... Kemana mama ??... Apa mereka sudah selesai sarapan !!.. Tapi kemana mama yah ??... Aku perlu berpamitan dengan beliau" kata Lesya berbicara sendiri.
"Mah... Mamah..." Sedikit berteriak memanggil mama Lia. Kali saja mama Lia ada di sekitar ruangan di lantai bawah itu.
Namun nihil... Tak ada suara yang menyahuti Lesya saat ini.
"Mungkin mamah sedang keluar" gumam Lesya lagi. Lalu dia keluar dari rumah itu.
"Assalamualaikum... Waalaikumsalam..." Ucap salam Lesya dan dia jawab sendiri karena di rasa tak ada orang lain di rumah.
Liam masih menunggu di dalam mobil miliknya. Matanya terus menatap Lesya yang mulai berjalan mendekati mobilnya. Tapi Liam mulai mengerutkan keningnya ketika Lesya melewati pintu depan mobil itu. "Kenapa dia berjalan melewati pintu depan ?". Gumamnya sambil terus menatap Lesya, dan memutar kepalanya. Sampai terlihat Lesya yang mulai membuka pintu belakang.
Liam terus menatap Lesya dengan tatapan tajam. Sementara yang di tatap merasa merinding dan gemetar karena tatapan dari sang suami yang terlihat mengerikan.
__ADS_1
"Sa,, sa,,, sayaaa duduk di belakang saja yaa..." Lesya mulai berbicara dengan sedikit tergagap namun berusaha tenang.
"Siapa yang menyuruhmu duduk di belakang ?" Ucap Liam dengan suara datar namun masih dengan raut wajah yang tak mengenakkan.
"Saya sendiri" tukas Lesya.
"Jangan kurang ajar. Memangnya aku sopirmu ?... Pindah ke depan" perintah Liam.
"Huuuufffftt..." Lesya membuang nafasnya pelan. "Sabar Lesya tenaaang... Nurut saja... Nggak usah debat... Keburu telat. Jangan takut dan jangan mikir yang aneh-aneh" batin Lesya.
Di sepanjang perjalanan di dalam mobil itu mereka hanya terdiam. Tak ada pembicaraan sama sekali antara keduanya.
Lesya masih merasa malu, takut, gemetar dan canggung saat berdekatan dengan Liam karena masih terus teringat kejadian tadi. Sampai akhirnya mereka sampai di sekolah SMA Guatama.
Liam memarkirkan mobilnya yang dibuat khusus untuk para petinggi yang menjabat di Yayasan sekolah itu. Jadi tak perlu khawatir tentang keamanan tempat parkir itu. Tempat parkir khusus itu pun sepi karena hanya ada mobil Liam yang terparkir di tempat itu saat ini. Jadi Liam tak perlu khawatir kalau saja akan ada yang melihat kebersamaan mereka.
"Saya turun dulu pak. Terima kasih" ucap Lesya seraya menundukkan kepalanya. Lalu tangan kirinya membuka gagang pintu mobil itu dan segera keluar.
"Tunggu...!!!" Kata Liam menghentikan Lesya yang akan menutup pintu.
"Oke,,, kamu boleh pergi" ucap Liam lagi sambil mengibaskan tangannya memberi isyarat.
"Haah ?!,,,, Apaan sih nggak jelas banget" gumam lirih Lesya merasa heran. Namun Liam masih bisa mendengar ucapan Lesya. Dan dia pun tersenyum samar melihat tingkah Lesya yang kebingungan. Karena itu terlihat lucu bagi Liam.
*
Triiiiiiing ......
Bel panjang berbunyi tanda jam istirahat kedua telah tiba. Lesya mengakhiri pembelajaran untuk hari ini.
"Sekian untuk pertemuan kita hari ini. Jangan lupa terus belajar ya... Karena sebentar lagi kalian akan menghadapi Ujian Nasional. Saya harap kalian serius untuk hal ini sehingga kalian mau belajar dengan giat" ucap Lesya dan berpesan kepada murid-muridnya.
"Bu,,, sepertinya saya nggak perlu belajar di rumah deh bu" ucap salah satu murid laki-laki di kelas itu.
Lesya mengerutkan kedua alisnya, "Kenapa ?... Di rumah juga harus belajar, mengulang semua materi yang diajarkan tadi, itu penting" kata Lesya.
__ADS_1
"Ngapain saya belajar susah payah di rumah, kalau tujuan belajar saya ada di sini" sambung murid laki-laki itu dan menoleh ke arah gadis teman sekelasnya yang duduk di seberang tempat duduknya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sedangkan murid perempuan itu menghalangi wajahnya dengan sebelah tangannya menghalangi pandangan dari sang cowok. Sambil tertunduk malu.
"Aaaa.... Modus lo... Dasar kang gombal" teriak salah satu teman sekelas itu.
"Hahahahahaha" dan mereka menertawainya bersamaan. Sementara si murid laki-laki itu menyunggingkan sebelah bibirnya, terlihat tersenyum puas karena merasa berhasil menggoda gadis yang di sukainya. Suasana kelas itu menjadi riuh karena sorak dan tawa para murid Lesya.
Lesya pun ikut tersenyum melihat kelakuan para muridnya. "Kalian lucu sekali... Memang masa SMA adalah masa-masa yang indah. Dan bakal kalian kenang sepanjang sejarah perjalanan hidup kalian". Lesya bermonolog dalam hatinya melihat wajah ceria dan bahagia yang terpancar dari mimik muka para muridnya.
Tiba-tiba dia kembali teringat dengan bayangan wajah Liam yang begitu dekat dengan wajahnya. Dengan cepat Lesya menggelengkan kepala untuk menyadarkan dirinya. "Sadar Lesya, sadar" gumamnya Lirih.
Dor,,, dorr...
Lesya menggedor papan tulis kelas itu dengan pelan untuk menghentikan suara riuh para siswa.
"Sudah yaaa... Bercandanya di lanjut di kantin ya... Kita istirahat dulu... Sekian dan terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" ucap Lesya dan menutupnya dengan salam.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab salam serampak dari para siswa.
Lalu Lesya keluar dari kelas itu dan berjalan menuju ke ruang guru.
\_Haayy man-teman... Maaf ya updatenya lama. Dan beberapa minggu ke depan author bakalan jarang update karena lagi sibuk banget. Tapi author janji bakalan update lagi setiap hari kalau sudah nggak terlalu sibuk.
\_Tungguin terus kelanjutan ceritanya ya...
Terima kasih 🙏
__ADS_1