
Semua manusia tak pernah lepas dari prasangka. Semua orang memiliki prasangka mengenai orang lain. Entah itu prasangka yang baik atau buruk.
Itulah yang di alami Denis sekarang. Rasa penasaran dan prasangka buruknya terhadap sang sahabat semakin besar. Ketika melihat keadaan yang sekarang dia lihat.
"Ini sih bukan sepasang pasangan yang mau menikah. Tapi lebih tepatnya seperti kucing dan tikus versi dingin, diam-diam tapi menghanyutkan" fikir Denis.
Ibu Marini yang berjalan dari rumah sebelah Lesya, lebih tepatnya rumah bibi Lesya itu melihat Lesya, Denis, serta sosok pria sedang mengobrol di depan gerbang.
"Les, siapa ?, Kenapa ngobrol di situ nggak di ajak masuk ?" Tanya ibu marini.
Lesya serta Denis sontak menoleh ke belakang. "I i iya bu,,," jawab Lesya terbata dan sedikit berteriak.
"Tuh, dibilang suruh masuk nggak percaya" cletuk Denis.
Lesya hanya sekilas melirik Denis serta bibirnya mencibik "hiiissshh" katanya.
"Mari pak silahkan masuk". Liam yang sedari tadi hanya terdiam lalu melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah Lesya.
Liam jengah karena memperhatikan dua gadis didepannya yang bertingkah aneh. Yang satu gadis menjengkelkan tak lain adalah calon istrinya. Dan yang satu gadis berisik tak lain teman Lesya si Denis.
"Bu, kenalkan ini pak Liam" kata Lesya memperkenalkan Liam pada ibunya.
"Salam kenal tante. Saya Liam" ucap Liam sambil membungkuk dan mengulurkan tangannya untuk menyalami ibu Lesya.
"Oh, anda yang bernama Liam" ucap ibu Marini sambil membalas ularan tangan Liam dengan seulas senyuman.
"Iya, saya Liam yang akan menikahi Lesya. Maaf saya belum sempat menemui anda sebelumnya. Apakah Lesya sudah menceritakan rencana pernikahan kita sama tante ?" Tanya Liam.
"Sudah nak, ibu hanya bisa memberi restu untuk kalian. Titip putri ibu satu-satunya ini. Saya yakin nak Liam bisa membahagiakan putri saya" ucap ibu Marini sambil menepuk pundak Liam.
Deg...
Hati Lesya terasa nyeri mendengar ucapan sang ibu. Ia menahan air matanya agar tak keluar dan lolos ke pipinya.
Liam yang mendengar tutur kata ibu Lesya tak kalah terkejutnya. Tanpa sadar ibu Marini sudah menyerahkan tanggung jawab hidup putrinya kepada dirinya. Entah bagaimana nasib pernikahannya nanti. Tapi mendengar kata membahagiakan terasa beban berat untuknya.
Dan Liam hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu Marini.
"Silahkan duduk pak. Bapak suka kopi atau teh ?" Tawar Lesya yang sudah mempersilahkan Liam untuk duduk di teras rumahnya.
"Nggak usah repot. Saya kesini ingin mengajakmu keluar" kata Liam. "Maaf tante, apa boleh saya mengajak Lesya untuk keluar sebentar ?. Mama mengajak kami untuk fitting baju" lalu Liam meminta ijin pada ibu Marini.
__ADS_1
"Boleh" jawab ibu Marini dengan senyum lembutnya.
"Rencananya kita akan mengatur pertemuan kedua keluarga saat mendekati hari H. Apakah tante keberatan ?" Tanya Liam lagi. Dia memang tak merencanakan lamaran. Karena tujuannya hanyalah sah menikah.
"Gimana Lesya saja nak. Ibu ngikut saja" kata ibu Marini.
"Iya, saya juga terserah anda" tukas Lesya.
"Baiklah, terima kasih. Biar nanti saya sampaikan ke orang tua saya" ucap Liam.
Menikah tapi belum kenal sepenuhnya satu sama lain. Pasangan yang akan menikah, tapi dari sorot mata masing-masing seperti tak ada kehangatan cinta. Menikah buru-buru dan persiapan seperti kurang matang.
Semua itu semakin tak dapat di nalar oleh Denis sahabat Lesya. "Apakah sahabatku ini mau menikah hanya karena dia kaya dan bukan karena cinta atau sekedar suka ?". Itulah yang terlintas dalam benaknya atas tindakan yang di ambil oleh Lesya.
"Kalau begitu saya permisi pamit dulu tante, Les" ucap Denis.
"Kenapa buru-buru nak" kata ibu Marini.
"Iya nis, kenapa buru-buru ?. Kamu nggak ingin menemaniku ?" Ucap Lesya.
"Temanku bolehkan ikut dengan kita pak ?" Lalu Lesya bertanya pada Liam.
Liam hanya menatap Lesya tajam tanpa bersuara. Denis yang mengerti situasi ke tak mengenakkan itu langsung bersuara untuk menolaknya.
"Ya sudah deh, salam ke tante ya" ucap Lesya.
"Bereess"...
"Saya pamit ya tante, Assalamu'alaikum" kata Denis.
"Waalaikumsalam" semua yang berada di teras itu menjawab.
Lalu Denis pergi meninggalkan rumah Lesya. Menaiki taxi yang sudah dia pesan sebelumnya.
"Tunggu sebentar pak Liam. Saya ganti baju dulu dan mengambil tas" ucap Lesya setelah melihat sahabtanya itu pergi.
"Em..." Liam hanya menjawab singkat.
Selang beberapa menit Lesya sudah siap dan berpakaian rapi. Ia mengenakan dress berwarna biru muda, serta ia mengikat sedikit rambutnya, terlihat begitu Manis dan cantik.
Liam yang sedang mengobrol dengan ibu Marini seketika berhenti berbicara saat melihat Lesya sudah berdiri di depannya. Ia menelan salivanya pelan. Sorot mata Liam tak lepas menatap Lesya. Liam tak pernah melihat Lesya berdandan seperti itu sebelumnya. Karena di sekolah, Lesya selalu mengenakan pakaian rapi dengan kemeja dan celana bahan. Ini pertama kalinya Liam melihatnya berpakaian seperti itu. "cantik" itulah kata yang terbesit dalam fikirannya.
__ADS_1
"Ehhem" deheman Liam saat menyadari dirinya sudah menatap Lesya cukup lama.
"Saya sudah siap" ucap Lesya pada Liam.
"Em..." Ucap Liam sambil menganggukkan kepala.
"Saya pamit pergi keluar ya bu" ucap Lesya pada sang ibu sambil menyalaminya. Dan di ikuti oleh Liam.
"Iya nak, hati-hati ya" tutur ibunya.
"Iya bu, Assalamu'alaikum" ucap Lesya.
"Waalaikumsalam" jawab ibu Marini.
Liam membungkukkan badannya ke ibu marini. Dan di balas anggukan oleh ibu Lesya itu.
Mereka pun berjalan menuju mobil Liam. Sementara ibu Marini masih menatap punggung keduanya dengan rasa senang. "Semoga mereka memang berjodoh sesuai yang Engkau takdirkan Ya Allah" do'a ibu marini dalam hatinya. Putrinya pantas mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. sunggu ibu marini berharap penuh atas pernikahan sang anak.
Jodoh, rezeki, serta maut, itu semua sudah di tulis dalam garis takdir hidup masing-masing. Semua sudah ada porinya, tergantung kita bisa menjalaninya dengan berlapang dada atau dengan mengeluh di setiap prosesnya.
Nrimo ing pandum. wong sabar rejekine jembar, wong ngalah rejekine berkah. Itu peribahasa jawa yang artinya menerima dengan pemberianNYA, ikhlas atas apa yang kamu terima dalam kehidupan. Serta orang sabar rejekinya banyak, orang yang mengalah rejekinya berkah. Maka dari itu bersabarlah.
\_Maaf ya teman-teman apabila ada penulisan yang salah atau penyebutan nama yang salah. semoga kalian mengerti dengan kata-kata serta isi ceritanya. Dan semoga kalian tak bosan dengan ceritanya.
\_Pliiis gaes tinggalkan jejak kalian dengan,
LIKE LIKE LIKE
HADIAH HADIAH HADIAH
VOTE VOTE VOTE
KOMEN KOMEN KOMEN
Serta tekan favoritnya suapaya dapat notif setiap aku update bab baru.
__ADS_1
Terima kasih. 🙏