Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 82. KURSI TAK NYAMAN


__ADS_3

Masih sama seperti beberapa jam yang lalu, Lesya masih tak berkutik diruangan Liam. Beberapa kali, ia melirik ke arah Liam yang terlihat tak bergeming dan sibuk dengan layar pipih yang berada didepannya.


Ia benar-benar merasa bosan. Ingin sekali ia berteriak diruangan itu supaya sedikit terasa ramai.


"Lebih baik aku nyapu, ngepel, nguras kamar mandi, kalo perlu air laut gue kuras dari pada harus berdiam diri disini... Huuufffttt". Berkali-kali Lesya membuang nafas kasar. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk meluapkan kekesalan.


"Bisa bikinkan aku secangkir nescafe capuccino ?" Perintah Liam tiba-tiba. Sedari tadi dia memperhatikan gerak gerik Lesya yang terlihat tidak nyaman. Sesekali ia tersenyum samar melihat perempuan itu mati kutu diruangannya.


Lesya yang mendengar perintah, tanpa aba-aba langsung menolehkan kepalanya.


"Baik" kata Lesya tanpa berfikir panjang. Ini lebih baik baginya dari pada duduk terus-terusan di sofa. Membuat pantatnya terasa panas.


Lalu dia berdiri menuju dispenser yang juga ada diruangan itu. Diruangan Liam terdapat juga kulkas mini yang terletak dibawah lemari dispenser.


Sesachet nascafe yang Liam pinta, ia raih dari cup dan di tuangkan ke cangkir cantik. Tak lupa ia menambahkan air panas untuk menjadi sebuah kopi capuccino yang nikmat.


"Uuh,,, baunya enak lagi. Bikin aku kepingin juga" batin Lesya dan berkali-kali menelan ludahnya. Ngiler gara-gara kopi buatannya, namun ia masih ingat kalau kopi itu ia buat, bukan untuknya sendiri.


"Nescafe capuccinonya" kata Lesya sambil menaruh kopi itu di meja samping laptop Liam.


"Em" jawaban singkat Liam.


Lesya membalikkan dirinya untuk kembali ke sofa. Namun langkahnya terhenti ketika Liam memanggilnya kembali.


"Lesya".


"Iya" lalu ia kembali membalikkan badannya.


"Tolong ambilkan aku kertas HVS di rak buku itu".


Tanpa menjawab Lesya langsung menuju rak yang ditunjukkan Liam. Setelah itu dengan inisiatifnya sendiri, ia memasangkan kertas" itu ke mesin printer.


"Sudah" ucap Lesya saat selesai melakukan perintah yang Liam pinta.


Ia kembali berniat duduk di sofa. Namun lagi-lagi Liam memanggilnya.


"Lesya".


Lesya memutar bola matanya jengah. "Apa lagi siiih ??" Katanya dengan sedikit kesal.


"Sekarang kau berani ngebentak aku juga ya... Hebat sekali" kata Liam dengan sorot mata yang tajam.


"Oh,,, tentu tidak. Mana mungkin saya berani membentak anda. Hehe" kata Lesya sambil meringis canggung.


"Kesini".


"Kemana ?".


"Sini ku bilang".


Lesya melangkahkan kakinya mendekati meja Liam kembali. Dan berdiri di dekat kursi Liam.


Seeett....

__ADS_1


Dengan satu tarikan, Liam menarik Lesya sampai ia terduduk diatas pangkuan Liam.


Lesya yang terkejut seketika membelalakkan matanya. Terasa sesuatu yang mengganjal disana.


Liam melingkarkan tangannya di perut Lesya. Mendekap pinggang ramping dan perut yang rata milik Lesya dari belakang. Membuat Lesya tak bisa berkutik.


"Lama-lama beneran serangan jantung deh aku. Astaghfirullah... Ini apaaa lagi...Benjolan dibawah sana terasa tak nyaman sekali" pekik batin Lesya.


"Jangan terus-terusan bergerak. Kau bisa membangunkan singa yang masih tertidur disana. Kau mau bertanggung jawab untuk menidurkannya kembali ?" Kata-kata Liam terdengar nakal. Membuat Lesya bergidik geli mendengarnya.


Ia hanya diam mendengar ucapan nakala Liam. "Woles jantung,,, wolesss..." Gumam batin Lesya, karena jantungnya terasa berdetak kencang. Serasa berlari lomba maraton.


"Bantu aku menyelesaikan itu. Kemudian cetakkan untukku. Aku ingin istirahat sebentar" kata Liam.


Suaranya terdengar dibelakang telinga Lesya. Nafasnya menderu, menerpa tengkuk leher Lesya. Membuat bulu romanya meremang seketika.


"Tapi posisi duduk seperti ini sungguh tidak nyaman. Istirahat saja di sofa" kata Lesya.


Bukannya mendengarkan, Liam malah semakin mengeratkan pelukannya. Lalu menyenderkan kepanya di punggung Lesya.


"Kerjakan saja. Jangan banyak protes" perintah Liam seperi biasa, Otoriter tanpa menerima demokrasi.


Wangi harum parfum Lesya membuatnya nyaman. Membuatnya ingin meminta lebih. Namun Liam berusaha menormalkan fikirannya yang mulai susah untuk berfikir jernih. Ia masih sadar kalau ini adalah tempat untuk menimba ilmu. Ia masih mempertahankan etikanya, meskipun ia bs berbuat lebih diruangan itu karena rungan pribadinya itu sudah ia kunci.


Berbeda dengan Lesya. Keringat dinginnya mulai keluar. Posisinya membuat dirinya tak leluasa bergerak. Apalagi ada seseorang yang memeluknya tanpa mengendurkan tangannya sekejappun. Membuat konsentrasinya terganggu.


"Ayo Lesya, fokus... Semakin cepat selesai, semakin cepat kamu bisa lepas dari dekapannya" fikir Lesya mulai memfokuskan otaknya yang ngadat seperti motor yang bermasalah dengan mesin. Dan itu semua gegara ulah Liam.


*


"Hai" sapa Roy yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Denis yang tak fokus karena ia sambil membuat pembukuan untuk rekapan bulanan.


"Assalamu'alaikum" seloroh Denis terdengar jutek.


Roy tersenyum melihat sikap gadis jutek di depannya. "Waalaikumsalam" jawab Roy.


"Kebalik nggak sih ?. Harusnya tuh kalau sesama muslim ucap salam dulu". Tukas Denis.


"Iya deh maaf. Mau aku ulang ?" Kata Roy.


Denis tak menanggapinya.


"Aku pesan kue tart satu ya ?..." Kata Roy.


"Kuenya untuk hari ini atau besok ?" Tanya Denis.


"Hari ini".


"Oh,,, silahkan tunggu saja. Kebetulan kami masih membuat kue tartnya" kata Denis.


"Hari ini sepertinya laris manis ya ?" Ucap Roy. "Seperti yang jual" imbuhnya dengan suara yang ia lirihkan. Supaya Denis tak mendengarnya. Ia tahu kalau gadis yang ia hadapi ini tak suka digoda. Meskipun ia selalu berkata dengan jujur yang keluar begitu saja dari mulutnya yang lancang.


"Iya, Alhamdulillah... Banyak yang nyari kue tart hari ini". Denis tersenyum menjawab pertanyaan dari Liam.

__ADS_1


"Eh,,, sambil tuliskan sesuatu diatas kuenya ya".


"Oh baik,,, tulis di kertas ini. Nanti biar aku buatkan tulisan dan hiasannya".


Roy meraih kertas dan bolpoin yang tersedia di meja kasir itu. Ia menuliskan sesuatu disana.


"Tolong tuliskan ini diatasnya" kata Roy sambil menyodorkan kertas itu.


Selamat Ulang tahun mama tercinta, yang ke-50 thn. Tertera kata-kata seperti itu di secarik kertas itu.


"Oh,,, jadi mama kamu ulang tahun ?" Tanya Denis.


"Em" sahut Roy dengan senyum terbaiknya.


"Oke, aku lihat kuenya sebentar, dan akan aku hias sebaik mungkin untuk mama kamu" kata Denis.


"Terima kasih" ucap Roy. "Calon menantu yang baik" gumamnya lagi dengan sangat lirih.


Dan Denis melempar senyum manis untuk menjawab ucapan terima kasih dari Roy. Setelah itu berlalu pergi menuju dapur cafenya.


"Manis sekali" gumam Roy pelan.


Selang beberapa menit kue pesanannya pun jadi. Kue untuk ulang tahun mama Roy terlihat cantik dengan hiasan yang menarik.


"Waaah... Kamu ngehiasnya cantik banget" puji Roy.


"Iya kah ?... Sengaja aku buat agar terlihat cantik. Soalnya ini untuk perempuan yang spesial kan untukmu ?" Ucap Denis.


"Kamu benar. Mamaku adalah perempuan spesial. Dan bakalan ada satu lagi perempuan spesial yang ingin aku perjuangkan" kata Roy.


"Waauuww... Siapa ?" Tanya Denis dengan antusias. Entah kenapa dia ingin tahu dan hanya sekedar ingin tahu.


"Kamu" jawab Roy dengan menatap Denis sekilas.


Mendengar hal itu Denis menelan ludahnya dengan kasar. Matanya tak berhenti memandang Roy. Ia masih belum sadar dari ucapan Roy yang mengatakan bahwa dirinya adalah wanita yang ia perjuangkan.


"Aku permisi dulu. Kapan-kapan aku ajak makan malam boleh kan ?" tanya Roy.


Denis lalu mengerjapkan matanya, untuk menyadarkan dirinya. Lalu hanya tersenyum kaku menanggapi ajakan Roy.


"Ya sudah, nanti aku telefon. Terima kasih. Assalamu'alaikum" ucap Roy berpamitan.


"Iya, terima kasih kembali. Waalaikumsalam" jawab Denis.




\_Mulai ada sinyal kuning dari Denis untuk Roy ya gaess... hehehe...



\_Happy reading...

__ADS_1



Terima kasih 🙏


__ADS_2