
"Lesya, Les,,, ayo bangun nak. Ini sudah setengah lima pagi nak. Kamu sudah telat. Ayo bangun...". Ibu Marini berusaha membangunkan putrinya yang masih tertidur pulas subuh itu. Bahkan alarm yang dia pasang sejak pukul setengah empat subuh pun tak dia dengar.
Lesya tersentak mendengar ibunya bicara kalau jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. "Apa bu !!, Setengah lima !!,, Kenapa ibu tak membangunkanku lebih awal" ucap Lesya.
Tanpa basa-basi Lesya langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berlari ke kamar mandi membersihkan diri.
Tin tin...
Terdengar suara mobil sudah berhenti di depan rumah Lesya. Benar saja itu adalah mobil utusan yang di kirim mama Lia.
Ibu Marini lekas keluar menemui sopir yang masih berada di dalam mobil itu.
Tok tok...
Ibu marini mengetuk jendela mobil itu. Lalu mengisayaratkan tangannya melambai kebawah, meminta untuk menurunkan jedela mobil itu.
"Pak, tolong tunggu sebentar ya, Lesya masih sholat subuh sebentar" ucap ibu Marini saat kaca jendela mobil sudah di turunkan.
"Baik buk, saya tunggu disini saja" balas sopir itu.
Ibu Marini kembali masuk ke dalam untuk melihat putrinya.
"Nak sopirnya sudah datang" ucap ibu Marini dari depan kamar Lesya.
"Iya bu, beri saya waktu 10 menit untuk sholat dan bersiap-siap" jawab Lesya sedikit berteriak dari dalam kamarnya.
"Jangan lama-lama ya, nanti kita bisa telat lebih lama" ucap ibunya lagi.
Lesya sudah tak menghiraukan ucapan ibunya karena dia sudah fokus untuk melaksanakan sholat subuh.
Sedangkan ibu Marini pun sudah rapi dan sudah siap untuk mendapingi putri tercinta.
Selesai sholat subuh dan berdo'a, Lesya langsung melipat mukenanya dan menaruhnya di atas ranjang tempat tidurnya. Dia sudah mulai panik karena sangat buru-buru dan takut telat.
"Aduuh,,, kenapa aku bisa telat bangun gini sih !!... Payah sekali" Gumamnya.
Dia mengemas semuanya tanpa pilih-pilih lagi karena sudah kehabisan waktu.
Lalu dia merapikan rambutnya asal, menyisirnya dengan jari-jari tangannya. Di sahutnya tas yang tergantung di pojok sudut kamar itu, lalu memasukkan ponsel dan beberapa peralatan kecil yang bakalan dibutuhkan nanti.
Lalu dia keluar dari kamarnya dengan menyeret kopernya dan berjalan dengan tergesa-gesa.
"Aku sudah siap bu" katanya.
"Ayo kita keluar sekarang" tukas ibu Marini yang kini sudah berdiri dari duduknya.
Lalu mereka berjalan keluar rumah berdampingan menuju mobil yang sudah menunggunya sejak beberapa puluh menit yang lalu.
Sopir itu meraih koper Lesya dan memasukkannya ke bagasi belakang mobil. Serta membukakan pintu untuk keduanya. "Silahkan nyonya muda" ucap sopir itu.
Tanpa basa-basi Lesya langsung masuk ke mobil itu. Sebenarnya dia merasa tak enak mendengar sopir itu menyebutnya nyonya muda. Namun dia tak mendebatnya. Karena kali ini dia sedang khawatir takut telat. Dan takut si pria arogan yaitu Liam bisa marah kalau tau dia telat.
"Kenapa bisa telat bangun sih Les..." Ucap ibunya.
"Entah bu, sepertinya aku semalam juga tidak telat untuk tidur" kata Lesya.
"Kamu tidur jam berapa semalam nak ?" Tanya ibunya lagi.
"Jam 12 malam kalau ndak salah bu" jawabnya.
"Heemm,,, pantas ini saja kamu telat" kata ibu Marini.
"Terkadang aku juga tidur jam segitu bu, tapi tetap bisa bangun subuh. Entah kenapa ini tadi aku benar-benar terlelap tanpa mendengar adzan subuh" terang Lesya.
"Ya sudah nanti kalau di tanya mama Lia jawab saja seadanya" tutur ibunya.
"Iyalah bu. Nggak ada alasan juga kita berbohong. karena memang nyatanya saya telat bangun". kata Lesya.
__ADS_1
Triiing triiing...
Tiba-tiba ponselnya yang dia taruh didalam tas berbunyi. Lalu dia mengambil ponsel itu.
Ternyata Denis yang menghubunginya.
"Halo, assalamu'alaikum" kata Lesya saat menjawab panggilan dari sahabatnya.
"Waalaikumsalam. Kamu sudah berangkat ?" Kata Denis.
"Sudah, ini baru saja berangkat. Baru sekitar 15 menit" kata Lesya.
"Baiklah, kirim aku alamatnya. Aku juga mau berangkat sekarang" kata Denis.
"Kenapa buru-buru ?. Acaranya kan masih nanti. Aku berangkat sekarang karena harus di make up dulu" kata Lesya.
"Nggak pa pa. Aku pengen lihat kamu proses di make uppin. Dan aku pengen nemenin sahabatku" ucapnya.
"Uttuuuh uttuuuh... Uwwuu banget sih sahabatku ini" kata Lesya menggoda Denis.
"Ck, terima kasih sekali-kali. Beruntung kan elo punya sahabat baik kayak gue. Hehehe..." Denis terkekeh.
"Iya baik, tapi narsisnya juga kelewatan" tukas Lesya.
"Hahaha" Denis malah tertawa mendengar ledekan Lesya. "Tante juga ikut sama kamu kan ?" Tanyanya lagi.
"Iyalah gimana sih... Dia ibuku satu-satunya" kata Lesya.
"Tante, selamat ya, bentar lagi mau dapet mantu dan jadi mertua" kata Denis bercandain ibu Marini di balik panggilan itu.
Ibu marini tersenyum. Karena Lesya membesarkan suara panggilan itu jadi ibu Marini pun bisa mendengarnya. "Kamu bisa aja nak Denis. Kalau berangkat hati-hati ya. Nggak usah ngebut" tutur ibu Marini pada Denis.
"Iya tante, terima kasih" ucapnya sopan.
"Ya sudah, aku tutup telepon nya ya. Aku kirim alamatnya lewat pesan" ucap Lesya.
"Assalamu'alaikum" Lesya mulai mengakhirinya.
"Waalaikumsalam" jawab Denis.
Lalu Lesya mematikan panggilan itu.
*
Di rumah keluarga Rayandra terlihat sangat riuh penuh dengan keluarga dari tuan tama dan mama Lia. Mereka sibuk bersiap-siap menyiapkan segala sesuatunya.
Terlihat bagain WO sudah sibuk menata ruangan di setiap sudut ruangan rumah itu dengan indahnya bunga-bunga.
Bagian konsumsi pun tak kalah sibuknya. Para chef handal sudah menyiapkan banyak hidangan.
Sementara Roy dan Eric sibuk mempersiapkan keperluan Liam. Harusnya itu tugas Eric. Tapi karena Roy kasihan melihat asisten Liam itu sibuk dan kuwalahan sendirian, akhirnya dia membantunya.
"Pak Roy, anda tak perlu membantuku. Anda termasuk keluarga besar disini. Cukup nikmati acaranya saja nanti" ucap Sungkan Eric pada Roy.
"Heeeyy,,, kau kenapa sungkan sama saya. Kita kan sering bertemu dan membantu satu sama lain sebelumnya" balas Roy.
"Terima kasih ya pak" ucap Eric.
"Mana jazznya Liam. Biar aku antarkan ke kamarnya" kata Roy.
"Siap bos. Ini jazznya. Sekali lagi terima kasih bos" ucap Eric dan membungkukkan badannya.
"Bas bos, bas bos. Tadi aja sok-sok'an bilang sungkan" tukas Roy.
"Hehehehe" Erik menyeringai.
"Nyengir lagi lu" ledek Roy.
__ADS_1
Lalu dia berjalan sambil menenteng jazz Liam sedikit menjinjing tinggi. Dia tau harus membawanya dengan hati-hati, karena kalau tidak sepupunya itu bisa marah kalau jazznya samapai kusut.
Tok tok tok...
Roy mengetuk pintu kamar Liam.
"Broo, buka brooo... Gue boleh masuk nggak nih" kata Roy.
Namun tak terdengar sahutan dari Liam. Membuatnya mengulangi ketukan pintu kamar itu. Tetap saja hening. Akhirnya Roy membuka kamar pintu Liam. Dan memasuki kamar itu.
"Astaga... Ternyata calon mempelai prianya masih molor. Sedangkan yang lain sudah heboh bersiap-siap" keluh Roy saat melihat sepupunya masih tertidur pulas di atas ranjangnya.
"Woooeeyy bangun woey... Bro, elu nggak niat nikah apa bagaimana !!. Orang-orang di bawah sudah pada sibuk menyiapkan acaranya. Sedangkan elu yang punya hajat masih molor. Bangun kebooo" kesal Roy karena sepupunya itu masih memejamkan matanya dan hanya menggeliat mendengar omelan Roy.
"Bangun broo" sangking kesalnya Roy sampai menendang Liam secara asal ke bagian pa****nya.
"Shiitt,,, berisik banget sih lu kam***t" umpat Liam.
"Ini sudah jam setengah tujuh woey. Kalau tidak bangun sekarang, gue panggil mama Lia nih" ancam Roy.
"Haaassshh...." Liam mengusap rambutnya asal. "Ngapain sih lu kesini ?".
"Tuh jazz lu udh gue gantung di situ tuh. Lagian elo tuh harusnya berterima kasih sama gue. Udah siapin jazz elo dan bangunin elo" ucap Roy.
Liam menaikkan sebelah alisnya.
"Yang ada elu ganggu tidur gue. Udah pergi sana, gue mau mandi" usir Liam.
"Jangan tidur lagi bro. Apa perlu gue mandiin bos ? Puuuuffftt" goda Roy sambil menahan tawanya.
Sangking kesalnya Liam melempar tutup botol parfum ke arah Roy namun Liam sengaja melemparnya asal supaya hanya melintasi Roy dan tak tepat sasaran.
Cletaaak... (Anggap itu suara lemparan tutup botol yang mengenai tembok ya gaes 🤭).
"Gue hitung sampai tiga kalau masih belum keluar, botolnya yang melayang" sambil mengangkat botol kaca parfum yang sudah ada di tangannya.
"Oke bos, okee... Darting mulu heran gue" cletuk Roy lalu berlari keluar kamar.
*
Di tempat lain, tepatnya salon rias pengantin sudah nampak calon pengantin wanita yang selesai berias. Meski sempat terlambat, tak membuatnya telat untuk berdandan di acara yang sakral ini.
Saat tiba tadi Lesya langsung di gandeng oleh mama Lia untuk segera berias. Dan beliau tak mempermasalahkan soal keterlambatannya.
Kini semuanya sudah selesai dan siap. Make up natural yang di lukiskan diwajah Lesya. Gaun yang indah serta glamor dengan sedikit memperlihatkan punggung mulus si pengantin wanita. Sehingga terlihat begitu mempesona serta elegan.
"MasyaAllah... Kamu cantik sekali nak" Puji mama Lia.
"Mama juga sangat cantik mengenakan setelan kebaya ini mah" puji Lesya balik.
Mama Lia serta ibu Marini mengenakan setelan kebaya dengan warna yang senada. Pink salem itulah warnanya.

\_Anggap saja ini gambaran mempelai wanita ya gaes, yaitu Lesya. nampak belakangnya saja sudah cantik ya teman-teman 🤭.
\_Tekan like, vote, hadiah, favorit nya dan juga tinggalkan komentar kalian.
__ADS_1
Terima kasih. 🙏