
"Bwahahahaha...." Tawa mama Lia dan tuan tama bersamaan yang saat itu lagi seru-serunya nonton acara favorit di televisi.
"Mah, pah" Liam sedikit berteriak memanggil kedua orang tuanya.
"Eh, anak mama sudah pulang" sambut mamanya.
"Manggil orang tua nggak sopan banget sih kamu tu. Masak diteriakin kayak gitu" ketus mama Lia.
"Aku tadi tu sudah ngucap salam dari pertama masuk tadi. Tapi nggak ada yang jawab malah heboh ketawa" jelas Liam.
"Hehehe..." Mama Lia hanya meringis.
"Kamu tu sekali-kali harus nonton acara kayak gini. Biar wajah kamu tu lemes nggak kaku kayak kanebo kering Liam" hardik sang papa.
"Acara aneh kayak gitu ngapain juga di tonton. Sudah aku mau mandi dulu" lalu pergi menaiki tangga menuju kamarnya.
"Nanti cepat turun ya nak, kita makan malem bareng", ucap mamanya, namun tak ada balasan dari Liam. Sementara sang mama masih menatap punggung putranya yang terus berjalan menaiki tangga.
"Huh dasar beruang kutub" cibik sang mama.
"Siapa beruang kutub mah ?" Tanya suaminya
"Tuh" mama Lia mendongakkan kepala ke arah Liam.
"Ojo ngawur mah, iku anakku seng ganteng dewe mah. (Jangan ngasal mah, itu anakku yang paling tampan mah)" ucap tuan tama.
"Anakmu yo anakku pah" mama Lia membuang muka. Dan pergi menuju ke dapur.
Sedangkan tuan tama yang melihat sang istri yang sedang mode judes hanya menggelengkan kepala.
"Bojoe sopo to kuwi judes tenan. Untung ayu, maleh tetep sayang. (Istrinya siapa sih itu jutek sekali. Untung cantik, jadi tetep sayang).
Smentara Liam yang telah menyelesaikan ritual mandinya, dia mengenakan setelan piyama. lalu melemparkan tubuhnya ke kasur empuk miliknya.
"Huuufffttt" dia membuang nafas kasar.
Triiing triiing....
Tiba-tiba terdengar suara ponselnya berbunyi. Dia raih ponsel itu dan tertera nama Roy dilayar ponselnya itu.
"Kenapa lagi" ucap Liam dengan malas.
"Besok aku mau berkunjung ke yayasan sekolah mu bro" ucap Roy di seberang telefon.
"Terserah kau" tukas Liam.
"Jangan gitu dong. Galak amat" goda Roy.
__ADS_1
"Aku tunggu kau jam 2 siang. Kalau sampai kau jam segitu belum datang, gue tinggal" ketus Liam.
"Aahsiiiiaaaapp" ucap Roy.
Lalu Liam menutup panggilan itu.
Tut tuut tuut tuutt...
"Ck, kebiasaan. Selalu dimatiin duluan, ngucap salam kek" Roy berdecak kesal dengan kelakuan sepupunya.
*
Di meja makan keluarga Liam mereka bertiga sedang menyantap hidangan yang sudah di masak oleh bi ijah.
"Mah, pah. Besok sore aku akan memperkenalkan seseorang kepada kalian".
"Uhhuuk uhhuuuk" mama Lia tersedak sangking kagetnya mendengar ucapan Liam.
Seketika tuan tama menuang air minum untuk istrinya. "Kamu kenapa sih mah. Selalu saja pakai acara kesedak" ucapnya.
Mama Lia langsung meminum air yang disodorkan suaminya.
"Beneran kah Liam ?" Tanyanya dengan raut wajah yang berbinar.
"Emm" jawab Liam.
"Indonesia" tukas Liam.
Tok... Suara sendok menggetok kepalanya.
"Auw. Apa-apaan sih pah" kesal Liam.
"Kau yang apa-apaan, ditanya serius jawabanmu bikin kesal" tegas papanya.
"Emang kota kita bukan bagian dari Indonesia ?" Jawab Liam masih dengan nada kesal.
"Hiiih... Gemes mama sama kamu".
"Dia salah satu guru di sekolah kita" ucap Liam.
"Pantes, jadi sering pergi ke sekolah Unggul. Ternyata sambil menyelam minum air" ucap tuan tama sambil terkekeh dan di ikuti mamanya.
Liam yang merasa di ledek sang papa hanya diam dan menatapnya tajam.
"Apa Lihat-lihat ?, Nantangin papah, ayo". Ucap tuan tama.
"Ck" namun Liam hanya berdecak kesal.
__ADS_1
"Udah, udah... kalian tuh apa-apaan sih. Anak sama bapak bertengkar mulu" Lerai mama Lia.
"Namanya siapa Liam ?" Tanya mamanya.
"Lesya Maheswari" jawab Liam.
"Dari namanya sepertinya dia gadis yang menarik". Ucap mama Lia dengan antusias.
"Dia gadis biasa. Tinggal di kampung dengan ibunya. Ayahnya sudah meninggal". Kali ini Liam menjelaskan sedikit rinci.
"Iya kah ?".
"Emm" jawab Liam.
"Nggak masalah bagi mama. Yang penting dia gadis yang baik" ucap mama Lia.
*
Lesya tengah duduk di kursi depan meja riasnya. Menyisir rambut sambil melamun.
Tiba-tiba dia kepikiran sesuatu dan menyahut ponsel yang tergeletak didepannya. Dia menuliskan sesuatu di mesin pencarian. "LIAM RAYANDRA", ya itulah yang dia cari.
Tertera banyak artikel berita yang terdapat disitu. Ia memilih salah satu link yang berjudul "KONGLOMERAT, KELUARGA RAYANDRA".
Di bacanya setiap kalimat yang tertulis. Dari mulai biodatanya, seluk beluk kedua orang tuanya, dan semua usahanya. PENGUSAHA TAMPAN DAN SUKSES begitulah inti artikel itu. Dia terus membacanya dengan ekspresi yang seperti orang linglung. Sementara Tangan kanan sibuk memegang ponsel, tangan kiri memukul-mukul kepalanya pelan, pelan, pelan dan semakin lama semakin kencang.
"Oh my god Lesya, Lesya, Lesya" gumamnya dengan memanggil-manggil namanya sendiri.
"Apa yang kau lakukan. Keluarga dia benar-benar berkelas. Dan aku tidak pantas berada dalam keluarga itu. Aku harus bagaimana iniii". Dia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan berguling-guling seperti kesurupan.
"Bagaimana kalau keluarganya nggak ada yang suka sama aku. Dan nanti semuanya jahat sama aku. aaah... aku tak sanggup. Apa sebaiknya aku batalkan saja ya ?. Tapi bagaimana dengan tiga ratus juta sialan itu. whaaaaa".
"Astaghfirullah,,," menggelengkan kepalanya kasar. "Rasanya hampir gila karena aku terus berperang dengan isi kepala ku".
\_Maaf kalau terkadang update nya telat. Karena proses riviewnya kadang lama banget. Kadang sampek ganti hati masih belum lolos.
\_Tinggalkan Like, give, vote dan komentarnya ya.
Terima kasih 🙏
__ADS_1