
"Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyiin dari aku kan ?" Kata Denis.
"Enggak kok".
Denis menatap lekat sorot mata sahabatnya. Tak terlihat ada yang aneh. Hanya saja dia masih merasa jika Lesya menyimpan sesuatu.
"Baiklah, aku ikut senang bila kamu pun bahagia. Ingat Les, semua hal yang kau putuskan hari ini akan ada resikonya nanti. Aku harap kamu bisa menghadapi terjangan ombak dan badai nantinya" tutur Denis.
"Aku tau. Kamu nggak usah khawatir" seulas senyum ia terbitkan untuk menghilangkan rasa gugup. Karena telah berbohong pada sahabatnya.
"Makan nih cemilannya. Jangan di anggurin" kata Lesya.
Denis pun meraih toples yang di sodorkan Lesya.
"Jadi acara pernikahan akan di adakan di gedung mana ?" Tanya Denis sambil memasukkan cemilan ke mulutnya.
"Hah ?" Lesya menoleh ke arah Denis.
Denis menatap Lesya dengan manautkan kedua alisnya. "Jangan bilang elo belum tau" melihat sorot mata Lesya yang kebingungan membuat Denis makin kesal. "Ya tuhan. Lah elo kan mau nikah, masak elu nggak tau sedikit pun masalah persiapannya. Makin curiga deh gue sama elo" ucap Denis.
"Apaan ?".
"Ya curiga aja. Ada yang kamu sembunyiin dari gue. Gue tau itu Les. Gue bakalan tungguin cerita elu sampai kamu mau cerita" Denis berbicara dengan nada yang sangat serius.
"Aku belum tau persiapannya kayak apa nis. Kan baru kemaren gue ketemu orang tuanya. Gue tinggal ngikut aja, semuanya mereka yang ngatur. Nanti juga bakal tau kok kalau udah deket hari-H nya" kata Lesya.
"Aku sudah bilang, kalau aku nggak ngundang banyak tamu. Yang pasti harus ada sahabatku satu-satunya" Lesya melirik Denis dengan senyum meledek.
"Terus gimana dengan para teman-teman guru kamu ?" tanya Denis.
"Nggak aku undang" jawab enteng Lesya.
"Lah kenapa ?".
"Aku males ribet nis".
"Lah, ni orang bener-bener aneh. Allahu akbar" Denis mengusap kasar wajahnya. "Elu mau nikah apa mau sunatan sih. Orang dimana-mana kalau nikah itu sudah pasti ngundang banyak kerabat dan teman-teman. La elo kenapa nikah diem-diem ?" Denis kesal dengan sahabatnya yang begitu aneh, tak seperti biasanya.
"Yang penting nikah itu ada pasangannya, ada penghulunya, ada wali nikahnya, ada saksinya dan ada maharnya. Dan saksi itu ndak harus banyak orang lo nis" jelas Lesya.
"Serah elu dah. Serah deh" Denis menggelengkan kepalanya. Semakin dia bicara akan semakin dongkol rasanya.
"Hehehe" Lesya hanya tertawa kecil melihat sahabatnya itu mulai pasrah.
*
Di kediaman Rayandra, papa mama dan Liam sedang sibuk berdiskusi.
"Udah lah mah, nggak usah ribet. Kita nikahnya di rumah aja. Nggak usah sewa-sewa gedung. Buang-buang uang mah. Yang penting nanti kita itu sah di mata agama dan negara". Liam berdebat dengan mamanya. Karena mama Lia sangat ingin pernikahan putra semata wayangnya di selenggarakan dengan meriah.
Dia sudah berencana untuk memamerkan putra dan menantunya pada semua teman-teman sosialitanya. Bagi mama Lia, Lesya adalah sosok gadis yang sempurna untuk menjadi pendamping putranya.
__ADS_1
"Ya nggak bisa gitu dong Liam. Kerabat kita tu banyak. Teman-teman mama sama papa juga banyak. Belum lagi para kolega-kolega mu juga banyak. Mereka harus di undang dong" ucap mama Lia nggak kalah ngeyelnya.
"Ngapain siiih. Waktu kita itu cuma seminggu lo mah. Kalau semua serba mendadak nggak akan mungkin ada WO (wedding organizer) yang bakalan bersedia. Udahlah, sederhana saja" kata Liam.
"Sudah-sudah, nggak akan ada habisnya kalau nggak ada yang mau ngalah. Udah lah mah,,, turutin kemauan Liam. Kan dia yang mau nikah. Biar dia yang mengatur semuanya" papa tama berusaha menengahi perdebatan mereka.
"Tau gini nggak usah nikah aja, ribet banget" gumam Liam.
"Jangan asal ngomong ya Liam" bentak mama Lia.
Namun Liam hanya diam menatap ke arah lain.
"Sudah mah, tenang" ucap tuan tama sambil mengusap kedua pundak istrinya.
"Kalau begitu jemput Lesya sekarang. Kita pergi ke butik untuk fitting baju" ucap mama Lia dengan nada yang masih terdengar kesal.
Berdirilah Liam dan langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
"Ribet banget. Ini yang bikin aku males berurusan dengan wanita, ribet. Tiap hari dengar keribettan mama aja udah bikin kepalaku pusing. Apalagi nanti di tambah satu wanita lagi" Liam terus bergumam dengan mengendarai mobilnya.
Setelah beberapa menit melajukan mobilnya Liam pun tiba di tempat tujuan. Ia memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah Lesya. Lalu Liam mengambil ponselnya. Dia tekan nomer yang bertuliskan nama Lesya.
Semnetara Lesya yang asik mengobrol dan bersenda gurau dengan Denis terkejut saat mendengar bunyi ponsel.
"Eh, ponselmu bunyi tuh" kata Lesya.
Denis yang sama terkejutnya, langsung meraih tas dan mencari ponselnya. Pas dia ambil ponselnya ternyata bukan miliknya yang berbunyi.
"Iya kah ?" Lalu Lesya berdiri dan sedikit tergesa-gesa. Di sahutnya ponsel miliknya yang tergeletak di meja rias.
Sast melihat nomor yang tertera tanpa nama Lesya terdiam sebentar dan mengerutkan keningnya. "nomor siapa ini ?" Gumamnya dalam hati.
"Halo, Assalamu'alaikum" sapa Lesya dalam panggilan itu.
"Waalaikumsalam. Lama banget ngangkat gini doang. Apa hp kamu taruh di kutub utara". Tukas Liam yang tiba-tiba nyerocos dengan nada yang tak ramah di telinga Lesya.
"Oh my god, ternyata si orang aneh. Dia bilang kutub utara. Bukannya dia yang berkelakuan dingin kayak kutub utara" batin Lesya.
"Maaf pak, ada apa ya ?" Tanya Lesya berusaha tenang meskipun dia kesal dengan ucapan Liam.
"Keluarlah sekarang. Aku sedang di depan rumahmu" jawab Liam.
"Hah, ngapain ?" Batin Lesya.
"Hay, apa kau tak mendengarku ?" Kata Liam.
"Oh,,, iya pak, tunggu sebentar. Saya akan keluar sekarang". Sangking paniknya Lesya langsung mematikan panggilan itu dan berlari keluar.
"Eh, kamu mau kemana ?" Tanya Denis dengan sedikit berteriak karena temannya itu sudah berlari keluar. Sontak Denis pun ikut panik melihat Lesya seperti orang yang lagi ngejar maling. Lalu dia ikut pergi keluar rumah menyusul Lesya.
Lesya membuka pintu gerbang rumahnya. Tanpa sadar Denis yang tadi menyusulnya sudah berdiri di tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Wah, apakah anda pangeran yang turun dari kayangan ?" Celetuk Denis yang melihat betapa tampan sosok yang berada tepat di depannya.
"Perkenalkan nama saya Denis" ucap Denis memperkenalkan dirinya dan menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan Liam.
"Ra usah endel (nggak usah centil)" bisik Lesya ke Denis. Dan di balas lirikan tajam oleh Denis.
"Saya Liam" namun Liam hanya menjawabnya dengan menundukkan kepala tanpa membalas uluran tangan Denis.
"Oke lah, sultan di tambah tampan mah bebas" tukas Denis.
Lalu Denis berbisik ke telinga Lesya. "Gue suka nih modelan cowok kayak begini. Cool banget, mana tampannya nggak manusiawi".
"Pacarin noh kulkas" balas bisik Lesya ke Denis.
"Ehhem" merasa dirinya di bicarakan oleh dua gadis tepat di depannya, Liam berdehem agar mereka menyudahi aksi gibahnya. (Eh, kalau membicarakan orang di depannya langsung disebut gibah nggak sih gaes 🤭).
"Pak Liam ada perlu apa ke tempat saya ?" Tanya Lesya.
"Suruh masuk dulu lah Les. Demen banget ngobrol di depan rumah. Dilihatin orang tuh" cletuk Denis.
"Apakah anda mau masuk ke rumah saya ?". Lesya sengaja bertanya seperti itu supaya Liam makin merasa enggan masuk ke rumahnya.
Sedangkan Denis yang melihat kelakuan temannya hanya melihatnya dengan ekspresi mulut menganga sangking herannya.
Pliiiisss ya teman-teman tinggalkan,
LIKE LIKE LIKE
VOTE VOTE VOTE
HADIAH HADIAH HADIAH
KOMEN KOMEN KOMEN
DAN TEKAN FAVORITNYA.
__ADS_1
Terima kasih. 🙏