Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 39. MENIKAH BUKAN ZONA PERMAINAN


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya terdiam. Lesya tak berani menolehkan wajahnya ke Liam. Mereka sangat canggung.


"Bagaimana aku harus menceritakan ini kepada ibu dan sahabatku ?. Mungkin kalau dengan ibu aku masih bisa membelokkan fakta. Tapi kalau dengan Denis gimana caranya ?. Dia tau siapa itu pak Liam. Dan di pun tau kalau aku baru tau baru-baru ini. Aku benar-benar bingung harus memulai cerita dari mana".


"Ya Allah, terkadang aku butuh pundak untukku bersandar. Memang lebih mudah memotivasi orang lain dari pada menyemangati diri sendiri. Sehebat apapun diriku saat menjadi penasehat bagi murid-murid ku, tapi saat diri sendiri terpuruk pun perlu orang lain untuk menguatkan".


Lesya terus larut dalam kemelut fikiran yang rumit dalam benaknya.


Sesekali Liam melirik Lesya yang terlihat terdiam melamun.


"Ehhem" Liam berdehem untuk mencairkan suasana.


"Kapan aku bisa bertemu orang tuamu". Liam memulai pembicaraan.


"Terserah bapak" kata Lesya.


"Kalau terserah saya, saya bisa ketemu orang tuamu sekarang" tegas Liam.


"Sekarang sudah malam. Besok saja" Lesya mulai memberikan pendapatnya.


"Nah gitu. Kalau di tanya dijawab. Terserah itu bukan jawaban yang tepat" ucap Liam.


Lesya menoleh ke arah Liam sekilas. "Plian plan banget ni orang. Biasanya juga kan nggak pernah terima pendapat orang lain" batin Lesya.


"Kita nggak ada banyak waktu. Waktu kita cuma seminggu sampai ke pernikahan" kata Liam.


"Heem" jawab singkat Lesya.


"Aku nggak ingin ngundang banyak orang" ucap Liam lagi.


"Sama. Aku nggak ingin ngundang siapapun selain sahabatku" kata Lesya.


"Lagian cuma nikah sementara. Aku nggak mau semua orang tahu pas sudah pisah nanti. Bisa-bisa jadi bahan topik hangat tiap hari" pikir Lesya.


Akhirnya mereka sampai di depan rumah Lesya.


"Terima kasih" ucap Lesya dengan menundukkan kepalanya. Lalu dia turun dari mobil.

__ADS_1


"Cih, nggak sopan banget. Cuma terima kasih. Udah kayak sopirnya aja aku ini" batin Liam yang ngedumel karena tingkah Lesya.


Lesya menunggu kepergian Liam di depan pagar rumahnya, sampai mobil Liam tak terlihat dari pandangannya. Setelah itu Lesya masuk ke pekarangan rumahnya. Di lihatnya motor matic merah kesayangannya sudah terparkir di halaman rumah.


"Rupanya beneran di anter ke rumah. Eh, tapi kok bisa tau alamatku ya ?" Lesya mengerutkan keningnya, karena heran dari mana asisten Liam bisa tahu alamat rumahnya. Sedangkan dia tadi tak memberi tau alamat rumahnya.


Dia melangkah memasuki rumah dan masih dengan kebingungannya.


"Assalamu'alaikum" ucap salam Lesya saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam" jawab Ibunya yang berada di ruang tengah depan Televisi.


"Ibu lagi apa ?, Sudah makan ?" Tanya Lesya kepada ibunya dan menghampiri untuk menyalaminya.


"Sudah makan kok Les. Gimana tadi makan malamnya ?" Tanya ibu marini sudah tak sabar ingin mendengar cerita dari putrinya.


"Ya begitulah bu" Lesya enggan menceritakannya.


"Gimana ?, Apa kamu nggak nyaman ?" Ibu marini terus bertanya.


"Orang tua pak Liam baik, ramah dan hangat" jawab Lesya.


"Bu, sepertinya pak Liam sudah nggak mau nunggu waktu lama lagi. Beliau merencanakan kita menikah satu minggu lagi" ucap Lesya.


"Kamu yakin ?, Ibu senang. Itu berarti dia pria yang baik tidak menunggu waktu lama-lama untuk sah dan halal. Karena tidak baik kalau udah bareng-bareng terus-terusan tapi tak ada arah tujuan untuk menikah" jelas ibunya.


Lesya hanya mengangguk mendengar penjelasan ibunya. "Apakah benar dia pria yang baik ?. Tapi mengapa harus menikah sepertti ini kalau dia beneran pria yang baik. Harusnya dia tau kalau menikah bukan ajang perlombaan dan bukan zona permainan" pikir Lesya.


"Aku mau mandi dulu ya bu" ucap Lesya.


"Ibu tadi sudah siapkan air hangat untukmu. Cepat mandi, nanti keburu airnya dingin lagi" perintah ibunya.


"Iya bu". Lesya lalu pergi ke kamarnya dan segera masuk ke kamar mandi untuk memulai ritual mandinya.


Selang beberapa menit akhirnya dia selesai mandi. Lalu mengambil mukenah untuk memulai sholat isya'.


Tepat setelah selesai sholat dan berdo'a, terdengar suara ponselnya berbunyi.

__ADS_1


Triiing triiing triiing...


Dia pun menghampiri ponselnya yang tergeletak di meja riasnya. Terpampang nama Denis di situ.


"Assalamu'alaikum" ucap Lesya saat mengangkat telefon dari sahabatnya.


"Waalaikumsalam" jawab Denis terdengar suaranya di sambungan telefon itu.


"Ada apa ?, Tumben" tukas Lesya.


"Kamu sibuk nggak besok. Besok libur kan ?" Tanya Denis.


"Iya besok aku libur".


"Oke sip. Besok aku akan main ke rumahmu. Siapin masakan yang enak ya. Hahaha" terdengar tawa sahabatnya itu menggelegar.


"Kebetulan sekali kamu mau kesini. Aku mau bercerita sesuatu".


"Emang kalau sekarang nggak bisa ceritanya ?".


"Kebiasaan, nggak sabaran banget deh. Enak kalau cerita langsung" kata Lesya.


"Oke, oke. Ya udah aku tutup ya" kata Denis.


"Eemm" tukas Lesya.


"Assalamu'alaikum" lalu Denis mengucapkan salam untuk mengakhiri panggilan itu.


"Waalaikumsalam".




\_Oke di tunggu kelanjutannya ya teman-teman. Tinggalkan like, give, vote dan tekan favoritnya. supaya kalian dapat notif setiap aku update bab baru.


__ADS_1


Terima kasih. 🙏


__ADS_2