Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 29. TAK ADA PILIHAN


__ADS_3

"Emang cantik broo... Kalau kamu nggak tarik gass bakalan keduluan buaya lain brooo" ledek Roy.


"Kalau kau sudah beres aku tinggal dulu. Besok-besok kita bisa ketemu lagi" tukas Liam.


"Mau kemana sih bro, buru-buru amat. Besok aku mau berkunjung ke yayasan sekolahmu. Aku mau belajar administrasi langsung disana" Ucap Roy.


"Terserah kau saja. Hubungi aku kalau kau sudah menentukan waktunya. Sekarang aku mau pergi dulu. Ow ya, tolong kau antar eric pulang atau terserah dia mau kemana" kata Liam.


"Lah lah... kenapa jadi aku yang ngantar. Brooo..." Setengah berteriak, karena Liam tak menggubris ucapannya.


Langkahnya terburu-buru keluar dari cafe itu. Liam melihat Lesya yang masih diparkiran menyiapkan helm yang akan dipakai. Tapi David sudah berada di dalam mobil. Tanpa berfikir panjang, Liam langsung mempercepat langkahnya menghampiri Lesya. Dia tarik tangan Lesya.


"Eh eh,,, ini ada apa ?" Lesya bingung kenapa dia tiba-tiba ditarik oleh si bos itu.


"Pak, lepas pak" berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Liam.


Lesya ditarik dan didorong masuk kedalam mobil Liam. Ia lalu Memutari mobilnya dan masuk disisi kemudi. Dia langsung tancap gas meninggalkan parkiran dan tempat itu.


Sementara David yang sudah berada didalam mobil tak memperhatikan Lesya yang sudah ditarik paksa oleh Liam karena dia sibuk membalas pesan masuk yang ada di ponselnya. Ditolehnya sisi kanan dan kiri "kok Lesya nggak ada tapi motornya masih disitu" gumamnya. Dia pun kembali keluar dari mobil. Pandangannya mengitari seluruh area parkiran itu.


"Apa mungkin dia kembali masuk karena ada urusan lagi sama temannya ?. Ah sudahlah, mungkin dia kembali masuk kedalam". Tanpa memastikan, David langsung menaiki mobilnya dan pergi.


*


"Pak ada apa ini. Saya mau dibawa kemana ?" Lesya sekarang sangat gemetar. Dia takut dengan Liam.


Liam tak menjawab pertanyaan Lesya. Tatapannya lurus kedepan dan terlihat sangat dingin. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas suasana dingin itu sungguh membuat Lesya tambah khawatir. Khawatir akan dirinya sendiri.


"Pak, saya mohon turunkan saya disini".


"Pak, motor saya masih tertinggal disana. Tolong turunkan saya saja pak, kumohon". Lesya memohon dengan wajah sendu dan kedua tangannya ditelangkupkan didepan dada.


Liam yang geram mendengar keluhan Lesya, langsung membanting setir dan berhenti didekat trotoar jalan.


"Sekarang jelaskan padaku, ada hubungan apa kau dengannya ?" Tanya Liam dengan menatap mata Lesya.


"Bukan urusan bapak" singkat Lesya dan membalas tatapan Liam. Lalu memalingkan wajahnya melihat jendela sampingnya.


"Oow... Begitu. Bukankah aku sudah bilang kalau tidak boleh ada hubungan lebih antara para guru ?" Menyunggingkan sebelah bibirnya.


Lesya terdiam melihat Liam dan mengerutkan dahinya.


"Sekarang aku nggak mau tau. Kau memilih menikah denganku atau kau akan aku keluarkan dari sekolah dan harus bayar hutangmu kepadaku. Lunasi sumuanya selama tiga hari. Ingat, aku tak terima penolakan dan penawaran" ucapnya dengan penuh penekanan.


"Kenapa aku harus dikeluarkan ?" Tanya Lesya dengan gemetar.

__ADS_1


"Karena kau menjalin hubungan dengan guru laki-laki itu" ucap Liam.


"Pak, kami itu tak ada apa-apa. Meskipun ada hubungan, bapak nggak berhak mengatur saya" tegas Lesya.


"Saya punya hak. Kau lupa siapa saya hah ?". Mukanya sudah mulai memerah karena amarah.


"Huuffttt"... Lesya menghembuskan nafasnya pelan untuk mengatur emosinya. "Pak, saya beneran tidak ada hubungan sama pak David. Bagaimana kalau bapak tanya saja sama pak David".


"Duh, wanita ini kekeh sekali. Aku tak punya cara lain. Sedangkan tenggang waktuku tinggal dua hari" batin Liam. Dia mengingat perjanjian dengan mamanya.


"Tidak ada urusan aku dengan dia. Urusanku hanya denganmu. Jadi kau pilih yang mana. Aku tunggu jawabannya besok pagi" ucap Liam dan mulai menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya lagi.


"Ya Allah,,, aku harus bagaimana. Bagaimana caranya aku mencari uang sebanyak itu. Kenapa dia tak mau mendengarkan penjelasanku. Kalau aku menikah dengannya apakah ibu merestuiku ?. Tapi ini pernikahan yang konyol bagiku. Aku tak mau menikah hanya untuk dimanfaatkan. Ya Allah,,, kenapa ini semua tak adil bagiku". Lesya terus bergelut dengan batinnya. Semua fikirannya berkecamuk di kepalanya.


Air matanya sesekali menetes jatuh dari pelupuk matanya. Meskipun dia berusaha untuk menahan, tapi sesekali tetap lolos dan turun kepipinya. Berulang kali dia mengusap air mata itu.


Liam yang sesekali melirik kearah Lesya merasa tak tega. Namun dia terpaksa melakukan hal itu.


*


Sebelum Lesya turun dari mobil Liam. Dia diam sejenak. Pandangannya lurus kedepan, wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi sedikitpun.


"Baiklah, saya bersedia menikah dengan bapak" ucapnya dengan tetap memandang kedepan.


"Baik, besok kita ketemu lagi. Akan kita bahas semuanya tentang hal ini. Ingat, jangan sampai kau malarikan diri" kata Liam.


Lesya langsung turun dari mobil Liam. Dan menuju motornya. Denis yang melihat sahabatnya dari kejauhan turun dari mobil mewah, terus melihatnya.


"Hebat Lesya, dalam sehari bisa menggaet dua pria. Sejak kapan sahabatku itu menjadi mahir bermain dengan pria" gumam Denis dengan gelengan kepala.


Lalu dia berlari keluar menghampiri Lesya.


"Hey hey Les. Tunggu" ucap Denis.


"Apaaa, aku mau pulang" jawab Lesya dengan malas tanpa melihat Denis.


"Elu kenapa sih" berusaha membalikkan badan Lesya yang memunggunginya.


"Ya ampun Les, elu kenapa ?, Habis nangis ?, Kenapa mata elu sembab gitu" tanya Denis dengan mata yang menyelidik mengamati muka sahabatnya.


"Enggak, nggak papa. Mataku tadi kelilipan hewan yang kecil-kecil itu looh. Makanya jadi gini". Dia tersenyum supaya temannya itu tak curiga.


"Benarkah ?, Ya sudah kalau nggak papa. Oh iya, siapa lagi itu tadi. Sepertinya bukan mobil David deh".


"Heeemm,,, mulai mengintrogasiku kayak polisi aja kamu tuh".

__ADS_1


"Ya habis, gue heran sama sahabat gue. Masak tadi sama David sekarang udah sama yang lain aja. Sejak kapan sahabatku ini jadi pintar bermain sama cowok" Denis menaik-naikkan kedua alisnya menggoda Lesya.


Tangan lesya mentoyor kening Denis, "pikiranmu itu mbok yo sekali-kali mikir yang baik-baik ngopo to". Lesya gemas dengan sahabatnya.


"Iiiiiihh... Kepalaku kau toyor-toyor kayak gini entar otakku jadi miring lagi" kesal Denis.


"Lah, otakmu mana pernah bener sih nis. Pppffttt" Lesya menertawakan Denis.


"Kurang ajar" Denis sedikit mencubit pinggang Lesya.


"Aduuuh" kata Lesya.


"Meskipun otak gue miring, elu mau-mau aja temenan sama ane. Mana gue cantik lagi. Gue paham tau, kalau elu tertarik sama pesona kecantikanku makanya kamu temenan sama aku, hech" ucap Denis sambil mengibaskan sebelah rambutnya.


"Idiiiih... Pede banget luuu... Elu kali yang dulu mepet-mepet mulu ngajak gue ngobrol. Aku mah tau, elu nggak dapet temen kan, makanya elu temenin gue. Kalau aku mah sudah biasa ya nggak punya temen" ucap Lesya.


"Awas aja lu, gue sumpahin lu nikah sama cowok nyebelin. Aahahaha" canda Denis seraya tertawa.


Deg...


Hati Lesya serasa disentil atas ucapan denis tentang menikahi cowok nyebelin. Dia lalu teringat denga Liam.


Lalu dia berusaha tersadar dan menggelengkan kepalanya.


"Ck" berdecak. "Punya mulut mbok ya dijaga. Dasar sahabat minim akhlak" Lesya mencibik kesal.


"Udah, pulang sana. Entar keburu Maghrib" kata Denis.


"Nggak usah ngusir ya, aku juga udah mau pulang dari tadi. Acara pulangku jadi tertunda gara-gara meladeni kamu".


"Ya sudah, aku pulang dulu ya. Daaah... assalamu'alaikum" Lesya melambaikan tangan dan mengucap salam.


"Waalaikumsalam, hati-hati dijalan" kata Denis sambil membalas lambaian temannya.




\_Bagaimana kelanjutannya ??,


Ditungguin yaaah 😊



Terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2