
"Iya, saya lupa. Baiklah, besok saya akan naik taxi saja" kata Lesya.
"Tidak usah".
"Kenapa ?" Tanya Lesya.
"Tak perlu tanya kenapa. Bukankah sudah ku bilang sebelum-sebelumnya turuti saja perintahku" tegas Liam.
Lesya memutar bola mata jengah dan lebih memilih diam karena malas berdebat dengan suami arogannya.
Saat sudah sampai depan perusahaan Proweb, Liam langsung turun dari mobil dan hanya mengucapkan salam tanpa melihat Lesya.
Lesya menjawab salam itu, dan masih berada di dalam mobil hanya terdiam menatap punggung sang suami yang terus berjalan memasuki perusahaan itu.
"Ya Allah... Masih adakah stok hidayah dariMu ?,,, Kalau masih ada, tolong kasih sebuah hidayah untuk dia. Agar dia sadar Ya Allah" keluh Lesya dalam hatinya.
"Baik non, ayo kita berangkat" kata Eric.
"Em" jawab singkat Lesya.
Merasa capek karena terus bergelut dengan fikirannya, dia memilih untuk menutup matanya. Agar bisa tidur sebentar di dalam mobil itu dan menunggu sampai tiba di sekolah. Lumayan bisa nambah tidur sebentar dan mengobati kantuknya fikirnya.
Sesampainya di sekolah dia langsung bersiap masuk ke kelas untuk memulai materi pelajaran.
"Bu Lesya" panggil David yang berjalan di belakangnya.
Lesya menoleh ke belakang ke arah sumber suara.
"Oh anda ternyata. Ada apa pak ?" Tanya Lesya.
"Nggak ada apa-apa. Mari kita jalan bareng ke kelas masing-masing" kata David sambil mempersilahkan Lesya untuk kembali berjalan.
"Oh,,, baiklah" kata Lesya.
"Nanti siang bagaimana kalau kita makan siang diluar ?" Usul David.
"Aha, ini kesempatan bagus untuk mendekatkan Denis dengan David" batin Lesya.
"Boleh". Jawab Lesya.
"Eem,,, saya belum mencari rekomendasi restoran yang cocok untuk makan siang. Nanti biar sari searching dulu ya" kata David.
"Bagaimana kalau kita makan di cafe Denis lagi saja pak. Biar anda nggak repot nyari-nyari lagi" usul Lesya.
"Ide bagus Lesya" puji Lesya untuk dirinya sendiri dalam hati.
"Eeemm.... Boleh". Kata David.
Namun lain di mulut lain di hati. Karena sebenarnya David hanya ingin berdua dengan Lesya. Sedangkan kalau harus makan di cafe Denis sudah pasti Lesya lebih terfokus ke temannya di banding ke dirinya. Dan lagi-lagi David tak bisa menolak usulan Lesya.
Mereka kini sudah berada di dalam kelas masing-masing. Setelah Lesya memberikan tugas kepada para siswanya, Lesya beristirahat sejenak di kursi kelas itu. Berniat mengirimkan pesan ke sahabatnya.
__ADS_1
"Perhatian perhatian" Lesya mulai mengirimkan pesannya.
Denis yang kini sibuk di dapur toko cafenya mendengar suara ponselnya berbunyi sekilas.
Triing...
Tanda bunyi ponselnya menerima sebuah pesan.
"Lesya" gumam Denis saat melihat pesan yang dikirim tertera nama sahabatnya.
"Tumben banget ni orang jam segini ngirim pesan". Lalu dia membuka isi pesan itu.
"Ono ngopo ? (Ada apa ?). Nggak usah pamer cerita malam pertama. Gue nggak tertarik dan nggak ingin tau" balas Denis dalam pesan itu serta membubuhkan emotikon kesal dan malas.
Kini pesan itu tersampaikan ke Lesya. Seulas senyum nampak saat dia membaca isi pesan itu.
"Judes amat sih buuuk... Lagian siapa yang mau cerita... Aku nggak mau ya cerita hal yang enak-enak ke kamu. Puuufffttt (◍•ᴗ•◍)" balas Lesya sengaja untuk mengompori temannya. Dia sedikit geli dan menahan tawa saat membalas pesan itu.
"bodooo ammaaattt" balas Denis.
"Mau tau sesuatu yang bagus nggak nih ?" tanya Lesya dalam pesan itu.
"Jangan bilang elu udah hamil" balas Denis sengaja menggoda balik temannya.
"Gitu mulu dah. Gila lu ya" kesal Lesya. "Mana ada malam pertama besoknya langsung bisa hamil" kata Lesya.
"bwahahaha" balas Denis sambil tertawa beneran, membuat semua karyawannya yang ada di dapur itu terkejut dan semua menoleh ke arahnya.
"Eh, maaf rek. Lanjut aja lanjut" kata Denis ke karyawannya.
"Dasar cah sempruuulll (dasar anak sempruuulll). Bener-bener temen non akhlak" balas Lesya.
"hahaha.... Ada sesuatu apaan emangnya ?" Balas Denis kini mulai serius bertanya.
"Nanti siang aku mau makan siang di cafemu sama pak David" isi pesan Lesya.
Denis langsung kegirangan melihat isi pesan itu. "Sumpah lu nggak bohong kan ?" Tanya Denis.
"Tunggu aja. Udah gue mau lanjut ngajar" balas terakhir Lesya.
"Siiiaaap... Gue tunggu" kata Denis.
*
Liam kini sedang ada rapat yang serius. Ini kerja sama antara perusahaannya dengan perusahaan teman lamanya. Mereka akan meluncurkan Laptop merk terbaru dengan spesifikasi yang lebih bagus. Dan dijamin perusahaan lain belum ada yang membuat spesifikasi seperti itu.
"Thank you Mark untuk kerja samanya" ucap Liam dengan menjabat tangan mark.
"You are welcome Liam. Saya senang bisa kembali ke Indonesia dan berkerja sama denganmu" Kata Mark.
Mark adalah teman Liam waktu kuliah di luar Negeri. Dan kini dia telah mempunyai perusahaan dengan beberapa anak cabang yang ada di Indonesia.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita makan siang bersama" tawar Liam.
"Itu ide bagus. Kita sudah lama tak makan bersama" kata Mark.
Mereka pun langsung menuju ke restoran mewah untuk makan siang. Mereka berempat yaitu Liam, Eric, Mark dan asistennya berjalan masuk ke restoran itu.
Seperti biasa, Liam memesan tempat yang paling dekat dengan kaca jendela. Sehingga dia bisa melihat pemandangan dan jalanan yang sedang ramai.
Mereka terus mengobrol santai, sambil mengingat masa-masa saat masih kuliah dulu.
"Apa kau tak ingin menikah ?" tanya Mark tiba-tiba di sela obrolan mereka.
uhhuk,,, uhhuuuuk...
Liam yang mendapat pertanyaan tiba-tiba dari temannya itu langsung tersedak.
"Pelan-pelan bos. Ini bos minum" kata Eric dengan menyodorkan minum untuk Liam.
ehheem...
Dehem Liam karena tenggorokannya masih terasa mengganjal dan serak.
"Kenapa Liam ?, apakah pertanyaanku terlalu sensitif untuk mu ?" Tanya Mark lagi.
"Oh, tidak. Tadi makanannya cuma nyangkut di tenggorokan ku, dan membuatku tersedak" Liam mencari alasan.
"Aku akan mengundangmu nanti saat aku mengadakan resepsi pernikahan. Dan kau harus datang saat ku undang" tutur Liam dengan seulas senyum.
"Ooh tentu saja aku akan datang. Meskipun saat itu aku berada di luar Negeri aku pasti kembali dan akan datang" ucap Mark.
"Lalu kau apakah sudah punya rencana untuk menikah juga ?" Tanya balik Liam.
"Tentu,,, tapi saat ini aku hanya akan menikmati dengan banyak wanita dulu" kata Mark dengan senyum sombongnya.
"heemmm" Liam memanggutkan kepala dan tersenyum, "Kau memang tak pernah berubah. Masih saja jadi raja plaboy" ucap Liam.
"Hidup itu dinikmati, jangan dibikin serius mulu Am. Kau terlalu serius dengan hidupmu. Sampai kau tak tau bagaimana menikmatinya" tutur Mark.
"Aku tau cara menikmati apa yang aku hasilkan. Hanya saja aku tak mau menggunakannya dengan asal-asalan. Dan aku masih ingat dosa jika ingin berbuat hal yang dilarang" Liam menjawab dengan bijak, serta sangat santai.
"Salut aku sama kamu. Masih kuat iman. Dari dulu kau pun tak pernah berubah" puji Mark.
\_Dasar Liam sok-sok'an bilang takut dengan hal yang dilarang. Tapi niat pernikahannya saja salah ya gaes. Hahaha....
\_Jangan lupa tinggalkan like, vote, hadiah serta tekan favoritnya ya teman-teman.
__ADS_1
Terima kasih 🙏