Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 69. MINTA SALIM


__ADS_3

Tentu saja tak mungkin Lesya yang terlebih dulu membuka hatinya begitu saja. Dia tak mau jatuh kelubang buaya. Dia tak mau menambah luka yang berulang kali menganga.


Dia berusaha menekan perasaannya. Jangan sampai ada benih cinta yang tumbuh. Karena dia rasa itu akan percuma dan sia-sia. Mengingat semua yang terjadi dalam pernikahannya yang berawal dengan niat yang salah dan tak pernah ada kata cinta yang terucap.


Tetapi hal itu berbeda dengan Liam. Dia sudah mulai menganggap pernikahan ini ada. Pernikahan ini nyata dan dia mulai menerimanya. Dia pun sampai tak menganggap surat perjanjian yang mereka sepakati berdua. Baginya surat itu sudah musnah. Dan dia sudah tak membutuhkan itu lagi dalam pernikahannya. Hanya saja dia tidak tahu bagaimana caranya mengungkapkan isi hatinya.


Dilantai bawah rumah Liam mereka sedang berkumpul di meja makan bersama untuk sarapan pagi.


Liam mengedarkan pandangannya di meja makan itu. "Sepertinya nggak ada masakan dari Lesya disini". Batin Liam.


"Mau lauk yang mana ?" Tanya Lesya. Menenteng piring, mengambilkan sedikit nasi untuk Liam. Ini memang kebiasaan yang diterapkan mama Lia untuk mengambilkan makanan untuk suami masing-masing.


"Kamu tadi nggak masak ?" Tanya Liam.


""Eemm... Enggak" jawab Lesya.


"Lesya tadi agak telat bangun" jelasnya.


"Mama yang suruh Lesya nggak usah masak Liam. Mama minta dia siap-siap saja. Takutnya nanti dia telat. Sepertinya nak Lesya kelihatan sangat capek" sahut mama Lia menjelaskan. Beliau mengedipkan sebelah matanya ke Liam dengan tersenyum aneh.


Liam yang melihat mamanya seperti itu hanya menggelengkan kepala.


"Owh... Lain kali tetap masak ya. Masakin aku satu menu aja nggak usah banyak-banyak" pinta Liam.


Dan dibalas anggukan kepala oleh Lesya. Batin Lesya "sumpah ini orang dari kemarin kesambet apa sih. Dari kemarin tingkahnya kayak lembut gitu ke aku. Selembut downy".


Mereka terdiam dan mulai menyantap sarapan pagi mereka masing-masing. Hanya terdengar bunyi sendok dan garpu yang sedang beradu.


"Oh iya mah pah, Lesya mau ijin. Mungkin nanti Lesya pulang agak sedikit telat".


Belum selesai melanjutkan ucapannya, Liam langsung menyahuti Lesya. "Kenapa pulang telat ??,,, Mau kemana ??" Mendengar sang istri berkata akan pulang telat Liam langsung menolehkan wajahnya ke Lesya. Dan melontarkan pertanyaan dengan suaranya yang mulai terdengar tak ramah di telinga.


Lesya membalas tatapan Liam sambil mengerutkan keningnya. "Dengar dulu. Jangan dipotong, saya belum selesai bicara" tutur Lesya.


"Nanti sepulang dari sekolah saya mau mampir ke rumah ibu sebentar mah pah. Lesya ingin ketemu ibu" jelas Lesya.


"Iya,,, kamu hati-hati dijalan. Nanti diantar Liam kan ?" Tanya papa Tama.


"Enggak pah. Mas Liam sibuk. Nanti saya berangkat sendiri saja naik taxi. Atau saya bisa naik motor saya saja" ucap Lesya.


"Jangan.... Nggak usah naik motor. Naik taxi saja. Nanti pulangnya aku jemput" tutur Liam penuh penekanan.


"Mama boleh ikut kamu kerumah ibu Marini nggak ?" Tanya mama Lia.


Lesya mengerutkan keningnya mendengar ucapan mama Lia yang ingin ikut bersamanya.


"Tapi Lesya sekarang mau ngajar dulu mah. Gimana dong ?"


"Ya mamah berangkatnya nanti dong sayang... Mama berangkat sendiri nanti diantar mang udin. ( Mang udin adalah supir pribadi di keluarga Rayandra ).


"Oow... Baiklah... Boleh saja mah. Emang mama nggak repot ?" Tanya Lesya.


"Enggak repot kok sayang. Papah nanti mau ke kantor. Sudah pasti mama sendirian di rumah.

__ADS_1


"Mamah main ikut-ikut saja. Emang papa udah ngijinin mamah ?" Sahut papa Tama.


"Ooow... Papah nggak ngijinin ?... Oke, mama nggak jadi ikut Lesya. Tapi jangan harap nanti malam mama kasih kalau papa minta ke mama" kesal mama Lia dengan wajah masam.


"Jangan gitu dooong. Kan papa bercanda mah... Mama tambah cantik kalau marah" rayu suaminya.


"Tolong,,, acara mesra-mesraannya di pending dulu. Disini masih ada mahkluk hidup yang lain" tukas Liam.


"Kenapa ??... Kamu iri ??..." cibir mama Lia.


"Suamimu iri nak Lesya. Tenaning tuh... Biar adem" kata mama Lia ke Lesya.


Lesya hanya tersenyum mendengar clotehan kedua mertua dan suaminya. Merasa lucu dan hangat dilihat. Pertengkaran ini bukan pertengkaran yang serius. Ini hanya bumbu-bumbu sedap dalam keluarga. Lesya bahagia melihat keluarga barunya. Entah sampai kapan dia bisa merasakan kebahagiaan dan kehangatan dari keluarga ini.


"Jangan terlalu sering senyum-senyum seperti itu" tukas Liam saat melirik wanitanya yang terus tersenyum.


"Apa sih. Lagian sejak kapan senyum dilarang" tukas Lesya.


"Sejak hari ini. Dan aku yang membuat aturan. Dan aturan itu khusus buat kamu" ucap Liam.


Lesya memicingkan matanya dan mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Liam. "Ih... Kumat lagi ngesellininnya" gumamnya dalam hati.


"Nggak usah kayak gitu ku bilang" tegas Liam.


"Kenapa lagi siiih ??" Kesal Lesya.


"Nggak perlu majuin bibir kayak gitu".


"Ini Bibir aku kenapa situ yang ribet" gerutu Lesya dengan pelan.


"Mereka sangat menggemaskan ya pah" bisik mama Lia.


"Iya mah" tukas papa Tama.


"Sudah-sudah nggak ribut" tutur papa Tama menengahi keduanya.


"Liam berangkat dulu pah mah". Lalu Liam beridiri dari kursinya dan menyalami kedua orang tuanya.


"Iya... Hati-hati. Kalau ada masalah di kantor hubungi papah" pesan papa Tama.


"Eemm" singkat Liam.


"Lesya juga pamit pah mah" dia juga menyalami kedua mertuanya.


"Hati-hati ya sayang" tutur mama Lia.


"Iya mah. Nanti kalau mama mau berangkat telfon Lesya ya mah" tutur Lesya.


"Oke sayang" jawab mama Lia sambil mengangkat kedua jempolnya tanda setuju.


Lesya tersenyum. "Assalamu'alaikum" ucap Lesya.


"Waalaikumsalam" jawab kedua mertuanya.

__ADS_1


Sedangkan Liam sudah berjalan duluan keluar dari rumah.


Tiba-tiba Liam menghentikan langkahnya. Lesya yang masih berjalan lumayan jauh dibelakangnya, melihat suaminya itu yang berhenti berjalan.


"Ngapain berhenti !!... Apa ada yang ketinggalan !!" gumam Lesya sambil terus melangkahkan kakinya.


"Apa ada yang ketinggalan ?" Tanya Lesya dari belakang Liam.


Liam membalikkan posisi badannya.


"Em.. Ada" ucap Liam. "Nih..." sambungnya dengan menyodorkan tangannya.


Lesya mengerutkan keningnya. Dia bingung dengan maksut dari Liam.


"Apa ?" tanyanya.


"Salim" kata Liam.


"Hah ??" Lesya masih tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"budek ya... Salim ku bilang" ulang Liam dengan suara sedikit keras.


Dengan ragu Lesya mengangkat tangannya. Perlahan dia mulai menyambut tangan Liam. Beberapa detik berjabat tangan dengan Liam. Tapi Liam tak melepaskan tangannya. Lesya mulai sedikit menarik tangannya.


"Ulang..." tukas Liam.


Lesya menaikkan alisnya dan mengerutkan keningnya. Lagi-lagi dia tak faham dengan ucapan Liam.


"Ulang ku bilang. Bukankah caramu bersalaman denganku itu salah ?" tutur Liam.


Lesya hanya menganga mendengar ucapan Liam.


"Ulangi yang benar. Salim seperti kau menyalami kedua orang tuaku" perintah Liam.


"Ya ampun... Ini orang sengaja ngerjain aku apa bagaimana ?" batin Lesya.


Dengan ragu-ragu lagi, Lesya mulai mencium punggung tangan Liam.


Liam tersenyum samar melihat dan merasakan punggung tangannya di cium oleh Lesya. "sikapmu manis sekali" gumam Liam dalam hatinya.


Lalu Liam melepaskan tangannya. "Lakukan seperti itu setiap hari setiap akan pergi kemanapun" tutur Liam. Lalu dia pergi meninggalkan Lesya.


Lesya masih sedikit syok. Dia terus memandangi punggung Liam yang mulai menjauh darinya.


"Oh my god. Pagi ini sungguh banyak sekali hal yang mengejutkan ku. Kalau dia begini setiap hari lama-lama bisa serangan jantung aku. Entah apa yang merasukimu. Yang jelas kau semakin membuat pendirian ku semakin goyah" gumam Lesya.




\_Semoga cepat di lolosin ya gaess...


__ADS_1


Terima kasih 🙏


__ADS_2