
Flashback On*
Lesya bergelut dengan semua fikirannya.
Kalau aku memilih keluar bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Kalau aku mengambil pinjaman bank, aku tak punya jaminan. Jaminan yang ku punya cuma rumah yang kita tempati. Apa aku harus meminta bantuan sama Denis. Ah, tapi aku tak enak kalau selalu harus merepotkannya.
Tapi aku tak mau jika harus menikah dengannya. Bagaimana bisa aku menikah dengan orang sedingin dia, apalagi ini pernikahan konyol menurutku. Ah, apa boleh buat, akan aku lakukan. Ya Allah,,, mengingat pernikahan gila ini kok kepalaku semakin sakit ya.
Apa aku terima saja ya ?. Cuman sementara kan ?. Astaghfirullah... Maafkan aku Ya Allah... Maafkan kesalahanku. Keadaan ini sungguh menyulitkan bagiku. Aku yakin suatu hari nanti akan ada titik terang yang terbaik. Semoga pilihan ini yang terbaik juga bagi semuanya.
Lalu, bagaimana aku harus mengatakannya pada ibu ?. Bu maafkan aku yang terpaksa berbohong pada ibu. Aku terpaksa harus melakukannya demi kita.
Semua fikiran yang terus berdebat dalam benaknya kini mendapat jawaban. Ya jawabannya, Lesya mengiyakan permintaan nikah sementara itu.
Flashback Off*
Seperti biasa, sesampainya dirumah Lesya langsung membersihkan dirinya. Lalu menunaikan sholat magrib. Setelah itu dia keluar dari kamarnya untuk makan malam dirumah berdua dengan ibunya.
Mereka mengobrolkan banyak hal sampai akhirnya makanan pun sudah habis.
"Bu aku ingin menanyakan sesuatu sama ibu" Lesya memulai pembicaraan lagi.
"Iya, apa ?".
"Bagaimana kalau dalam waktu dekat ini aku menikah ?" Tanya Lesya.
"Yang pasti ibu akan setuju dan bersyukur. Ibu yakin kalau kamu bisa memilih calon imam yang baik untukmu" jawab ibunya dengan senyum yang terlihat bahagia di wajahnya.
"Mungkin dalam beberapa hari kedepan akan ada orang yang meminangku" ucap Lesya.
"Beneran Les ?" Sambil mengerutkan keningnya. Ibu marini heran dengan putrinya karena dia fikir kata-kata Lesya tadi cuman candaan.
"InsyaAllah bu".
"Kok kamu nggak pernah kenalin sama ibu kalau kamu selama ini punya kekasih ?, jangan-jangan kamu hamil nduk".
"Astaghfirullah bu, ya enggak lah bu. Jangan berfikiran yang aneh-aneh bu. Lesya masih bisa jaga diri" ucapnya.
"Kami baru kenal kok bu. Tapi tiba-tiba dia mengajakku untuk menikah". Lesya berusaha setenang mungkin saat mengutarakannya supaya ibunya tak khawatir ataupun curiga.
"Orang mana Les ?, Kamu sudah beneran yakin ?. Kenapa kamu bisa begitu yakin, padahal kalian baru kenal" tanya ibunya.
"Aduh, aku nggak tau bos dingin itu orang mana ya ?. Ternyata kepo itu diperlukan juga ya" Lesya sedikit bingung. Dia tak pernah tau seluk beluk Liam. Dia pun tak pernah mendengarkan jika teman sesama guru membicarakan direktur yayasan sekolah tersebut.
__ADS_1
"Dia orang ternama di sekolahku bu. Nanti ibu juga pasti tau semuanya. InsyaAllah dia orang baik kok" terang Lesya.
"Ya sudah, semoga pria itu pilihan yang tepat untukmu" ibu Marini lalu mengusap rambut panjang putrinya.
"Bu",,
"Apalagi nak ?".
"Bagaimana kalau nanti kalau sudah menikah aku harus tinggal dengan suami dan mertuaku, apa ibu juga mau ikut denganku ?" Tanya Lesya. Dengan berat hati dia bertanya pada ibunya. Namun dia tetap harus menanyakannya.
"Nggak usah mikirin ibu nduk, ibu kan sudah sehat. Nanti biar Nindi ibu suruh tidur disini menemani ibu kalau malam".
Nindi adalah sepupunya. Putri dari adik ibu Marini. Dia seorang gadis remaja yang masih duduk dibangku SMA yang kebetulan bersekolah di SMA Unggul tempat Lesya mengajar. Dan rumah mereka pun bersebelahan.
"Tapi bu, Lesya nggak tega ninggalin ibu" Lesya memegang tangan ibunya dengan erat.
"Nduk,,, ibu beneran sudah sehat. Kamu lihat sendiri kan, kalau ibu sekarang sudah normal, penyakit ibu hampir tak pernah kambuh" ibu Marini berusaha meyakinkan.
"Bagaimana kalau aku carikan asisten rumah saja ya bu. Supaya ibu ada teman nanti" ucap Lesya.
"Tak usah nak. Ibu bisa semua sendiri. Kan sudah ibu bilang kalau Nindi bakalan ibu minta untuk menemani ibu. Lagian kamu menikah pasti sama orang sedaerah sini kan ?. Nggak sampai luar negri kaan...". Ibu marini tersenyum lebar.
"Baiklah, aku juga bakalan sering-sering kemari bu. Kalau bisa aku akan kesini setiap hari sepulang mengajar".
Lalu mereka berpelukan. "Aku bakalan merindukan pelukan hangat ini nanti" ucap Lesya dan mengeratkan pelukan itu.
"Maafkan aku bu, aku tak bisa mengatakan apa sebenarnya yang terjadi".
*
*
*
Liam mencari ponselnya. Dia ingin menghubungi eric.
"Hallo ric, aku mau kau menuliskan sebuah kontrak untukku". Ucap Liam disambungan telepon dengan Eric.
"Iya tuan, kontrak apa tuan. Dengan perusahaan mana ?" Jawab Eric.
"Tulis saja sesuai apa yang aku perintahkan. Aku akan mengirimnya lewat pesan" lanjut Liam.
"Baiklah tuan".
__ADS_1
"Tapi ingat, ini rahasia. Kalau sampai ada yang tau, berarti kau pelakunya" ancam Liam.
"Siia_"... Tut tut tut tutt...
Sambungan terputus sebelum Eric selesai menjawab.
"Kebiasaan. Songongnya nggak ada ukuran emang. Untung aja bos gue" gumam Eric.
Setelah Liam kirimkan pesan perjanjian itu dia merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya. fikirannya melayang memikirkan dirinya yang akan menikahi seorang gadis yang baru dia temui beberapa hari ini.
"Heh" menyunggingkan sebelah bibirnya. "Kemarin kau bisa menolakku, tapi lihat sekarang kau tak berkutik dengan penawaranku".
Sementara Lesya yang berada di kasur kamarnya juga memikikirkan hal yang sama.
"Hidupku gini amat ya. Aku rindu waktu tiga minggu yang lalu yang semuanya terasa tenang dan nyaman. Sekarang kenyamanan itu mulai terusik lagi. Aaarrghh.... ini semua benar-benar membuatku pusing. Semakin difikirkan semakin membuatku limbung".
"Aku nggak bisa bayangin nanti hidup serumah dengannya. Dia benar-benar manusia paling dingin yang pernah ku kenal. Memang tampan, tapi ketampanannya tak berguna dan terkalahkan oleh sifatnya yang arogan..Bagaimana kalau nanti dia menyiksaku setelah menikah nanti. ooh... tidak-tidak, jangan su'udzon Lesya. hilangkan fikiran jahatmu". Seketika dia menggelengkan kepalanya.
"Cukup Lesya. Pejamkan matamu dan tidurlah. ingatlah hari esok akan datang. Dan kau butuh banyak tenaga untuk menghadapinya". Dia berusaha menyemangati dirinya.
Lalu dia mematikan lampu kamarnya dan beranjak tidur serta menarik selimut menutupi tubuhnya.
\_Coba kalau kalian yang diposisi Lesya, yang tiba-tiba di ajakin nikah sama pria ganteng serta sultan. Bagaimana reaksi kalian ?.
Apakah kalian tolak atau terima ?.
hehehe 🤗
\_O iya gaes, Pliiiss... tinggalkan jejak ya. Dengan beri Like, Vote, Give serta komentarnya.
Dukungan kalian sangat berarti untuk karya ini. Karena dengan dukungan kalian, karya ini akan mendapatkan respon yang baik nantinya.
Terima kasih untuk yang masih setia menunggu dan membaca karya ini. Semoga kalian tidak bosan membaca cerita ini.
__ADS_1
Terima Kasih. 🙏