
Di tempat lain Liam yang berada di kantor proweb sedang mengadakan rapat dengan perusahaan IT yang terkenal di ibukota. Berencana untuk bekerja sama mengembangkan bisnis mereka. Di akhir kesepakatan Liam menyodorkan berkas yang berisi kontrak kerja sama itu.
"Semoga kedepannya kita bisa terus bersama-sama membangun kerja sama ini. Terima kasih sudah mempercayai kami sebagai bagian dari perusahaan pak Mario" ucap Liam dengan sopan.
"Saya juga berterima kasih karena pak Liam sudah bersedia menerima kerjasama yang kami tawarkan. Saya yakin usaha kita ini akan sukses" balas Mario.
"Terima kasih" Liam membungkukkan kepalanya.
Setelah rapat selesai. Dia kembali keruangannya. Baru beberapa detik duduk suara pintu di ketuk.
"Ya , masuk" perintah Liam.
"Saya membawakan Teh hangat untuk Tuan" ucap Adira sang sekretaris yang memasuki ruangan itu.
"Saya lagi nggak berselera minum teh" jawab Liam yang dingin sambil menatap layar monitornya.
"Apakah Tuan sedang ingin minum kopi ?".
"Tidak, aku sedang tak ingin minum apa-apa sekarang. Bawa saja teh itu, atau untuk kamu minum" Perintah Liam.
Adira yang terpaksa keluar dari ruangan bosnya itu merasa kesal. Padahal ini adalah rencananya untuk mendekati sang bos.
__ADS_1
Ya. Sebelum teh itu dia berikan ke Liam, sudah dia campur dengan obat perangsang.
"Gagal lagi, gagal lagi. Jangan menyerah Adira. Apa itu menyerah. Tak ada kata menyerah dalam kamusku". Adira bergumam sendirian.
*
*
"Eric, bagaimana jika kau dipaksa untuk menikah ?". Tiba-tiba Liam bertanya pada Eric yang sedang serius menyusun laporan di ruangan itu.
Eric melongo dan mengrenyitkan kedua alisnya menatap si bos yang entah kenapa semakin hari semakin aneh menurutnya. "Salah makan apalagi ni orang. Atau memang otaknya lagi kebalik". Fikir eric.
"Kenapa ke THT tuan ?, Saya kan tidak sakit" jawab polos Eric yang semakin bungung.
"Oh my god" mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya. "Kau itu budek, polos apa bego ha".
"Ya kalau sudah ada calonmya tinggal nikah aja tuan" Eric lalu menjawab.
"Bagaimana kalau kau belum ada calon ?".
"Ya tinggal cari. Apa susahnya, perempuan kan banyak tuan".
__ADS_1
"Kali ini emang salahku sendiri, yang salah nanya orang. Tinggal cari kau bilang, nyari istri udah kayak nyari celana. Dikira gampang, hah" menyunggingkan sebelah bibirnya remeh.
"Gampang kok, asal tuan mau buka hati" ucap Eric.
"Aku cuma nanya ric. Kenapa kau jadi bahas hatiku".
"Salah lagi gue. Emang nasib jadi jongos nggak pernah bener" Eric sedikit menggelengkan kepala.
"Och, kirain tadi masalah tuan".
"Haaahhh"... Liam Menghela nafas kasar. Dalam fikirannya memang benar itu masalahnya. Cuman dia gengsi untuk bercerita masalahnya kepada siapapun. Fikirannya benar-benar limbung. Dia sedang memikirkan berbagai cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya. karena dia tidak mau jika perusahaan dan yayasan sekolah keluarganya yang telah dia bangun menjadi sangat sukses dan besar seperti sekarang, di ambil lagi oleh sang papa dan diberikan kepada orang lain. Meskipun dia tak punya saudara tapi dia masih punya sepupu. Bisa jadi sang papa mempercayakan semua itu ke salah satu sepupunya. Karena dia berfikir semua sepupunya juga mampu untuk menggantikan posisinya. Mengingat semua keluarganya mempunyai gelar master yang mayoritas hebat.
\_Jangan lupa tinggalkan jejaknya kawan-kawan.
Terima kasih 🙏
__ADS_1