
"Ehheem" Lesya berdehem sambil menaikkan turunkan kedua alisnya menggoda Denis.
Denis hanya menatap Lesya dengan menautkan kedua alisnya.
"Siapa tuuuuh,,, sepertinya bukan pak sopir. Sekilas keliatan ganteng tuh" ledek Lesya.
"Ih, keeepoo" kesal Denis.
"Siapa sih nis ?, Tumben lo. Udah lama kan aku nggak lihat kamu sama cowok. Eh, apa jangan-jangan itu tadi sopir mobil online" Lesya terus bertanya.
"Ngomong mulu dah. Gue nggak disuruh masuk nih ?" Kata Denis.
"Nggak usah masuk. Balik lagi aja sono. Nyebelin banget tiap di tanya pasti nggak mau jawab" gumam Lesya kesal.
"Lah, temennya siapa dulu dong. Kan gurunya elu. Tukang ngeles" Denis mencibik dan meledek Lesya.
"Ayo masuk" ajak Lesya sambil menggandeng lengan Denis.
"Assalamu'alaikum" salam Denis saat memasuki rumah Lesya.
Ibu Lesya yang saat itu masih di dapur segera keluar saat mendengar salam.
"Waalaikumsalam" jawab ibu Marini.
"Eh, nak Denis sudah sampek". Ibu Marini terus berjalan mendekati Denis.
Lalu Denis pun mendekat dan menyalami ibu sahabatnya itu.
"Gimana kabarnya nak Denis ?" Tanya ibu marini sambil memeluk Denis.
Denis balas memeluk ibu Marini sambil menciumi pipi kanan kiri ibu Marini. "Alhamdulillah sehat tante. Tante gimana kabarnya" Denis bertanya balik.
"Alhamdulillah tante juga sehat nak. ayo silahkan duduk" ibu Marini mempersilahkan Denis.
"Denis mau aku ajak ke kamar bu" tukas Lesya.
"Ow, ya sudah kalau begitu. Kalian masuk kamar, biar ibu bikinkan minuman. Nak Denis sudah sarapan ?" Ucap ibu Marini.
"Sudah kok tante. Tadi sebelum kesini aku sudah sarapan dulu di rumah. Sama mama papa" jawab Denis.
"Ayo Nis kita ke kamar" ajak Lesya.
"Oke" balas Denis. "Saya ijin ke kamar Lesya ya tante" Denis meminta ijin ibu Marini.
"Iya sayang, masuklah" ucap ibu Marini.
*
"Ada apa sih, ngajak masuk-masuk aja. Kenapa nggak di ruang tamu aja. Baru juga nyampek, kan nggak enak sama tante". Kata Denis panjang lebar setelah memasuki kamar Lesya.
"Aku mau cerita sesuatu sama kamu. Nanti kamu pasti heboh kalau udah denger. Kan nggak enak sama ibu Nis" jelas Lesya.
"Iya juga sih. Eh, kok kayaknya ada sesuatu yang serius nih. Apaan Les, cepettan". Denis mulai penasaran dengan cerita Lesya.
"Emm, A_". Belum sempat memulai ternyata ibu Marini sudah mengetuk pintu kamar Lesya. Dan beliau sudah masuk ke kamar itu.
__ADS_1
"Kok cepet bu" tanya Lesya sambil menghampiri ibunya dan meraih nampan yang dibawa ibunya dan meletakkannya di nakas samping ranjangnya.
"Ibu tadi sudah menyiapkan semuanya pas kamu bilang nak Denis mau kesini. Jadi ibu tinggal menyeduhkan teh saja" jelas ibunya.
"Ow alah tante. Aku jadi ngerepotin. Maaf tante" ucap Denis.
"Enggak ngerepotin kok sayang. Kamu kan jarang kesini. Dan sudah selayaknya kita menyambut dan menjamu tamu. Tapi maaf ya nak, kami cuma punya cemilan ini" jelas ibu Marini.
"Ya ampun tante. Cemilan ini tu banyak banget. Sepertinya aku nggak akan bisa menghabiskannya sekaligus" tutur Denis.
"Ya sudah kalian lanjut ngobrolnya" kata ibu Marini.
"Ibu mau kemana ?" Tanya Lesya.
"Nggak kemana-mana, mau ke sebelah. ke rumah bulekmu sebentar" kata ibunya
Ibu Marini keluar dan di ikuti Lesya di belakangnya. Lalu menutup pintu kamar. Lesya kembali menyusul Denis dan duduk di ranjangnya.
"Ayo mulai cerita" ucap Denis
"Jawab dulu pertanyaan ku tadi" kata Lesya.
"Yang mana ?" Denis mengerutkan keningnya. Dia lupa dengan apa yang ditanyakan Lesya.
"Yang tadi. Siapa yang tadi mengantarmu".
"Ck, itu lagi" Denis berdecak.
"Aku serius Nis. Apa dia cowok baru kamu ?, Lalu bagaimana dengan David".
"Eh, kok kamu tau Liam ?" Tanya Lesya dengan menautkan kedua alisnya. Dia heran kenapa sahabatnya itu tau Liam, padahal dia belum menceritakannya.
"Ya ampun Les, siapa yang nggak tau Liam Rayandra dari keluarga Rayandra yang terkenal karena bisnis dan kekayaan mereka" jelas Denis panjang lebar.
Sementara Lesya hanya melongo mendengar penjelasan Denis.
"Dan aku juga tau kalau dia seorang direktur dari yayasan sekolah tempatmu bernaung dan mencari rupiah" tegas Denis.
"Bodohnya aku baru mencari tau setelah semua terjadi" Ucap Lesya dengan menunduk dan memijat pelipisnya. Tanpa sadar dia sudah keceplosan bicara, dan kata-katanya yang ambigu membuat sahabatnya berfikiran negatif padanya.
"Apa ?, Emang apa yang terjadi Les ?". Mata Denis membelalak karena sangat kaget dan penasaran.
"Apa ?" Lesya malah balik bertanya sambil menautkan kedua alisnya.
Buk...
Seketika Denis memukul Lesya pelan dengan bantal yang sedari tadi di pangkuannya.
"Aduh, apaan sih Niiis" ucap Lesya dengan nada Kesal.
"Kau itu, aku minta penjelasan malah kau balik nanya. Terus aku harus tanya ke siapa. Sedangkan elu yang punya masalah begoook" Denis gemas dengan kelakuan sahabatnya.
"Ck" Lesya berdecak kesal. "Aku akan menikah dengan Liam". ucapan Lesya sukses membuat Denis membelalak dan melongo tak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya barusan.
Melihat ekspresi Denis seperti itu, Lesya menggelengkan kepalanya, lalu tangannya menangkupkan bibir Denis yang masih melongo. "Tutup mulutmu. Nanti lalat masuk baru tau rasa".
__ADS_1
"Liam siapa ?, Bukan Liam Rayandra itu kan ?". Tanya Denis masih tak percaya.
"Memang Liam yang aku tau siapa lagi di dunia ini, kalau bukan dia Niiis".
"Jadi beneran Liam Rayandra ?, Kok bisa ?".
"Pelaaan... Pelankan suaramu" tegas Lesya. Gemas dengan temannya itu yang nggak bisa mengontrol suaranya.
"Uups,,, iya iya maaf. Terus terus gimana ceritanya kok bisa" tanyanya lagi.
"Bisa pokoknya. Memang kami baru kenal beberapa hari ini. Dan aku juga baru sadar kemarin, kalau dia dari keluarga yang wauw" Lesya meraup wajahnya dengan kasar.
"Teru terus" Denis masih setia ingin mendengar yang lebih dari Lesya.
"Iya, lalu dia mengajakku nikah" jelas Lesya.
"Elu nggak lagi ngimpi kan ?" Denis bertanya sambil mengamati wajah Lesya.
"Ih, sebel banget deh aku sama kamu nis. Jelas-jelas dari tadi aku melek".
"Aku tu kurang percaya sama kamu Les. Kamu tu dari dulu kalau cerita sesuatu pasti ngambang. Dan bodonya gue selalu hanyut dengan cerita elu, padahal jelas-jelas cerita elu tu cuma ngambang". Tegas Denis.
"Pokok intinya, aku seminggu lagi akan menikah dengan Liam Rayandra. Nasi sudah menjadi bubur. Aku sudah terlanjur menerimanya. Sebelum aku mencari tahu siapa dia. Dan aku juga sudah bertemu dengan kedua orang tuanya kemaren" jelas Lesya.
"Gimana dengan orang tuanya, mereka setuju ?".
"Iya mereka setuju. Dan karena desakan mereka lah pernikahan yang serba mendadak ini akan terjadi".
"Elu nggak lagi hamil anak dia kan ?" Tanya Denis dengan mengerutkan dahinya sembari menelisik sorot mata Lesya. Kali aja Lesya berkata bohong padanya.
"Astaghfirullah hal adzim. Kamu gila ya, ya enggak mungkin lah aku hamil" tegas Lesya.
"Baiklah, aku lega dengarnya. Aku dari tadi mikir kesitu gara-gara kata-kata kamu yang bilang setelah itu terjadi. Kata-kata itu ambigu sekali, sehingga membuat otakku seketika berfikir kesana".
"Ya enggak lah. Aku masih sadar ya. Mana mungkin aku melakukan hal itu sebelum menikah" tutur Lesya.
"Berarti ini intinya kalian enggak pacaran kenal langsung ngajak nikah ?. Terus kamu kok bisa tiba-tiba nerima gitu aja, gimana fikiran elu bodooo. Elu kan waktu itu belum kenal betul siapa Liam Rayandra". Denis benar-benar masih gemas dengan sahabatnya. Bisa-bisanya mau di ajak nikah, padahal belum kenal betul.
"Aku terpaksa menerimanya. Mau gimana lagi, dia mendesakku" kata Lesya.
"Elu di ancam sama dia ?, Di ancam apa kamu sama dia ?".
Terlihat raut wajah Denis yang mulai merah padam. Itu tandanya dia mulai naik darah. Lesya mengatur siasat agar tak keceplosan lagi saat bicara. Supaya sahabatnya itu tak marah.
"Enggak kok, dia nggak ngancam aku. Cuman aku merasa mau aja gitu sama dia" Jelas Lesya dengan kata-kata yang membingungkan.
Denis hanya menggeleng tak percaya atas penjelasan Lesya.
\_Yuk ikutin terus karya ini dengan menekan Favotire ♥️ dan like, vote serta kasih givenya.
__ADS_1
Terima kasih. 🙏