Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 68. PASANG DASI


__ADS_3

Lesya masih tak menyangka dengan hadiah yang diterima dari sang mertua. "Oh my god... mertuaku sangat bar-bar. Bisa-bisanya beli baju kayak saringan tahu seperti ini dengan harga yang bikin otakku nggak bisa nalar. Dan apa dia bilang ?? bagus ??... Astaghfirullah... ini jauh dari kata bagus maah... Ini tuh persis seperti kain kelambu nyamuk dan lebih tipis dari sarigan tahu" gerutu Lesya dalam hatinya. Merutuki mertuanya yang kelakuan bar-barnya mirip anak SMA, menurut Lesya.


Mama Lia membelikan busana piyama sepaket dengan gstring berwarna senada. Beliau sengaja membelikan busana tidur itu untuk Lesya, dan beralasan ingin segera menimang cucu dari putra semata wayangnya dan menantu tersayang. Sudah tiga bulan lamanya pernikahan mereka. Namun tak kunjung mendapat kabar baik dari mereka.


( Unboxing aja belum. Gimana mau dapet kabar baik. Kasian mama Lia nunggu cucu lama ya mah 🤭 )


Hal itu membuat mama Lia gemas. Kerap kali beliau mengajak mereka berdua untuk memeriksakan kondisi hormon masing-masing, tapi selalu di tolak oleh keduanya dengan alasan sibuk atau berdalih mungkin belum saatnya diberi kepercayaan oleh Sang Pencipta. Sampai akhirnya mama Lia pun pasrah mendengar dalih dari mereka berdua.


Sering pula mama Lia memojokkan putranya sendiri. Dia bilang putranya kurang pengalaman dan kurang belajar atau kurang kuat. Kata-kata ejekkan itu sering terlontar begitu saja. Namun Liam tak pernah menanggapinya, meskipun dia juga sedikit kesal jika diejek kurang kuat oleh sang mama.


Cekleekk...


Lesya kembali menutup pintu kamarnya setelah mama Lia pergi dan kembali turun ke bawah. Liam terlihat sudah duduk dengan santai di atas ranjangnya dengan bersandar di headboard sambil mengotak-atik ponselnya.


Lesya berjalan menuju walkin closet untuk segera menaruh baju haram itu. Iya,,, baju haram, karena sungguh tak patut untuk dikenakan. Dan akan menimbulkan bencana nantinya.


"Ehheem" dehem Liam menetralkan fikirannya yang terus memikirkan hal kotor. Fikirannya terus membayangkan lekuk tubuh Lesya yang seksi dengan mengenakan busana itu.


Beberapa bulan dan beberapa hari yang lalu Liam sudah melihat Lesya yang hanya mengenakan handuk selutut keluar kamar mandi. Bahu putih dan kaki jenjangnya terekspos dan tertangkap oleh mata Liam. Pemandangan seperti itu saja sudah membuat Liam menegang. Apalagi kalau seandainya Lesya memakai busana itu. Sudah dipastikan hasratnya tak mungkin dapat dibendung lagi.


"Kenapa nggak kamu coba pakai ?" Tanya Liam dengan seringai aneh. Dia berniat menggoda Lesya saat sosok wanita itu keluar dari walkin closet.


Namun Lesya tak mengindahkan pertanyaan dari Liam dan lebih memilih menghampiri sofa untuk segera merebahkan tubuhnya.


"Haayy.... Kau tuli ??" Sarkas Liam.


"Iya" jawab singkat Lesya tanpa menoleh ke arah Liam.


Dia segera merebahkan tubuhnya dan menarik selimut tinggi sampai ke lehernya.


"Ck" decak kesal Liam karena diabaikan oleh Lesya. Liam memandangi Lesya yang hanya terlihat punggung dan kepalanya saja. "Benar-benar wanita keras kepala". Gumam lirih Liam.

__ADS_1


*


Keesokan paginya...


Seperti biasa Lesya sudah siap dan rapi akan berangkat ke sekolah seperti biasa. Begitu pun dengan Liam. Dia juga nampak rapi dengan setelan jas warna hitam dan kemeja putih. Sungguh ketampanannya tak pernah pudar dan semakin berlipat-lipat.


Lesya yang menatap Liam dari pantulan cermin meja rias menghentikan aksi make upnya sebentar karena melihat sosok yang begitu tampan dari pantulan cermin itu.


"Ya Allah... Ciptaan Mu begitu sempurna. Semakin hari ketampanan itu semakin terlihat nyata" Lesya bermonolog dalam batinnya. Mengagumi ketampanan lelaki yang kini masih berstatus sebagai suaminya.


"Astaghfirullah..." Dengan cepat Lesya menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan lamunannya.


"Hentikan omong kosong mu Lesya. Dia memang tampan, tapi dia bukan tipe pria idamanmu bukan ??... Jangan fikir kau bisa suka dengannya hanya karena ketampanannya" monolog Lesya dengan dirinya sendiri.


"Hari ini kau berangkat sendiri. Aku ada meeting di kantor" tutur Liam.


"Baiklah" ucap Lesya. Lalu dia menenteng tas yang sudah dia siapkan di meja rias itu. Dan ingin beranjak keluar kamar untuk sarapan.


Langkahnya terhenti ketika Liam menghentikannya. Lesya membalikkan badannya menatap Liam dengan menyatukan alisnya. "Apa lagi nih..." gumam Lesya.


"Pasangkan dulu dasiku" pinta Liam sukses membuat Lesya membelalakkan matanya.


"Yhaaaiiizzzss... Dasar tukang perintah. Ada-ada sajalah... Biasanya juga dipasang sendiri. Sengaja banget kan mau ngerjain aku" Lesya mengumpat Liam dihatinya.


"Cepat kesini pasangkan dasiku. Nanti aku bisa telat" perintah Liam lagi dengan suara tegas karena melihat Lesya hanya berdiri dengan bengong di tempat.


"Huh" Lesya membuang nafas kasar, lalu mulai mendekati Liam.


Meraih dasi yang tergelantung di gantungan baju yang ada di sisi pojok kamar itu. Dan kembali melangkah mendekat lagi ke Liam.


Setelah berhadapan dengan Liam, dengan sedikit berjinjit Lesya langsung mengkalungkan dasi itu di kerah leher Liam.

__ADS_1


Detak jantung Liam kini seperti sedang berirama. Denyutannya tak karuan. Memang bukan pertama kali mereka berdekatan seperti ini. Tapi kali ini serasa berbeda, karena mereka berdekatan tanpa ada paksaan seperti biasanya.


Liam menunduk menatap lekat wajah Lesya. Matanya terfokus ke bibir tipis Lesya yang di oleskan sedikit perona lipstik berwarna merah muda yang soft. Sehingga menambah kecantikan alami Lesya.


Hembusan nafas Liam pun terasa di ubun kepala Lesya. Sedikit geli rasanya. Tapi Lesya berusaha fokus memasangkan dasi di kerah Liam. Bukan karena tak bisa, hanya saja dia belum terbiasa memasangkan dasi ke orang lain.


Ia terlihat sangat berhati-hati saat memasangkannya supaya tidak salah dan agar terlihat indah. "Sudah selesai" ucap Lesya.


Cuup...


Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Lesya. Aksi dadakan itu sukses membuat sang pemilik terbelalak. Pipinya kini terlihat merah merekah seperti kepiting rebus. Ia lekas menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan.


"Terima kasih. Sekarang memasang dasi untukku menjadi tugasmu setiap hari " kata Liam lalu berbalik meninggalkan Lesya. Tak lupa senyum tipis terbit di bibirnya saat melangkah pergi meninggalkan Lesya. Sedangkan Lesya masih syok mematung ditempat.


"Ya ampun... dia apa-apaan sih ?... Oh Jantung, ku mohon tenang. Jangan norak pliiis !!... Dia hanya mempermainkanmu. Sekarang diberi pemanis, bisa jadi nanti kamu diberi garam. Memang begitu kan permainan buaya tak berperasaan ?" gumam Lesya dengan dirinya sendiri yang kini sendirian dalam kamar itu.


( gula, garam kasih asam sedikit tambah kuah... jadi deh sayur asem, hahaha. Maafkan othor gaes, canda yak... hehe ).


Sebuah rasa memang sudah tertanam dan tumbuh di dalam hati mereka masing-masing. Entah sampai kapan mereka menyembunyikannya dan bisa mengakui perasaan itu.


Tentu saja tak mungkin Lesya yang terlebih dulu membuka hatinya begitu saja. Dia tak mau jatuh kelubang buaya. Dia tak mau menambah luka yang berulang kali menganga.


Dia berusaha menekan perasaannya. Jangan sampai ada benih cinta yang tumbuh. Karena dia rasa itu akan percuma dan sia-sia. Mengingat semua yang terjadi dalam pernikahannya yang berawal dengan niat yang salah dan tak pernah ada kata cinta yang terucap.




\_Ohhohoho... maafkan othor ya gaes kalau kata-kata othor sedikit belepotan. Othor kurang bisa menyaring kata-kata. hehehe...


__ADS_1


Terima kasih 🙏


__ADS_2