
"Kamu sudah punya kekasih belum nak Denis ?" Tiba-tiba mama Lia menanyakan hal itu ke Denis.
"Belum tante. Hehe... Nggak ada yang mau kayaknya sama saya tan" jawab Denis.
"Bohong banget lah kalau nggak ada yang mau sama kamu nak Denis. Nggak mungkin ada yang nolak sama gadis manis kayak kamu gini" puji mama Lia.
"Buktinya emang gitu tante. Masih awet menjomblo sampai sekarang" jawab Denis.
"Eh,,, gimana kalau kita kenalkan sama Roy keponakan tante. Bener nggak Lesya" usul mama Lia menjodohkan Denis dengan Roy keponakannya.
"Boleh juga tuh mah" kata Lesya sambil mengulum senyumnya. Mendukung aksi sang mertua untuk memperkenalkan keduanya.
"Apa-apaan ini, kenapa jadi acara jodoh perjodohan. Terus apa ???... Di jodohin sama si cowok tengil itu ??, Oh god... Nggak sudi banget gue. Terus kenapa lagi nih sama si toples pakek ikut-ikutan" Monolog Denis dalam batinnya dan mengatai Lesya dengan sebutan toples.
"Denis sudah kenal kok tante" ucap Denis.
Dia berusaha mencari seribu alasan untuk menolak secara halus keinginan mama Lia untuk memperkenalkannya dengan Roy. Sungguh ini hal yang benar-benar diluar dugaan Denis. Penawaran dia disatukan dengan pria yang bukan tipenya menurut dia hanyalah buang-buang waktu.
"Pliiiss... Simpan atau buang pemikiran perkenalan konyol itu" gerutu Denis dalam hatinya.
"Waaahh.... Kebetulan sekali kalian sudah saling kenal. Keponakan tante itu baik lo nak. Memang terlihat pecicilan dan suka menggoda wanita. Namun sebenarnya hatinya lembut kok. Sifatnya benar-benar berbanding terbalik dengan Liam. Liam juga sebenarnya baik. Cuman juteknya setengah hidup. Apalagi moodnya kayak perempuan yang lagi PMS" jelas mama Lia. ( PMS masa menstruasi hari pertama yang dialami perempuan setiap datang bulan ).
"Hehem..." Senyum palsu dengan seratus kali paksaan bumbu senyuman yang Denis suguhkan. "Maaf tante. Kita memang berteman, tapi saya punya seseorang yang saya inginkan" akhirnya Denis tak bisa menyembunyikan perasaannya dan menjelaskannya ke mama Lia.
"Oke,,, baiklah... Tapi ingat nak Denis, terlalu berharap dengan lelaki yang tak peka dengan perasaanmu itu sangat melelahkan. Wanita itu tak perlu buang-buang energi untuk mencintai seorang pria sebelum semuanya sah menjadi pasangan. Dicintai itu lebih baik dari pada kita mencintai tapi tak dapat balasan cinta dari lawan kita" tutur mama Lia. Kalimat yang keluar dari lisannya kali ini terdengar bijak.
Sampai-sampai Lesya tercengang mendengar tutur kata sang mertua. Ucapannya bagaikan tamparan baginya. Lagi-lagi dia merasa kembali tertampar dengan kalimat yang menurutnya serasa menghardik dirinya. Apalagi ini terlontar dari lisan sang mertua. Semakin berat rasa bersalah yang dia timbun di dalam batinnya.
"Jangan ngobrol terus ya, ayo kita makan dulu" ajak ibu Marini. Ajakannya sukses menyadarkan Lesya dari lamunannya.
"Ayo san" ajak ibu Marini ke mama Lia, sang besan.
"Ayo mbak yu. Nggak sabar saya makan masakan mbak yu. Sudah pasti enak" puji mama Lia.
"Sepertinya masih enakan masakan wanita-wanita itu san. Soalnya mereka pintar sekali mencari resep masakan baru di internet" jelas ibu Marini dan menunjuk ke arah Lesya dan Denis.
"Ayo nak Denis, kita makan dulu" ajak ibu Marini.
"Iya tante... Duluan saja tante. Sebentar lagi saya nyusul" kata Denis.
Setelah kedua wanita paruh baya itu pergi terlebih dahulu ke meja makan yang ada di dapur rumah itu, Denis lalu sedikit menyeret Lesya.
__ADS_1
"Heh, toples..." Panggil Denis ke Lesya dengan sebutan toples, karena sangking kesalnya Denis dengan sahabatnya. "Kamu jangan ngadi-ngadi ya. Pakek ikut-ikutan ngecomblangin gue lagi lo" kesal Denis.
"Sebenarnya aku setuju dengan ucapan mama nis. Jangan berharap dengan lelaki yang nggak peka dengan perasaanmu" Lesya mengulang perkataan mama Lia.
"gue sok-sok'an nasehatin orang lain. kayak percintaan elu pernah bener aja Les" monolog Lesya dengan dirinya sendiri.
"Bodo ammaaat..." Tukas Denis. Lalu berjalan duluan ke dapur.
"Makan nggak lo ?" Denis kembali membalikkan tubuhnya dan bertanya ke Lesya dengan nada yang masih kesal.
"Duluan aja" jawab Lesya.
Tanpa banyak cat cit cut Denis pun memilih meninggalkan Lesya.
*
Di depan sokolah SMA Guatama Liam frustasi di dalam mobilnya. Beberapa kali dia menghubungi Lesya, namun tak kunjung diangkat oleh wanita itu.
"Shiiit... Kemana sih dia. Berani-beraninya mengabaikan panggilan telefonku" umpat Liam.
Tuut... Tuut...
Klek... ( Anggap saja ini suara tombol panggilan yang ditekan ).
"Waalaikumsalam...." Jawab salam dari Liam.
"Kamu budek, tuli apa gimana hah ?... Berapa panggilan dariku yang tertera di ponselmu ?" Ucap kesal Liam.
"25 panggilan tak terjawab" dengan polosnya Lesya menjelaskan jumlah panggilan dari Liam yang dia abaikan. Bukan sengaja dia abaikan, tetapi tak sengaja terabaikan karena sibuk ngobrol.
Sebelum mengangkat panggilan ini. Tadi dia terkejut ketika membuka ponselnya yang ternyata mendapat begitu banyak panggilan masuk yang tak terjawab. Dan saat Lesya ingin menghubungi balik Liam, ternyata Liam sudah menghubunginya kembali. Dengan sedikit ketar-ketir Lesya mengangkat panggilan masuk itu.
Benar saja, belum ada 5 detik setelah menekan tombol hijau, Lesya langsung mendapat amukan masal dari Liam.
"Ya maaf... Tadi ponselku masih mode silent. Jadi nggak tau kalau ada panggilan masuk" jelas sambung Lesya.
"Hah..." Liam membuang nafas kasar. "Cepat keluar. Sudah jam berapa ini kamu belum keluar dari sekolah. Ini sekolah sudah sepi, kenapa kamu belum pulang. Apa kamu sedang mojok sama guru lelaki simpanan mu itu". Cerocos Liam panjang lebar.
"Orang pelit bicara kalau sudah mangap nyerocos terus, mana pedes pula. Kayak burung beo dicampur bon cabe level sepuluh" gerutu kesal Lesya dalam hati.
"Ngapain anda disana ??... Saya kan sudah pulang dari jam 3 tadi" jelas Lesya.
__ADS_1
"Ya ngejemput kamu lah. Ngapain lagi... Kenapa kamu nggak bilang kalau sudah pulang ?" Kata Liam masih dengan nada yang tak ramah ditelinga.
"Ya ampun pak... Tadi bagi sebelum berangkat kan saya sudah pamit kalau sehabis pulang sekolah saya mau mampir ke rumah ibu. Anda lupa ??" tutur Lesya. Berusaha merendahkan suaranya.
"Shiitt... Kenapa aku bisa lupa" Batin Liam sambil menepuk jidatnya.
"Harusnya kamu telefon aku lagi kalau mau kesana. Lain kali jangan ceroboh. Telefon aku dulu kalau sudah pulang dan langsung mau mampir" ucap Liam.
"Iyaa... Maaf" tukas Lesya.
"Dia yang ceroboh, gue yang salah. oh my god" batin Lesya.
"Tungguin aku disana. Kau jangan pulang ke mension dulu" ucap Liam.
"Anda mau kesini ??".
"Iya. Kenapa ??, Nggak boleh ??,, Apa ada larangan ??" Tanya Liam panjang lebar.
"Tapi mama ada disini. Biar saya nanti pulang sama mama saja" kata Lesya.
"Apa hak kamu ngatur-ngatur diriku !!..." Tukas Liam.
Lesya hanya terdiam mendengar ucapan Liam.
"Oke. Aku berangkat ke sana. Assalamu'alaikum" Liam mengakhiri panggilannya.
"Waalaikumsalam" jawab Lesya.
"Hiiiihhh..... dasar singa, beruang kutub" cletuk kesal Lesya. "Padahal nggak ada niatan buat ngatur hidup dia. Kan aku cuman nyaranin aja, biar dia nggak bolak-balik kesana kemari. Emang susah ngomong sama beruang kutub" gerutu kesal Lesya.
\_Liam kalau udah ngomong lemes banget ya gaes. hahahaha....
\_Jangan lupa like, vite, hadiah, favoritin dan komentarnya ya....
__ADS_1
Terima kasih 🙏