Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 56. DENIS MARAH


__ADS_3

Seketika suasana di meja itu hening. Dua-duanya sama canggungnya. Denis yang biasanya pintar memulai topik pembicaraan, kali ini hanya diam. Sebenernya dia memiliki 1001 pertanyaan dalam fikirannya. Namun dia bingung bagaimana cara memulai berbicara dan bertanya.


"Apa anda membuka usaha toko dan cafe ini sendiri ?" Tanya David tiba-tiba. Karena hening yang berkepanjangan akan membuat mereka semakin canggung. Akhirnya dia memulai bertanya meskipun sebenarnya pertanyaan itu pun menurutnya tak penting ditanyakan.


"Oh... Iya. Awalnya saya membuka toko kue saja dengan bermodalkan uang jajan saya yang saya tabung dari sejak sekolah" tutur Denis.


"Waaah... Hebat sekali" puji David.


"Em,,, enggak sehebat itu kok. Meskipun sepenuhnya memang bermodalkan dari uang saya, tapi tanah tempat ini dan bangunannya dulu dibeli oleh ayahku. Jadi saya hanya membuka usaha saja disini" terang Denis.


"Tetap saja itu hebat" kata David.


"Terima kasih" kata Denis dengan seulas senyum. "Apakah anda mengajar di sekolah SMA Guatama sudah lama ?" Tanya balik Denis. Kini dia mulai berani bertanya.


"Iya,,, saya lebih dulu mengajar di sekolah itu dari bu Lesya. Mungkin masa kita masuk kerja cuma beda setahun" terang David.


"Ooow.... Apakah anda suka dengan teman saya ?" Tanya Denis blak-blakan tanpa pikir panjang dan to the point. Dia sudah menahannya untuk menanyakan ini dari tadi. "Uuppss... Maaf pak saya keceplosan" Denis menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dan berdalih keceplosan. Padahal dia menanyakan hal itu dengan sadar.


"Hemhem..." David tersenyum. "Nggak pa pa. Wajar anda menanyakan hal itu. Sepertinya anda memang teman bu Lesya yang sangat perhatian" ucap David.


"Iya,,, karena hanya saya sahabat yang dia punya. Dan saya perhatikan, sepertinya anda tertarik dengan teman saya". Denis berusaha memancing pembicaraan.


"Eeemmm... Sebenernya saya sudah pernah mengutarakan perasaan saya padanya. Namun sampai sekarang saya belum dapat jawaban dari bu Lesya" David mulai berbicara jujur.


Deg....


Hati Denis seperti tersambar petir. Ibarat kaca, kaca itu benar-benar retak dan pecah. Harapannya untuk mendapatkan hati seorang guru pria tampan seketika kandas.


Denis berusaha menahan diri dari emosi. Meskipun emosinya kini benar-benar menguap sampai berasa kepalanya ingin meledak.


"Iya kah ?... Lalu kenapa anda tak berusaha menanyakannya lagi ?" Denis masih berusaha menggali informasi dari David.


"Rencananya hari ini saya ingin mengungkapkannya lagi. Dan langsung ingin dapat jawaban dan kepastian" jelas David.


Denis menanggapi David hanya dengan senyuman. Dia bingung harus bagaimana. Menyemangati David untuk meraih hati Lesya !!. Namun itu tidak mungkin di lakukannya karena status yang di sandang oleh sahabatnya sudah tak lagi gadis seperti sebelumnya.


"Semoga anda dapat jawaban yang terbaik nantinya" ucap Denis menenangkan David dengan setengah hati. Karena setengahnya lagi masih merasa tak rela akan kenyataan yang dia dengar.

__ADS_1


Dari kejauhan Denis sudah melihat Lesya yang berjalan dari arah toilet.


"Maaf pak, saya tinggal dulu ya. Saya ingin melihat kerja karyawan saya di dapur" kata Denis.


"Oh... Baiklah dan terima kasih sudah menemani saya" kata David.


Denis lantas mengangguk dan tersenyum membalas ucapan David.


Dia berjalan menuju dapur dan berpapasan dengan Lesya. Saat Lesya tersenyum kepadanya, Dia malah tetap diam tanpa menggubris dan tanpa manatap mata Lesya, Serta raut wajah yang masam.


Lesya bingung dengan tingkah aneh sahabatnya. Dia sampai menoleh kebelakang mengikuti arah langkah Denis yang kini terlihat punggung sahabatnya itu.


"Dia kenapa ?, Apa ada sesuatu ?..." Lalu dia membelalakkan matanya dan menyatukan alisanya. "Oh tidak. Apa dia di tolak oleh pak david ?" Lesya terus bertanya dalam benaknya.


Dia melanjutkan langkahnya ke mejanya tadi dengan sosok pria yang terlihat setia menunggunya.


"Pak David" panggil Lesya.


"Iya" jawab David dengan mendongakkan kepalanya karena posisi Lesya yang masih berdiri di sampingnya.


"Maaf,,, saya tinggal lagi sebentar ya. Ada seuatu yang mau saya tanyakan ke sahabat saya". Lesya meminta izin pada David.


"Terima kasih" tukas Lesya. Dan kembali berjalan segera menuju dapur untuk menemui Denis.


"Nis" panggil Lesya sambil menepuk pundak temannya.


Denis hanya menoleh sekilas. "Hem" sahut Denis terlihat malas.


"Kita harus bicara sebentar" kata Lesya.


"Aku sibuk Les" Denis berusaha berdalih dari ajakan Lesya.


Tanpa banyak bicara Lesya langsung meraih lengan Denis dan menyeretnya menjauh dari dapur itu ketempat yang terlihat sepi di belakang dapur.


"Apa sih Leees" ucap kesal Denis.


"Elo kenapa sih Nis ?... Kenapa elo tiba-tiba kayak gini ?... Apa kamu mengutarakan perasaanmu ke David dan di tolak olehnya ?" Lesya terus bertanya ke temannya itu.

__ADS_1


"Hehm" sebeleh bibir Denis terangkat dan menyungginggan senyum remehnya.


Lesya terkejut dengan ekspresi temannya saat ini. Karena sebelum-sebelumnya Denis tak pernah tersenyum remeh seperti itu dengannya.


"Kau tau !!... Bahkan aku sudah di tolak tanpa mengutarakan isi hatiku" Kata Denis.


"Haha... Ngaco kamu. Mana ada di tolak tanpa ada omongan" ucap Lesya. Dia bersikap santai berusaha mencairkan suasana yang terasa mulai tegang.


"Kau menertawai ku ?... Aku tak menyangka kau sejahat itu padaku" ucap Denis.


Lesya semakin bingung dengan ucapan sahabatnya.


"Siapa yang menertawaimu sih nis ?... Aku tak berniat seperti itu sedikit pun" kata Lesya.


"Sudahlah,,, pergi sana. Aku malas denganmu hari ini" Denis membalikkan badannya ingin meninggalkan Lesya.


"Maksutmu apa sih nis ?... Kenapa kau seperti ini ?..." Lesya berusaha menahannya pergi dengan menyambar lengan Denis.


Denis berbalik. Lagi-lagi tubuh mereka kini saling berhadapan.


"Kamu itu menganggap ku apa sih hah !!... Apa pantas seorang teman mendzolimi temannya ?... Aku seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa tentang sahabatku. Dan aku benci diriku sendiri" kata Denis dengan suara yang sedikit meninggi.


"Jangan seperti ini... Apa maksutmu aku mendzolimi mu. Astaghfirullah... Aku tak pernah melakukan hal itu. Kau tahu kan,,, kau sahabatku satu-satunya. Kau sudah ku anggap seperti teman, kakak, serta adikku sendiri. Teman disaat aku ingin bermain dan tertawa bahagia bersama. Sudah seperti kakak yang sering mengingatkan ku akan semua hal, memperhatikanku, dan selalu ada untukku. Seperti adik yang ingin ku jaga dan sama seperti dirimu yang memperhatikanku. Aku menyayangimu..." Tutur Lesya panjang lebar.


"Iya kah ??... Tapi mengapa aku merasa selalu seperti orang bodoh hah ??... Kau menyembunyikan perasaan mu pada pria yang mengatakan cinta padamu. Aku tau kau melakukan itu demi diriku. Tapi setidaknya jujurlah padaku Les..." kata Denis.


"Kau tau rasanya dipermalukan dalam diam ??... Itulah yang aku rasakan saat ini" tutur Denis.




\_Huuufftt.... berdebat dengan sahabat itu menyakitkan ya gaess...



\_Yuk baca dan ikutin terus kelanjutan kisahnya ya...

__ADS_1



Terima kasih 🙏


__ADS_2