Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 70. AWAL BERBAIKAN DENGAN SAHABAT


__ADS_3

Lesya pun berangkat setelah taxi yang dia pesan sudah sampai di depan kediaman Liam.


Triiing triiing triiiing....


Dia dikejutkan dengan suara dering ponselnya saat berbunyi, memecah lamunannya di dalam taxi itu.


"Hallo... Assalamu'alaikum" sapa Lesya saat menerima panggilan.


"Waalaikumsalam... Lupa lu sama gue. Lama banget nggak kasih kabar" cletuk ketus seorang gadis di balik panggilan itu.


"Hehe.... Ya mana bisa lupa sih. Cuman aku jarang pegang ponsel aja akhir-akhir ini" kata Lesya.


"Sombong banget mentang-mentang udah ada temen hidup. Terus temen seperjuangan di abaikan" kesalnya.


"Apaan siiiihh... Baper amat deh. Elu lagi dapet apa gimana ?" Ejek Lesya.


"Yhaaaiiizzzss..." Umpat Denis. "Main ke sini dong... Kamu kan lama nggak ke tempatku" sambungnya.


"Eemmm... Gimana ya ??,,, Aku terlanjur udah bilang mau pulang ke rumah sama ibu. Gimana dong ?" Ucap Lesya.


"Jadi nanti kamu mau ke rumah bu Marini, ibumu ?,,, Ke rumahmu ??,,, Gitu ??..." cerocos Denis bertubi-tubi. Bukan Denis namanya kalau tidak bawel dan ceplas-ceplos.


"Iyaaaa... kamu nanya udah kayak antrian orang beli minyak goreng tau nggak. Ya emang ibuku ada berapa ??..." seloroh Lesya.


"Kesana jam berapa ??,,, sama siapa ??,,, suami elu ngikut nggak ??..." Denis kembali bertanya tanpa jeda.


"Kamu nanya mulu kayak tukang sensus deh" tukas Lesya.


"Gue ngikut dooong.... Mau ke rumahmu juga" kata Denis dengan nada yang dibuat memelas.


"Boleh... Tapi aku nggak bawa motor. Gimana kalau kamu langsung ke rumahku saja nanti sore ?" kata Lesya.


"Lah,,, terus elo sekarang naik apa ?" Tanya Denis.


"Naik ONTA" Seloroh Lesya dengan nada yang dia tekankan.


"Dih,,, gue nanya serius ya... Awas lu" kesal Denis mengancam.


"Hahaha... Aku sekarang naik taksi".


"Ya udah, nanti aku jemput kamu aja. Kalau sudah selesai langsung hubungi aku ya. Biar aku bisa langsung on the way ke SMA Guatama" sanggup Denis.


"Oke lah kalau begitu".


"Ya udah,,, Assalamu'alaikum,,, bye" tukas Denis mengakhiri panggilannya.

__ADS_1


"Waalaikum..."


Tut tut tut... suara sambungan terputus.


Belum sempat Lesya melanjutkan salamnya, Denis sudah memutus panggilannya.


"....Saaalaam" Lanjut Lesya meskipun sudah ditutup oleh Denis.


"Dasar emang gadis nggak ada akhlak. Main matiin aja" ucap Lesya.


Lalu dia kembali mendeal nomor Denis. Di tekannya dan masuk ke panggilan yang masih menunggu untuk terhubung.


Sedang Denis yang menerima panggilan kembali dari Lesya sedikit mengerutkan keningnya. "Ada apa lagi nih ?" Gumamnya


"Hallo... Assalamu'alaikum" ucap Denis menerima panggilan itu.


"Waalaikumsalam. Oke, terima kasih". Tukas Lesya


Tut tut tut... Lesya langsung mematikan panggilannya.


"Puuuffttt... Sukurin" Lesya terkekeh setelah mebutup telefonnya dengan cepat. Dia puas karena sukses menjahili sahabatnya.


"DASAR LESYA SI MANUSIA ANEH. MINIM AKHLAK" kesal Denis. Mengumpat sahabatnya dengan sedikit berteriak. Sampai karyawannya yang ada di dapur toko kue itu sontak terkejut karena teriakan Denis.


"Hehe... Kaget ya ??... Maaf ya... Lanjut lagi gih" seringai Denis dan meminta maaf ke karyawannya.


*


( Flashback on ).


3 bulan yang lalu saat mereka berdua bertengkar, hubungan persahabatan yang mereka jalin sempat merenggang.


Selama seminggu penuh mereka tak ada kabar. Bukan tidak mau untuk meminta maaf. Lesya memilih untuk diam terlebih dahulu menenangkan diri. Dan memberi waktu untuknya dan Denis untuk berfikir dan merenung.


Lesya tahu kalau dia memang salah. Menyembunyikan perasaannya dan malah menjodohkan pria itu ke gadis lain yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Padahal dia tahu kalau pria yang dia kenalkan ke Sahabatnya adalah pria yang menyukainya.


Dan hal itu yang membuat perasaan Denis terluka. Dia mengatakan bahwa ini seperti pengkhianatan, padahal belum terjalin hubungan.


Sejak saat itulah Lesya menyadari bahwa, sesuatu yang sangat dekat bisa menjauh dengan cepat karena kesalahan yang dia buat.


Setelah seminggu berlalu Lesya berusaha menghubungi Denis. Dia terus berusaha mengirimkan pesan singkat lewat ponselnya.


"Assalamu'alaikum..." Kata salam pertama yang Lesya kirimkan ke Sahabatnya. Namun tak mendapatkan respon dari temannya itu.


"Pagiii..." Lesya tak menyerah. Dia kirimkan lagi pesan singkat untuk temannya itu.

__ADS_1


Namun tetap saja nihil. Denis masih tak membalas pesan singkat yang Lesya kirimkan.


"Hai kawan,,, maafkan aku. Maafkan aku yang sangat bodoh ini. Ayolah,,, apakah persahabatan kita hanya seperti ini saja ?... Apakah persahabatan kita ini bisa putus hanya karena memperdebatkan seorang lelaki ?... Apakah begitu tak berarti diriku untukmu ?... Oke,,, baiklah... Nggak pa pa kau tak menganggapku. Tapi kau sangat berarti untukku".


Isi pesan yang ia kirimkan kali ini begitu panjang. Tapi apakah dibalas oleh temannya itu ?...


Jawabannya, tentu saja belum. Pesan dari Lesya hanya terlihat tanda dua centang biru, yang artinya hanya dibaca oleh Denis.


"Ya udah deh.... Mungkin saat ini kamu masih marah denganku. Tapi aku berharap suatu hari nanti kamu bisa memaafkanku. Aku kangen marang sliramu cah ayuuu. ( Aku rindu sama kamu gadis cantik )" Rayu Lesya dalam akhir kalimat pesan singkatnya.


Hal itu sukses membuat Denis sedikit tersenyum samar saat membaca pesan terakhir dari sahabatnya itu.


Dalam lubuk hati Denis yang terdalam, sebenarnya dia sudah memaafkan sahabatnya itu. Namun ia sengaja mendiamkan Lesya hanya karena ia ingin memberi pelajaran ke temannya. Bahwa sahabat itu memang ada dan supaya sahabatnya itu sedikit belajar tentang kepekaan rasa.


Kekanak-kanakan sekali memang. Tapi begitulah Denis jika sedang marah dengan sahabatnya.


Sampai akhirnya Denis membalas pesan dari Lesya. "Waalaikumsalam"... Jawabnya singkat.


"Jangan jutek-jutek dong.... Nanti cantiknya hilang lo gara-gara ketutup sama muka juteknya" gurau Lesya.


"Biarin" ketus Denis.


Dan sampai akhirnya mereka saling berbalas pesan. Meskipun isi pesannya masih terlihat cuwek. Tapi Lesya faham kalau temannya itu sudah tidak marah. Hanya saja masih gengsi.


Bagaimana dengan tentang perasaan Denis ke David ?...


Tentu saja itu masih tersimpan rapi di lubuk hatinya. Namun ia lebih memilih untuk diam dan tak mau berharap tentang sesuatu yang belum pasti.


Denis memang tipe wanita yang tegas. Dia bisa sangat ambisius ketika menginginkan atau membutuhkan sesuatu. Namun dia akan mundur teratur jika kesempatannya mulai terlihat susah untuk di raihnya. Apalagi ini menyangkut tentang hubungan dan perasaan. Berputus asa memang itu tidak baik. Namun Denis merasa harga dirinya lebih penting dari pada mengedepankan egonya.


Apalagi kali ini si pria yang dia sukai juga pernah di sukai oleh sahabatnya. Dan sampai sekarang si pria masih menyimpan harapan dan perasaannya untuk sang sahabat. Itulah alasan Denis yang sekarang lebih memilih untuk diam dan menyimpan.


*( Flashback off ).




\_Maaf ya othor jadi jarang banget update... puasa-puasa makin sibuk man-teman...



\_Bagaimana dengan puasa kalian ??... Semoga lancar semuanya yaa...


__ADS_1


Terima kasih 🙏.


__ADS_2