
Keesokan paginya seperti biasa, Lesya sarapan dengan ibunya. Saat berbincang dengan ibunya, Lesya bercerita sekaligus meminta izin bahwa hari ini dia akan bertemu dengan keluarga Liam.
"Bu, sepertinya nanti aku akan pulang telat dan sedikit malam" ucap Lesya.
"Mau kemana ? Ada acara kah ?" Tanya ibunya.
"Iya, eem... Dia mau ngajak aku makan malam bersama keluarganya" jelas Lesya.
"Ya udah, hati-hati ya Les. Kalau kamu ngerasa nggak nyaman dengan keluarganya lebih baik jangan diteruskan". Jujur, ibu Marini sebenarnya mulai khawatir dengan putrinya. Beliau terus kefikiran waktu Lesya bilang orang ternama di sekolahnya. Karena beliau sadar diri dengan keadaan.
"Iya bu. Ibu tenang saja".
Dan setelah selesai sarapan Lesya berpamitan dan berangkat.
*
Sementara itu si Roy yang akan menuju yayasan sekolah milik Liam, menyempatkan mampir ke toko kue yang kemaren dia kunjungi. Dia ketagihan dengan enaknya kue dan suasana cafe disana.
"Pak Abu, tolong berhenti di toko kue depan" ucap Roy kepada sang supir pribadinya.
"Baik pak" jawab si sopir.
Tak hanya karena rasa kuenya yang enak, tapi si pemilik toko juga terlihat manis dan sedap di pandang.
"Sudah sampai pak" ucap pak Abu sopirnya.
"Iya pak, terima kasih. Bapak tunggu disini saja" ucap Roy.
Lalu dia berjalan memasuki toko. Terlihat toko itu sedang tidak terlalu ramai. Mungkin karena masih pukul 10 siang, dan belum jam pekerja beristirahat.
"Permisi" ucap Roy.
Mendengar ada yang memanggil di depan, Denis yang sedari tadi di dapur dengan para pegawainya pun lalu keluar untuk melayaninya.
Baru selangkah melangkahkan kakinya keluar pintu dapur dia sudah melihat sosok Roy. "Dia lagi si clametan, heh" batin denis.
"Selamat pagi. Mau pesan kue apa pak ?" Sambut Denis dengan ramah. Bagaimana pun juga dia tetap pelanggan yang harus di hormati dan di layani.
"Iya pagi. Ini nih, aku pesan kue, tapi kok nggak ada ya di daftar menu" ucap Roy yang sibuk membolak balik buku menu.
"Memang bapak mau pesan kue apa ?. Biar saya bikinkan" kata Denis.
"Eee,,, kue ingin cintamu. Ada nggak ?" Tanya Roy sambil cengengesan.
Denis menanggapi hanya dengan tersenyum kaku, terlihat sangat dipaksakan.
"Aku pesan ini saja. Tolong di bungkus saja" kata Roy.
"Baiklah, silahkan di tunggu" ucap Denis.
"Eh mbk, tunggu dulu" Roy menghentikan langkah Denis yang akan pergi mengambilkan kue pesanannya.
__ADS_1
Denis otomatis membalikkan badannya dan mengerutkan alisnya dan berkata "Iya ?"...
"Bisakah embak balik kesini ? Soalnya cantiknya kelewatan" goda Roy dengan menahan tawanya.
"Hehehe" tawa denis dengan terpaksa.
"Apaan sih, tukang ngardus" gumam denis yang sudah melangkah menuju dapur.
"Aku tau kau risih aku godain. Tapi aku suka dengan ekspresi lucumu saat ku goda" gumam Roy yang masih berdiri di depan etalase kue menunggu kue pesanannya.
Dia suka menggodai Denis karena reaksi Denis yang biasa saja. Namun terkesan menggemaskan bagi Roy. Biasanya kalau gadis lain dia goda sudah pasti salah tingkah dan suka dengan mde gombalannya. Namun beda dengan Denis. Itu yang membuat Roy semakin penasaran dengan sosok gadis ini.
"Silahkan pak, ini kue pesanan bapak" kata denis sambil menyodorkan kue pesanan Roy yang sudah di bungkus box dengan rapi.
"Iya, terima kasih" ucap Roy.
"Iya sama-sama" balas Denis.
"Aku akan sering mampir kesini. Kuenya enak" ucap Roy.
"Alhamdulillah... Iya, silahkan sering-sering mampir" ucap Denis. Tapi ucapannya lain di bibir lain di hati, "terserah elu lah. Mau balik kek, mau kagak kek. Meskipun aku berharapnya nggak usah balik balik lagi sih" batin Denis.
"Oke, see you next time" ucap Roy dan beranjak pergi dari toko itu.
Dan Denis membalasnya dengan lambaian tangan. Dia bersikap profesional sebagai pemilik toko yang melayani konsumen.
*
"Baik tuan" ucap Eric tanpa basa-basi.
Eric melangkahkan kaki menuju ruang guru. ternyata di ruang guru sepi tidak ada satupun manusia yang tinggal disana.
"Waah,,, dimana fikiranmu sih" sambil menepuk jidatnya. "Ini kan masih jam istirahat, bisa jadi semua guru masih di kantin". Dia pun kembali berjalan menuju kantin sekolah.
Benar saja, terlihat disana Lesya yang dia cari sedang duduk bersama para guru perempuan lainnya. Mereka sedang asyik berbincang.
"Permisi"...
Sapaan Eric seketika membuyarkan tawa riuh para guru di meja makan kantin itu. Tatapan mereka langsung mengarah ke arah sumber suara.
"Bisa nggak lihatnya biasa saja. Aku tau kalau aku tampan" batin Eric.
"Saya sedang ada perlu dengan bu Lesya. Bisakah anda ikut saya sekarang ?" pinta Eric.
"Tuh kan, sudah aku duga. kenapa lagi sih. Ini kan belum jam pulang mengajar" gumam Lesya dalam hati.
Lesya menoleh dan mendongak ke arah Eric yang ada di belakangnya. "Iya, ada apa ya ?" ucap Lesya.
"Ada sesuatu yang harus dibicarakan" kata Eric.
"Permisi bu, saya duluan" ucap Lesya yang berpamitan pada guru-guru lain yang ada di meja itu.
__ADS_1
"Iya bu, silahkan" kata para guru.
Lesya pun mengikuti Eric yang bejalan di depannya. Ketika mereka sudah melangkah jauh para guru di meja itu pun mulai membicarakannya.
"Eh, bu Lesya kenapa sering sekali di cariin orang itu" Kata salah satu guru itu.
"Masak sih. Eh, bukannya orang itu asistennya pak Direktur ?" ucap guru yang lain.
"Masak bu Lesya ada hubungan sama asisten itu sih. Benar-benar deh, dulu godain pak David, sekarang ada yang lain, ganti godain yang lain".
"Tampang polosnya nggak cocok sama kelakuannya" sarkas guru itu.
"Emang sok sok'an aja diem. Padahal aslinya mah penggoda pria".
"iiihh males banget".
Para guru itu terus membicarakan Lesya. Memang Lesya tak pernah bercerita tentang kehidupannya. Jadi mereka bersepekulasi tanpa adanya bukti.
Kita tak bisa membungkam setiap mulut yang menggunjing kita. Karena yang tau hidup kita ya kita sendiri. Peran utama dalam hidup kita juga diri sendiri. Orang lain hanyalah figuran yang munculnya terkadang tak diharapkan. Kalau mereka capek juga akan berhenti sendiri.
Ibarat kata anjing menggonggong, kafilah berlalu. Anggap mereka figuran sebagai warna kelam dalam hidup kita.
Lanjuuutt 😊
"Silahkan anda masuk saja" ucap Eric.
"Anda nggak masuk ?" tanya Lesya.
Namun Eric tak menjawabnya dan langsung mengetuk dan membukakan pintu ruangan itu untuk mempersilahkan dirinya masuk.
"Hehhff" Lesya menghela nafas malas.

Aku kasih gambaran visual Roy ya gaes 🤭.
Ganteng nggak ?, cocok nggak ?. Menurutku sih cocok. hehehe
Tinggalkan like, vote, give serta komentar kalian ya...
Terima kasih 🙏
__ADS_1