Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci

Guru Cantik Terjebak Ikatan Janji Suci
BAB 74. BEKEL DARI ADIRA


__ADS_3

Hari itu entah kenapa Liam merasa gusar. Bayangan wajah sang wanitanya selalu saja muncul di depan mukanya. Sesekali seulas senyum terbit dibibirnya saat mengingat kejadian pagi ini.


Begitu manis jika dibayangkan. Selama beberapa bulan pernikahan, baru kali ini Liam merasakan ada getaran yang aneh dalam hatinya. Dia merasa nyaman dan berdebar saat berdekatan dan disentuh oleh Lesya.


Perlakuan Lesya pagi ini tentu membuatnya bahagia, meskipun itu di lakukan karena perintahnya. Memasangkan dasi, mengambil kecupan manis dari bibir semu wanitanya dan yang terakhir, kulit punggung tangannya telah diberikan cap stempel dari bibir tipis Lesya.


Bayangkan, betapa manis bukan ???....


Hal itu sudah seperti pasangan suami istri yang begitu harmonis.


"Kenapa aku beberapa bulan terakhir tak menyadarinya ?. Bahkan aku sangat jahat dengannya. Dia memang cantik. Wajahnya tak bosan untuk dipandang" gumamnya sambil terus membolak-balikkan kertas yang berisi laporan-laporan penting di atas meja kerjanya.


"Apakah ini yang dinamakan cinta ?... Entahlah, aku lupa bagaimana rasanya jatuh cinta. Yang jelas saat ini aku sangat menginginkannya dan tak ingin dia pergi dariku" Liam terus bergumam sendirian diruangan kebesarannya itu.


Tok tk tok...


Sampai saat suara ketukan pintu memecah lamunannya.


"Masuk" jawab Liam dari dalam ruangan.


Lalu masuklah sang sekretaris dengan menenteng satu set kotak untuk bekal makan.


"Ada apa ?" Tanya Liam. Sejak Adira masuk ke ruangan dia memperhatikan langkah si sekretaris itu. Ia tertarik dengan apa yang di bawa Adira. Bukan ingin meminta hanya saja penasaran. Kenapa Adira membawa satu set kotak makan.


"Sebentar lagi jam makan siang pak. Kebetulan saya hari ini sengaja membawa dua bekel karena ingin berbagi ke bapak" terang Adira.


"Eemm..." Liam hanya mengangguk.


"Silahkan dinikmati pak. Saya harap bapak suka" kata Adira dengan gaya gemulai dan dibuat selembut mungkin.


"Lain kali kalau mau berbagi jangan ke saya. Berbagilah sama orang-orang yang lebih membutuhkan. Banyak anak-anak kecil yang mengamen dipinggir jalan demi sesuap nasi. Jadi berbagilah dengan mereka" jelas Liam.


"Karena ini sudah kau kasih ke saya, jadi saya terima. Lain kali nggak usah repot-repot. Terima kasih" sambung Liam.


"E e... I iya pak" jawab Adira dengan suara tergagap.


"Taruh meja sana saja" kata Liam sambil menunjuk meja tamu yang ada di ruangan itu.


"Baik pak". Adira lalu berjalan menuju ke arah meja yang di tunjuk Liam.


Sepersekian detik Adira masih berdiri di dejat meja itu. Liam yang masih sibuk berkutat dengan laptop dan berkasnya memberhentikan aktivitasnya karena merasa si sekretaris belum pergi dari ruangannya.


"Apa ada lagi ?... Kenapa belum keluar" tanya Liam dengan suara datarnya.

__ADS_1


"Ee... Itu pak" ucapan Adira tecekat sejenak.


Liam mengangkat sebelah alisnya menunggu kata yang akan keluar dari mulut Adira.


"Gini pak... Mau kah nanti malam bapak makan malam bersama saya ?" Kata Sinta tanpa malu-malu lagi mengatakannya. Baginya saat ini mengejar sang bos demi mendapatkan hatinya lebih penting dari pada memperbesar rasa gengsinya.


Liam semakin mengerutkan keningnya. "Untuk ??" Tanyanya.


"Hari ini saya ulang tahun pak. Saya ingin mentraktir bapak" kata Adira. "Mantap banget jurusmu kali ini sinta. Aku yakin kali ini pasti berhasil" Monolog Sinta dengan keyakinan dan tingkat percaya diri 99,9%.


( Nanggung banget, kenapa nggak ditutup aja sih sekalian 100% gitu. Biar nggak nanggung. Hehehe... Tapi suka-suka othor lah ya. Othor males ngasih yang sempurna sama cewek ganjen 🤭 ).


"Heeh.." Liam mengangkat ujung sebelah bibirnya tersenyum remeh.


"Punya uang berapa banyak kamu sampai mau ngajak aku dinner hah ??" Tanya Liam dengan nada arogannya.


"Untuk bapak, berapapun saya sanggup bayar" jawab Adira. "Sombongnya nggak ada tandingan. Nggak tau aja dia kalau keluargaku juga kaya. Tapi gue maklumin lah. Karena gue suka sama elo" gumam Adira dalam batin.


"Iya kah ??... Tapi maaf, saya sudah terlanjur ada janji" tolak Liam.


"Bagaimana kalau biar Eric saja yang menggantikan saya untuk makan malam denganmu" usul Liam. "Haha... Gue comblangin aja kalian berdua. Biar dia nggak ribetin diriku terus" batin Liam. Dia tahu kalau selama ini Adira punya niatan untuk menarik hatinya.


"Oh,, nggak usah pak. Lain kali saja bapak makan malam sama saya. Saya nggak pa pa kok" tolak Adira.


"Ogah banget gue makan malam sama tuh orang. Cuman asisten juga. Tampang juga pas-pasan pula" gerutu kesal Sinta dalam batin.


Melihat Adira yang sudah keluar dari ruangannya, Liam lalu menyambungkan panggilan airphone yang tersambung ke ruangan Eric.


"Halo, bisa kesini sebentar" kata Liam.


"Siap bos" jawab Eric dari balik panggilan airphone itu dengan siap siaga.


Dengan cepat Eric keluar dari ruangannya, dan melesat seperti mobil balap dengan gas yang penuh, menuju ruangan bos besarnya.


"Ada apa bos ?" Tanya Eric setelah memasuki ruangan Liam.


"Kau sudah pesan makan siang ?" Tanya Liam.


"Belum bos. Makan itu yang ada di meja" kata Liam sambil menunjuk kotak bekel tadi.


"Waah... Tuan bawa bekel sendiri dari rumah ?" Tanya Eric.


"Nggak usah banyak tanya" kata Liam.

__ADS_1


"Beneran bos ?..." Tanya Eric.


"Kau masih butuh kerja tidak ?" Kata Liam penuh ancaman.


"Ohhoo... Santai bos. Tentu saya masih butuh kerja disini" kata Eric.


"Bagus. Sekarang jangan banyak tanya dan makan itu" tukas Liam.


"Baiklah".


"Lumayan lah dapet makan gratis. Itung-itung ngirit uang makan" gumam Eric dalam batin dengan suasana hati riang.


"Eh, tapi... Oh tidak... Jangan-jangan ini makanan ada apa-apanya nih. Kenapa aku main mau-mau aja" batinnya lagi. Dia khawatir makanan itu mengandung racun.


"Kenapa ric ?" Tanya Liam dengan tatapan mata yang kurang bersahabat.


"Hehe" seringai kaku Eric. Tak mungkin dia berkata jujur dengan apa yang ada difikirannya.


"Nggak usah khawatir. Saya jamin itu nggak ada racunnya" ucap Liam.


Sontak membuat Eric terkejut. Bagaimana bisa si bos tau dengan apa yang dia fikirkan. Apa bosnya punya ilmu kebatinan yang disebut cenayang ?.


"Hahaha... Nggak kok bos. Saya cuma melihat isi kotak bekel ini terlihat enak" ucap Eric mencari alasan.


"Syukurlah kalau nggak ada racunnya. Eemm enak" gumam Eric dalam batinnya sambil memasukkan sesuap nasi ke mulutnya.


"Kalau racun memang nggak ada, tapi kalau guna-guna ilmu pelet mungkin saja" cletuk santai Liam.


Uhhuuk uhhuuk...


Kata-kata si bos seketika membuat Eric tersedak sangking terkejutnya.


"Apa bos ?... Yang bener saja bos. Bos jangan bercanda. Sebenarnya ini bekel makan dari siapa tuan ?" tanya Eric panjang kali lebar. Dia terlihat panik. Sudah terlanjur makanan itu dia masukkan kedalam mulutnya, dan ia telan sehingga sudah pasti bersemayam dalam perutnya. Mengisi ruang kosong diperutnya.




\_Semoga cepet lolos ya...



Terima Kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2