
Ketika sinar matahari mulai tenggelam dan berganti dengan terangnya cahaya bulan, Lesya hanya termenung sendirian di balkon kamar Liam. Semilir angin menyapanya dengan syahdu. Tiupannya menyapu helaian rambut indah Lesya seakan mengajaknya untuk melambai, menyambut indahnya malam.
Liam dimana atau kemana ??
Tentu saja dia pun sedang berada di rumah. Karena mereka berdua berangkat dan pulang dari sekolah SMA Guatama bersama.
Liam sedang berada di ruang kerjanya, bergelut dengan berlembar-lembar kertas yang berisikan tulisan-tulisan penting, dan membutuhkan tanda persetujuan darinya. Demi keberlangsungan perusahaan keluarganya.
Tuuutt... Tuuutt...
Lesya sedang menghubungi ibunya. Dia sangat merindukan sosok wanita yang lembut serta penuh kasih sayang itu.
"Hallo... Assalamu'alaikum" sapa sosok wanita yang amat Lesya cintai di balik panggilan telefonnya.
Lesya tersenyum mendengar sapaan suara teduh sang ibu. "Waalaikumsalam buu... Ibu sedang apa ??".
"Ibu sedang mengobrol dengan bulekmu" kata ibu Marini.
"Iya kaah ??... Gimana kabar bulek juga bu ??"
"Alhamdulillah semuanya sehat dan baik-baik saja. Kamu sedang apa nak ?" Tanya ibunya.
"Syukurlah.... Aku ??,,, Aku nggak lagi ngapa-ngapain bu... Cuma duduk-duduk saja" jawab Lesya.
"Apakah kau baik-baik saja ?" Tanya sang ibu. Kalau bisa jujur sebenarnya ibu Marini merasakan sesuatu yang tak mengenakkan akhir-akhir ini. Dia selalu memimpikan hal buruk tentang sang putri semata wayangnya. Namun dia tak pernah menceritakan hal itu ke Lesya atau kesiapapun.
"Aku baik-baik saja bu... Kenapa bu ?" Lesya bertanya balik. "Sebenarnya aku tak baik-baik saja bu... Hanya saja aku tak mungkin menceritakannya ke ibu" batin Lesya.
"Nggak pa pa... Jangan lupa sholat dan selalu berdo'a meminta pada sang pencipta. Minta kalau ada masalah bisa terselesaikan dengan bai dan secepatnya. Dan bersyukur atas semua yang di karuniakan dalam hidupmu nak".
Deg...
Nasehat sang ibu sukses membuat Lesya tertegun. Hatinya sakit kala mengingat keadaan rumah tangga yang ia bina tak seharmonis pasangan suami istri pada umumnya.
"Kenapa diam nak ?" Tanya sang ibu dibalik panggilan itu karena tak mendengar sahutan dari sang putrinya.
"Eh,,, enggak bu... Aku cuma mendengarkan petuah-petuah dari titisan ustadzah dengan seksama. Hehe" cloteh Lesya dan sedikit terkekeh dengan candaannya.
"Bisa aja... Kalau di omongin bilangnya dengerin. Tapi entah masuk kuping atau tidak" tukas kesal ibu Marini.
"Hahaha... Beneran dengerin kok bu. Dan InsyaAllah Lesya laksanain" kata Lesya.
"Emang apa yang ibu katakan tadi ?" Goda sang ibu.
"Eemmm... Apa ya ??" Lesya pun menggoda balik ibunya.
__ADS_1
"Tuh kan... Belum sepuluh detik kamu sudah lupa" kesal ibunya.
"Haha... Enggak kok... Inget kok... Aku inget" kata Lesya dengan santainya.
"Besok InsyaAllah aku kesana bu" ucap Lesya.
"Iya... Tapi jangan lupa ijin dulu sama suamimu" pesan sang ibu.
"Siiiyaaapp... Udah dulu ya bu. Titip salam ke bulek".
"Iya... Kamu hati-hati ya. Jaga diri baik-baik".
"Iya bu. Assalamu'alaikum".
"Waalaikumsalam".
Lesya mengakhiri panggilannya. Dia kini kembali termenung dalam kesendiriannya.
"Orang-orang tahunya aku setenang itu menghadapi dunia. Orang-orang mengira aku setabah itu melawan kerasnya dunia. Mereka tak tahu sejatuh bangun apa saya bertahan. Mereka tak tahu sebabak belur apa saya melawan. Hanya saja saya cukup pandai menyimpan rapat-rapat beban. Cukuplah malam yang menjadi saksi bisu tangisku dalam diam, tentang rapuhnya aku dengan sebuah ujian. Hanya berharap semoga terus di kuatkan untuk bertahan". Lesya bermonolog dengan dirinya sendiri dalam diamnya.
"Aku selalu menyemangati diriku sendiri dan bilang ke diri aku sendiri ...
Secapeknya aku sama diriku sendiri, semarahnya aku sama diriku sendiri, seenggak beruntungnya aku dengan kehidupan, sebermasalahnya aku sama keadaan, jangan sampai aku memutus hubungan dengan siapa yang telah memberi aku hidup.
(Btw ada yang senasib nggak sih kayak Lesya ?. Semoga kuat dan tegar juga ya seperti Lesya 😉).
*
Di ruang kerja itu, Liam mulai merasa lelah. Lalu memijat lehernya dengan perlahan.
"Kenapa aku nggak minta pijit wanita itu saja" gumamnya.
"Sungguh kau memang sangat pintar Liam. Ide mu sangat cemerlang" gumamnya lagi.
Ia segera merapikan semua berkas yang berserakan di mejanya yang besar itu. Lalu berjalan keluar dari ruangan kerja dan mulai menaiki anak tangga menuju kamar utamanya.
Cekleek...
Dibukanya pintu kamar dan menutupnya kembali setelah masuk.
"Kenapa dia nggak ada di kamar ??... Kemana dia ??..." Tanyanya sendiri di kamar itu karena dia tak melihat sosok perempuan yang dia ingin temui.
Tanpa memanggil namanya, Liam mencari-cari Lesya di seluruh tempat yang ada di kamar itu. Pertama dia mengecek gagang kamar mandi. Dia mencoba memutarnya pelan, tapi ternyata tidak terkunci.
Lalu menunutpnya kembali karena yang di cari pun tak ada di kamar mandi. Ia kembali berjalan dan kali ini menuju ruang walkin closet.
__ADS_1
Sreeekk... ( anggap saja suara pintu geser yang sedang di geser ya gaes 🤭 ).
Ternyata Liam pun tak menemukan Lesya disana.
"Siiiall.... Aku udah kayak nyari bocah yang lagi ngajak main petak umpet" grutunya mulai kesal.
Liam menoleh ke jendela kamar. Pandangannya mulai menerka sesuatu. Karena dia melihat posisi pintu kaca yang besar dan berfungsi sebagai jendala juga, terlihat sedikit terbuka.
Entah mengapa dia mulai berjalan ke arah pintu yang menuju balkon dengan langkah pelan. Ini benar-benar seperti sedang bermain petak umpet yang mulai melihat titik terang mangsanya yang sedang bersembunyi.
Srek, srek, srek...
Dia mulai membuka pintu kaca yang juga di geser itu dengan pelan-pelan. Ternyata benar, yang dicari sedang duduk diam disana. Dengan pandangan kosong dan mata yang sayu.
"Apa dia sedang sedih ?... Kenapa tatapan kosong seperti itu ?". Liam bertanya-tanya dalam fikirannya. Entah kenapa hatinya mulai ngilu saat melihat sosok perempuan itu termenung.
Lesya masih tak menyadari kedatangan Liam. Lalu Liam berjalan pelan mendekati Lesya.
"Sedang apa disini ?" Tanya Liam.
"Astaghfirullah hal adzim..." Lesya tersentak kaget sambil menekan letak jantungnya dengan kedua telapak tangannya.
Namun Liam malah tersenyum melihat Lesya yang kaget karena ekspresi mukanya yang lucu dan menggemaskan bagi Liam.
"Nggak sedang apa-apa" tukas Lesya dan mulai berdiri beranjak pergi meninggalkan Liam.
Tiba-tiba saja Liam menariknya dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lesya dari belakang. Memeluknya dengan lembut.
"Haii... apa yang anda lakukan ??..." Tutur Lesya yang sedang berusaha melepaskan tangan Liam.
"Biarkan seperti ini sebentar. Jangan menolak" tukas Liam sambil menyandarkan kepalanya di pundak Lesya.
\_To be continued.... hehehe....
\_Silahkan tinggalkan like, hadiah, vote dan komentar kalian.
Terima kasih 🙏
__ADS_1