Hanna Aryana

Hanna Aryana
setelah malam pertunangan


__ADS_3

setelah malam yang memalukan pak lurah kembali mengajak pak mulyo berbincang di telpon untuk menceritakan duduk permasalahaan yang sebenar-benarnya


alangkah terkejut pak mulyo sampai-sampai terjatuh dari kursi plastik yang di dudukinya, sambil sesekali menyesap kopi buatan buk lasmi.


yang berada di meja dapur, biasa di gunakan untuk makan bersama


seketika pak mulyo terasa ingin pingsan dan terlentang


tetapi tubuh tua pak mulyo tak mengijinkanya


berusaha menopang tubuh yang sudah renta itu


setelah pak lurah dan pak mulyo selesai berbincang ditelpon tadi pagi, kemudian pak mulyo menunggu satria yang sedang mengantar ibu lasmi belanja ke pasar untuk membeli sayuran dan lauk pauk sebagai santap siang.


pukul 10 pagi, satria baru saja pulang sampai rumah. belum sempat turun dari kendaraan motor bebeknya, pak mulyo langsung menghampiri satria, melesatkan bogem mentah di mulut satria


sedari tadi setelah berbincang di telpon dengan pak lurah, pak mulyo memang sengaja duduk di teras rumah menunggu kepulangan satria "ingin sekali aku mengajar anak itu" pak mulyo berbicara sendiri sambil menyesap rokok tiada henti


satria terkejut dengan pukulan tangan pak mulyo di mulutnya, "bapak ini ada apa? tidak ada angin tidak ada hujan! main pukul, satria punya salah apa pak?" bibir satria mengeluarkan darah karena tergigit gigi rahangnya.


" kamu ini bikin malu bapak, bapak gak mau tau pokonya kamu harus nikah sama lastri" pak mulyo terus menggenggam tangan, merasakan perih di buku-buku ibu jarinya setelah memukul satria dengan tonjokan tangan kanan


"sudah lah pak jangan ribut di luar, malu di lihat tetangga" ibu lasmi berucap menenangakan pak mulyo yang hampir meneteskan air mata


seakan semua sudah di atur tuhan, setelah pak mulyo menjelaskan pada satria

__ADS_1


tanpa basa basi satria meneriam permintaan bapak dengan lapang dada


tapi sebelum melangsungkan pernikahan tanpa lamaran, satria meminta ijin untuk kembali ke solo. mengambil barang-barang miliknya yang belum sempat di bawa pindah karena terburu-buru kembali kerumah menuruti permintaan bapak di telpon.


pak mulyo pun mengijinkan tapi dengan satu syarat. 2 hari saja langsung pulang tidak lebih dari itu bila lebih dari dua hari maka pak mulyo akan mencarinya sampai dapat


satria pun menerima syarat dari bapak tanpa banyak bertanya "baik pak, satria akan berjanji pada bapak. selama satria bisa menyenangkan hati bapak" tukas satria dengan jelas berkata agar bapak tak perlu risau lagi. satria mengerti dan paham betul di karenakan pernikahan hanya tinggal3 hari saja.


pak mulyo dan pak lurah merencanakan pernikahan dengan waktu tunggu sesingkat mungkin, tidak ingin memberi selah sedikitpun pada lastri dan satria untuk kabur menghindar dari masalah yang sudah mereka buat.


pak mulyo benar-benar sedih, kecewa dengan kelakuan anaknya tapi apa mau dikata, "satria itu terlahir sebagai anak laki-laki jadi wajar saja bila seperti itu kelakuannya" suara mendesah menghela nafas, semua telah terjadi yang bisa pak mulyono lakukan sekarang adalah memperbaiki situasi buruk


***


di kediaman pak lurah, lastri di minta tolong untuk mengantikan haryo sementara waktu sebagi guru TK, dikarenakan haryo tidak lagi menetap didesa. haryo di pindah tugaskan dikarenakan haryo sudah naik pangkat dan akan di mutasi ke kota jogja


haryo sudah muak dengan semua tingkah kelakuan lastri yang tidak punya malu itu


setiap kali haryo mengajar, lastri selalu menggagu dengan alasan ia juga adalah orang guru, bahkan ia juga memiliki gelar S.Pd toh jadi wajar saja bila ia mau ikut mengajar kembali didesanya lagi sebelum ia meneruskan kuliah mengambil jurusan pendidikan.


buak hanya itu saja, ia juga punya hak. lagipula gedung sekolah TK adalah bantuan dari desa, bagunan TK masih menumpang pada balai desa sedangkan bapaknya adalah lurah desa. mana mungkin anak lurah tidak membantu sebagai tenaga pendidik padahal ia mampu, apa mau dikata orang banyak.


lastri belaga sombong di karenakan bapaknya adalah lurah desa, tidak akan ada yang berani mengharu-haru tingkah lakunya yang semena-mena


saat hana masuk kelas alangkah terkejutnya ia, melihat gurunya bukan lagi om haryo. hana dengan kasar mengusir lastri melemparkan ke dua sepatu ke rumput, yang lastri letakkan dirak sepatu

__ADS_1


hana membanting tas miliknya,seakan-akan ingin mengamuk menghancurkan segalanya, benda yang bisa ia rusak dan buang jauh sampai tidak bisa terlihat lagi dari pandanganya


namun lastri tak bergeming, kemudian menghampiri hana, menjewer salah satu telinga hana, menyeret hana masuk kedalam kelas sambil menenteng kedua sepatunya yang di lemparkan hana ke halaman sekolah


"anak nakal, lihat aja ibu guru hukum kamu. berani ya sama ibu"


"tante lastri bukan ibu guru hana, guru hana itu om haryo bukan tante TITIK" air mata hana jatuh dengan derasnya sampai kedua mata hana berubah kemerahan karena takut. sekujur tubuh hana gemetar menahan tangis dan rasa takut dipukul menggunakan rotan


lastri berjalan dengan berjinjit di atas rumput "terserah memangnya ibu guru peduli." suara lastri membentak keras pada hana


teriakan hana meminta tolong dengan nada ketakutan "mamah papah, tante sakitin nana" suaranya begitu parau terhalang oleh air hidung yang hampir keluar dari tenggorokan


tidak di sangka ibu lastri lewat habis sepulang dari pasar, ia pun mendengar triakan hana menjerit-jerit meminta tolong kepada papah dan mamahnya, dengan raut wajah terkejut melihat lastri menjewer dan menyeret hana dengan sangat kasar, ibu lastri melempar tas jinjing belanjaan yang dibawanya sedari tadi lalu berlari menghampiri mereka berdua masuk kedalam kelas


tanpa sengaja dikarenakan penuh emosi, ibu melayangkan tangannya di atas kepala, menampar pipi lastri di kerumunan murit dan banyak para ibu yang baru saja mengatarkan anak-anak mereka berangkat sekolah


"ibu ini ada apa? ibu tampar lastri didepan banyak murit sekolah juga didepan ibu-ibu. ibu permalukan lastri, lastri kecewa sama ibu" lastri memegangi pipinya yang kemerahan


ibu hanya bisa menggeleng mendengar ucapan lastri "cek...cek...cek harusnya ibu yang bilang begitu! kamu, lastri. mempermalukan ibu didepan banyak murit dan para ibu. harusnya kamu bisa menjaga sikap sebagai seorang guru yang terhormat, tapi kamu membuat ibu kecewa berat dengan tingkah mu seperti tidak berpendidikan tinggi"


"sudahlah buk, lastri tidak ingin bertengkar dengan ibu disekolah" lastri menarik kursi guru lalu duduk


setelah mendengar ucapan lastri barusan, ibu menarik dua bangku murit lalu ia letakkan di depan meja guru. saling berhadap-hadapan satu sama lain, ibu lastri menyuruh hana duduk "cup sayang...! jangan nangis lagi. ada ibu disini, tante gak akan bisa nyakitin hana lagi"


hana pun tenang dengan sendirinya tidak menangis lagi, mengangguk patuh setelah mendengar ucapan neneknya

__ADS_1


kemudian ibu lastri memanggil, meminta tolong kepada salah satu ibu murit untuk segera pulang memberitahukan kepada mamah hana bahwa hana menangis disekolah. "buk tolong pulang beritahukan kepada mamah hana, hana menangis. biar dijemput pulang tidak usah sekolah dulu"


"iya buk lurah, saya pamit dulu" terdengar ucapan salam dari ibu murit sebelum ia melangkahkan kakinya pergi


__ADS_2