Hanna Aryana

Hanna Aryana
hal 2


__ADS_3

"auhch....," suara hana keluar menahan rasa melepuh di punggung tangan tersiram air panas dari termos.


pagi ini iasudah membuat kesalahan lagi! termenung sampai menumpahkan air terlalu banyak kedalam cangkir kopi. secara perlahan jari jemari tangan lentiknya ia ayunkan untuk mengayun sendok didalam gelas, mengaduk kopi, gula dan air panas agar menyatu


"aduh...!" suara seseorang datang dari arah ruang keluarga, namun tidak melanjutkan perkataannya


"Hm, apa?" nada datar hana lontarkan padanya.


"melamun terus, jangan kebanyakan melamun. nanti juga datang."


"apa! aku tidak melamun" berusaha meyakinkan diri sendiri dan juga dirinya


terlihat jelas seorang pria berusia sudah setengah abad, semua rambut di kepalanya telah berubah warna menjadi putih namun gigi-giginya belum ompong, tubuh tuanya menunjukan banyak kerutan pada sekujur tubuh tapi masih terlihat gagah. "papah! hana tidak melamun." terlihat jelas pria di depannya menatap dengan intens


"melamun juga tidak papa, itu wajar bukan? tidak usah disembunyikan. kamu rinduh padanya bukan?"

__ADS_1


"ya, tapi sekarang tidak terlalu ini kopinya, aku letakkan di atas meja dapur"


seandainya saja, sehari saja tentunya hana sangat menginginkana tidak usah memikirkan tentang diri laki-laki itu pasti hidup ini akan lebih ceria dan bersemangat seperti dulu, disaat belum pernah mengenal seorang bujang yang baru menginjak umur 24th, tepatnya 4 bulan lagi


pertemuan itu pertama kali didalam kantor untuk menangkap para penjahat malam dan siang, disana digunakan untuk mengumpulkan dan menyiksa orang-orang terhasut rayu setan ataupun iblis.


terdengar langkah kakinya begitu berat druk...sepatunya bergesekan pada lantai kantor.


ku pandangi ia dari tempat duduk belum sempat aku menoleh. ia sudah tersenyum ramah pada perjumpaan pertama itu begitu melihat aku duduk menghadap pintu, melangkah masuk dari luar pintu. membuat diriku tersipu malu karena salah bertingkah takut ia tau bahwa sedari jauh aku memandanginya dari balik kaca, mendengar suara langkah kaki menghampiri


terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa ia sudah menyukaiku sejak pandangan pertama. "hem,hemh" aku mengeluarkan suara senyuman manis tanpa lekuk lesung pipi dan dia pun membalas senyuman bersuara "Ha...ha...!" dengan alis terangkat, memikirkan aku hanya memberi senyum bukan candaan menggoda


bila bukan karena keperluan sekolah, aku tidak mau datang dan duduk dikursi kantor menyebalkan itu.


semua orang yang kulur-kilir di kantor menggunakan seragam, mereka mereka terlihat serupa mengenakan celana panjang berbahan kain tebal lalu di setiap sisi penuh dengan saku tidak tertinggal dua di belakang dan dua di samping kanan kiri dibawah pinggang. namun bajunya seingat tidak ada saku dan berlengan panjang sampai pergelangan tangan

__ADS_1


yang aku tau, aku ini duduk di dalam kantor karena butuh untuk kelulusan sekolah. juga yang aku tau kantor ini untuk mengurus dan berkumpul semua anggota aparatur terbanyak untuk mengatasi bila terjadi huru-hara dan demo mendadak


tak terasa matahari beranjak naik di atas kepala menunjukan hari sudah siang, kenapa aku ini anak rumahan bila saja tidak mungkin rasa kantuk ini tidak akan menjalar pada seluruh tubuhku, ingin sekali aku merebahkan badan dan tubuh di kasur nan empuk nyaman


berusaha menahan kantuk, kupandangi layar televisi yang sedang menyiarkan acara kartun kesukaan ku, kucing biru sedang mengejar tikus berwarna coklat muda.


seandainya saja laki-laki tadi yang belum aku tau namanya tidak langsung pergi setelah mengobrol pada rekan kerjanya, pasti saat ini bisa mengetahui dan mengingat nama yang berada di baju sebelah kanan miliknya


"menyebalkan" aku mendengus kesal karena hanya aku sendiri yang tidak punya kawan. semua teman-teman satu sekolah berpasangan, tapi karena jumlah kami ganjil jadi aku tidak mendapat teman untuk satu kantor berkerja praktik kejuruan.


hari itupun berlalu, dengan tubuh lelah beranjak pulang. "besok berangkat lagi ya!" suara pria berteriak dari dalam kantor mengingatkan agar hana tidak membolos.


"iya, kak" malas sekali hana membalas ucapannya!


sampai di rumah hana lekas mengucap salam lalu membuka pintu, melepaskan alas kaki memasukan kendaran roda dua bermesin metik, lalu segera berganti baju. mengambil piring dan segelas air, membuka penutup nasi "perutku sudah keroncongan berbunyi kruyuk...krucuk....krucuk..., usus buntu benar-benar kelaparan" desis hana layaknya seorang anak yang masih duduk di bangku TK

__ADS_1


hana adalah gadis yang rajin, setelah usai berganti pakaian hana membersihkan menyapu halaman rumah dari dedaunan rontok. di waktu sore menjelang magrib hana sangat suka duduk di teras rumah, menghabiskan waktu tenang dengan menikmati kenyamanan alami yang tuhan ciptakan dibumi


__ADS_2