Hanna Aryana

Hanna Aryana
Langit


__ADS_3

Hana duduk termenung di teras rumah, 300 meter dari halaman rumah ada jalan batu krikil, disebelah jalan berbatu ada aliran irigasi air, lalu dibelakang rumah Hana berkisar jarak 1 km ada persawahan.


Diwaktu senja tiba Hana suka sekali berjalan-jalan untuk sekedar menghirup udara segar yang tersangkut pada berhelai-helai dahan pepohonan rindang dekat rawa, di rawa juga banyak pohon pisang awak dan banyak lagi jenis lain, semua pohon pisang bertengger rapi berunduk dipinggir aliran air rawa


Hana berjalan-jalan sore, ia menangkap banyak capung menggunakan bekas wadah plastik kerupuk yang digunting bagian tengah lalu diikatkan bagian ujung ke ujung ranting. Seperti jaring penangkap ubur-ubur milik spons si kuning berrongga


Lelah, Hana duduk termenung ditanggul irigasi 'Jalan berbatu krikir' Di sana Hana asik duduk sembari melamun menatap langit berawan gelap, sebentar lagi turun hujan. Awan mendung datang dari Timur


Tidak ingin Hana cepat pergi berlalu meninggalkan kesejukan senja, ia masuk menghirup aroma segar angin sore. Dalam hati Hana berkata "Apakah dia juga sedang menatap langit mendung ini? Rumahnya dari arah timur, Aku berharap dia juga sedang menatap langit. Berharap dia juga merasakan perasaan sama, merinduhkan diriku sama halnya aku merinduhkan dirimu" Hana tanpa putus asa selalu memanjatkan doa kepada Tuhan di setiap kali ia merasa rinduh.


Ingin aku memeluk langit


Ku pejamkan mata membayangkan tentang dirimu


Kau bilang tidak akan pernah meninggalkanku


Kau singkirkan mereka dariku


Namun kau tak pernah datang menjumpai ku


Ku pergi meninggalkan dirimu


Bodoh, kau tarik lenganku sampai aku terpental jatuh dalam pelukan dada bidangmu


Tangisan ini keluar dari sudut bola mata, bagaikan gerimis air hujan


Indah kau mentertawakan ku! Apa ada yang lucu?


Aku berdiam menunggu kau kembali, ku tinggalkan sepucuk surat dimeja kerjamu, dibawah buku Dongeng


Lirikan mata mengawasi kau datang. Tertanda, cinta belum kembali


Ku usap bulir-bulir air garam, perih kau tidak pernah memperdulikan keinginanku


(Hana Aryana Tgl 15 Desember 2019 untuk mu kekasihku. Aku harap kau membaca sepucuk surat ini)


Langit cerah bertengger sebutir telur berwana kuning


Awan-awan bergerombol pergi terbawa angin


Dibawah awan ada seekor burung mengepakkan dua sayapnya


Di atas tanah berdiri pohon tua, terdapat daun dan ranting


Sarang burung terselip diantara ranting dan dedaunan


Turun pejantan burung dari balik awan membawa seekor cacing diparuh


Sebut saja burung Murai berwarna bulu hitam dari kepala hingga ekor


Terdapat satu burung meringkuk dalam sarang


Memeluk dua butir telur bercorak bintik-bintik


Si betina melahap cacing tanah tanpa sungkan


Terdiam, betina Murai termenung menatap pejantan kembali mengepakkan dua sayap


Dia menghilang dibalik awan putih, tertutup sinar menyilaukan


Memejamkan kedua kelopak mata. kembali terlelap tidur memeluk dua telur berbintik hitam


(Tertanda. Aku sangat merinduhkan mu, dirumah selalu menunggumu kembali untuk menemani rasa kesepian ini)

__ADS_1


Darah bercucuran dimana-mana


Menyeka menggunakan kain katun


Kembali darah merah mengalir mengotori lantai


Dihapus air satu gentong penuh


Bercak darah mewarnai lantai menjadi merah


Dibawa sabun juga sapu lidi


Percuma diambilnya segenggam bara


Luluh_lantah api berkobar membakar bercak darah


Kemarahan pertanda "Muak" akan segala yang dilihatnya


Bunga api menyulut oksigen, membara menyeka tanda Merah menjadi Hitam


(Tertanda, 15 Desember 2019 untuk Bunga Api)


Ku kenakan gaun pengantin disain Kebaya Jawa


Kau kenakan setelan pengantin bentuk Tuxedo


Ku kenakan sepatu hak tinggi berhias batu delima


Kau kenakan sepatu jenis oxfrod berwarna senada


Aku kenakan mahkota emas dan bunga melati dipuncak kepala penghias rambut pertanda bahwa aku seorang Ratu


Kau kenakan kopiah menghiasi kepala menutup rambut agar kau tampak gagah bertanda kau adalah seorang Raja


Selembar kerudung putih menyatukan kita didepan meja pelaminan


Ku dengarkan suaramu penuh seksama


Sorak suara pertanda sah ikatan hari ini


Kucium punggung tangan kananmu


Kau cium kening ku penuh arti


Terharu kami meneteskan air mata kebahagiaan


Ku kenakan cincin perak dijari manis mu


Kau kenakan cincin emas dijari manis ku


Trima kasih atas semua yang kau berikan, aku mencintaimu setulus hati


Selamanya kita bersama


(Tertanda, 15 Desember 2019 untuk hari esok kan tiba)


Suara Bayi merengek minta ASI


Datang Ibu dari Bayi mungil baru 2 minggu lahir


Meraih Bayi rupawan dari pangkuan timang Ayah


Hemmm Ayah Bayi juga merengek minta ASI

__ADS_1


Cicak mengintip dari atap plafon


Ayah dan Bayi laki-laki tidak ingin bergantian minum susu


menggemaskan sekali tingkah Ayah dan Anak ini


Badan Ibu terasa pegal harus menyusui mereka berdua sekaligus


Bayi imut terlelap tidur dengan pulas dipelukan Ibu


Ayah merengek minta lebih, kata Ibu tunggu dulu. belum saatnya tunggu nanti


Kalau sudah waktunya


Tingkah Ayah sangat menggemaskan


Dia terlelap tidur sembari memeluk putra pertamanya di ranjang


Ibu duduk dipinggir matras busa mengusap pipi ayah penuh rasa


Dia melangkah mencium jari-jemari mungil nan bersih putra pertamanya


(Tertanda, 15 Desember 2019 untuk mimpi kita)


Ini gubuk singgah kami


Bukan istana bukan pula paviliun


Ini rumah kami


Tempat berteduh dari hujan, angin juga terik


Ini bangunan mimpi kami


Dimana semua tentang khayalan dulu


Ini anugrah kami


Beribu tetes keringat dia cucurkan untuk meraih angan


Ini harapan kami


Selalu aku menunggunya sembari menanak nasi


Ini bangunan tiang penyangga kami


Disinilah tempat mencurahkan seluruh perasaan hati siang dan malam


(Tertanda 15 Desember 2019 untuk mimpi yang kau berikan padaku)


Hana terus saja berceloteh sendirian membaca karangan puisi yang ada dalam pikiran dirinya, ia sangat suka tentang puisi dan juga dongeng


Hari sudah mulai gelap, Hana pun beranjak pulang tak lupa menerbangkan capung-capung yang sudah ditangkap sebelum ia duduk dipinggir tanggul irigasi


Permainan sore hari ini ia tutup dengan penuh senyum kebahagian, ia berfikir lalu berkata "Pasti saat ini dia juga sedang memikirkan aku. Rindu padaku! Aku inikan manis juga cantik, sulit dilupakan"


Hana terus saja menulusuri jalan setapak sampailah ia di jembatan sesek bambu, ia harus menyebrang irigasi menggunakan jembatan sesek barulah sampai ke kediaman orang tuanya


Sejak kecil Hana tidak pernah berfikir malu dengan apa segala kekurangan yang ia tidak miliki, ia suka hidupnya. Berfikir bahwa semua yang tuhan berikan adalah yang terbaik untuknya saat ini dan nanti seterusnya


Tidak ingin Hana berkata "Aku tidak suka tinggal dirumah jelek. Reyot" Tidak bukan seperti itu yang Hana ingin ucapkan


Dia berkata pada dirinya sendiri dan pada kekasih hati "Aku menyayangi rumah tinggal milikku sampai seterusnya karena ini adalah harta berhargaku yang tidak dapat dinilai menggunakan materi serta tidak pula dapat dicaci maki orang lain yang mereka itu merupakan pembual lagak sombong, membesar-besarkan hidup ingin terpuji orang banyak. Khalayak ramai"

__ADS_1


Hana teringat pada pertanyaan kekasih hatinya kenapa ia tidak merasa malu melihat keadaan rumah reyot 'Gubuk singgah'


"Lebih baik seperti ini tapi aku memiliki kasih sayang. Bukan pembual materi yang suka mengada-ada tidak tau diri ataupun tidak tau malu"


__ADS_2