
Hana duduk termenung di teras rumah, 300 meter dari halaman rumah ada jalan batu krikil, disebelah jalan berbatu ada aliran irigasi air, lalu dibelakang rumah Hana berkisar jarak 1 km ada persawahan.
Diwaktu senja tiba Hana suka sekali berjalan-jalan untuk sekedar menghirup udara segar yang tersangkut pada berhelai-helai dahan pepohonan rindang dekat rawa, di rawa juga banyak pohon pisang awak dan banyak lagi jenis lain, semua pohon pisang bertengger rapi berunduk dipinggir aliran air rawa
Hana berjalan-jalan sore, ia menangkap banyak capung menggunakan bekas wadah plastik kerupuk yang digunting bagian tengah lalu diikatkan bagian ujung ke ujung ranting. Seperti jaring penangkap ubur-ubur milik spons si kuning berrongga
Lelah, Hana duduk termenung ditanggul irigasi 'Jalan berbatu krikir' Di sana Hana asik duduk sembari melamun menatap langit berawan gelap, sebentar lagi turun hujan. Awan mendung datang dari Timur
Tidak ingin Hana cepat pergi berlalu meninggalkan kesejukan senja, ia masuk menghirup aroma segar angin sore. Dalam hati Hana berkata "Apakah dia juga sedang menatap langit mendung ini? Rumahnya dari arah timur, Aku berharap dia juga sedang menatap langit. Berharap dia juga merasakan perasaan sama, merinduhkan diriku sama halnya aku merinduhkan dirimu" Hana tanpa putus asa selalu memanjatkan doa kepada Tuhan di setiap kali ia merasa rinduh.
Ingin aku memeluk langit
Ku pejamkan mata membayangkan tentang dirimu
Kau bilang tidak akan pernah meninggalkanku
Kau singkirkan mereka dariku
Namun kau tak pernah datang menjumpai ku
Ku pergi meninggalkan dirimu
Bodoh, kau tarik lenganku sampai aku terpental jatuh dalam pelukan dada bidangmu
Tangisan ini keluar dari sudut bola mata, bagaikan gerimis air hujan
Indah kau mentertawakan ku! Apa ada yang lucu?
Aku berdiam menunggu kau kembali, ku tinggalkan sepucuk surat dimeja kerjamu, dibawah buku Dongeng
Lirikan mata mengawasi kau datang. Tertanda, cinta belum kembali
Ku usap bulir-bulir air garam, perih kau tidak pernah memperdulikan keinginanku
(Hana Aryana Tgl 15 Desember 2019 untuk mu kekasihku. Aku harap kau membaca sepucuk surat ini)
Langit cerah bertengger sebutir telur berwana kuning
Awan-awan bergerombol pergi terbawa angin
Dibawah awan ada seekor burung mengepakkan dua sayapnya
Di atas tanah berdiri pohon tua, terdapat daun dan ranting
Sarang burung terselip diantara ranting dan dedaunan
Turun pejantan burung dari balik awan membawa seekor cacing diparuh
Sebut saja burung Murai berwarna bulu hitam dari kepala hingga ekor
Terdapat satu burung meringkuk dalam sarang
Memeluk dua butir telur bercorak bintik-bintik
Si betina melahap cacing tanah tanpa sungkan
Terdiam, betina Murai termenung menatap pejantan kembali mengepakkan dua sayap
Dia menghilang dibalik awan putih, tertutup sinar menyilaukan
Memejamkan kedua kelopak mata. kembali terlelap tidur memeluk dua telur berbintik hitam
(Tertanda. Aku sangat merinduhkan mu, dirumah selalu menunggumu kembali untuk menemani rasa kesepian ini)
__ADS_1
Darah bercucuran dimana-mana
Menyeka menggunakan kain katun
Kembali darah merah mengalir mengotori lantai
Dihapus air satu gentong penuh
Bercak darah mewarnai lantai menjadi merah
Dibawa sabun juga sapu lidi
Percuma diambilnya segenggam bara
Luluh_lantah api berkobar membakar bercak darah
Kemarahan pertanda "Muak" akan segala yang dilihatnya
Bunga api menyulut oksigen, membara menyeka tanda Merah menjadi Hitam
(Tertanda, 15 Desember 2019 untuk Bunga Api)
Ku kenakan gaun pengantin disain Kebaya Jawa
Kau kenakan setelan pengantin bentuk Tuxedo
Ku kenakan sepatu hak tinggi berhias batu delima
Kau kenakan sepatu jenis oxfrod berwarna senada
Aku kenakan mahkota emas dan bunga melati dipuncak kepala penghias rambut pertanda bahwa aku seorang Ratu
Kau kenakan kopiah menghiasi kepala menutup rambut agar kau tampak gagah bertanda kau adalah seorang Raja
Selembar kerudung putih menyatukan kita didepan meja pelaminan
Ku dengarkan suaramu penuh seksama
Sorak suara pertanda sah ikatan hari ini
Kucium punggung tangan kananmu
Kau cium kening ku penuh arti
Terharu kami meneteskan air mata kebahagiaan
Ku kenakan cincin perak dijari manis mu
Kau kenakan cincin emas dijari manis ku
Trima kasih atas semua yang kau berikan, aku mencintaimu setulus hati
Selamanya kita bersama
(Tertanda, 15 Desember 2019 untuk hari esok kan tiba)
Suara Bayi merengek minta ASI
Datang Ibu dari Bayi mungil baru 2 minggu lahir
Meraih Bayi rupawan dari pangkuan timang Ayah
Hemmm Ayah Bayi juga merengek minta ASI
__ADS_1
Cicak mengintip dari atap plafon
Ayah dan Bayi laki-laki tidak ingin bergantian minum susu
menggemaskan sekali tingkah Ayah dan Anak ini
Badan Ibu terasa pegal harus menyusui mereka berdua sekaligus
Bayi imut terlelap tidur dengan pulas dipelukan Ibu
Ayah merengek minta lebih, kata Ibu tunggu dulu. belum saatnya tunggu nanti
Kalau sudah waktunya
Tingkah Ayah sangat menggemaskan
Dia terlelap tidur sembari memeluk putra pertamanya di ranjang
Ibu duduk dipinggir matras busa mengusap pipi ayah penuh rasa
Dia melangkah mencium jari-jemari mungil nan bersih putra pertamanya
(Tertanda, 15 Desember 2019 untuk mimpi kita)
Ini gubuk singgah kami
Bukan istana bukan pula paviliun
Ini rumah kami
Tempat berteduh dari hujan, angin juga terik
Ini bangunan mimpi kami
Dimana semua tentang khayalan dulu
Ini anugrah kami
Beribu tetes keringat dia cucurkan untuk meraih angan
Ini harapan kami
Selalu aku menunggunya sembari menanak nasi
Ini bangunan tiang penyangga kami
Disinilah tempat mencurahkan seluruh perasaan hati siang dan malam
(Tertanda 15 Desember 2019 untuk mimpi yang kau berikan padaku)
Hana terus saja berceloteh sendirian membaca karangan puisi yang ada dalam pikiran dirinya, ia sangat suka tentang puisi dan juga dongeng
Hari sudah mulai gelap, Hana pun beranjak pulang tak lupa menerbangkan capung-capung yang sudah ditangkap sebelum ia duduk dipinggir tanggul irigasi
Permainan sore hari ini ia tutup dengan penuh senyum kebahagian, ia berfikir lalu berkata "Pasti saat ini dia juga sedang memikirkan aku. Rindu padaku! Aku inikan manis juga cantik, sulit dilupakan"
Hana terus saja menulusuri jalan setapak sampailah ia di jembatan sesek bambu, ia harus menyebrang irigasi menggunakan jembatan sesek barulah sampai ke kediaman orang tuanya
Sejak kecil Hana tidak pernah berfikir malu dengan apa segala kekurangan yang ia tidak miliki, ia suka hidupnya. Berfikir bahwa semua yang tuhan berikan adalah yang terbaik untuknya saat ini dan nanti seterusnya
Tidak ingin Hana berkata "Aku tidak suka tinggal dirumah jelek. Reyot" Tidak bukan seperti itu yang Hana ingin ucapkan
Dia berkata pada dirinya sendiri dan pada kekasih hati "Aku menyayangi rumah tinggal milikku sampai seterusnya karena ini adalah harta berhargaku yang tidak dapat dinilai menggunakan materi serta tidak pula dapat dicaci maki orang lain yang mereka itu merupakan pembual lagak sombong, membesar-besarkan hidup ingin terpuji orang banyak. Khalayak ramai"
__ADS_1
Hana teringat pada pertanyaan kekasih hatinya kenapa ia tidak merasa malu melihat keadaan rumah reyot 'Gubuk singgah'
"Lebih baik seperti ini tapi aku memiliki kasih sayang. Bukan pembual materi yang suka mengada-ada tidak tau diri ataupun tidak tau malu"