Hanna Aryana

Hanna Aryana
libur sekolah bag 2


__ADS_3

semalam papah berkata bahwa malam senin akan ada pasar malam dikota, sedari pagi buta nana sudah bangun mempersiapkan pakaian yang akan dikenakanya untuk melihat pasar malam


"papah papah bangun! ayo kita pergi kekota liat pasar malam, kata papah dikota ada kincir angin ada kuda putar juga ada kora-kora" hana duduk diperut papah "hana mau naik semua permainan yang ada di pasar malam juga mau beli baju baru papah" jari-jemari hana tidak bisa berhenti mengorek kedua rongga hidup papah agar mau beranjak dari tempat tidur


 


"sayang buat apa bersiap sedari pagi buta? kita itu berangkat ke kota nanti sore, kalau sekarang sampai sana juga masih pagi." papah menyingkirkan tubuh hana yang menduduki perutnya "pasar malam buka malam bukan pagi kalau pagi itu namanya pasar pagi, biasa para ibu rumah tangga pergi kepasar untuk beli sayur-mayur"


"tapi pah, tunggu sore itu lama. lebih cepat sekarang, hana udah gak sabar mau liat pasar malam" kembali hana naik ke perut papah


"papah selama ini hana belum pernah main keluar desa apa lagi sampai melihat pasar malam" nana meletakkan korong hidung di lobang hidung papah


"ich, jorok ah" papah ngedumel jijik hidungnya di masukkan benda asing


"biarin aja. soalnya gak mau bangun." mencium kening papah agar tidak marah "biasanya papah cuma mengajak kesawah kalau gak bermain tempat nenek kakek turun gunung"


"papah kenapa rumah kita dibawah gunung kenapa gak seperti rumah nenek dan kakek. disana deket jalan raya lebih dekat kekota, sedangkan rumah kita jauh dari kota juga gak punya jalan raya buat mobil mobil besar lewat bawa muatan banyak-banyak"


 


"gadis kecil manja, ini kan tanah peninggalan kakek buyut jadi harus dijaga dan dirawat. bila bukan papah serta mamah hana dan juga kakak lalu siapa yang mau merawat? semua sodara papah yang sudah menikah pergi merantau ada yang ke sumatra, kalimantan bahkan papua" papah pun beranjak meninggalkan ranjang


 

__ADS_1


"kenapa papah gak pergi merantau saja seperti paman atau bibik? kalo papah juga pergi merantau pasti kita tidak harus tinggal disini,,,! bisa ikut papah merantau kekota" hana melangkah turun mengikuti langkah kaki papah


papah mengorek kupingnya yang tidak gatal "kenapa gak tanya mamah aja gadis kecil, papah capek jawab terus."


 


"gak mau ah! mamah itu ditanya sering ngomong banyak, buat kepala hana pusing dengerin mamah ngomel"


seketika papah membalikan tubuh, menghadap pada hana lalu bertanya "hana mau ikut papah ke irigasi gak? nanti disana hana bisa mencari kepiting kecil-kecil buat main masak masakan dirumah"


 


hana menggeleng-gelengkan kepala, seketika berkata menjawab permintaan papah "gak mau, kepingin dirumah aja. kalau ikut papah hana bisa kepanasan terkena sinar matahari. nanti kulit hana bisa berubah warna menjadi hitam seperti warna bulu si meong item"


 


 


tanpa hana mengerti kenapa papah malah memilih hidup susah didesa yang penduduknya sekitar 305 kk saja.


padahal papah mempunyai orang tua yang rumahnya sudah dibangun dengan mewah dan besar. papah lahir dari keluarga yang cukup mampu, menengah ke atas. bisa dibilang kedua orang tua papah adalah tuan tanah, sedangkan papah lebih memilih tinggal di tanah peninggalan kakek buyut yang masih sepi penduduk


hari menjelang sore, awan langit berubah warna menjadi kuning ke orange.

__ADS_1


hana mamah, papah dan kakak laki-laki bersiap untuk pergi ke kota. disana hana memborong pakaian serta banyak boneka, tak luput semua wahana permainan ia coba. tidak muncul rasa takut pada wajah hana yang masih polos dan lugu


hana dan kakak tertawa begitu lepas riang gembira semalam itu menikmati semua wahana dan hiburan. kakak laki-kaki hana selalu menggenggam, menggandeng tangan hana agar hana tidak hilang di keramaian ataupun terjatuh saat menaiki wahana berbahaya


malam mulai gelap, kelap-kelip bintang menghiasi langit. begitu banyak bintang-bintang yang bertebaran, menandagan awan malam sudah tidak menutupi lagi cahaya benda dilangit itu.


kemudian papah mengajak hana, kakak beserta mamah untuk segera pulang kerumah nenek, menginap karena sudah malam tidak akan ada angkutan kota lagi yang beroprasi menuju desa dimalam hari, jadi harus menunggu sampai pagi baru bisa kembali pulang kerumah.


 


"papah kita mau nginep dirumah nenek yaaaaa!? asik nana bisa tidur dikasur empuk" hana berbicara dengan suara kegirangan


 


"iya sayang"


"papah kenapa kita gak beli kasur kaya punya nenek aja sih paaaaaah?"


 


meraih tubuh hana, menggendongnya didepan perut "hana bersyukurlah dengan apa yang kita miliki sekarang, jangan banyak mengeluh. karena tuhan tidak suka manusia yang terlalu banyak mengeluh"


 

__ADS_1


__ADS_2