Hanna Aryana

Hanna Aryana
Cukup, ini sudah cukup untuk ku


__ADS_3

Diary


02 Febuari 2020. Hana Aryana


Dipikir jika aku berpura-pura tidak melihat, tidak mendengar. Perasaan di lubuk hati ini akan baik saja, ternyata aku salah. Justru dengan bersikap demikian, perasaan hatiku semakin sakit. Terasa sesak dan perih


Aku harus bagaimana menanggapi ini semua, terlalu lelah aku berakting bahagia. Seolah aku selalu menjadi orang lain ataupun menyamar bagai wanita bercadar abu-abu atau mungkin hitam, bisa juga warna merah dan yang lainnya. Aku bisa bersikap selayaknya selembar kertas tanpa noda ataupun bisa juga sehelai kain menjuntai pemikat


Ku ucap dalam hati "Aku ingin terbang bebas bagaikan kupu-kupu walaupun raga ku rapuh dan lemah. Walaupun berumur pendek, setidaknya aku bisa merasakan kebebasan melayang di atas udara tanpa raga tertindih beban sebongkah batu delima. Biarkan aku bernyanyi mengeluarkan alunan irama merdu dari nada nada yang aku ucapkan di hatiku terkenang dalam"


"Tuhanku, lihatlah aku. Betapa tampang diriku ini begitu menyedihkan untuk kau jadikan sepucuk mawar. Tuhanku apakah aku ini begitu hina? Tak apa dulu kau berikan kebahagian sesaat, aku takut berada diruang sempit dan gelap. Aku takut sendirian, sangat ketakutan disana sendirian. Aku takut sendiri, berdiri sendiri. Takut tak ada yang akan datang menolongku dari siksa ketakutan jiwa raga"


Aku ingin terbebas merasakan kenikmatan hidup tanpa ada bekas rasa pahit. Pahit yang selalu meracuni di setiap hembusan detik. Nafas terasa tersengal. Begitu sesak dan sakit


Tuhan apakah dia, seorang laki-laki yang aku suka adalah yang terbaik untuk hidupku? Yang engkau pilihkan bagiku


"Aku ragu untuk menjalani awal kehidupan baru bersamanya untuk selamanya. Dia penuh rahasia juga pembohong"


Disayang, waktu tak dapat diulang mundur. Setelahnya tersisa debu dan abu


"Gadis kecil apa yang kamu sukai?" Dalam hati aku bermimpi tentang masa kecilku


"Suka? Kenapa tanya begitu? Bisa tanya yang lain?" Dia menampakan mimik wajah terheran-heran mendengarkan pertanyaan


"Jawablah dengan mudah"


"Baiklah!" Ia menghembuskan nafas "Aku suka semuanya"


"Tentang apa"


"Disini, tentang bayangan mimpi"


"Kalau begitu kamu selalu bersembunyi pada bayangan mimpimu, tapi kamu ingin menyukai apa. Tentang apa, apa yang kamu suka"


"Aku bingung? Jangan bertanya memutar-mutar"

__ADS_1


"Ini adalah pertanyaan yang berisi teka-teki, bisakah kamu menjawabnya dengan segera"


"Tidak. Aku bukan orang bodoh, aku tidak suka teka-teki"


"Kenapa kamu bicara kasar! Tidak baik. Kenapa tidak suka"


"Karena teka-teki cocok untuk mahluk yang banyak berandai-andai dan pembual"


"Kamu juga suka berandai-andai juga seorang pembual"


"Ya, tentu saja. Karena aku orang pintar" Ia menunjuk satu jari kearah langit


"Kau bilang bodoh" Aku men'jitak jidatnya yang tak lebar itu


"Untuk yang suka teka-teki" Ia menggelengkan kepala "Bukan ini tapi jawaban itu. Kamu sendirilah yang bisa menjawabnya. Jangan tanya aku tentang dirimu sendiri, karena aku hanyalah wujud dari bayangan mimpimu"


Semenjak hari dimana aku menyadari bahwa semua keputusan berasal dari pemikiran diri, lalu mana keputusan yang pantas disebut berimbang? Entahlah aku rasa semua ini jawaban tentang kebimbangan hati. Ingin begini jadi begitu. Memilih sekarang ternyata entah kapan untuk ditebus, benar atau salah semua adalah resiko yang harus ditanggung


Jalani hidup apa adanya saja, tanpa haru menjadi yang lain itu bukankah lebih nikmat. Tidak usah dibuat-buat lebih baik membuat, ketenangan dan kebahagiaan bukanlah suatu hal benda yang dapat dicari namun harus dibuat.


Tuhanku dengarkanlah aku. Aku sejak kecil selalu berdoa dan meminta kepadamu yang Maha agung, pernahkah aku melupakan pintaku yang telah Engkau kabulkan? Dapat dihitung kah atau direkam dalam ingatan? Berapa banyak sudah! 1000 atau 100 mungkin 10 biji? "Pem'bual saja saja diriku ini"


"Kurasa pikiranku sudah mulai tidak sehat" Aku ingin banyak membaca buku tentang pelajaran namun aku tidak terlalu suka membaca, lebih suka melihat apa yang ada dengan seksama


Ini adalah catatan tentang hatiku betapa aku suka berharap dan berdoa kepada yang Maha kuasa. Semoga saja semua pinta doaku selalu dikabulkannya


"Aku ingin bertanya padamu! Bagai mana caramu memandang diriku? Apa kamu sudah merasa bosan denganku? Bila iya, aku rasa. Aku tidak bisa memuaskan hasrat mu, jadi carilah yang dapat memuaskan nafsumu" Senyumanku dapat membunuhmu, tawaku dapat mengikatmu, sentuhan ku akan mencekik, aroma ku bisa meracuni pikiranmu "Jadi berhati hatilah" Ini tentang kamu bukan tentang aku itu atau apa dan siapa


Ku rasa tak ada lagi yang ingin aku tulis dan ceritakan dibuku harian " Mungkin saja aku sudah merasa bosan terlebih dahulu" Hemmmh.... "Sudahlah, semoga saja semua baik"


Arus menerjang gelombang


Pusaran berputar membentuk tornado


Menghilang tertelan bumi

__ADS_1


Dulu ku ucap selamat datang


Kini kau ucap selamat tinggal


Semoga keselamatan selalu menyertai


Oh yah tentang angan, semua berawal dari mimpi dan harapan. Angan ku ingin tetap bertahan untuk menggapai cita dan cinta. Harapan dulu terkenang kini


Jangan pernah memendam benci dan dusta, luapkan'lah bila saja mampu untuk membuat ketenangan. Jangan menjadi pecundang apalagi pengecut yang selalu bersembunyi dalam jeruji keadilan. Tak ada yang adil di bumi, di dunia yang fana ini. Keadilan hanya bisa diucap namun sulit untuk menjadi nyata. "Jangan katakan tentang kata membual yang bahkan lebih hina dari kata *Bodoh"


Semoga aku tetap menjadi pintar tanpa terjerumus dalam kepikunan, tampak buruk rupa hah...tak seindah teratai. Tentang mawar tak berduri*


Ini hanya kiasan bukan hinaan.


"Kenapa wanita selalu lekat pada sebutan bunga mawar? Kurasa karena keindahan dan keharumannya"


"Kenapa wanita tak lekat di hati bagaikan teratai" Aku berfikir sejenak "Mungkin saja karena mengambang di air, berdaun lebar. tanpa ranting dan batang pohon"


Kerapuhan adalah kekuatan, kelemahan adalah senjata, keindahan tentu saja kesejukan


Sekarang telah usai. sudah ku anggap buku catatan harian terhenti disini "Aku bosan terus saja berkata"


Se'andai aku dapat berandai-andai "Aku ingin terus bermimpi tanpa ada rasa takut dan khawatir menghantui" Maka dari itu, Senyumku "Teruslah berharap walau dalam posisi terjerat tali dituang gantung" "Semoga saja dengan segera, seseorang datang menghampiriku untuk menyelamatkanku dari keburukan yang sedang aku jalani" Ini lah pinta doaku


Jangan pernah menyerah, semua pasti akan baik saja. Jangan menyalahkan satu dari yang lain. tak ada gunanya karena waktu tidak akan berputar mundur, hanya akan meninggalkan jejak debu dan abu


Pilihan selalu ada digenggaman tangan. Hanya bisa sekali tanpa kata dua kali, karena yang kedua adalah jawaban kebimbangan "Mungkin saja itu bisikan setan. Yang kedua" "Jangan menjadi mahluk berakal plin-plan. tak elok dipandang mata, tak pantas berkata ingin merajut asa"


Telah usang yang lalu, janganlah memendam benci dan dendam. Atau api amarah akan membakar, menghanguskan tanpa sisa. Secuil noda tanda tak berdaya


Menangis lebih baik bila saja dapat membuat bahagia. tak apa. Mungkin saja lebih baik ketimbang terluka. Memendam luka sama saja dengan menyembunyikan belati di dada, menghunus jantung. Tidak akan ada yang datang menolong. Tolonglah diri sendiri sebelum terlambat


Jangan berkata omong kosong


(Tentang: Aku yang belum kamu kenal)

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2