Hanna Aryana

Hanna Aryana
Kenangan


__ADS_3

Di hari ke 62, Hana tetap seperti biasa menjalani tugas PKL namun ia merasakan begitu berat memikirkan setiap detail kenangan bersama Setyo. Ingin Hana selalu bisa merasakan kebersamaan kenangan indah yang telah terlewati. Entah mengapa itu semua menjadi keinginan mustahil dalam benak, walaupun seorang dua orang tiga orang teman mahluk halus Hana mengatakan bahwa Setyo menaruh hati kepada Hana. Tetap saja, Hana meragukan perkataan dari para mahluk wanita gaib itu yang memang senang sekali menggoda laki-laki bujang atau pria dewasa


"Harus bagaimana aku menjalani keseharian setelah berpisah dari Kakak?" Perkataan itu saja yang terlontar di mulut Hana setiap kali ia mengingat bahwa tidak akan bisa menyelonong menemui seseorang tanpa alasan pasti, tidak lagi bisa bertemu Setyo dengan sengaja setelah tugas praktek usai


Tepat dipertengahan bulan ke-3 Bapak Mamah/Kakek Hana jatuh sakit, selama beberapa hari Hana tidak bisa mengendarai motor metik karena digunakan Mamah untuk kerumah sakit tempat Kakek dirawat selama satu minggu


Dihari itu Hana berjanji akan menunggu Mamah menjemput Hana di kantor "Sudah Ashar kok Mamah belum datang sih!" Hana berbicara sendiri sembari duduk dibangku papan, sementara Setyo duduk di kursi piket Mako


Cukup lama Hana menunggu sampai akhirnya Setyo merasa gelisah menanti kak Indra untuk menggantikan sementara menjaga kantor Mako. Akhirnya diputuskan oleh kak Setyo untuk mengunci gudang penyimpanan agar bisa segera mengantarkan Hana pulang karena sudah sore. Baru saja kak Setyo kebelakang, Mamah menelpon Hana, bertanya sekarang dimana? "Mamah Hana didalam kantor, tunggu bentar mau pamitan dulu" Hana pun berlari menghampiri Setyo supaya kak Setyo tidak mencari Hana


Hana mencium tangan kanan kak Setyo lalu mengucapkan salam, dibalas oleh kak Setyo "Mau pulang?" Hana mengangguk "Iya"


"Hati-hati dijalan"


"Hemm'emh"


Keesokan hari Hana berangkat, di jam istirahat hanya ada kak Indra dan Hana. Sedang asik ngobrol didepan meja komputer berdua


"Goblok Han, kemarin Setyo mau nganterin pulang malah pulang duluan"


"Siapa kak? kak Ririn?" Hana tidak begitu memperhatikan jadi ia tidak terlalu memahami


"Enggak"


"Siapa loh kak yang mau dianterin? Kak Setyo mau anterin siapa?"


"Enggak, udah lah"


"Siapa loh... Aku?"

__ADS_1


"Terserahlah" Kak Indra mendengus kesal dikarenakan terlalu lama Hana tidak memahami ucapannya


Hana menengok kak Setyo yang baru sampai, kemudian kak Setyo menyuruh Hana pindah tempat duduk. Akhirnya kak Setyo dan kak Indra ngobrol sementara Hana memperhatikan tidak terlalu jauh, duduk kursi plastik. Terus saja Hana memikirkan tentang perkataan kak Indra barusan "Apa ya kemarin Kakak mau antar aku pulang?. Seandainya kemampuan membaca pikiran tidak datang dan pergi, pasti kemarin aku bisa mendengar apa yang lagi dipikir Kakak jelek" Hana menggigit bibir sembari terus melamun


Berhari-hari kenangan itu terlewati sampai akhirnya Hana dan Setyo duduk berdua diruang televisi, duduk saling berhadap-hadapan. Tanpa sengaja Hana melihat tiga sosok wanita bergaun putih sedang menggoda setyo. Wanita pertama sebelah kanan yang sedang menyenderkan kepalanya dipundak Setyo mengatakan kepada Hana "Bila kamu diam tidak mau menggoda! Aku akan terus menggodanya sampai kamu merasa marah"


"Terserah" Hana menjawab tanpa mengedipkan kelopak mata


"Benarkah? Lihat apa yang akan aku lakukan. Kamu akan menyesal bila melepaskannya" Dia tertawa cekikikan menggelitik ditelinga


"Aku gak perduli"


Kemudian semua, ketiga mahluk hantu itu saling merapatkan pelukan dan dekapan. Satu samping kanan, satu samping kiri, dan satu dibelakang


"Jangan ganggu kakak. Pergi" Hana membulatkan pandangan, kesal melihat mereka semakin mendekat dan menyenderkan kepala dipundak kak Setyo


Kak Setyo terherah-heran dengan tingkah Hana yang terus memandanginya penuh amarah, dia lalu hanya mengerutkan kedua alisnya, tanda keheranan menanggapi prilaku Hana yang sudah biasa. Dari tadi diam saja tetapi per'sekian detik berubah raut wajah memelototinya sekarang penuh emosi dan Hana menggenggam jari-jemari tangan kanan


Mendengar semua pertanyaan ini Hana tetap diam tidak ingin menjawab lebih mendetail, setiap kali buat alasan pasti ketahuan bahwa itu bohong. Lalu ditekan oleh pak sanjaia dan kak Indra, terus mengulang pertanyaan sama sampai membuat Hana bosan mendengar semua pertanyaaan itu.


Sampailah Hana sekitar kurang lebih satu Minggu lagi menjalankan tugas PKL, tanpa sengaja Hana melihat sesosok Kakek tua mengenakan celana kolor warna hitam sebatas lutut dan tidak mengenakan pakaian kaos 'Telanjang dada'


Dalam pandangan Hana Kakek itu bayangannya terlihat samar-samar tidak jelas bentuk wajahnya namun Hana merasa mengenali Kakek yang duduk dibangku panjang, di samping kanan. Kakek tua mirip Kakek Hana yang sedang sakit dirumah 'Bapak dari Mamah' Hana terus saja memperingatkan kak Setyo dalam hati untuk berpindah tempat duduk "Jangan duduk disitu" Namun suara Hana tidak bisa keluar, seolah sedang tercekik. Semakin Hana memberontak cekikan semakin kuat tetapi tidak menyakiti ataupun melukai Hana


Setyo tetap saja mengacuhkan Hana yang diam seperti patung sembari terus memperhatikannya, menganggap bahwa Hana memang selalu seperti ini setiap hari


Entah mengapa Hana merasakan bahwa kak Setyo juga melihat apa yang Hana lihat, dia pun seolah tidak bisa menggerakkan tubuh dan entah mengapa dia menjulurkan tangan kanannya seolah menerima segenggam barang, sesuatu benda berbentuk batu merah darah


Kakek tua itu berkata "Tolong jaga baik-baik." Dan kak Setyo pun hanya menganggukkan kepala tanda menjawab dan menerima

__ADS_1


Kemudian Kakek tua itu menghilang begitu saja, Setelah Kakek menghilang Hana bisa kembali menggerakkan tubuh. Tanpa disadari hana hampir saja meneteskan air mata, ia merasa sedih "*Apa barusan tadi?"


Benda yang digenggam ditangan kanan kak Setyo pun ikut menghilang setelah Kakek tua menghilang (Kejadian ini sebelum Kakek Hana mengamuk, kerasukan kera*)


Semenjak hari menyebalkan bertubi-tubi Hana semakin benci kepada Setyo. Ia merasa kesal kenapa setelah bertemu Kakak jalan hidupnya jadi terasa berbeda juga memusingkan penuh tanya. Sementara Setyo tetap pada pendiriannya membiarkan Hana bermain sesuka hati untuk menghilangkan suntuk asalkan tetap berada dalam pengawasan


Hana melihat wanita mengenakan pakaian serba hijau sembari membawa kemana-mana samurai bersarung hitam. Hana bertanya pada mahluk lelembut itu "Apa yang waktu itu aku lihat. Melihat seorang kakek memberikan segumpal batu merah kepada kak Setyo?" Wanita itu tersenyum miring dengan sifat pemarah "Nyawamu"


Mendengar satu jawaban aneh! Hana terbelalak "*Apa? Apa kamu pikir nyawaku itu segenggam batu apa! Nyawaku berada disini didalam ragaku bukan batu darah"


"Ya tapi kami tidak bisa berada jauh dari nyawamu, kamu memiliki nyawa berbeda. Batu itu perwujudan dari roh mu yang sesungguhnya. Kamu bisa mati bila batu itu jatuh ke tangan orang yang salah"


"Aku tidak percaya. Kenapa diberikan kepada kak Setyo?"


"Karena dia pangeran dari kaum manusia, sedangkan kamu seorang putri dari kaum kami. kalian sepasang kekasih"


"Halah, aku tidak percaya. Semua ini bohong. Aku anak manusia bukan siluman, aku bukan siluman."


"Aku akan terus berada di sampingmu putri untuk menjaga keselamatanmu. Kekasihmu tidak akan menggunakannya untuk hal buruk. Kakek mempercayainya untuk menjagamu beliau sudah menyerahkan milik mu kepadanya"


"Tidak. bila memang milikku maka selamanya akan tetap menjadi milikku. Aku akan merebut benda milikku dari dia sampai kapanpun*" Hana meneteskan air mata namun di alam pikirannya bukan kenyataan


Wanita yang diajak bicara oleh Hana pun pergi setelah melihat Hana meneteskan sebulir air mata


Melihat Setyo datang Hana pasti akan menatap dia penuh kebencian dan amarah. Hana tidak akan pernah mempercayai perkataan dari seorang wanita lelembut yang mengatakan bahwa Setyo adalah seorang pangeran dari kaum manusia


Terlintas dalam pikiran Hana bahwa Setyo tidak memperdulikan kisah masa lalu, yang dia perduli kan adalah masa kini. Membuang jauh-jauh perjalanan kelam hidup dahulu kala. Dia ingin menjalani kehidupan baru setelah bertemu dengan kekasih hati yang selama ini terus dicari dan ditunggu


Namun berbeda dengan pikiran Hana. Ia tetap menginginkan penjelasan dari kisah hidup masala lalu yang kelam, penuh amarah Hana selalu mencari jawaban tetapi semua mahluk yang Hana kenal sebagai pelindung tidak ada yang ingin memberi penjelasan, mereka hanya berkata bahwa itu telah lalu. Hana mengalami kutukan sehingga ia harus terlahir ke dunia sebagai seorang manusia begitupun dengan Setyo, dia berjanji akan melindungi Hana dengan taruhan nyawanya

__ADS_1


Bersumpah bahwa Hana akan menjadi gadis ceria tidak boleh terikat ilmu kebatinan, Setyo menginginkan Hana tetap menjadi gadis kecilnya dan membahagiakan Hana halnya anak manusia pada umumnya, menuruti semua keinginan manja Hana suatu saat nanti setelah mengikat janji suci di pelaminan (Sekilas kisah bunga tidur mimpi dimalam hari yang Hana alami tentang keinginan Setyo)


__ADS_2