
Air bawalah aku pergi bersamamu, mengikuti aliran arus, alur. Aku terjebak didalam belenggu. Belenggu yang selalu merasuki urat nadi, ketakutan akan diriku sendiri. Betapa aku ini mahluk lemah, selalu bersembunyi serupa suara. Dapat didengar tetapi sulit dicerna mata. Aku tidak ingin menyerah namun apa daya kekuatan yang aku punya tak seberapa, bukanlah pendekar bezirah emas dan bukan pula bertahta batu berlian sekeras baja. Aku hanyalah sekuntum bunga dan akan tetap menjadi mahluk lemah. Takut tersakiti, takut terluka, takut akan gelap
Bila saja aku diperintahkan untuk memilih! Mana yang akan aku pilih diantara Tangan kanan berisi Api dan tangan kiri berisi Air? Maka jawaban pasti akan aku pilih yaitu tangan kanan yang berisi Api. Setidaknya Api memberikan pembersihan dari segala penyakit dan menerangi dari kegelapan.
Kanan itu bentuk kesucian sedangkan kiri itu tanda najis
Disinilah aku, sekuntum mawar yang ingin merubah suatu hal bodoh. Keserakahan dan ketamakan menghancurkan segalanya. Keterikatan perjanjian darah membuatnya mati membusuk 'Membusuk karena hukuman yang ia tidak pernah ingat kenapa ia sampai menjalani hukuman terkutuk, ia menangis namun ia pun tak pernah mendapat jawaban apapun dari setiap pertanyaan yang ia lontarkan kepada yang Maha Kuasa'
"Kenapa? Kenapa aku seperti ini? Aku ingin terlepas."
Mimpi-mimpi semu. Seandainya ia tak pernah terlahir ke dunia mungkinkah ia tidak akan merasa seketakutan ini? Ia terus mengingat siapa tentang jati dirinya yang dulu. Namun di satu sisi ia ingin meminta bantuan ataupun sekedar memperbaiki sesuatu hal tentang amarah dan bara kebencian
Gunung dan Laut ada digenggaman tangan. Langit dan bumi adalah tempat bernaungnya. Apalagi yang diinginkan dari jelmaan ular? Bukan, bukan jelmaan. Mana mungkin ia bisa mendapatkan kutukan bila ia hanyalah seekor jelmaan ular betina! Ia, sekuntum bunga itu adalah bentuk kelahiran baru dari Naga 1000 th. Penguasa Gunung dan Laut
__ADS_1
Sayang sekali, ia mendapatkan hukuman. Raganya mati namun tidak dengan batu mutiara kehidupan
Batu kehidupan terlahir kembali bersama sekuntum bunga sebagai wadah barunya, lalu bunga layu itu ingin mengakhiri semua perselisihan yang selalu bernaung didalam lubuk hatinya. Ia sudah tidak perduli, namun ia sangat mencintai orang-orang terkasih didalam hidupnya dan ia menyatakan sumpah perjanjian "Aku pertaruhkan nyawaku untuk melindungi semua yang aku kasihi. Semoga Tuhan ku selalu memberikan maaf beribu kali, melindungi dan menjaga semua kehidupan dan selalu memberikan kesempatan dari yang telah hilang dicuri untuk memperbaiki diri bagi semua mahluk" Itu ucapannya disaat ia menatap langit biru, karena ia ingin mengakhiri kepahitan hidup lampau. Ia ingin membuat jalan hidup baru 'Damai bukan berarti tanpa peperangan pemikiran atau tanpa pertumpahan emosi, bukan pula tanpa pengorbanan dan bukan pula tanpa keegoisan'
***
Hana tersenyum teringat akan kisah dari gambaran bunga tidur, dimana ia kembali kepada kehidupannya disaat ia masih belum bersekolah.
Mimpinya semalam adalah tentang kebahagiannya bermain kelereng bersama Kakak laki-laki di halaman depan rumah. Walaupun Hana seorang gadis namun ia juga sangat suka bermain mainan anak laki-laki karena ia selalu mengekor kepada Kakak Kakaknya di setiap kali sehabis menunggu Kakak pulang bersekolah
***
Engkau kirimkan Guntur tuk menakuti diriku diserap ketakutan disetiap kali aku melawan gambaran takdir. Engkau kirimkan pilu disaat betubi aku terbelenggu kebencian. Engkau kirimkan duka di setiap kali api amarah datang menghampiriku, menyiksaku layaknya pecut neraka. Mati sajalah dusta. Mati sajalah para budak penyekutu. Mati sajalah para penghianat. Namun aku tidak akan mematikan ragamu, aku akan mematikan hidupmu dan mengarahkanmu kedalam lubang pintu neraka jahanam, tanah bagi para mayat hidup. Ketamakan itu yang kamu inginkan dan akan aku berikan jalan yang pantas bagimu tempuh
__ADS_1
Kematian sejati hanya untuk mereka-mereka yang terpilih dan terlepas dari segala beban tanpa dusta ataupun bukan pula tanpa lara_batin. Jalan terbaik yang mungkin Tuhan berikan dan tentukan karena semua ciptaannya pasti kembali kepadanya.
Aku bukan malaikat, bukan pula bidadari ataupun iblis terkutuk. Aku ini hanyalah mahluk yang ingin mencari jawaban atas setiap pertanyaan hidup, Aku ingin terbebas untuk melangkah, mencari, menitih, dimanakah aku harus kembali atau dimanakah aku harus tinggal? Bolehkah aku menentukan jalan hidup tanpa harus melihat kebelakang atau ke depan? Dan boleh aku tersenyum untuk menyatakan bahwa aku bersyukur atas kehidupan yang telah Engkau hadiahkan kepadaku? Terseok aku, hampir saja terjatuh badan juga tubuhku karena kaki menyandung sebongkah tunggu batang kayu jati yang telah usang lapuk dimakan usia.
Aku ingin menangis. Mengatakan semua rasa sedih dan bersalahku. Aku ingin melindungi dan ingin dilindungi. Takut, aku sangat ketakutan
Jangan Engkau akhiri kehidupan ini. Aku tak sanggup. Berikanlah maaf, berikanlah ampunan. Kasihanilah, aku mohon padamu. Tuhan
Tidak ingin aku mendatangkan air keruh dari lautan serta tidak pula, aku tidak mau mendatangkan awan hitam dari puncak bukit. Tidak Tuhanku, karena aku ingin meminta pengampunan darimu maka dari itu bebaskanlah aku dari ketakutan hatiku. Belenggu yang selalu menyiksa di setiap kesekian kali langkah kaki memijakkan kaki di tanah bergambut. Tanah rawa itu bagaikan pasir hisap, menelan jauh kedalam bumi sampai sesak tidak dapat bernafas, dapatkah aku meraih pegangan untuk menyelamatkan hidup? Berikan aku keajaiban
***
"Bunga untuk apa kamu ada?" Jawablah aku bertanya "Apakah untuk menampakkan keindahan mu? Namun kamu itu mahluk lemah serta rapuh. Pastilah kamu tidak akan bisa bertahan lama" Pikirku untukmu karena kamu diam saja "Tunggu dulu, kenpa kamu selalu ingin dipandang? Pasti kamu ingin dilihat! Berhati-hatilah karena keinginan mu dapat menyakitimu sampai keakar" Pekik hinaku untuk Bunga "Jangan menangis. Karena kamu akan tampak sangat rapuh dan lemah. Rayuan itu tidak akan mempan bagiku karena Anak Panah tumpul tanpa Busur tidak akan bisa melesat kecuali kamu tancapkan langsung menggunakan keahlian yang telah terasah tajam" Peringatan aku lontarkan atas bahaya mendekat ingin menyakiti dari jarah kejauhan ataupun terlalu dekat
__ADS_1
Aku mengharapkan kebebasan dari belenggu yang selalu menyiksa batin mengikat raga