
biarkan saja aku selalu menjadi bunga untuk mu yang selalu memberikan keharuman walau terkadang aku juga bisa memberikan bau tidak sedap.
aku ingin selalu selalu dan selalu ada didekat kamu. selamanya tanpa ada yang bisa memisahkan kita. berharap kamu tidak akan merasa terganggu dengan adanya kehadiran diriku, bukankah aku ini berasal dari bagian tubuhmu? ya disitu! aku berasal, maka jagalah aku melebihi kamu menjaga keselamatan dirimu sendiri.
berapa banyak nyawa yang kamu punya? satu? atau dua? mungkin tiga? ataukah sampai sembilan sama dengan jumlah nyawa yang kucing miliki?
aku, aku juga punya nyawa sebanyak dari jumlah yang kamu miliki tentunya. selama kamu ada aku juga ada, selama kamu bertahan aku juga bertahan, selama kamu berdiri tegak aku juga tidak akan melayu. karena sumber kehidupanku berasal darimu, jangan sakiti aku. buang jamu-jamur yang menggerogoti membuatmu sakit. kalau kamu sakit aku juga sakit
seberapa cantikkah aku dalam pandangan kamu? tunggu, aku bisa menjawab. jangan jawab duluan! hem... hemh... tentu saja secantik dirimu, karena aku berasal darimu. kamu baik, sehat, kokoh dan sempurna tanpa cacat maka aku pun terlahir seperti kamu tentunya. kamu pohon dan akar, aku bunga dan daun dipinggir ranting. aku secantik kamu, cantik.... cantik.. cantik... cantik benar-benar cantik.
peluk aku menggunakan daun besar milikmu agar kelopak bungaku tidak kusut dan sobek disaat terhembus angin topan, dekap aku menggunakan ranting milikmu agar aku tidak terlepas dari pangkal pohon setelah terjangan badai mendekat, topang aku menggunakan pohon milikmu seakan-akan kamu bertahan pada hantaman badai angin yang mengikis kulit ari, tancapkan akar-akar serabut dan tunggal sedalam bebatuan keras beralas tanah berhias rumput itu 'rumah kita' agar kita tidak tertarik tiupan angin di pucuk tebing 'rumah kita'
***
kakak, aku benci kakak.
hari membosankan, hari ini kakak piket pagi! hem.... aku tidak suka kakak. lebih asyik kak febry saja yang piket tidak usah kakak jelek
hana memandangi kak setyo dari ruangan dalam, hana tidak mau menonton tv malas ada kak setyo
di kantor hanya ada hana dan kak setyo berduaan sepanjang hari. sementara anggota dan atasan, mereka semua sedang tidak bertugas. kak indra entah pergi kemana sejak pukul 8 pagi sudah menghilang 'tidak terlihat batang hidungnya'
__ADS_1
beberapa kali hana melirik acara tv yang sedang disiarkan 'ada kartun kesukaan hana' ingin sekali hana menonton tv dari dekat tetapi gengsi "kakak jelek sengaja puter siaran cehnel itu, nyebelin. aku digoda-goda lagi. gak mau, aku gak mau kesitu titik" hana meraih kertas foto copy dan pena dari meja komputer. mencoret-coret kertas sesuka hati dengan tulisan bahasa inggris yang tidak bisa dimengerti artinya apa
kak setyo sudah menghabiskan sebungkus rokok pagi ini. baru sepuluh menit berlalu sudah membuka bungkus rokok yang baru dibelinya, menyulut rokok sebatang. asapnya memenuhi seisi ruangan
hana memandang kak setyo sedang menghisap rokok "ngerokok terus gak selesai-selesai, kakak asapnya kenana-mana. pengap tauk" hana mendengus kesal, mengorek salah satu lubang hidungnya dengan jari telunjuk lalu menyentilkan kotoran ingus kearah kak setyo sambil tertawa geli
kak setyo melirik hana yang sedang menertawaka dirinya. dia menaikan salah satu alis tebalnya, mengarahkan tangan kanannya ke asbak lalu mematikan kuntung rokok
tiba-tiba kak setyo berdiri dari kursi kayu yang berada depan tv lalu berjalan kearah hana yang sedang mengotori meja dengan banyak kertas bekas coretan. dia duduk didepan meja komputer, menyanggah kepalanya dengan tangan kanan mengmbangkan senyuman geli kearah hana. 'entah apa yang ada dipikirannya'
memandang kak setyo bertingkah ramah hana membulatkan penuh kedua kelopak matanya membentuk simbol bulan gerhana "apa kakak ini senyum-senyum sendiri". hana mengalihkan pandangan kembali kearah kertas coretan, kesal menyobek kertas menjadi beberapa bagian kecil
"hemh....!!" kak setyo mendengus keras dengan helaan nafas berat
hampir dua jam hana tidak bergerak dari kursi plastik selain menggoyangkan pinggul, kaki,tangan, dan kepalanya karena kram. tidak juga mau melangkahkan kakinya ke taman bunga pot yang berada di depan teras kantor atasan tertinggi. hari ini hana hanya menginginkan kebebasan seperti halnya ririn yang selalu diperbolehkan main ke sana-kemari bersama teman-teman dekat satu praktek kantor namun kak setyo dan pak sanjaia tidak pernah mengijinkan hana berjalan terlalu jauh apalagi sampai melewati gerbang kantor
terdengar suara ada yang memparkirkan motor besar dihalaman, berselang. tak lama kak indra datang memasuki ruangan, entah apa yang dibicarakan antara kak indra dan kak setyo yang jelas mereka bicara berbisik lalu pindah keruang televisi. hana ditinggal sendirian, tetap saja kak setyo merayu hana dengan acara kartun kesukaannya 'kabel tabung 21 in itu tidak pernah dicabut dari stopcontack'
pukul 10 pagi, dinda datang menghampiri hana "pak hana mana?" bertanya kepada kak indra dan kak setyo
kak indra menjawab dengan suara manja "tuh ada didalam, lagi ngambek"
__ADS_1
dinda berlari menghampiri hana "hana lagi apa?"
"hem. lagi duduk" hana kembali mencoret-coret kertas foto copy "kamu kok udah kesini? inikan belum jam istirahat, memang kamu gak dimarahin sama ibu polwan?" hana berbicara menghadap dinda yang sudah duduk kursi plastik lain
"enggak, malah disuruh. lagian ibu polwan tempat aku tauk kalau aku selalu main kesini pas bukan jam istirahat, jadi boleh-boleh aja. gak masalah" dinda meraih kertas coretan hana lalu mengembalikan kembali pada hana
"ngapain kamu nyoret-nyoret kertas gak jelas"
"gak papa, lagi bosen aja" hana melipat kertas lalu meletakkan dipinggir meja dekat dinding "kamu ngapa main kesini?"
"gak papa pingin main disini aja! soalnya kamu pasti ada di kantor terus gak pernah usil"
"hemh...!"
hana dan dinda mengobrol asik di dalam sementara kak setyo dan kak indra mengobrol di ruang tv sambil sesekali memperhatikan kedalam ruangan.
hana teringat kenapa dinda bersikap berbeda padanya, waktu itu hana sedang duduk di kursi depan komputer, dia mendengar dengan jelas pak sanjaia dan dinda sudah berbicara empat mata di ruang tv beberapa hari yang lalu. menjelaskan pada dinda bahwa hana dilarang bermain terlalu jauh dari kantor, bila ingin main lebih baik main saja disekitar kantor. bebas tidak akan ada yang melarang apalagi membentak yang penting jangan menyentuh barang dilarang dan juga jangan berani mengambil benda berharga. pak sanjaia menjelaskan secara singkat
dinda mengangguk setuju tanpa banyak bertanya dia sudah mengerti kenapa hana mendapatkan perlakuan istimewa, dinda adalah orang yang bisa dipercaya, selama bermain bersama hana tidak pernah sedikitpun dia keceplosan membocorkan informasi yang akan membuat hana semakin benci kepada kak setyo
hana selalu memperhatikan dinda disetiap kali dinda main keruangan hana pkl, dia tidak pernah melepaskan kencang matanya hanya untuk sekedar lirak-lirik kepada bujang macho yang selalu khulur-kilir setelah usai bertugas menjaga pos atau tempat yang memerlukan pengamanan ketat. dia seperti sudah hafal betul bahwa semua orang yang hana panggil kakak, bapak, ibu tidak akan mudah didekati apalagi diajak mengobrol santai, semua memasang tampang garang dan serius. selain dengan hana dan ririn mereka semua tidak pernah menyapa semua teman hana atau teman ririn yang sering berkunjung pada jam istirahat kecuali dinda, cika dan sella.
__ADS_1
terkecuali kak setyo, dia itu sangat murahan. selalu mengobral ketampanan seperti barang rombenga. hana sangat membenci kak setyo sampai kapanpun juga, bahkan detik inipun tetap sama tidak berkurang malah semakin bertambah kekesalan atas sifat pengekangan yang dia buat dengan cara merayu dan menggoda menggunakan keahlian pendidikan khusus itu
hana dan dinda mengobrol asyik disusul oleh sella yang ikut nimbrung, mereka malah keasikan bercanda sampai jam pulang. setelah berpamitan kepada kak setyo dan kak indra, saat pulang sella selalu minta berboncengan dengan hana agar irit ongkos lalu sampai pasar turun di depan warnet untuk bermain media sosial