
Sampai kapan aku terus seperti ini? Meratapi nasip lara batin. Aku ingin berlari sejauh mungkin, sejauh yang aku bisa. Menghilang tertutup kabut asap, biarkan aku pergi. Lepaskanlah diriku agar aku terbebas dari segala beban berat yang selalu kubawa kemana-mana disetiap langkah kaki berjalan
Aku ingin berpijak di atas pondasi kokoh, bukan di atas tanah bergambut
Aku tidak ingin terhisap masuk kedalam tanah berlumpur, aku takut tidak bisa menyelamatkan diri. Aku takut aku tidak bisa bertahan menunggu bantuan datang menghampiri diriku, menyelamatkan dari rasa takut dan kecewa
***
Leluhur Hana berasal dari golongan siluman Harimau, namun mereka. Kakek buyut Hana berada dalam tingkatan tertinggi 'Maung' itu adalah sebutan Agung Raja untuk para Raja Harimau
Itu juga yang membuat Hana takut pada air, Sama halnya. Tidak mungkin berbeda jauh, Hana tidak terlalu bisa berenang karena takut menyelam dalam air, Dia seperti merasa kram pada sekujur tubuh. Bergetar
Kekuatan yang mereka ajarkan tidak bisa dipelajari hanya bisa diteruskan turun_temurun kepada generasi berikutnya
Namun itupun memiliki larangan. Tidak boleh melakukan perbuatan kotor, kotor dalam artian mengotori kesucian. Dulu para leluhur Hana sebelum datang agama Islam mereka terlebih dahulu menganut agama Hindu. Setelah datang Islam mereka masuk Islam lalu mengatakan sumpah
Sumpah bahwa ilmu mereka tidak bisa dipelajari hanya bisa turun kepada keturunan mereka, darah daging mereka. Untuk selalu melindungi keselamatan mereka, namun dengan syarat tidak boleh menentang ajaran agama, tidak boleh melakukan tindakan dilarang agama. Itu adalah patokan
Namun tidak semua keturunan mendapatkan apa yang sudah mereka wariskan, tidak banyak. Teikat bagi keturunan yang mampu melaksanakan semua larangan serta aturan
Seorang Maung tidak memiliki pantrangan itu pula sebabnya kenapa tidak bisa dipelajari, bila saja semua bisa mempelajari mau jadi apa semua generasi berikutnya? Saling mengadu ilmu kebatinan? Menyombongkan diri?
Semua pasti punya asal_usul leluhur juga bukan? Jangan pernah dilupakan karena mereka selalu menyayangi anak-anak mereka
Cinta dan kasih sayang mereka selalu melindungi juga menjaga. Hana bukan menganggap semua salah atau benar, bagi Hana bila memiliki kepercayaan itu lebih baik ketimbang tidak memiliki panutan sama sekali
Terkadang Hana sering menjumpai leluhur di tempat-tempat tertentu, dimana saja setiap Hana melangkahkan kaki berjalan. Mereka selalu memandang, menatap jauh seolah tidak berujung. Itulah mereka, Hana pun tidak mengerti apa yang mereka lakukan sesungguhnya
Hana sadar mereka pasti bersedih melihat ini semua. Apa yang tidak bisa Hana jelaskan, terkadang mereka saat menampakkan diri berbentuk manusia namun wajah mereka dan sekujur tubuh ditutup jubah putih bercahaya nur atau kadang juga berbentuk hewan tertentu
Kakek buyut, Nenek buyut memang sudah meninggal yang tertinggal itu adalah bentuk biasa yang disebut Khodam atau ilmu kebatinan mereka yang tidak bisa dibawa ke alam kubur
Bayangan Murni itulah bayang-bayang dari seorang yang sudah bisa mengerti betul dari makna Mengikhlaskan kehidupan_kematian
Leluhur memang sudah tidak ada tetapi mereka mewariskan ilmu Dunia dan Akhirat
Semua agama itu datang dari Tuhan. Semua yang hidup tercipta karena Tuhan yang Maha Esa menciptakannya
Tidak ada mahluk apapun apalagi manusia boleh seenak mulut mengatakan bahwa dia orang kafir, dia orang mus'rik, tidaklah berhak berkata demikian. Sebelum mengatai orang lain coba terlebih dahulu pandanglah cermin, lalu lihat seperti apa bentuk terpantul
Hana tidak pernah mendengar suara mahluk-mahluk lain meributkan sesuatu masalah diperdebatkan sampai bergontok-gontok. Secara berlebihan selain manusia, terkadang manusia itu memiliki akal juga keagungan tetapi manusia terkadang lebih merendahkan diri untuk mendapatkan kejayaan serta kekuasaan
Disaat mahluk itu tertawa menggelegar menertawakan manusia yang sedang masuk perangkap mereka,
Bila saja Hana berada ditempat itu, ia pun ikut memandangi seseorang itu. Mahluk itu tertawa lalu mengatakan mungkin Tuhan pasti kecewa
Ya para ahli Agama melihat mereka begitu berbeda tetapi dalam pandangan Hana mereka itu hidup dengan damai, sama saja menjalankan kehidupan. Mereka baik, ramah dan sopan
__ADS_1
Mahluk yang sering mengganggu menghasut manusia itu entah dari golongan Jin apa! Hana juga tidak mengetahui, yang Hana tau mereka diutus langsung oleh Iblis. Mereka-mereka pintar menyamarkan diri, sulit sekali dilihat bentuk asli mereka
***
Mungkin pandangan setiap orang pasti berbeda. Hana menyadari bahwa dia memiliki agama kepercayaannya tersendiri, terkadang Hana ingin menangis melihat orang-orang menghambur-hamburkan makanan. Seperti melarung nasi, logika saja bila nasi dan lauk pauk dilarung terbawa ombak siapa yang mau makan? Ikan makan nasi?
Tetapi bila caranya diubah misal, makan nasi dan lauk bareng-bareng dipinggir pantai sehabis merayakan upacara kan enak pulang-pulang perut kenyang. Itu pikiran Hana , pikiran gadis polos nan lugu
***
Hana marah besar kepada kekasih hati. Setelah ia baru pulang dari rumah Kakak sepupu, Hana balik menelfon Setyo
Tut....Tut...Tut..
"Hallllooooo" Suara Setyo mengangkat panggilan telfon
"Hal'llooo, Abang ngomong apa aja sama Erna?" Hana membuka percayakan dengan penuh emosi
"Ngomong apa toh dek? Abang gak ngomong apa-apa"
"Tadi Erna bilang kalau Abang itu Andri terus Abang itu udah telponan lama sama dia"
"Telponan?? Dulu dek, memang pernah. Abang itu kenal sama mantannya dia yang namanya Andri terus kasih nomor Erna. Abang denger dari Andri bahwa adek sama Erna itu sepupuan, Abang nanya ditelpon bener kamu sepupuan sama Hana? Udah gitu aja gak ngomong apa-apa"
"Bohong, dia masih suka sama Andri, dia anggap Abang itu beneran Andri. Adek kecewa sama Abang, Abang kalau mau goda-goda cewek diluar terserah tapi jangan yang ada hubungan sodara sama adek jadi ruwet Bang"
"Siapa yang goda-goda! Abang gak kaya gitu"
Suara Setyo mulai panik harus bagaimana menenangkan emosi Hana terbakar api cemburu "Dek, Abang gak ngapa-ngapain, itu dulu dek! Abang nanya bener kamu Kakak sepupu Hana"
"Abang tau gak dia itu udah hamil anak pertama aja masih mikir bahwa dia gak cinta sama suaminya. Tetep bilang cinta sama Andri, kok Abang malah pura-pura jadi Andri. Pikiran Abang dimana? Dasar o'on Abang inih ya"
"Adek kok jadi bilang Abang inih o'on sih dek? Terserah lah kalau gak percaya"
"Memang Abang kaya begitu o'on. Apa kamu mau marah? Sinih kalau berani! hah?"
"Adek nih ya! Udahlah malas Abang ngomongin itu terus. capek Abang"
"Semua gara-gara Abang" Hana menutup panggilan telfon penuh emosi. dia mengais sesunggukkan didalam kamar tidur, ingin Hana mengatakan aku percaya padamu namun emosi ingin dilupakan
Hana ingin meluapkan semua amarah karena Setyo tidak pernah berterus terang bahwa dia pernah mengenal Andri mantan Erna. Sedangkan Erna dan suami telah memiliki anak, belum lama anak mereka meninggal dunia karena musibah
Tanpa sengaja Setyo menelpon Hana yang sedang bermain dirumah sodara, ketahuan Erna tanpa sungkan Erna menguping percakapan semenjak hari itu Erna membuat Hana merasa kecewa pada Setyo
ada suatu hal ganjil dipikiran Hana. Aneh Erna menjodoh-jodohkan Hana kepada Andri duda anak satu namun seolah Erna sangat mengetahui bahwa Andri di telfon masihlah bujang, dia seperti menginginkan Setyo padahal dia sudah memiliki suami
Pantas saja delapan bulan kemarin suami Erna selalu mengeluh tentang tidak harmonisnya rumah tangga mereka. ribut sedikit minta cerai. Pikir Hana mungkin saja Erna mengharapkan hubungan lebih jauh dengan Setyo
__ADS_1
Setyo bercerita pada Hana di telpon bahwa, kemarin Erna menelfon dirinya, mengatakan bahwa dia tidak usah berhubungan lagi dengan Hana tidak usah pacaran temanan pun jangan. Loh aneh kenapa kok Erna sampai berbicara demikian, dia sudah punya suami lalu kenapa dia ingin menusuk saudarinya merebut kekasih saudarinya!
Ingin Hana mengatakan aku memaafkan atas segala kesalahan yang sudah kamu perbuat tetapi tidak bisa. Putra Erna baru saja meninggal tidak mungkin Hana memaafkan Setyo nanti Setyo terus berbuat begitu lagi. Sembarangan mengaku menjadi orang lain
Sesungguhnya dalam hati Hana tidak pernah menyalahkan Setyo atas kematian putra Erna, itu semua adalah urusan Erna beserta keluarganya, yang Hana benci adalah Erna memanfaatkan keguncang_ganjingan biduk rumah tangganya agar bisa bercerai, lalu melanjutkan hubungan pada Setyo. Merebut kekasih Hana
Hana terus saja meluapkan emosi pada Setyo namun tidak pernah sedikitpun mempermasalahkan apalagi sampai bertengkar dengan Erna. Hana tidak ingin menjadi duri dalam daging membalaskan dendam padahal itu hanyalah masalah tidak perlu sampai balas_membalas
tidak ada guna berbuat semacam itu, yang tersakiti malahan diri sendiri
Kekacauan yang membuat Hana frustasi. Diwaktu pertengkaran itu, Ponakan kandung Hana akan segera lahir dan lahirlah anak laki-laki yang sangat rupawan. Tetapi, Hana terlanjur trauma atas musibah meninggalnya putra Erna. Hana selalu terbayang-bayang akan musibah itu
Setiap kali Hana bercerita pada Setyo ditelpon Setyo akan selalu menyemangati Hana agar tangguh, menjaga ponakan kandung Hana bersama-sama. jangan takut lagi, semua pasti baik-baik saja karena selalu dijaga bersama
Ingin Hana segera melupakan trauma itu
Tut.. Tut...Tut...
"Abang, Abang udah gak telponan lagi sama Erna?" Hana mengawali percakapan
"Enggak sayang. itu dulu aja! Abang cuma nanya kami kenal Hana? gitu aja"
"Terus Abang nanya apa lagi?"
"Ya nanyain tentang adek aja, gak nanya aneh-aneh loh dek! Percaya sama Abang sih dek, Abang gak bo'ong"
"Sampai kapanpun Abang tetap tukang bo'ong. Adek gak akan pernah percaya sama Abang. Semua gara-gara Abang"
"Maafin Abang ya dek! Udah sekarang jangan marah lagi"
"Gak mau"
"Ya udah kalau gak mau"
"Abang adek masih belum bisa lupa kejadian itu. Abang adek kesel kenapa malah jadi kaya gini perasan adek, Abang"
"Dek jangan nangis. Kan ada Abang, adek gak boleh gembeng, dah ya Abang kerja dulu, dah!!"
"Iya, dadah"
Sebelum musibah itu terjadi, Hana sudah pernah melihat gambaran namun disaat itu hana tidak bisa mengenali anak laki-laki usia kurang dari 3 tahun yang tergeletak di atas meja "Siapa yang meninggal?" Tanya Hana
Waktu membuat Hana melupakan gambaran itu, melupakan dimana dan siapa yang Hana lihat. Ingin Hana menjerit, semua sia-sia saja
"Entahlah, mungkin saja itu yang terbaik Tuhan berikan" Hana menyesali tidak bisa membalikkan waktu, tidak bisa mengubah waktu
Seandainya saja lebih cepat menyadari apakah mungkin kejadian menyakitkan sebegitu dalam tidak terjadi? Ingin Hana bertanya pada Tuhan secara langsung agar mendapatkan jawaban pasti
__ADS_1
Saat ini yang Hana bisa lakukan adalah terus menyalahkan Setyo. "Itu semua salah dia, tidak akan pernah dimaafkan" Pikiran kemarahan Hana setiap kali teringat peristiwa dari gambaran buruk itu
Penyesalan dimana Hana tidak bisa mengenali wajah dari gambaran samar-samar, dimana Hana tidak bisa mengenali ruangan rumah yang sangat tidak asing itu