
Seolah semua ini pikiran semu belaka terpenjara dalam lubuk hati. Mabuk seketika, terjatuh tanpa bisa kembali bangkit
Keinginan meraih angan, naas. Semua mimpi telah hilang
Berlari mencari tempat persembunyian teraman, tertaut dari pertanda bangunan runtuh. Jiwa raga diri melebur menjadi satu, bagaikan lava besi mencair
Keindahan adalah buaian fana, menghilang termakan waktu. Disinilah tempat berpijak, berdiri di tiang gantung
Tersemat seutas tali pendek, tinggal menunggu suara detik jarum jam tepat mengarah diangka 12. Disemainya semua noda melekat pada sekujur hayat, pertanda ingin melepas Sukma
Mimpi tertinggal kenangan. Tempat duduk telah hilang dicuri
Diraih lembaran kain seputih santan, tergeletak dipermukaan meja. Bergeming tak ingin kembali meraih asa
Telah terputus ikatan membelenggu tertada timpang kesakitan pinus
***
Aku melihatnya hari ini, dia baru saja lewat mengendari motor ninja warna hitam. Dulu sewaktu aku masih bersekolah SMP dan mulai tenar tentang motor itu! ya motor ninja, aku ingin sekali mempunyai kekasih hati yang memiliki motor keren itu
Lalu disaat aku masuk SMK kemudian menjalankan tugas PKL, aku bertemu dengan Kakak keren dan ternyata dia memiliki kendaraan yang sangat aku sukai karena itu tentusaja model sedang tren dikalangan anak SMP dulu diwaktu aku kelas 1 SMP
Senyum ini menghilang, entah mengapa disaat aku bertemu dia tetapi aku sudah tidak menginginkan memiliki kekasih yang mempunyai motor ninja lagi
Ku pikir khayalan tinggal khayalan. Itulah aku selalu membuang mimpi kanak-kanak disaat aku merasakan kekecewaan terberat dalam hidup
__ADS_1
Ibu ku terus menyalahkan aku atas penghianatan biduk rumah tangga yang Ayah lakukan terhadap Ibu
Tentu saja aku sangat kecewa, kenapa aku yang disalahkan. "Apa salak ku?" Itu pertanyaan diriku dulu
Ibuku bilang aku sudah dilahirkan ke dunia seharusnya aku bisa membuat Ayah menjaga ikatan tali suci bukan menghianatti lalu memiliki wanita lain
Ayah bilang pernah berjanji pada Ibu, bila memiliki anak perempuan Ayah tidak akan pergi-pergi tidak akan juga cari pekerjaan di tempat jauh. Setelah lahir anak perempuan semua berbeda, malah semakin buruk saja biduk rumah tangga
Bukankah seharusnya lebih baik aku ini tidak terlahir ke dunia, karena kelahiran diriku adalah sebuah kesalahan.
Saat umurku 12 tahun, Ayah sering kembali pulang kerumah. Lambat lain hubungan Ayah dan Ibu kembali membaik tidak lama setelah itu Ayah membawa surat cerai dari istri mudanya
tetapi tetap saja mereka selalu bertengkar meributkan masalah sama, itu itu saja
Aku mengetahui memiliki Adik perempuan dari wanita muda Ayah, disaat aku pertengahan Sekolah TK. Pantas saja mereka tidak pernah akur lagi ternyata bukan hanya karena Ayah main judi saja tetapi juga karena menikah lagi dan punya anak dari wanita lain
Ku pikir pantas saja Ibu mudah marah padaku mungkin saja setiap kali aku membuat kesalahan Ibu akan teringat kepada kisah pelik rumah tangganya
Lagi pula aku ini bukan satu-satunya anak perempuan Ayah lagi.
Setelah semua berlalu kemudian Kakak laki-laki menikah lalu memiliki seorang putra, hidup rumah tangga Ayah dan Ibu semakin membaik dan rukun
Tertinggal aku seorang yang masih menggantungkan hidupku kepada Ayah dan Ibu karena sampai saat ini aku masihlah pengangguran, entah mengapa sulit sekali bagiku untuk mendapatkan pekerjaan. Aku melamar kesana-kemari tetapi belum diterima kerja juga surat lamaran yang sudah aku kirim cukup lama, tidak juga ada panggilan telfon.
Ku pikir semua jalan hidupku akan baik saja, berfikir bahwa masa lalu menyakitkan tidak akan menghantui selama perjalanan hidup ini tetapi semua tinggal kenangan pahit, aku selalu meratapi nasip buruk ku. "Kenapa aku harus terlahir kedunia bila saja aku pembawa sial" Itu yang selalu menjadi pertanyaan dalam hidup ini disetiap kali aku merasa sedih
__ADS_1
Dulu tak Ayah Ibu tidak pernah membentak apalagi memukul, namun setelah ujian berat datang seakan aku ini hanyalah benalu yang selalu menyusahkan
Ingin aku berlari jauh tapi harus kemana aku bersembunyi? Ketakutan akan siksa perih telah menghantui seumur hidup sampai aku tak bisa lagi berfikir untuk meraih mimpi kanak-kanak, semua angan telah hancur dalam hidupku
"Ayah Ibu apa kah aku ini masih bisa mengembalikan kebahagiaan kalian yang telah hilang? Maaf kan anak perempuanmu ini Ayah Ibu, aku belum bisa membahagiakan. Belum bisa memberi sekotak kardus diikat pita apapun untuk sebagai hadiah dihari Raya"
"Ayah Ibu, kalian memberikanku nama yang menggambarkan hari Raya Idul Ad'ha karena aku lahir dibulan itu. Namun mengapa aku tidak bisa memberikan kebahagian seperti nama bagus yang kalian berikan? Aku selalu memberi kalian duka dan siksa hidup yang teramat perih ini. Maafkan aku Ayah Ibu, sungguh aku menyesali ketidak mampuanku memberikan kebahagiaan"
Sesaat aku selalu berfikir ingin mengakhiri hidup, kemudian berpikir kembali. Alangkah bodoh diriku ini, kenapa bisa berpikir demikian toh aku harus lebih banyak bersyukur karena Tuhan yang Maha Esa masih menjaga nyawaku
Entahlah mengapa hidup ini sering berbanding terbalik. Ada banyak anak yang tidak mendapatkan perlakuan semestinya, mereka disiksa begitu kejam dan hina lalu mengapa aku tetap diam saja! Aku ingin tetap hidup karena aku ingin merubah sesuatu hal walaupun aku tidak bisa mengubah seutuhnya
"Bisakah aku meraih keinginanku untuk mengubah takdir buruk menjadi semestinya lebih baik, meraih mimpi ataukah aku akan menyerah begitu saja?" Tangisan ini selalu menetes bagaikan gerimis air hujan "Aku ingin menolong namun aku tidak mampu, aku ingin membebaskan belenggu kesakitan. Alangkah kuat kerangkeng melingkar yang selalu digembok rapat sangat sulit untuk di buka tanpa kunci, dicari kemana-mana batang kunci perunggu namun belum ketemu juga"
Harimau saja tidak akan mau membunuh anaknya sendiri.
Namun, mengapa ada saja manusia yang bersikap layaknya seperti "hewan" kucing? Memakan daging serta darah anaknya sendiri, apakah pantas berbuat hal demikian? Tidak kah bersedih hati? Tidakkah punya belas kasih?
Selalu saja itu yang aku pikirkan disetiap kali aku tanpa sengaja melihat bayangan dari seorang anak yang tersesat 'Telah meninggal dunia' betapa perih dan sakit. Harus bagaimana aku menolongnya, memohon padanya?! Terkadang bayangan anak yang terlihat itu menolak untuk pulang, betapa sakit dan hancur. Ingin aku memaksa tapi tidak bisa
Hantu hantu wanita bergaun putih itu selalu mengatakan padaku "Bahwa menjadi hantu tidaklah lebih baik ketimbang menjadi bunga layu, setidaknya kamu masih memiliki kehidupan untuk meraih harapan" Setiap kali aku merasa terpuruk dan bersedih hati, perkataan itu dalam hatiku yang selalu aku ingat agar aku pantang menyerah dalam menjalani setiap langkah hidup ini
"Mereka-mereka mengatakan aku tidak perlu takut" Itu yang aku dengarkan disaat setiap kali tanpa sengaja aku melihat ataupun bertemu dengan mereka karena mereka tidak akan mengganggu ataupun menyakiti bila tidak disakiti atau diganggu terlebih dahulu
Wanita bergaun putih juga selalu mengajarkan padaku bahwa kita hidup dibeda alam, maka sebaiknya aku tetap hidup dialamku walau akupun terkadang bisa bersinggungan kehidupan dialam mereka dan dia juga mengingatkan bahwa kita juga bisa menjadi teman sebagai mahluk hidup berdampingan alam bukan teman keseharian hidup. Jadi bisa saja salah bila mengganggap mereka itu, dianggap sebagai kedudukan teman yang sama halnya manusia
__ADS_1
(Catatan Diary Tgl 16 Desember 2019. Tertanda aku ingin meraih mimpi ku yang telah hilang dicuri waktu)
Hana Aryana, Lahir 21 Mei 1995