
Dia seorang anak laki-laki berusia sekitar 7 atau 8 tahun.
Tanpa sengaja Hana bertemu dengan anak lelaki yang sedang disuap makan oleh Ibunya di warung bakso. Entah mengapa hari itu Hana ingin sekali makan bakso lalu ia menuju ke warung bukan langganan biasa disaat sedang berbelanja ke pasar. Hana juga tidak peduli membeli makanan di warung mana saja walaupun Hana tahu warung itu menggunakan Jin penglaris. Selama tidak mencium bau bangkai ataupun tidak melihat Tuyul, Kunti, dan Pocong. Hana bersikap biasa saja
Malah bila sudah langganan Hana suka menyapa Jin penglaris itu, berbincang kecil. Lalu saat Jin itu merasakan aura tidak mengenakan dari pengunjung lain yang baru saja datang, dia langsung menghilang
Biasanya karena bentrokan antar mahluk astral jadi salah satu harus menghilang agar tidak ada perkelahian. Dapat mengakibatkan dari sekian banyak pengunjung, salah satu atau dua bahkan beramai-ramai dapat kesurupan masal
Di pandangan Hana Jin itu tidak seburuk yang diceritakan para ustad di televisi, walau tampang mereka buruk dan menjijikkan tetapi mereka selalu memilah dan memilih sasarannya, tentu saja pandang bulu. Mereka tidak mau mengganggu seseorang yang tidak pantas untuk diganggu ataupun dihasut
Tetapi alangkah mengerikan Pocong, Tuyul, Sundel bolong, Kunti dan Wewe gombel. Entah mereka masuk golongan Jin apa, Yang jelas jenis mereka itu masuk kedalam Jin sesat
Mereka bisa berubah-ubah wujuth, Contohnya Pocong menipu mengaku dari yang sudah mati lalu bergentayangan mengaku belum tenang, padahal jelas tampangnya saja bisa tersenyum dengan mata menonjol
Sundel mengaku wanita yang mati karena di teluh padahal bisa berubah jadi gadis cantik
Tuyul bersikap seperti anak kecil yang dibuang Ibu ayahnya, padahal minum darah
Mereka-mereka itu semuanya bisa digunakan untuk pengasihan. Padahal yang sudah mati dia tidak akan berwujud busuk apalagi menjijikkan seperti itu, dan yang sudah mati bila belum tenang yang tertinggal di dunia fana hanyalah Arwah bukanlah Roh. Makanya disebut Arwah gentayangan
Terkadang juga Hana bertemu dengan Jin serupa Nenek atau Kakek-kakek, Lalu Hana akan mengucapkan Salam ataupun sekedar menegur sapa. Beliau pun membalas kembali dengan sapaan, apa salahnya saling menghormati tanpa membeda-bedakan. Yang salah itu bila saling memanfaatkan apalagi jatuh ke hal yang musrikh serta kafir, Allah akan melaknat siapa saja yang berani ingkar janji kepadanya dan Allah akan menghukum siapa saja yang berani berbuat keburukan di muka bumi. Membakarnya hingga menjadi abu lalu mengembalikan wujut seperti semula kemudian membakarnya kembali sampai menjadi arang belulang, lebur serupa abu
Kembali lagi pada kisah awal, anak lelaki itu. yang dia seolah aneh! Keturunan Iblis
__ADS_1
Pandangan mata anak itu pada Hana sangatlah aneh, tidak pernah Hana dipandangi tatapan membunuh oleh seorang anak kecil, namun anak itu memandang demikian. Kemudian semakin Hana menatap anak itu lebih dalam, terlihat ada dua tanduk dikedua sisi jidatnya, seperti tanduk Iblis
Lalu tatapan anak itu berubah, seolah kedua matanya berubah warna. Dalam hati Hana berkata "Benarkah anak ini bukan anak manusia? atau hanya anak yang dirasuki? Namun mengapa ada tanduk? Tetapi Ibunya seakan tidak tau apa-apa! Apa Bapak anak ini juga tidak tau?"
Anak aneh yang Hana temui seperti bisa menyadari apa yang Hana pikirkan. Dia, anak itu. Semakin menatap Hana dengan tatapan memburu "Ngeri....." Hana ingin melanjutkan ucapan dalam hati tetapi anak itu terlihat benar bukan titisan anak manusia "Mungkin saat kamu sudah besar, kamu akan membawa kegaduhan" Hana tersenyum. Anak itu tidak membalas senyuman
Ibunya tersenyum sembari terus memaksa menyuapi anaknya yang sulit makan "Seandainya Tante bisa melihat rupa anak Tante yang lain, apa Tante masih menyayanginya dan terus memaksa menyuapinya karena belum makan? Tante jaga dia, tunjukkan jalan terbaik. atau anak ini bisa membawa hal keburukan dalam hidupmu" Hana mencoba meraih tangan anak itu, dia menarik tangannya agar tak disentuh "Semoga kamu bukan apa yang aku lihat" Lalu Hana berlalu pergi setelah pesanan bakso selesai dibungkus
Ini adalah pertama kali Hana bertemu dengan anak serupa titisan Iblis "Ternyata di Indonesia ada juga. bukan cuma diluar negri, ya cuma tetapi berbahaya. Aku tidak bisa ikut campur dalam masalah ini,. hanya bisa membiarkan, menonton saja pertunjukan"
Yah dunia lelembut dan dunia Iblis itu berbeda.
Hana berada dalam tingkatan yang berbeda, itu sebabnya Hana tidak bisa mengatur para Jin dan sebangsanya untuk tidak berbuat onar. Tidak bisa, semua diluar batas kemampuan.
Lagi pula Hana suka melihat mereka saat sedang menghasut, karena tanpa mereka Hana tidak akan bisa memuluskan jalannya untuk membalas prilaku dari para pendusta, penyekutu, ataupun para penghianat.
Tetapi Hana juga kalau tidak berhati-hati dapat diganggu oleh mereka, bahkan dihasut ataupun sekedar dijadikan budak, maka dari itu Hana selalu ingat kepada Tuhan yang Maha Esa dan selalu meminta perlindungan kepadanya agar dijauhkan dari segala macam keburukan serta siksa
Selama ini Hana selalu dan selalu menganggap bahwa ia hanyalah gadis bodoh yang lemah. Tetapi suatu ketika, disaat ia melihat banyak orang mati. Dia menangis, berbicara pada seseorang "Ada apa? Kenapa tiba-tiba"
"Putri"
"Siapa yang berkhianat?"
__ADS_1
"Kakek sudah meninggal, kami tidak memiliki pemimpin. Tanpa pemimpin kami tidak tau harus apa, tidak tau harus berbuat apa"
Hana tak henti menatap dengan mata berbinar-binar "Hemmmh....., baik. Bunuh semua para penghianat dan jaga tempat tempat yang harus dijaga seperti sedia kala."
Ini baru awal mula, semenjak itu tumbuh kebencian dan Hana mengatakan Iblis kamu bebas melakukan apa yang kamu mau disini, dirumah ini dan aku tidak akan mencampuri urusanmu, hanya saja kamu harus memilah dan memilih mana yang pantas atau tidak. Jangan kamu berbuat seenak mu semua punya aturan dan batasan.
Adalah awal dari gambaran, dimana Hana melihat tampang dirinya begitu menyedihkan. Alasan kenapa kakeknya memisahkan batu mutiara itu dari diri Hana
Karena bila Hana bisa mendapatkan, setelah Hana menyadari arti dari gambaran dulu. Ia akan membawa batu darah itu pergi selamanya bersamanya agar tidak diperebutkan lagi oleh banyak orang. Termasuk golongan manusia
Karena bagi manusia benda itu adalah pusaka yang amat berharga tanpa peduli bahwa benda itu perwujudan dari sebutir nyawa yang tersegel
"Putri, bila sampai benda itu jatuh ke tangan yang salah maka kamu harus bunuh diri" Mahluk itu berkata disaat Hana masih berusia 16 tahun
"Apa katamu? Hidup mati ku seenak kamu berkata! Seenaknya menyuruhku bunuh diri" Hana merasa terguncang mendengar dua kata 'Bunuh diri'
"Kalau begitu, jangan sampai jatuh ketangan yang salah. Pangeran akan menjaganya dengan baik tanpa menggunakannya, dia sangat menyayangimu"
"Terserah. pergi kamu" Mahluk itupun pergi
Semenjak hari itu, Hana melihat segumpal darah. Ia menyadari bahwa dirinya sudah lama terikat bersama Setyo, tidak bisa lari ataupun bersembunyi dari lelaki brengsek ini
Kemudian Hana menatap diri dia dengan penuh tatapan kebencian "Aku akan merebut apa yang menjadi milikku. Kamu tidak berhak memiliki apa yang bukan milikmu" Dalam hati Hana berkata "Aku sangat menyayangimu. Tolong tetap jaga dan lindungi aku sepenuh hatimu mencintaiku. Aku takut menghadapi semua ini sendirian"
__ADS_1