Hanna Aryana

Hanna Aryana
Air hujan


__ADS_3

Hari ini Hana dan Sella pulang basah-basahan, sudah memasuki musim penghujan jadi mau tidak mau berangkat kehujanan pulang kehujanan, tadinya Hana ingin berhenti sementara untuk berteduh 'Mencari tempat nyaman. Hangat' namun Sella tidak mau lebih menginginkan cepat sampai rumah karena dia ketahuan kakak laki-laki yang jarak usianya dua tahun lebih tua dari Sella. Ketahuan waktu pulang gak langsung kerumah malah mampir di warnet atau mojok sama teman cowok 'Gebetan baru'


Sella sepanjang jalan menceritakan bagaiman cara kakaknya memarahi dirinya (1) Dijemput langsung, di geret badannya dari dalam ruangan warnet padahal belum bayar. Bikin malu aja katanya, sampai dikejar tukang Abang warnet (2) Dicari sampai ketemu tempat-tempat dimana aja Sella sering main, udah pusing sampai dicari ke dam Raman Seputih tempat biasa anak ABG mojok. Ketemu, aduh dimarahin abis-abisan akhirnya gak boleh pacaran lagi takut kalau sampai adiknya ini masih sekolah SMK tapi udah kehilangan keperawanan (3) Dikuping. Hampir setiap malam Sella selalu telpan-telpon cowok, didobrak pintu. Ih ternyata gak dikunci, terlanjur rusak tuh pintu sekalian gak bisa lagi dikunci udah gitu dua hp Nokia cumplung milik Sella dibanting sampai hancur gak bisa lagi dipakai (4) Ngadu ke bapak alhasil Sella selama berhari-hari gak dikasih uang jajan biar gak bisa beli pulsa dan gak bisa untuk main ke warnet, ke pasar beli baju model terbaru (5) Selalu dianter berangkat sama abangnya ke tempat PKL karena ketahuan dari rumah berangkat tetapi gak sampai tujuan.


Denger cerita model begitu Hana cuma bisa ketawa cekikikan bahan ketawa supaya gak tertawa terbahak bahak, "sejak kapan sella nurut sama abangnya? perasaan dari SMP Sella gak pernah nurut sama Abang dia"


Gara gara Sella ngajakin pulang basah-basahan akhirnya Hana masuk angin, semalaman Hana gak enak badan 'Hujan turun setiap hari dari pagi sampai sore' alhasil karena selalu main mandi air hujan Hana kena flu dan demam rendah, macam anak Daddy. Manja


***


Lagi lagi Hana bangun siang, belum masak belum beres-beres rumah. Bangun subuh, abis sembahyang tidur lagi


"Sudah berangkat kesiangan turun gerimis juga, mau neduh keburu kesiangan nanti kena omel ibu Reza lagi" Hana kesal sampai tangan kedinginan karena berpapasan dengan rintik hujan, baru seperdelapan perjalanan


Saat berangkat Hana selalu berangkat sendiri namun saat pulang terkadang ada saja teman yang ingin ikut berboncengan bersama Hana


"Ah, benarkan bajuku basah, nyebelin" sesampainya Hana di parkiran kantor dia langsung melepas jaket almamater kejuruannya "Padahal udah pake jaket tetap aja tembus rembesan air hujan"


Hana segera berlari keruang kantor yang dia tempati, sesampainya di kantor ibu Reza belum masuk "Yesss akhirnya selamat gak kena omel lagi" baru saja Hana berfikir demikian, saat masuk kantor "As'taghfirrulloh. ibu udah ada di dalem" Hana bergumam namun tidak sampai terdengar oleh ibu Reza yang mengenakan seragam 'PNS'. Beliau sedang duduk mengobrol bersama ibu Bela, 'Ibu Bela adalah Polwan berpangkat IPDA'


Terlalu berfikir kena marah, sampai-sampai masuk mengenda-pendap "Owh, tenyata disaat ibu Bela ada tidak terlalu mengerikan khayalan barusan" Hana berbicara bisik didepan pintu ruangan yang penuh dengan tumpukan berkas "Aneh ibu Reza kalau ada Bu Bela gak galak ya" Hana enggan melangkahkan kaki masuk kedalam ruangan, setelah dia merasa cukup aman barulah melangkah masuk


"Hana cuci gelas sama piring itu numpuk, bau didiemin aja" ibu Reza segera memerintahkan Hana membereskan ruangan dapur karena pak sanjaia memang tidak melakukan tugas itu selama ada anak PKL


Setelah mendengar perintah Hana bergegas meletakkan tas selempang miliknya "Iya buk"


Melirik ke kanan dan ke kiri namun yang dicari kok gak ada "Pak Ririn kemana pak? kok enggak ada" Hana bertanya pada pak sanjaia


"Belum berangkat"

__ADS_1


"Hemmh, belum berangkat udah jam berapa ini? ich udah setengah sembilan" Mendengus sebal


Cukup lama Hana menunggu kedatangan teman satu ruang praktek itu tetapi tidak kunjung datang, setelah datang semua tugas cuci piring telah Hana selesaikan dibantu Sella "Rin kok kamu baru datang ini sudah siang?"


"Aku itu udah berangkat dari tadi, karena hujan jadi neduh dulu" Ririn terlihat santai


***


Hari ini kak Setyo tidak ada tugas piket, sedari pagi baru saja Hana sampai tidak lama kak Setyo berangkat tugas menjaga gedung yang memerlukan pengamanan ketat. Sebenarnya Hana merasa sebal di setiap kali kakak tidak ada di kantor, sepi. "Menunggu sampai jam 12.30 siang itukan lama, bosan" Hana duduk termenung di taman bunga pot milik atasan tertinggi. Entah mengapa bapak Kasat sangat suka bila teras kantornya dihias dengan penuh sesak tanaman hias namun semua tidak ada yang bisa berbunga, kebanyakan tanaman palem paleman


Hari ini juga semua teman Hana yang mengenakan pakaian bergaun putih menjuntai sampai punggung kaki juga tidak datang, mungkin karena hujan turun "Aauuw pasti dia takut petir, setiap kali hujan pasti gak keluar. Sembunyi takut kena sambar petir. hah, baguslah" Hana berfikir demikian karena setiap kali musim penghujan dia hampir tidak melihat hantu lalu lalang secara bebas kecuali Jin dan demit


Entah mengapa Jin itu bisa berubah ubah terkadang berbentuk seperti manusia, kadang mahluk tidak utuh. Manusia yang meninggal dalam keadaan tidak wajar, kadang hewan segala jenis hewan, atau bisa berubah menjadi Jin putih padahal itu Jin hitam dan tetapi bisa berubah juga sebaliknya. Sedangkan Demit masih sejenis dengan Jin, mahluk itu suka meminta hal yang sering disebut sajen bunga, sajen ayam cemani, dan sajen sajen yang sudah banyak orang ketahui


Namun bila menyalahkan dupa atau kemenyan aku rasa itu tidak sepenuhnya benar, kemenyan dan dupa ibarat pengharum ruangan. Tetapi masalahnya adalah campuran yang digunakan itu apa? sampai membuat menjadi hal yang cukup dijauhi banyak orang terutama agama fanatik.


Hana adalah gadis yang terlahir dari keluarga bersuku Jogjakarta. Dia memiliki darah orang Jawa murni, pelosok tepatnya Gunung Merapi. Disa tidak jauh dari gunung itu adalah desa kelahiran dari kakek Hana. Itu sebabnya Hana memiliki warna kulit sawo matang karena dia masih keturunan pelosok desa yang belum terjamah oleh turis lokal maupun manca negara


Entah mengapa setiap kali Hana mencium aroma itu, yang disulut oleh kakeknya dia tidak pernah merasakan atau melihat sesuatu yang akan membuatnya mengeluarkan isi perut. Paling juga melihat bentuk 'wujut asli' dari pendiam barang pusaka terus Hana akan membuang muka seolah tidak melihat tidak juga mengetahui apapun.


Namun disaat gadis remaja ini melihat acara hiburan di lapangan desa, lalu kemenyan mulai disulut api. Dia bisa merasakan mahluk sejenis Jin mulai berdatangan dan bukan hal itu saja yang dapat mengusik ketenangan gadis remaja yang bersikap sok berani, semakin dihirup aroma kemenyan kepala terasa pusing lalu kehilangan kendali pikiran. Hana berfikir mungkin itu sebabnya setiap kali tontonan hiburan malam diadakan sering terjadi keributan antar kelompok penonton si A dan si B sampai si C dan D dimulai dari keroyokan, bacok-bacok, tujah-menujah, tengkuk dipukul pakai balok. Bukan itu saja yang menyebabkan banyak orang kesurupan, mungkin sebab sebenarnya karena kepala mereka pusing. Sudah tidak tahan menahan aroma memabukkan dari benda yang disulut api itu


***


Lama Hana duduk dibangku teras menunggu kedatangan kak Setyo pulang tugas, masih sama "Sok jual mahal" tutur Hana sembari mengepalkan tangan kanannya diangkat lebih atas dari jidat yang nong-nong


Sedangkan kak Setyo berjalan melalui Hana begitu saja, tidak mengerti perasaan gadis yang sudah menunggunya disana selama berjam-jam. Kak Setyo langsung masuk ke gudang penyimpanan senjata, Hana mengekor sampai ke gudang. Mengintipnya dari balik dinding, kak Setyo menoleh lalu Hana berpura-pura mencari cangkir ingin minum air bening. Kak Setyo mengembangkan senyum, merasa bingung dengan tingkah gadis kecilnya hari ini 'Sangat tidak biasa'


"Hana kamu gak main?" kak Rendy bertanya kaget melihat Hana main sendirian sedangkan Ririn tidak ada

__ADS_1


"Hana menjawab dengan gerak kepala seperti robot yang kehabisan baterai"


kak Setyo menghampiri kak Indra dan kak Rendy membicarakan tentang uang, Hana duduk di kursi depan komputer. terdengar seperti ini bicaranya "Ada apa?" kak Setyo mulai menegaskan perdebatan mereka karena dia baru sampai


"Ada yang kurang, tadi pagi di hitung" kak Rendy menjawab pertanyaan


"Siapa kira-kira yang ambil? memang gak dikunci?" kak Indra bertanya pada kak Rendy


"Enggak. biasanya juga gak pernah ilang. kira-kira siapa yang ambil"


kak Setyo menautkan kedua alisnya, dia hampir mensugar rambut cukur pendek itu "Gak mungkin Hana, anak ini gak mungkin mau berbuat seperti itu"


Hana yang mendengar namanya disebut dalam perbincangan malah melongo heran sambil mengigit-gigit bibir


"Kalau bukan terus siapa?" kak Indra menegaskan pertanyaan


"Ya siapa lagi lah. jelas aja yang dari pagi udah gak ada di kantor" Kak Setyo berdiri menutupi pemandangan Hana yang sedang seru melihat tiga pria yang di otak gadis kecil berfikir kak Setyo bisa jadi mempunyai kelainan menyimpang "Kok sama pada cowok kakak ngobrol biasa aja tapi sama cewek gak pernah. palingan juga iya kakak jelek itu model begitu, aku harus jauhin kakak" Hana malah membuka laci penyimpanan uang yang tidak dikunci


kak Indra, kak Rendy dan Kak Setyo melirik Hana yang memiliki tangan usil, selain gudang penyimpanan semua sudah Hana buka dan lihat tanpa takut dimarah


"Bukan, gak mungkin. kalau mau pasti udah dari dulu, Hana seminggu lebih cepat dari pada Ririn, kalau iya mau gak mungkin tangan gak mau diem. Pasti takut dimarah" kak Rendy sepakat dengan kak Setyo


"Dikunci aja" kak Indra memberi saran


"Gak usah, biar dulu sampai besok. Hilang lagi enggak" kak Rendy berbicara sambil mengusir Hana agar pindah karena dia mau mengerjakan tugas. Sementara Hana malah pindah duduk di kursi kak Indra


Setelah perdebatan usai Hana tetap saja tidak memahami ucapan mereka yang Hana kira mereka membicarakan tentang uang bulanan yang kurang lalu salah hitung atau tidak tetapi kenapa membicarakan antara Hana dan Ririn juga?


Kak Rendy juga mencurigai beberapa teman Hana yang sering berkunjung, tetapi sebelum ada Ririn uang tidak pernah kurang dari kotak laci, bisa juga bukan Ririn seorang yang mengambil

__ADS_1


kak Indra dan kak Rendy asik berdebat masalah uang


Hana asik memainkan bibir dan kak Setyo asik melihat pemandangan bibir digigit


__ADS_2