Hanna Aryana

Hanna Aryana
Yang namanya takdir itu seperti apa


__ADS_3

"Kepahitan hidup yang harus kujalani itu sebenarnya bergambar apa? Aku sendiri juga tidak tahu"


Semenjak lulus SMA Hana ingin sekali meneruskan jenjang pendidikan ketempat yang lebih tinggi, mengambil jurusan kedokteran. Namun apa daya, belum sempat Hana mengutarakan perasaan hati tentang keinginannya, dilain waktu Ibunya mengajak Hana berbincang kecil. Mengatakan bahwa Hana tidak perlu mempunyai keinginan lebih untuk masuk kuliah, "Kakakmu saja tidak kuliah. Nanti kalau dipaksakan berhenti ditengah jalan. Sayang uang yang sudah masuk, Kamu tau sendiri sifat Papah mu! Kalau sedang baik hatinya semua tidak masalah tapi kalau sedang buruk pasti bersikap tidak perduli" Hana sudah bisa menebak inti pembicaraan ini


Dalam hati Hana ingin sekali mengutarakan" Aku bahkan belum bicara tentang kuliah tetapi sudah dilarang"


Ibu menyarankan agar Hana segera mencari kerja. Karena kebanyakan anak perempuan atau laki-laki setelah lulus sekolah menengah atas pasti langsung mencari kerja. "Aku tidak tau harus cari kerja kemana? Tidak punya kenalan ataupun tempat tujuan pasti"


Bagi Ibu mencari kerjaan itu bukanlah hal sulit. Tinggal menyerahkan surat lamaran kepada PT lalu menunggu panggilan saja


Tanpa basa basi keesokan hari Ibu Hana memerintahkan kepada Hana untuk membuat SIM C. Hana memohon agar Ibunya menemaninya "Tapi temenin ya mah?" Hana meminta dengan suara memelas


"Kamu kan udah pernah ketempat kaya gitu! Udah kenal banyak polisi. Berangkat sendiri"


Hana merasa kesal"Tapi beda mah, tempat kantor Hana PKL sama tempat Kantor buat bikin SIM beda kabupaten"


"Udahlah, berangkat sendiri"


Benar saja pagi-pagi sekali Ibu sudah memerintahkan Hana agar cepat bersiap mengurus keperluan, Hana berangkat dengan sangat lesu. "Kenapa Mamah tidak mau mendengar dulu apa kemauanku! Aku tidak pernah mengurusi hal semacam ini. Tidak juga tau harus berbuat apa disana" Sepanjang jalan Hana terus saja meneteskan air mata, bukan karena takut berhadapan di kantor kepengurusan, hanya saja Hana bersedih hati karena sikap ibunya tidak pernah berubah. Sama seperti disaat Hana memohon agar Ibunya mengerti keinginannya untuk diantar berangkat sekolah


Semenjak hari itu Hana memendam keinginan dalam-dalam untuk menjadi seorang dokter, Walaupun Hana tahu dipaksakan pun keadaan ekonomi keluarga tetap tidak akan mampu membayar biaya pendidikan yang sangat mahal


Entahlah, apa sebenarnya yang Tuhan tentukan pada garis hidup yang sedang Hana jalani. Ke sana kemari Hana melamar mencari lowongan kerja, Tetap saja sulit. Tidak juga ada panggilan telfon ataukah karena Hana saja yang kurang berusaha keras lagi


Seolah hidupnya Hana membawa kesialan dan keburukan, Kenapa selalu saja ia yang dipersalahkan atas nama ketidak puassan. Dulu Ayah berselingkuh, ia dianggap tidak mampu, dianggap benalu yang selalu menyusahkan. Bahkan Ibunya saja muak melihat raut wajahnya lalu mengusirnya pergi


Dan sekarang saat ia sudah besar, Ayahnya pun merasa benci padanya karena terus saja menyusahkan tanpa ada yang dapat dibanggakan

__ADS_1


Sedangkan sodara laki-lakinya terus saja membanding-bandingkan penampilan dan prilaku sodara kandungnya kepada orang lain yang dia anggap lebih baik penampilan serta pantas kesehariannya untuk dipandang


Sakit. Hanya itu yang bisa Hana ucap dalam hati


Kenapa dia seolah selalu saja bernasib buruk, bertampang menyedihkan "Aku tidak ingin dikasihani"


Semenjak hari dimana Ibu dan Kakak jauh lebih dekat, Setelah hari itu. Ibu menatap Hana berbeda "Membenciku. Saat marah beliau selalu mengatakan bahwa aku ini memang anak dari ibu tiri. Pulang saja kamu ke Ibumu itu" Hana menangis setiap kali mendengar kata-kata perih ini


"Dulu, selalu saja aku tampak buruk. Sekarangpun, tidak ada beda tampak sama"


"Hanya karena aku tidak memperlihatkan kebencian kepada Ibu tiri bukan berarti aku membelanya dan bukan karena aku tidak pernah membicarakannya lalu bisa diambil kesimpulan begitu saja bahwa aku menyukainya. Aku tidak pernah mau bicara karena aku masih sangatlah berusia kanak-kanak. Saat itu umurku baru menginjak 10 tahun, dan aku hanya bisa ikut Papah saat Mamah tidak ada dirumah, walau harus tinggal bersama Ibu tiri selama 1 tahun"


Ibunya mememilih pergi bekerja keluar dengan alasan ingin merubah hidup. Mendapatkan uang banyak lalu membangun hunian rumah yang layak, disayang setelah hampir satu tahun semua diluar rencana awal. Ayah Hana sudah mulai tidak merasa sanggup mengurus anak sambil bekerja, lalu beliau menjemput istri muda untuk tinggal bersama.


Kedua Kakak Hana sudah remaja, sedangkan Hana masih memeluk boneka beruang.


Berselang lama Ibunya pulang setelah mendengar semua kabar buruk. Tanpa hasil memuaskan beliau pulang membawa sedikit uang. Tak disangka dilihatnya pemandangan tak seperti bayangan


Papah Hana entah dimana. Sementara Hana dan Kakak-kakaknya tinggal di rumah tanpa orang tua. Semua dijalani sekuat tenaga tanpa mengeluh kelaparan ataupun kekurangan


Dipikir Hana ia mendapatkan kembali Ibunya yang lembut seperti fajar menyingsing. Sesuai ingatan tiga setengah tahun lebih yang lalu, tentunya bualan saja


Terlihat, cara bicara dan sikap Ibu sedikit berbeda. Namun kebencian dari kekecewaannya tidak pernah berubah malah semakin menjadi besar.


Sekarang disaat Hana sudah menginjak usia gadis dewasa tepatnya 24 tahun, ia berusaha menerima takdir dengan lapang dada. Walau terkadang sedang melamun ia teringat akan percikan kesedihannya yang dialami


Ingatan ini adalah ingatan paling sedih, yaitu dimana Hana melawan kepada Ibunya tentang pekerjaan yang akan ia coba masukan formulir lamaran. Dimalam itu Hana berkata pelan, namun ibunya tidak setuju. Berusaha berkata tegas, terjadilah perdebatan antara Hana dan Ibunya. Malam itu hanya ada hana dan Ibu di rumah, Hana kabur keluar pintu dengan air mata yang terus bercucuran. Ibunya berteriak memerintahkan agar Hana segera kembali kedalam, namun Hana enggan menuruti perkataan Ibunya

__ADS_1


Dengan emosi yang meletup-letup, sepatah kata keluar dari mulut Ibunya. Mengatakan "Dasar pelacur. Anak gak bisa diurus" Berkata dengan suara keras, dihalaman


Hana seakan terjatuh karena kakinya lemas mendengar ucapan Ibunya barusan. Entah mengapa Ibunya setega itu berkata demikian dikarenakan Hana tidak ingin kembali masuk rumah, memilih untuk berdiam diri diluar


Tanpa menoleh Hana berjalan pergi menuju kediaman Neneknya, untuk sekedar melupakan pertengkaran. Tak disangka Ibunya mengejarnya dan sesampainya dirumah Nenek Ibu hampir menampar pipi Hana. Entah apa yang dirasakan waktu itu, terasa campur aduk "Pukul, pukul aja Mah" Toh dirumah tadi dan sepanjang jalan beberapa kali Ibu memukul dan mengepalkan tinju, mengarahkan kepada Hana bahkan mengenai. Lalu sekarang tamparan benci ini kenapa harus ditahan? Daru dulu sekedar menendang dan menyeret sudah biasa kenapa cuma ini terasa berat dan kaku! Aku tidak akan berkilah walaupun terasa perih


Dikira Hana, Ayahnya tidak pernah memendam benci kepada anak gadisnya selama ini. Hal diluar pikiran, Hana tidak pernah memahami sifat Papahnya selain tentang kisruh Rumah Tangga, Judi dan wanita simpanan ataupun anak gadis lainnya


Hana sangat menyesal kenapa ia pernah menceritakan kepada Ibu dan Ayahnya bahwa ia memiliki seorang kekasih, 'Kakak dulu ditempat PKL sekarang menelpon Hana. Mengajak untuk saling mengenal lebih dekat'


Setiap kali kekesalan yang Ayah alami selalu saja dilampiaskan kepada Hana "Mana? Yang katanya mau datang?" Bagian dimana Ayah mengatakan dengan emosi membenci Hana "Dasar disekolahkan tingg tinggi malah cuma jadi anak bego. Mau maunya digoblokkin laki-laki, Dimanfaatin. Dasar tolol"


Hana menangis tanpa menjawab apapun, terdiam mengurung diri. tak pernah Hana mau membahas hubungannya bersama Setyo kepada kedua orang tua ataupun berbincang kecil kepada saudara


Suatu hari, Kakak tertua akan menikah namun, permasalahan kembali muncul dimana Kakak meminta membawa uang 50 juta sebagai tanda pasrahkan nikah. Itu uang yang terlalu banyak


Ayah tidak meluapkan amarahnya kepada Anak tertuanya


Disaat Ibu akan segera panen raya padi, Ibu sudah mencari orang untuk segera memanen padi di sawah, kesalnya orang itu membatalkan tanpa memberi kabar. Hana yang tidak tahu ada apa. Mengatakan "Udah sih" Kepada Ibunya yang terus mengomel di dapur


Jawaban Ibu diluar dugaan. Beliau malah semakin marah dan berkata keras, datanglah Ayah sambil berlari dari ruang TV menghampiri Hana yang sedang mencuci piring. Tanpa basa basi Ayah langsung mengguyur Hana dengan cucian air piring, menendang nendang Hana seperti bal. Hana menangis menjerit dikarenakan kaget, ia berlari ke kamar mandi, mengunci pintu. Dengan penuh emosi Ayah menendang pintu, Hana yang sedang menahan pintu kamar mandi sampai terpental, merasakan sakit di kepalanya


Dengan suara lantang terus saja Ayah berkata kasar meluapkan semua emosi dan kebenciannya tentang Hana yang suka ngibule membicarakan laki-laki yang belum pasti, memohon mohon kepada lelaki yang tidak tau seperti apa. Mau saja dipermainkan


Sedih, seakan menganggap hanyalah mimpi. Tidak ingin Hana mengingat apa saja kalimat yang sudah dilontarkan oleh Ayahnya tidak juga mau mengingat rasa sakit atas perlakuan kasar Ayahnya


Semenjak hari melelahkan. Hana selalu berusaha untuk melupakan persaan suka kepada Setyo karena semua kenangan mengingatkan bahwa Hana adalah gadis buruk rupa yang tidak enak dipandang mata "Jangan ngimpi disiang bolong, jangan ngelantur dimalam hari. Terima saja semua nasib mu" Hana tersenyum sekilas, menampakkan kepalsuan betapa ia ingin memberontak untuk sekedar berkata Ini bukan salahku

__ADS_1


__ADS_2