
HANA SI GADIS DESA
ku pandangi warna warni bintang di langit begitu indah kelap kelip, terasa hembusan angin membelai kulit tubuhku yang hanya mengenakan baju berlengan pendek sebatas ketiak saja dan celana pendek sedengkul. " Oh tuhan, mampukah diriku yang malang ini dapat berjalan lurus? menatap indahnya warna dunia yang engkau ciptakan tuhan "
suara jangkrik menemani ku dimalam yang sunyi ini, terdengar suara merdunya berbunyi krik....krik...krik seperti itu alunan irama dari kepakan sayap jangkrik tergesek
terasa pipi ini basah, ku usap perlahan dengan jari lentik mungil nan bersih. suara tangis ini terdengar sesunggukkan nafas tersedu sedu " kamu dimana, aku rindu" mencoba memangil ia namun terasa berat. sakit terasa tenggorokanku tercekik membuat pita suara ini tidak dapat menyerukan nama yang ada dalam benakku. selalu dan selalu aku termenung sendiri sambil sesekali menatap bintang bintang yang berada di balik awan malam
lelah, tubuhku sudah lelah dan letih. desir ku pun terdengar oleh kedua telinga " kenapa aku tidak mati saja? " ucapku demikian
namun apa daya dari seorang gadis penyendiri
__ADS_1
" toh aku ini hanyalah kau anggap bunga mawar. bila aku sudah layu mengering, kau akan menggantikanku dengan bunga baru nan segar harum semerbak"
kenapa aku harus terlahir? aku menangis se'sunggukkan, duduk merapatkan kedua kaki sedekap dengan kedua tangan saling terikat mengikat kaki agar tidak terlepas
air mata terus menetes deras, " siapa yang aku rindu? siapa yang aku tunggu? aku ini hanyalah bunga mawar." tolong.....
ku pandangi sekeliling dari tempat aku termenung duduk sambil ber'se'dekap tangan. lantai beralas keramik dengan pemandangan taman halaman diisi penuh dengan pohon buah, sereh, jahe dan juga pohon kunir
kucium aroma wangi wangian rempah, Ahhhh.... hangat di tenggorokan! hem'hemh aku sangat menyukai aroma hangat, terasa menenangkan didalam jiwa
terlalu lama aku termenung sendiri, sampai sampai aku melupakan bahwa diriku ini tidak pernah sendirian.
__ADS_1
toh jangan tanya siapa yang aku maksut. tetapi bukan berarti aku ini sekotak kaleng biskuit....aku bukan wadah yang bisa dibuka lalu diambil isi dari dalam. aku ini kuncup bunga sekarang sudah mekar dan hampir layu mengering
lantai tempatku duduk persis didepan pintu rumah utama, terlihat di kedua sisi depan kanan dan kiri ada satu penopang tiang untuk masing-masing penyanggah atap genting, lalu ada juga undak berundak sengaja dibuat sebagai hiasan teras rumah biasa digunakan untuk meletakkan alas kaki. disini adalah tempat favorit untuk merasakan keteduhan angin malam yang berhembus sepoi sepoiy
jam digital di gawai milik ku sudah menunjukan pukul 9 malam, dengan bergegas aku masuk tak lupa mengunci pintu " Ya tuhan... sudah lama aku duduk sendiri" gumam ku lirih menengok seisi ruangan telah sepi
bergegas aku masuk kedalam bilik kamar, ku rebahkan tubuh yang lelah di atas ranjang empuk dengan kepala bertopang bantal kapas. kedua mataku menatap tajam lurus kearah langit-langit kamar, ingin aku terlelap tidur melupakan masalah untuk sesaat saja namun kedua mataku ini belum juga mau memerintahkan kelopak mata untuk tertutup dalam kantuk
tak sengaja aku kembali meneteskan air mata disudut garis mata kanan, kembali membuat pipi ini basah. " cukup. aku tidak ingin menangis lagi" perkataan terlontar dari mulut mencoba memuji diriku sendiri yang kesepian
aku ini teringat pada kisah hidup. kenapa? kenapa aku terlahir sebagai bunga? kenapa bukan bintang saja di langit, agar aku tidak layu setelah mekar dan kehabisan aroma harum memikat... hem toh menjadi bintang itu lebih baik ketimbang terlahir sebagai bunga.
__ADS_1
tidak akan ada yang peduli lagi pada ku setelah aku mengering, daun daun ditubuh telah rontok, batang ranting sebagai tubuhku sudah usang. " biarkan saja diriku yang malang ini dibuang kedalam wadah sampah, aku ini sudah tidak berharga lagi" berkata, sambil sesekali aku menghapus garis air mata yang membasahi pipi
masa lalu sudah merebut semua kebahagian untuk masa depanku, tragedi dimana aku tidak pernah bisa melupakan bahwa aku ini hanya sekuntum bunga namun bukan bunga malam