
sesungguhnya hidup yang aku jalani selama ini untuk apa? kenapa aku seperti ini, aku benci dengan diriku sendiri.
***
"kakak, hari ini kakak masuk kerja" hana baru saja sampai, belum juga masuk kantor. baru menengok kedalam ruangan sudah melihat kak setyo menggunakan kaos 'menanggalkan baju seragamnya' "kakak piket malam toh! pantesan kemarin enggak berangkat" hana tersenyum dipermukaan bibir tipisnya, tetapi kak setyo tidak membalas senyuman manis
hana menundukkan kepala dalam-dalam, entah kenapa kakak pagi ini sangat acuh kepadanya! ingin hana bertanya ada apa? tidak biasa kakak mendiamkannya seperti ini "menyebalkan" hana mendesir sebal
ingin sekali hana bertanya ada apa? namun mereka berdua tidak pernah bercengkrama. hana tahu diri, dia itu hanyalah gadis remaja yang numpang tempat magang kejuruan selama 3 bulan agar dia bisa lulus tugas ujian praktek saja. hanya itu yang hana inginkan saat ini. tidak berani hana berbuat terlalu jauh, apalagi sampai menggoda pegawai kantor. sudah pasti hana akan di depak dengan sangsi hukuman 'bawahan telah berani merayu atasan' hana bukan gadis seperti itu! bukan berati kak setyo dan kakak yang lain bersikap ramah dan baik lalu hana ngelunjak minta dikasih hati ampela, bukan dikasih hati ampela malah dikasih empedu 'pahit'
seminggu penuh kak setyo selalu mendiamkan hana. tidak pernah membalas senyuman hana juga jarang betah berlama-lama di kantor. hana selalu saja menatap punggung kak setyo dari kejauhan selama seminggu penuh itu "kakak marah sama hana karena hana buat gara-gara apa? sampai kakak setega itu diemin hana terus kak! kakak hana kesepian, kakak sama sekali gak mau godain hana lagi" hana duduk dibangku kayu, menatap kak setyo dari balik kaca, melihat kakaknya sedang tertawa renyah di lapangan apel bersama kawan-kawan satu pekerjaan
pagi itu, setelah tugas apel selesai. semua anggota bertugas bersiap-siap mengambil senjata dari gudang, alat bantu untuk berjaga harian di pos atau bank
hana tidak berpindah duduk apalagi bergeser walau hanya satu sentimeter, dia tetap duduk manis ditempatnya seperti pohon kelapa. akar serabutnya sulit sekali dicabut
terdengar suara hati dari kakak berkisar umur 20 tahun "heh, anak ini ya! gak tau lagi rame, disini cowo semua kamu sendiri yang cewe. bukan masuk keruangan kamu pkl malah anteng nonton tv disini. dek ini bukan tempat kamu pkl" kakak itu tersenyum pada hana setelah hana memberikan senyuman kecil padanya
"apa iya? bukannya sama aja diruang ini sama diruang samping! memang sih pintunya ada dua, pintu pertama buat masuk kesini terus pintu kedua berada didalam setelah memasuki pintu pertama. ah sama aja, wong jadi satu bangunan kok". hana mebulak-balikkan bola matanya, berfikir apa benar seharusnya dia itu berada 'duduk manis' diruang dalam yang tidak ada tv. tapi "tapi hana suka disini, disini ada tv. didalam gak ada tv, hana bosen kalau suruh didalam terus"
cukup lama hana tidak mau pindah tempat padahal ruangan semakin penuh sesak oleh lelaki-lelaki muda nan tampan dan semuanya bujang tidak ada bapak tua
ada satu sisi di samping hana kosong
__ADS_1
grrek.....
kak joenathan duduk bersebelahan dengan hana. benar-benar tidak ada selah angin masuk walau hanya satu centimeter saja. mepet
hana tetap tidak mau pindah apalagi bergeser. berselang 5 menit kak setyo masuk keruang tv, melihat hana duduk bersampingan dengan lelaki lain yang seusia dengan kak setyo. kedua bola mata hitamnya membesar, menunjukan exspresi garang membara. dia menatap tajam kearah hana dengan intens namun hana tak bergeming, dia tetap duduk manis menonton acara kesukaannya 'kucing biru mengejar tikus coklat'
kak setyo mengambil kursi plastik dari ruang dalam, masuk beda pintu. tempat sesungguhnya hana kerja praktek
kak setyo menggeret kursinya dengan kasar, membanting kursinya kearah tembok. duduk menegaskan jenjang kakinya yang ramping dan kekar, memeluk erat-erat senapan beteropong panjang
hana menoleh pada kak setyo, lalu kak setyo memerintahkan kepada hana lewat tatapan mata seperti ingin memangsa hana "pindah, masuk kedalam" kak setyo sama sekali tidak mengedipkan kedua kelopak mata
dalam hati hana menjawab "masa bodoh"
hana kembali mengalihkan pandangan kepada layar tv lalu menengok kearah kak joenathan "hem.... hemh...!" hana tersenyum manis kepada dia
"ha...ha..." dia membalas senyuman bernada lirih
kak reno memahami gelagat yang ditunjukkan kak setyo "santai bro"
dengan suara lantang menggebu "santai, apanya yang santai. brengsek" tatapan matanya menunjuk tajam kearah lelaki yang duduk di samping hana, berani macam-macam cari mati saja
"heh, gak ngerti juga" kak setyo bedesir mengancam
__ADS_1
sekali lagi hana menoleh kepada kak setyo untuk kedua kali "rasain ini balasan buat kamu gara-gara kamu diemin aku selama seminggu penuh. panas panas hatimu"
kak setyo membuat kerutan di dahi seperti tiga garis milik dewa siwa, dengan kasar kak setyo melangkahkan kaki keluar ruangan lalu disusul oleh kak reno "santai sih! banyak orang"
"Ha....Ha....ha..., apanya yang santai, udah diancam masih juga berani. cari masalah aja orang itu, brengsek!"
"gak usah marah! toh anak kecil itu gak ngerti apa-apa, dia lagi asik nonton kartun"
buuak.....
kak setyo meninju dinding kantor dengan sangat keras sampai terdengar kedalam ruangan tempat hana menonton acara tv.
hana melirik keluar mencari asal suara pukulan. dilihatnya tangan kanan kak setyo masih mengeras pada dinding tembok, hana merinding ngeri. berasa menyesal sudah tidak mengindahkan perintah kak setyo barusan malah tetap asyik membuat kak setyo dibakar api amarah
atasan tertinggi menghampiri kak setyo lalu mengajak berbincang beberapa kalimat, sangat pelan sampai hana tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan
kak joenathan menatap hana yang sedang meriding ngeri melihat keluar kaca, dia tersenyum hangat pada hana. seolah berkata 'jangan takut tidak akan terjadi apa-apa, biarkan saja dia. orang itu memang pemarah'
hana membalas senyuman kak joenathan namun belum bisa mengalihkan pandangan kembali untuk menonton tv, hana berfikir kak setyo akan memukul tembok untuk kedua kali bila tidak dicegah teman dan atasannya
jam dinding mengarah tepat di angka 9 pagi, kak joenathan berdiri melangkahkan kaki keluar sambil menenteng senjata otomatis yang diselempangkan dipundaknya. dia berjalan dengan sangat santai melalui begitu saja kak setyo yang sedang dibakar api amarah. kak setyo melirik tajam padanya namun ia tidak memperdulikan, dia berjalan menjauh kearah parkir motor dibelakang menghilang tertutup sekat bangunan
tak lama setelah kak setyo menghilang, kak reno menghampiri hana melihat kondisi hana apakah baik-baik saja atau tidak. kak reno memahami exspresi wajah hana sedang ketakutan. dia memberikan senyuman kecil tanpa sepatah katapun lalu masuk keruangan dalam meninggalkan hana bersama pak agung yang sedang tidak bertugas
__ADS_1