
sudah hari ketiga, semua teman satu praktek kerja berkunjung dan bermain di halaman kantor yang hana tempati, biasa ngerumpi sambil lirik kanan kiri siapa tau ada yang sesuai....
"han, tukeran yok sama tempat aku PKL disana enak loh pake AC" teman hana, bernama dian safitri memberi tawaran menggiurkan
"gak mau, emang boleh? nanti aku dimarahin kakak" membuat alasan bohong tetapi meyakinkan
"bolehlah, kok aku gak milih tempat ini aja sih! waktu ibu polwan nyuruh milih tempat. ternyata enak PKL disini, enak kamu malah deket bapak ganteng udah gitu baik semua bapak-bapaknya ganteng-ganteng lagi"
"Hemh...! kakak toh" hana mencoba mengalihkan pandangan pada tanaman hias
semenjak hari itu, semua teman hana setiap hari di jam istirahat selalu berkumpul di lapangan upacara depan kantor. ternyata mereka mencuri pandang dan perhatian kepada kakak jelek yang sedang asik bersandar pada tiang pintu, mengambil foto juga vidio
entahlah apa bisa hana disebut gadis polos, terlihat lebih kearah gadis bodoh! memang benar begitu! butuh beberapa hari sampai ia menyadari bahwa kak setyo sering mengambil foto dan vidio di setiap tingkah laku hana disaat sedang bermain bersama teman ataupun sedang merasa bosan
"masa kakak tertawa sendiri" menganggap kak setyo punya otak miring, yang sedang memandangi hana di depan pintu kantor sambil menyilangkan kedua tanganya di dada, melihat hana berlarian kesana-kemari ataupun sedang tertawa terbahak-bahak mentertawakan temanya yang terbentur plang besi
"han, bapak itu ganteng banget sih" dian dari jurusan sekertaris sedang main ingin curhat pada jam istirahat, sengaja menarik memangil-mangil hana dari luar kantor.
"bapak yang mana? ayo masuk kedalam" hana meraih tangan mencoba membujuk agar ikut menonton acara kartun
__ADS_1
"bapak itu...bapak ganteng! udahlah disini aja, kata ibu di kantor aku, gak boleh bawa teman masuk kedalam kantor" dian berbicara dengan nada gaul
"bapak yang mana toh, kak reno? kak andri? kak febri? kak joe? kakak yang mana disini banyak kakak? ayo masuk ditempat aku gak papa bawa teman masuk. kata kakak gak papa boleh kokkkk! kalau main keluar jauh-jauh aku malah gak boleh nanti bisa dimarah kakak kalau sampai ketahuan, pak kasturi suka ngadu sama kakak"
"ya udah! kita duduk di sini aja, kan ini depan kantor gak bakalan dimarah! aku mau loh di dekeitin sama bapak ganteng" lirikan mata dian menuju kearah ruang televisi
"ayo kedalam aja, kakak ngeliatin terus" terasa ada perasaan was-was pada hana karena kak dani tidak lagi menatap layar tv
"bapak itu ngeliat kesini, bantuin aku sih han deketin bapak ganteng" dian berbicara sambil menunjukan raut wajah tersimpuh malu.
"Oh" suara hana berubah ketus mengetahui teman beda kelas mencoba memanfaatkanya untuk mengambil hati kakak jelek
mereka semua bersikap lebih centil, salah tingkah juga banyak dandan tidak pernah tertinggal menambah bedak di wajah dan sering tertangkap mencuri pandang. hana lebih memilih berteman dengan hantu, karena hana berfikir hantu itu tidak memiliki kepalsuan juga tidak ada keinginan untuk memanfaatkannya.
tidak ada yang pernah bisa hana pamerkan kepada lelaki di depannya itu, mereka duduk saling berhadap-hadapan kenapa? selalu saja pertanyaan itu terlontar dalam pikirannya memikirkan sikap kakak yang sangat bawel banyak aturan
bila saja hana tak salah dengar perkataan dari teman wanita yang duduk satu bangku dengannya, berucap "bapak itu suka kamu" suaranya benar-benar genit diiringi dengan tawa chikih...chikkkhhhh..., geli sekali di telinga
"tidak, tidak mungkin" hana mencoba menepis
__ADS_1
ucapan dari wanita bergaun putih
"hem,Hmmh.? sepertinya kakak jelek tidak bisa melihat hantu!!!" hana bergumam dalam hati memandangi kakak begitu biasa saja sedang asyik menatap layar televisi padahal ada hantu wanita sedang menggodanya
"jangan sentuh, kakak." hana ingin sekali menonjolkan amarah cemburu kepada wanita bergaun putih karena mendekat, mencoba menyentuh pipi seseorang dihadapannya
"Hi...hi...hi.." seketika, detik itu juga menghilang tanpa mengeluarkan kabut asap
"dasar hantu wanita ganjen, setiap melihat pria rupawan pasti bertingkah" ingin sekali hana menghindar dari kengerian setiap melihat wajah tak simetris itu.
baru seminggu lebih melaksanakan praktik kejuruan tetapi rasa bosan dalam urat nadi menunjukan bahwa sudah berada ditempat itu selama berbulan-bulan. hana tak langsung begitu saja berteman pada penghuni rumah, ia harus beberapa hari menyesuaikan dengan lingkungan.
satu-satunya alasan kenapa hana tetap bertahan dan kuat berada ditempat itu hanyalah karena ia mempunyai kakak yang selalu melindungi dan menjaganya
hana ini benar sekali bila disebut gadis bodoh, dia bahkan tidak mengetahui pengorbanan apa saja yang sudah kak setyo lakukan supaya bisa tetap dekat dengannya. kak setyo bahkan mengambil piket full tiga bulan lalu mengambil piket pam menjaga kantor bank, supaya setiap pagi dan siang setelah usai kerja bisa langsung mampir pulang kekantor melihat hana apakah baik-baik saja atau tidak, main jauh lagi enggak, bertengkar sesama teman seperti yang biasa hana kerjakan bila saja tidak sesuai dengan keinginannya.
hana itu gadis kalahan kak setyo selalu mengkhawatirkan hana, tidak mau hana menangi karena bermusuhan dengan teman-teman satu sekolah
"gadis cengeng" selalu saja dua kata itu yang diucapkan kak setyo setiap kali melihat hana menangis karena hal sepele, ingin sekali dia mencium bibir hana yang sedang menangis sambil berbicara walau pengaduannya itu hanya sebatas kekesalan belaka
__ADS_1