Hanna Aryana

Hanna Aryana
Cinta


__ADS_3

Dengarkanlah aku. Disini aku menunggumu cinta datang menghampiri diriku, duduk sembari memeluk lutut


Cinta! Kau adalah pelabuhan hatiku. Maka dimana perasaan rindu selalu tertambat didalam benak pikiran hatimu


Aku kecup kening dirimu cukup lama, mengutarakan isi hati betapa aku sangat cinta padamu


Jangan pernah memalingkan pandangan dariku. Jangan membelakangi diriku, cinta


Rebahkan lah tubuhmu sejenak bila saja kamu merasa lelah, anggap saja hanya ada kita berdua dipinggir dermaga ini. Cinta itu buta. Cinta


(Tertanda 14 Januari 2020)


Apa yang harus ku ucap?


Disini aku memandangi tingkah, lelah. Uang dan harta saja yang dipedulikan


Air dan tanah tak pernah ditengok!


Apa yang menjadi keinginanmu? Aku bertanya!


Kamu mengendarai Gundam keliling dunia


Dia mengendarai unta dipadang gersang


aku bermain menggelitik kucing mengunakan bulu ayam


Mereka di langit mengendarai burung elang


Sepasang sepatu Adidas menunggu tuk dijemput


Seonggok rumput ilalang berlumut dimakan hujan dan panas terik


Sepotong kepala ikan asin tenggiri tergeletak di atas daun pisang


gumpalan awan menggelegar, petir menjilat jilat, badai angin bersembunyi dibalik tumpahan

__ADS_1


Mereka bermain mengocok kertas didalam gelas bertuliskan dari nama masing-masing


Didapat hadiah sebongkah batu permata


Digusurnya ia kedalam jeruji besi tertangkap mencoba memotong tanduk Menjangan


Kakek dan Nenek dituduh mencuri sejumput getah di ladang karet


Seakan semua buta dan tuli, bisu tanpa sepatah suara gagap


Nasib selalu tidak bersikap baik. Uang dan harta saja yang dipedulikan


(Tertanda 17 Januari 2020)


***


Diary. Hana Aryana,


Jumat 17 Januari 2020


Rambutnya lurus berwarna hitam, suka cukur pendek, wajahnya rupawan dan senyumnya manis semanis kembang gula. dia suka mengenakan kaus dan celana levis panjang


"Kakak! Adek kangen"


Seandainya pertemuan kita berangsur lebih lama mungkin saja aku tidak akan pernah melupakan tentang dirinya, Seorang anak lelaki yang wajahnya pucat didalam bunga tidur


Aku merasa bahwa bunga tidur itu bukanlah mimpi tetapi sebuah bukti kenyataan bahwa dia memang ada di dunia bersama denganku. Aku mencintainya sejak masih usia kanak-kanak karena dia adalah cinta pertama dan terakhirku. Dimana aku selalu berjanji kepadanya untuk menunggu dia datang menjemput diriku dan kami akan hidup bersama-sama dalam satu atap


berkumpul bersama ditemani keluarga baru kami yang akan segera hadir menjumpai kami, memanggil kami dengan sebutan sebagai Ayah dan Bunda.


Dia berjanji tidak akan pernah ingkar janji. Dia berjanji tidak akan pernah melupakanku walaupun aku melupakannya dan dia berjanji akan datang menjumpai ku disaat aku sudah siap seutuhnya menerima kehadiran dia didalam hidupku. Hidup bersama selamanya tanpa ada pembatas ataupun jangka massa


Bodohnya aku ini. Setelah 8 tahun berlalu dan tanpa sengaja aku bertemu kembali dengan seorang lelaki yang mirip sekali dengan dia, baru kenangan itu kembali aku bisa mengigat. Mengingat tentangnya, kenangan tentang Kakak yang selalu datang setiap malam pada bunga tidurku


Disaat usiaku 16 tahun, Mungkin saja pertemuanku dengan Kak Setyo telah tuhan atur dan tentukan jalan yang harus aku tempuh ataupun jalan yang kak Setyo harus tempuh untuk kami bisa saling berjumpa lagi didalam dunia nyata dan bukan bunga tidur yang semu

__ADS_1


*Aku mencintaimu dan akan terus seperti ini ataupun itu. Tentang cinta


Selalu aku berharap semua bukan khayalan semata, berharap bahwa tentang kita adalah kenyataan


Kenangan antara kita adalah kado terindah dimana tali ikatan janji kita tidak akan renggang termakan massa


Jangan lupa tentang obrolan kita bersama diwaktu kita sedang bermain bercanda


Kakak mengejar ku dan aku terjatuh karena aku tidak awas melihat kearah depan. Kakak berkata " Adek jangan lari nanti jatoh" dan benar saja aku terjatuh karena keserimpet sandal jepit yang tidak pernah tertinggal aku kenakan. Aku memandangi kebelakang, kearah Kakak. berfikir "Kenapa Kakak tidak mengenakan sandal"


Kakak berlari tergesa-gesa menghampiriku sedang menangis karena merasa perih di lutut kaki, mengeluarkan darah. Kakak meniup luka agar tidak sakit lagi, lalu menggendongku dipunggunya. Dia adalah superhero ku dan akan tetap seperti itu


Kakak berkata " Udah gih Adek jangan nangis lagi nanti tambah jelek. Jangan nangis" dan akupun hanya mengangguk sebagai tanda bahwa aku akan berhenti menangis. Dia pun tersenyum kemudian menawarkan agar aku digendong saja olehnya. Kami duduk dibangku taman, disana Kakak berceloteh tentang banyak hal sampai aku tidak bisa mengingat semua rincian ceritanya yang dia ceritakan padaku


Aku tersenyum dan dia tak luput mengusap pipiku yang masih basa karena air mata


Kenangan yang sangat indah


Seandainya saja kami tidak pernah berjumpa mungkin saja aku tidak akan sekuat sekarang tidak juga setegar sekarang. Setiap kali aku merasa lemah juga putus asa, entah mengapa dia selalu hadir kembali didalam bunga tidurku dengan wajah masam dan perasaan kecewa. Kecewa karena aku menjadi gadis lemah dan banyak mengeluh


Dia tidak suka bila aku melawan apa yang dia katakan, Kakak memajukan bibirnya "Adek, Kakak gak suka Adek nakal. Adek udah janji sama Kakak gak akan nakal, kenapa adek bo'ong?" Aku meneteskan air mata jatuh tergelincir disudut mata "Kakak, Adek gak nakal. Adek gak ngapa-ngapain"


Seperti itulah dia berwatak keras dan tegas dibalik wajah rupawan dan tubuh tinggi tegapnya.


Yang paling aku suka dari dirinya adalah bentuk wajah, badan juga tubuhnya lalu rambutnya yang lurus, serta sifat hangat dan lemah lembut yang dia berikan untukku


Sejak lama aku mengingat kembali kisah bunga tidur yang selalu menemani, dimana selama itu kami terkurung diruang dan waktu. Batas antara hidup dan mati


Tanpa kusadari mungkin saja aku terpanggil untuknya, menariknya kembali agar dia mampu bertahan dari apa yang sedang dia alami diwaktu itu. Tentang kenangan dulu yang aku pernah lupakan


Aku tidak pernah mau mengunci rambut lurus panjang ku dan dia tidak pernah berkata keberatan atas hal itu ataupun merasa risih


Selalu aku mengunakan kaus yang kebesaran dan celana kain di atas lutut tak tertinggal sepasang sandal jepit. Aneh wajahku begitu bersinar dan sehat sedangkan setiap kali aku memandang wajahnya selalu berwana putih pucat "Apa Kakak sedang sakit?" Gumam ku dalam hati


Aku memandanginya dan dia selalu membalas dengan senyuman dibibir tipisnya tanpa sepatah kata menenangkan ku yang penuh rasa keinginan tahu. Dalam diam aku memberanikan untuk bertanya "Kakak kok gak pakai sendal? Adek pake sendal" tentu saja kembali dia membalas dengan senyuman lembut dibibir tipisnya lalu merekah ingin sekali mencium pipi ku penuh kasih tetapi diurungkannya keinginan itu "Tentang sebatas kecupan Cinta*"

__ADS_1


__ADS_2