
Dulu tidak pernah Hana mengerti tentang permasalahan rumah tangga, Hana sangat suka bermain masak-masakan juga main lompat tali
Hana berfikir dia sudah masuk Sekolah TK. Sekolah adalah cita-citanya untuk menjadi orang pintar dan sukses nanti dimasa depan, sejak usia tiga tahun Hana selalu ribut meminta kepada kedua orang tuanya ingin cepat masuk Sekolah seperti Kakak yang lewat barusan pakai seragam Sekolah. Hana pun sangat ingin menggunakan seragam 'Bersekolah'
Kata Papah serta Mamah nanti dulu sekarang belum waktunya! Usia Hana belum sampai lima tahun kalau sudah sampai pasti masuk Sekolah
Gadis kecil menganggukkan kepala tanda menurut untuk bersabar menunggu sampai usia lima tahun
Tetapi apa daya belum sampai diusia itu, biduk rumah tangga kedua orang tua Hana mulai tidak harmonis. Karena Papah suka main judi kartu Remi sedangkan Mamah adalah seorang wanita yang bisa dibilang keras kepada kemauannya.
Mamah menginginkan Papah menurut dan mengalah, namun Papah kesal pada sikap Mamah yang berani berkata kasar, berani melawan, berani tidak sopan pada suami
Tengah malam Papah masih juga belum pulang, dicari oleh Mamah ketemu di gudang pupuk sedang bermain judi bersama kawan-kawanya. Mamah marah besar sambil berteriak memaki, menarik kerah baju Papah sampai salah satu sendal jepit yang Papah kenakan melayang tepat di wajah teman judinya
Gudang pupuk tidak jauh dari kediaman Hana, dengan jelas hana bisa mendengar pertengkaran mereka dari kamar tidur Hana. Saat itu Hana berusia empat tahun lebih hampir lima tahun, itu sebabnya ingatan Hana cukup untuk mengingat setiap detail kejadian dimasa lalu
Sesampainya kedua orang tua Hana dirumah, masih saja bertengkar. Hana tidak mau mendengar pertengkaran mereka, lebih memilih menutup kuping dengan bantal
Sangat sering diwaktu malam kedua orang tua Hana meributkan permasalahan yang sama. Semenjak itu Hana terbiasa, mencoba untuk tidak mengingat apapun yang sudah didengar
Kejadian yang benar-benar membuat Hana pertama kali menangis ketakutan. Malam itu tinggal beberapa hari lagi menuju malam takbir Idul Fitri, Mamah sedang menggunting tisu warna sebagai bungkus kue bolu
Hana duduk di kursi plastik biasa untuk anak bayi mandi, Hana memang selalu mandi menggunakan kursi kesukaannya itu. Hana berdiri melangkah keruang dapur, ternyata Mamah dan Papah ribut lagi entah meributkan masalah apa
Papah kesal karena Mamah selalu melawan ucapan Papah. Hana duduk jongkok didekat Mamah sementara Mamah duduk di kursi plastik milik Hana
Papah emosi berat menarik kursi yang diduduki Mamah lalu melepar kearah Mamah, Mamah mengelak namun Hana tidak sempat mengelak karena kejadian begitu cepat. Hampir saja Kursi itu mengenai kepala dan wajah Hana mungkin tinggal jarak satu centimeter lagi dan Hana akan terluka bila terkena lemparan
Seolah masih ada yang melindungi keselamatan Hana, kursi itu tidak menggores sedikitpun kulit di wajah Hana
__ADS_1
Kursi plastik hancur, salah satu kaki kursi patah dan tidak bisa lagi digunakan
Hana menyadari kejadian itu setelah beberapa detik. Hana menangis keras begitu terkejutnya dengan kejadian yang hampir menimpa Hana kecil
Papah menggeret salah satu tangan Mamah, melemparkan gunting yang digenggam Mamah ke sembarang arah, menyobek kertas tisu menjadi beberapa bagian serpihan
Hana meraih kursi plastik kesayangannya. Menangisi kursi yang selalu menemani Hana mandi sudah hancur dan salah satu kaki plastik patah
Kursi itu direbut dari pelukan Hana oleh Papah diinjaknya kursi itu sampai hancur, Hana semakin menangis keras. Menangisi apa salah dari kursinya kenapa sampai disakiti begitu jahat, menghancurkannya
Mamah memerintahkan Hana untuk segera pergi tidur, sudah malam. Hana pun berangkat ke kamar tidurnya dengan suara yang masih terisak tangis
Keesokan hari kursi itu dibuang ketempat pembakaran sampah oleh Mamah, Hana meraih serpihan itu memohon agar tidak dibuang tidak usah dibakar. Mamah menyahut permohonan Hana dengan kalimat, benda itu sudah rusak
Hana kecil pun mengikhlaskan benda kesayangannya dibuang lalu dibakar begitu saja, Hana kembali meneteskan air mata untuk kesekian kalinya tidak tega melihat teman yang selalu menemani mandi dibakar begitu saja seolah tidak memiliki arti dimasa lalu
***
Hari ini Hana sangat bahagia, benar-benar bahagia bisa merasakan yang namanya Sekolah belajar membaca dan menulis. "Hana ingin menjadi anak pintar" Itu yang diucapkan Hana kepada Mamah sambil tak mau diam, sudah tidak sabar ingin cepat berangkat mendaftar Sekolah
Akhirnya satu hari ini dihabiskan dengan kegembiraan, Dijalan pulang Hana meminta kepada Mamah agar besok kembali mengantar berangkat Sekolah seperti Ibu-Ibu murit yang lain. Selalu mengantar dan menjemput anaknya di Sekolah
Ingin Hana mendengar jawaban iya dari Mamah. Tetapi, itu bukanlah jawaban yang Mamah keluarkan untuk gadis kecilnya suka merengek manja. Mamah berucap "Sekolah TK tidak jauh dari rumah, Hana bisa berangkat pulang sendiri. Gak perlu diantar gak perlu dijemput"
"Tapi Mamah Hana mau dianter aja berangkatnya kalau pulang gak dijemput pun gak papa!" Hana meminta memelas ingin keinginannya diberikan
"Hana udah gede bisa sendiri"
Di pagi hari ini Hana tidak buru-buru berangkat Sekolah, dia menunggu Mamahnya menyelesaikan pekerjaan rumah "Mamah udah selesai belum? Ayo cepet anterin Hana sekolah keburu siang!" Hana memanggil Mamah dari luar pintu
__ADS_1
Mamah menghampiri Hana "Loh kan udah mamah bilang berangkat sendiri, ayo cepet berangkat."
"Tapi Mamah Hana mau dianterin sekali ini aja lagi Mah! Besok Hana gak minta dianter berangkat Sekolah lagi"
"Udah sana cepet berangkat, Hana udah gede, udah bisa sendiri"
Hana pun berangkat dengan sikap kecewa, setiap jam istirahat datang Hana akan duduk sambil berjongkok didepan pintu Sekolah, memandangi para Ibu murit yang sedang sabar menunggu jam pulang tiba
Terbayang dalam benak gadis kecil, alangkah bahagianya bila Mamah bisa berada dalam kelompok Ibu-Ibu murit itu yang sekarang sedang Hana pandang seksama dan teliti
Semua hanya angan-angan belaka
***
Hay semua para pembaca cerita apa kabar? sehat dan baik-baik semua kan?
Entah mengapa Aryana 'Panggil saja aku dengan nama itu yaaaaa!!' Sedang tidak konsen menulis. Cerita yang aku buat di Noveltoon oh ya judul cerita ini juga sudah lama masuk di Mangatoon loooooh, sekedar pemberitahuan*
Emh, lanjut.....
Namun di satu sisi aku memiliki keinginanku tersendiri. Memenangkan kontes menulis di Noveltoon karena itu aku sangat berharap dan berterima kasih jikalau para pembaca mau memberikan vote, like dan tip koin untuk ku
Jangan lupa setelah usai membaca beri aku dukungan agar memenangkan kontes dengan cara klik tombol vote dan tip
Beri aku ***vote seikhlas kalian dan jangan sampai tertinggal beri aku juga tip seikhlas kalian dan satu lagi tekan tombol jempol ya 'like'
Salam jumpa lagi denganku untuk semuanya😊😊😊❤️❤️❤️***
salam hangat.
__ADS_1
Aryana