Hanna Aryana

Hanna Aryana
datang terlambat


__ADS_3

hana adalah seorang gadis penyuka tidur ditambah pemalas. pagi ini jam 7 harusnya dia sudah sampai ditempat praktik kerja, jangankan berangkat mandi saja belum. cek...cek...cek.. benar-benar gadis bang'kong pemalas


07.30 pagi dia baru berangkat, sampai jam tujuan pagi pukul 08.00 WIB. sampai tempat belum juga masuk keruang kantor sudah berpapasan dengan bapak polisi berpangkat tiga garis bengkok


"heh, jam segini baru sampe? udah jam berapa coba sekarang! besok berangkat lebih pagi" pak bambang dengan angkuh berjalan sambil menenteng senjata yang ia selempangkan didepan perutnya


hana hanya mengibaskan rambut tidak dikunci "iya" langsung masuk kantor, pergi tanpa menoleh pada pak bambang


"gadis sombong" dengan jelas hana bisa mendengar perkataan bapak polisi didalam benak pikirannya


hana tersenyum angkuh diiringi aura sedingin es yang baru keluar dari freezer "benarkah?"


hana tidak pernah memahami filsafat ON TIME yang selalu hana paham itu kalimat jangan terlambat. pikir hana dia tidak terlambat masuk kantor, jam 09.00 pagi baru sampai itu yang namanya terlambat, kesiangan masuk jam tugas kerja.


"apa sih! main marah-marah aja sama aku. lagipula aku ini cuma anak PKL, ich kesel aku tuh" serasa hana ingin membanting tasnya kelantai


BRUK...


"APA SIH, kakak ini. minggir gak usah menghalangi jalan" hana membentak kepada kak setyo


bukan marah apalagi mengejar masuk, kak setyo malah cengengesan "ha...ha..ha gak usah marah kenapa? lagi kesel dimarahin lagi yaaaaa!" sepanjang jalan kak setyo tidak bisa berhenti senyum-senyum sendiri


hana ngedumel sembari meletakkan tas dimeja "dasar otak miring, muka pas-pasan tapi sok kegantengan. dasar murahan"


kak setyo selalu saja berakting tidak pernah mengetahui kekesalan hana setiap berada di kantor, kak setyo menginginkan hana tetap betah di kantor walau semua membuatnya bosan. tidak boleh berfikir mempunyai keinginan pindah, mencari tempat praktek kerja nyata lain yang lebih dekat dari rumah tinggalnya.


hanya tiga bulan saja waktu yang kak setyo miliki untuk mendekat mengambil hati hana. gadis galak, jutek, sombong, dan pendiam itu sulit sekali untuk didekati. hanya ingin mendengar suara bawelnya saja sangat sulit tapi mengapa saat sedang bersama teman satu sekolah hana terlihat sangat ceria seperti tidak ada beban dipundaknya


"han, sampai kapan kamu mau diem terus. cerita sama kakak han kamu punya masalah apa sebenarnya"

__ADS_1


"hem?" sejak kapan kak indra duduk disamping ku "cerita apa? gak ada yang perlu diceritakan" kak indra bersebelahan duduk sebangku semakin dekat saja


"kamu punya masalah apa? siapa tahu kakak bisa bantu"


hana menggaruk pipinya yang tidak gatal karena merasa risih mendengar pertanyaan, mengorek masa lalu yang sudah dipendam lama "hem...hemh..! ti.... udah lah kak aku lagi malas ngomong" hana enggan melanjutkan perkataannya


"han, kamu...." ucapan kak indra dipenggal begitu saja oleh seseorang yang sedang menatap layar televisi


ia mengepalkan tangannya dimeja "gak mau ngomong gak usah dipaksa" berbicara tetapi pandangannya masih menatap layar tv


mendengar kak setyo berbicara dengan nada suara acuh tak acuh kak indra hanya bisa terdiam dengan raut wajah ber'mimik kucing malas. kak setyo bukan tidak ingin mengetahui tetapi dia sudah terlebih dahulu bergerak cepat, ya teman aku yang bernama dian dari jurusan sekertaris sudah terlebih dahulu diintrogasi namun karena beda jurusan alhasil kak setyo tidak mendapatkan informasi apapun


dian salah tanggap berfikir bahwa kak setyo menyukainya. bersikap ramah, tersenyum, menyapanya. dian mengambil kesimpulan itu semua pertanda bahwa kak setyo si bapak ganteng memberikan isyarat PDKT


hana mengetahui semua hal semacam itu dari temannya bukan semakin dekat dengan kak setyo tapi semakin menjauh. menganggap kak setyo adalah lelaki murahan, godasana goda sini, hampir semua teman-teman hana dia ajak bicara dibelakang hana


'menyebalkan, lihat saja pintar siapa? pintar aku apa kamu kakak jelek. kita musuh selamanya gak akan pernah akur' ingin sekali hana memaki lelaki bujang di depanya itu. sangat disayangkan hana tidak memiliki keberanian sebesar gunung berapi


hi...hi...hi...ckikih....cekikih..


hana menengok kearah samping tepat dimana suara itu berasal, astaghfirrulloh. mengucap kalimat istighfar dalam hati, kaget benar-benar kaget. wajahnya menyeramkan menjijikkan


"hem, datang lagi toh?" hana berbicara dalam hati bertanya kepada wanita bergaun putih


"ckikih...cekikih...hi...hii...." suaranya menggelitik ditelinga, ingin sekali hana mengorek kupingnya yang terasa tersumbat kotoran


han terdiam sejenak "amit-amit, palias teing" bulu kuduk hana merinding menahan kengerian melihat wajah tak simetris


tak lama berselang setelah kak indra pergi dari duduk bersebelahan bersama hana, kemudian datang wanita bergaun putih. duduk menggantikan tempat duduk kak indra, setelah hana mengetahui ada yang duduk disampingnya bukan lagi kak indra, hana malah ingin meloncat saja duduk dipangkuan kak setyo yang sedang asyik dengan lamunannya. dia menatap layar televisi tetapi terlihat jelas bahwa dia tidak menyimak acara televisi yang sedang ditayangkan itu

__ADS_1


akhirnya hana terpaku menatap, saling diam-diaman. tidak ingin mengajak kak setyo mengobrol, wanita gaun putih yang barusan datang pun tidak hana ajak bicara *males.


"bapak itu masih perjaka" nada suaranya terdengar sangat jelas, bagaikan suara manusia


"apa, ia kak indra aja udah gak perjaka. kak setyo temannya pasti sama aja, gak perjaka. tukang beli wanita malam" hana berbicara tanpa mengerlingkan kedua matanya


ckikih...ckikih... "lihat saja wajahnya masih bercahanya, itu tanda bahwa dia masih perjaka. kamu bisa melihatnya juga kan? dia menyukaimu, dekati dia sebelum kamu menyesal" ckikih...hi...hi.., busssss hilang


hana mendengus kesal sampai terdengar oleh kak setyo "baru dateng pergi lagi, gak betah lama-lama. dasar ganjen. sukanya sama lelaki perjaka ganteng dan pria dewasa kebapakan"


dilain waktu setelah kak setyo mendengar hana mendengus kesal entah kenapa? kak setyo bukan bertanya setelah menoleh pada hana. mengerutkan dahi mempertemukan kedua alis tebalnya, memiringkan kepalanya. dia malah asik kembali pada lamunannya, sama sekali tidak memperdulikan hana yang sedang kesepian ingin sekali dibelikan buah jeruk manis oleh kak setyo


"kak setyo. pelit. tidak bisa mengerti perasaan wanita. aku bosan, ingin makan sesuatu" hana menatap setyo seperti ingin mengeluarkan bola-bola kecil hitam matanya


"hem...?!" setyo tersenyum ramah tanpa rasa berdosa


"apa?"


terlalu kesal, hana melangkahkan kaki pergi ke halaman meninggalkan kak setyo sendirian didalam ruang tempat biasa menyiksa penjahat saat malam tetapi saat jam kerja sebagai ruang menonton acara televisi. hana marah karena teringat perkataan teman wanitanya tadi yang menyebutkan bahwa kakak jelek masih perjaka, ingin sekali hana bertanya langsung namun rasa cemburu sudah terlebih dahulu mengisi penuh ruang hatinya menutup semua celah untuk diisi kembali dengan rasa keingintahuan


diluar ruangan yaitu halaman kantor tempat duduk biasa hana mengobrol bersama teman-teman satu sekolah pada jam istirahat. hana kembali bertemu dengan pak bambang, ternyata pak bambang itu mengajak hana bicara bukan ingin memarahinya, pak bambang menawarkan hana uang jajan, hend phone keluaran terbaru, belanja baju mahal, kendaraan bermotor.


hana mendengar setiap jengkal pikiran dari benak pak bambang, pria tua berumur sekitar usia 45 tahun. dia berfikir, seolah-olah bahwa hana terlahir dari kalangan keluarga yang sangat miskin. bahkan ayah dari hana hanya sekedar membelikan kendaraan roda dua bermesin untuk putrinya saja tidak mampu. bisanya cuma nebeng pada teman-teman yang jauh lebih mampu saja kere


lalu dia berucap lagi dengan alunan kalimat mesum. semua kesenangan akan pak bambang penuhi tetapi dengan syarat hana mau menyerahkan keperawanan serta mau dijadikan gadis simpanan. alat pemuas nafsu sex pedofilia.


setelah hana mengetahui nafsu bejat pak bambang, rasanya dalam hati ingin sekali hana mengadukan pak bambang kepada kak setyo biar saja diberi pelajaran, namun hana lebih membenci kak setyo. tidak terlalu ambil pusing perkataan bapak mesum yang tidak naik-naik pangkat itu.


dilain sisi hana lebih membenci kak setyo yang suka merayu menggoda semua wanita di kantor bahkan diluar kantor. menggunakan wajah rupawannya seperti lelaki murahan.

__ADS_1


"menyebalkan, aku benci kakak. sangat benci. pergi sana yang jauh, kakak jangan deketin aku lagi. aku gak suka" setiap kali hana teringat kak setyo selalu pikiran itu yang muncul didalam benak pikiran hana


__ADS_2