Hanna Aryana

Hanna Aryana
satria berangkat ke solo


__ADS_3

jam 7 pagi, tgl 22 januari. satria berangkat ke solo menggunakan motor bebek


di sana satria berencana untuk mengambil pakaian dan barang berharga yang satria tinggalkan di solo


sebelum berangkat pergi, ibu lasmi sempat untuk melarang satria agar tidak usah berangkat ke solo


namun satria tetap kekeh berangkat dikarnakan cincin yang akan di gunakan untuk melamar lastri tertinggal di solo


ibu lasmi menyarankan untuk membeli saja yang baru, bila sudah menikah cincin itu bisa di berikan sebagai hadiah pernikahan


satria berkata pada ibu lasmi, bahwa cincin itu adalah yang lastri inginkan yang lastri pilih di toko perhiasan


cicin itu ingin lastri gunakan sebagai maskawin pernikahan


ibu pun mengijinkan satria pergi ke solo dengan berat hati


belum sampai satria ke tempat tujuan, satria harus menyebrangi rel kereta


pikir satria kereta masih jauh, tak mengindahkan alarem dan peringatan penjaga palang pintu rel kereta


satria menerabas, tak sampai hitungan menit hanya hitungan detik. kereta itu sudah ada di depan mata satria


dush dus dus, ckiiiiiiit ( rem kereta berbunyi menusuk gendang telinga )


satria tak sempat melaju" memajukan kendaraan motor, tiba-tiba kereta menghatam tubuh satria dan kendaraannya

__ADS_1


menyeret sepedah motor sejauh 2 km


satria terpental tak ikut terbawa kendaraan, tubuh satria di penuhi luka dan darah di mana mana sekujur tubuh


kepala satria terbentur palang pintu saat satria tersambar kereta


satria segera di bawa ke rumah sakit menggunakan ambulan yang kebetulan ada disana, lewat akan menyebrang


namun nyawa satria tak tertolong, ia meninggal di pejalana di karnakan kehabisan darah dan gagal jantung


berita dari rumah sakit sampai ke rumah pak mulyono


mengabarkan bahwa putranya terlibat kecelakaan lalu lintas


pak mulyono pisngsan saat itu juga setelah mendengar bahwa satria ada di rumah sakit


dengan cepat pak mulyono ibu lasmi aryo pergi ke solo mengendarai mobil pribadi


sesampainya di rumah sakit


pak mulyono sekeluarga di arahkan ke kamar zenazah oleh perawat


merasa bingung dan tak paham, pak mulyono sekeluarga hanya bisa terdiam dan mengikuti arahan


saat masuk dan berhadapan dengan ranjang yang sedang tergeletak satu zenazah di tutup kain,

__ADS_1


aryo di minta untuk membuka kain oleh perawat


belum sempat membuka kain tangan aryo bergetar keras menolak untuk membuka


tibalah tangan aryo membuka penutup kepala, terlihat jelas wajah satria penuh darah


tubuh satria terlentang kaku tak bernyawa


ibu lasmi pak mulyono pingsan tak percaya dengan apa yang mereka lihat


aryo segera mengurus surat-surat agar adik bungsunya bisa langsung di makamkan


dengan air mata yang tak berhenti menetes, aryo berusaha menerima takdir dan kenyataan


adiknya sudah tiada


sesampainya di rumah


pak mulyono mengabarkan pada pak lurah, pernikahan tidak bisa di lanjutkan


satria meninggal dunia terlibat kecelakaan lalu lintas


dengan suara terbata-bata pak lurah berusaha ikhlas dengan semua cobaan


sekeluarga pak lurah bersama hana papah dan mamah juga om haryo, mereka semua berangkat ke kota untuk melayat

__ADS_1


sesampainya di rumah pak mulyono, pak lurah kaget' langsung pingsaan saat melihat zenazah sudah di kafan " tak percaya "


( pikir pak lurah dalam perjalanan ini semua pasti bohong, satria belum meninggal. namun sesampainya di rumah pak mulyono, belum sempat masuk rumah. sudah terlihat dari halaman )


__ADS_2