
jam 7 pagi, tgl 22 januari. satria berangkat ke solo menggunakan motor bebek
di sana satria berencana untuk mengambil pakaian dan barang berharga yang satria tinggalkan di solo
sebelum berangkat pergi, ibu lasmi sempat untuk melarang satria agar tidak usah berangkat ke solo
namun satria tetap kekeh berangkat dikarnakan cincin yang akan di gunakan untuk melamar lastri tertinggal di solo
ibu lasmi menyarankan untuk membeli saja yang baru, bila sudah menikah cincin itu bisa di berikan sebagai hadiah pernikahan
satria berkata pada ibu lasmi, bahwa cincin itu adalah yang lastri inginkan yang lastri pilih di toko perhiasan
cicin itu ingin lastri gunakan sebagai maskawin pernikahan
ibu pun mengijinkan satria pergi ke solo dengan berat hati
belum sampai satria ke tempat tujuan, satria harus menyebrangi rel kereta
pikir satria kereta masih jauh, tak mengindahkan alarem dan peringatan penjaga palang pintu rel kereta
satria menerabas, tak sampai hitungan menit hanya hitungan detik. kereta itu sudah ada di depan mata satria
dush dus dus, ckiiiiiiit ( rem kereta berbunyi menusuk gendang telinga )
satria tak sempat melaju" memajukan kendaraan motor, tiba-tiba kereta menghatam tubuh satria dan kendaraannya
__ADS_1
menyeret sepedah motor sejauh 2 km
satria terpental tak ikut terbawa kendaraan, tubuh satria di penuhi luka dan darah di mana mana sekujur tubuh
kepala satria terbentur palang pintu saat satria tersambar kereta
satria segera di bawa ke rumah sakit menggunakan ambulan yang kebetulan ada disana, lewat akan menyebrang
namun nyawa satria tak tertolong, ia meninggal di pejalana di karnakan kehabisan darah dan gagal jantung
berita dari rumah sakit sampai ke rumah pak mulyono
mengabarkan bahwa putranya terlibat kecelakaan lalu lintas
pak mulyono pisngsan saat itu juga setelah mendengar bahwa satria ada di rumah sakit
dengan cepat pak mulyono ibu lasmi aryo pergi ke solo mengendarai mobil pribadi
sesampainya di rumah sakit
pak mulyono sekeluarga di arahkan ke kamar zenazah oleh perawat
merasa bingung dan tak paham, pak mulyono sekeluarga hanya bisa terdiam dan mengikuti arahan
saat masuk dan berhadapan dengan ranjang yang sedang tergeletak satu zenazah di tutup kain,
__ADS_1
aryo di minta untuk membuka kain oleh perawat
belum sempat membuka kain tangan aryo bergetar keras menolak untuk membuka
tibalah tangan aryo membuka penutup kepala, terlihat jelas wajah satria penuh darah
tubuh satria terlentang kaku tak bernyawa
ibu lasmi pak mulyono pingsan tak percaya dengan apa yang mereka lihat
aryo segera mengurus surat-surat agar adik bungsunya bisa langsung di makamkan
dengan air mata yang tak berhenti menetes, aryo berusaha menerima takdir dan kenyataan
adiknya sudah tiada
sesampainya di rumah
pak mulyono mengabarkan pada pak lurah, pernikahan tidak bisa di lanjutkan
satria meninggal dunia terlibat kecelakaan lalu lintas
dengan suara terbata-bata pak lurah berusaha ikhlas dengan semua cobaan
sekeluarga pak lurah bersama hana papah dan mamah juga om haryo, mereka semua berangkat ke kota untuk melayat
__ADS_1
sesampainya di rumah pak mulyono, pak lurah kaget' langsung pingsaan saat melihat zenazah sudah di kafan " tak percaya "
( pikir pak lurah dalam perjalanan ini semua pasti bohong, satria belum meninggal. namun sesampainya di rumah pak mulyono, belum sempat masuk rumah. sudah terlihat dari halaman )