
bosan berdiam diri terus di kantor. hari ini kakak tidak masuk kerja, nyebelin, kenapa sih! hana dimarah-marah terus? tadi pagi ibu reiza ngomel gara-gara hal sepele "rambut kamu itu di eket waktu di kantor. diliar terserah" nada bicaranya menyakitkan, setajam sillet
"iya buk...!" dirasa-rasa aku ingin menangis, kakak kenapa hari ini gak masuk kerja?! hana dimarah-marahin terus kak
waktu di siang hari ini sama pak joko. "heh, pake rok gak usah di jinjing, kalau mau di jinjing ke atas pake rok pendek. potong aja rok kamu itu"
hana tidak mau menjawab perkataan dari pak joko, dia tidak tau apa lapangan upacara lebih tinggi dari pada teras kantor. hana takut jatoh gara-gara kesandung, nanti jidat hana bisa benjol.
kenapa sih...! kalau kakak gak masuk kerja selalu aja hana dimarahin udah gitu gak ngerti kenapa semua keliatan salah?! tapi kalau kakak ada disini, gak pernah ada yang marahin hana, gak ada yang berbicara kasar ke hana karena tingkah hana semaunya sendiri. semua terasa beda disaat kakak gak masuk kerja.
udah jam istirahat, hana mau main ke halaman depan aja bareng teman-teman mungkin jauh lebih asik ketimbang berdiam diri di kantor, males di marah terus.
baru saja sampai persimpangan sudah menemukan satu teman yang sedang menungguu teman yang lain keluar untuk jam istirahat "hey, lolita! lolita kok kamu gak pernah main ke belakang sih...! kenapa?" hana berlari menghampiti lolita lalu menepuk salah satu pundak lolita, dipanggil-panggil dari kejauhan diam saja
"lagi pak pingin aja. lagian semua main tempatmu aja, gak ada yang mau main tempat aku"
"Oh, ya udah sekarang aku main tempat mu aja kalau gitu" hana mengembangkan senyum tipis bibirnya yang berwarna buah pich
"gak usah sekarang. besok aja"
"kenapa?"
"aku udah keluar, kalau udah jam istirahat kantor tempat aku pkl di kunci. besok kalau mau main langsung samperin aku jangan sampe nunggu aku keluar baru datang"
"Oh, iya. oke dech! besok pasti aku main"
maya menghampiri kami berdua yang sedang mengobrol duduk di teras di parkiran, dibawah pohon hias berdaun rindang "heh! dingaren kamu keluar han? biasanya kamu dekem terus"
hana memainkan kain tasnya, membuat tas selempang hana menjadi kusut "lagi pingin main, bosen main di kantor. lagi gak asik" hana tersenyum, menutupi sebagian wajahnya menggunakan rambut lurus pajang miliknya
"Oh, lolita tempat hana banyak bapak-bapak gantengnya loh!" maya berbicara sambil berdiri, menghadap hana dan lolita
__ADS_1
"aku udah punya pacar" lolita berbicara sembari memiringkan salah satu sudut bibirnya ke atas, membentuk bulan sabit memujur sangkar
hana menampakkan exspresi hidung mengkerut, menahan gejolak bimbang keheranan "apa hubungannya antara banyak bapak ganteng sama kamu udah punya pacar?"
"aku tuh udah punya pacar, gak mau berselingkuh apalagi pindah ke lain hati. aku ini setia tau."
hana memalingkan pandangan kepada kendaraan bermotor yang lalu lalang dijalan raya "terserah lah! aku gak ngerti maksut kamu apa?"
tidak lama berselang hampir semua teman-teman satu sekolah dengan hana datang menghampiri mereka bertiga, namun hana saat ini merasa berbeda. ia merasa diasingkan oleh semua teman-temannya, hana memberanikan bertanya lalu mendapatkan jawaban 'bahwa hana lebih asik bermain dikantornya karena ada bapak ganteng, setiap kali diajak main hana selalu menolak. semua teman-teman jadi malas mengajak main hana, pasti hana gak mau keluar'
mendengar jawaban sarkatisme seperti itu perasaan hana semakin terpuruk, bukan hana tidak mau bermain bersama kawan. namun karena hana takut dimarah lagi oleh kakak bila sampai ketahuan hana main terlalu jauh, apalagi sampai berani keluar gerbang kantor. kakak akan memberikan tatapan wajah masam diiringi mengomel pada pak kastury sanjaia karena tidak bisa menjaga hana dengan baik selama berada di kantor
kak setyo berbicara pada pak kastury. ketahuan hana main terlalu jauh sampai ke perumahan mes para pegawai kantor "hana jangan boleh main terlalu jauh, jangan sampai main terlalu lama. setengah jam aja, kalau sampai lebih dicari. disini banyak penjahat, nanti bisa-bisa kecolongan. diculik kalau gak diperkosa jangan sampai, kalau temannya ajak main sampai keluar gerbang! marahin aja temannya itu, gak usah ajak hana main. mending hana main didalam kantor sendirian. jangan hana dibawa-bawa jadi anak bandel"
bapak kastury melongo mendengar perkataan kak setyo yang begitu panjang. selama ini setau pak kastury, kak setyo tidak pernah banyak bicara apalagi sampai sepanjang itu "siap pak. di laksanakan perintah mu" menjawab sambil cengengesan, terheran-heran kok bisa gara-gara cewe secepat itu merubah sifat
benar saja, hari ini hana main terlalu lama sampai satu jam setengah baru kembali masuk kantor
"hana main ke sana, kebelakang. gak jauh kok cuma di mes aja"
"jangan main jauh, disini banyak orang jahat. nanti kamu diculik".
"gak kok pak, gak diculik kan main didalam rumah. gak mungkin diculik"
"udah besok gak boleh main terlalu lama lagi, jam setengah satu harus udah ada didalam kantor. inget pulang" pak kastury memerintahkan hana segera masuk, sebelum kak setyo datang kekantor. bila saja kak setyo tidak melihat hana, dipastikan dia akan dimarah lagi. namun hari ini kak setyo tidak masuk kerja jadi aman-aman saja
"iya pak"
hana ingin sekali waktu praktek tiga bulan cepat berlalu, lagi pula hana ini mengambil jurusan akuntansi lalu kenapa salah sasaran kerja praktek?. bertugas di kantor seperti ini! bukan di kantor koprasi atau bank saja itukan lebih cocok. praktek disini hana selalu saja kena seprot oleh ibu dan bapak pegawai, sangat menyebalkan waktu disaat kakak sedang tidak masuk kerja karena tidak ada jam piket atau kerja harian. bosan.....!!!
***
__ADS_1
hana memandang keluar jendela kaca, menatap seorang anak laki-laki berkisaran umur 6 tahun. anak itu sedang asyik memainkan gamelan mini, ia mengenakan pakaian komplit. baju kaos berlengan pendek dan celana levis dibawah lutut namun kedua telapak kakinya tidak mengenakan alas sandal atau sepatu
anak itu sedang asyik memukul-mukul gamelan mini mengunakan palu khusus, berbunyi, thing...ting....thing...trililing....ling....ling...ting
anak laki-laki itu mengenali hana, melirik kearah hana yang sedang asyik memandanginya. disekitaran kelopak mata anak itu ada bulatan hitam mengelilingi cekungan mata anak itu seperti mata panda
dia terdiam sejenak, lalu meletakkan kembali mainan yang dipinjamnya ketempat semula. hana menghampiri melangkahkan kakinya ke teras
"hai, kamu suka mainan itu" hana mengajak bicara anak laki-laki yang tidak diketahui namanya sambil berjongkok
"*anak itu menjawab dengan kalimat tubuh, hanya menganguk saja. sambil sesekali memukul-mukul gamelan mini"
"jangan takut, kakak gak jahat. kamu suka mainan itu? kalau kamu suka, mainan itu boleh buat kamu*" hana berani memberikan karena berfikir bahwa semua alat musik mini itu properti milik kantor, jadi dia punya hak untuk memberikan kepada siapa saja. toh yang diambil bukan mainan yang sebenarnya!
anak mengembangkan senyuman bulan sabit lalu mengembangkan bibirnya seperti huruf O "beneran kakak ini boleh buat aku?"
hana tersenyum tipis dibibir ya yang tipis itu "hem..emh!"
"hore....hore... aku punya mainan" anak laki-laki itu berjingkrak kegirangan, berloncat-loncat sambil mengangkat mainannya setinggi mungkin, tangan kiri menggenggam palu dan tangan kanan mencengkram gamelan erat-erat
hana tersenyum riang melihat tingkah anak laki-laki itu yang senang bukan kepalang mendapatkan mainan kesukaannya. padahal hana sudah menawarkan beberapa mainan seperti suling dan gitar namun anak itu tetap kekeh memilih mainan yang pertama dia sentuh
"dek pulang, rumahmu dimana"
mendengar hana berbicara dia meletakkan kembali mainannya dilantai lalu tertunduk lesu
"dek kamu gak punya ibu? kakak minta maaf ya! ayo sekarang pulang dulu. jangan terlalu lama main disini"
mendengar perintah hana, anak laki-laki itu menurut untuk segera pulang sambil menenteng mainan barunya. anak itu meneteskan air mata 'menggeleleng' mengingat dia tidak mempunyai ibu atau ayah. anak itu berlalu, berjalan membelakangi hana
hana hampir saja meneteskan air mata, sudah membuat diri anak tak berdosa itu bersedih. walau hana mengetahui yang sebenarnya, anak itu bukan lah roh dari anak yang sudah meninggal, namun hana tidak bisa menjelaskannya. tidak ingin membuat anak tidak berdosa itu semakin tersiksa lalu mencari kedua ibu bapaknya dan membalaskan dendam.
__ADS_1
hana bukan tidak ingin menolong, ia hanya menginginkan bayangan anak yang telah meninggal itu tidak lagi terbelenggu di dunia yang fana ini