
Revan menunggu berita tentang bagaimana kondisi anaknya yang masih berada di dalam ruangan tindakan.
Air matanya masih menetes membasahi wajahnya. Ia sangat takut terjadi sesuatu dengan anaknya. Melihat kejadian yang baru saja terjadi dan kondisi anaknya yang terbujur bersimbah darah di jalanan membuat nyawanya seakan terlepas dari raganya.
Air matanya tak berhenti menetes. Semua ini salahnya, seandainya ia tidak melepaskan pandangannya dari anaknya, maka kejadian ini tidak akan terjadi.
Revan menyalahkan dirinya sendiri terkait kejadian yang menimpa anaknya. Berkali-kali, Revan mengusap wajahnya dan kembali menunduk menunggu keajaiban.
Tiba-tiba pintu di depannya itu terbuka dan keluarlah dokter dari dalam sana diikuti oleh satu suster di belakangnya.
Segera Revan bangkit dari duduknya dan menghampiri dokter ingin menanyakan mengenai kondisi anaknya.
"Anda keluarga pasien?" Tanya dokter saat melepaskan masker yang melekat di wajahnya.
"Saya Ayahnya! Bagaimana dengan anak saya, dok?"
"Kami harus segera melakukan tindakan operasi, pak. Tapi sebelum itu, kami meminta persetujuan dari keluarga pasien."
Revan segera menganggukkan kepalanya. "Baik, dok. Lakukan apa yang terbaik. Asalkan anak saya selamat."
"Baiklah, pak. Segera ke depan untuk mengurus administrasinya."
Revan segera mengurus segala administrasi dan menandatangani persetujuan tindakan operasi. Setelah melakukan itu, tak lama kemudian anaknya pun dibawa masuk menuju ruangan operasi.
Revan baru ingat bahwa ia belum menghubungi istrinya. Karena kejadian tadi membuat otaknya tidak bisa berfikir jernih. Segera ia merogoh sakunya, namun ia baru ingat bahwa tadi ia tidak membawa ponselnya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah cukup lama berkutat di dapur, akhirnya kue buatannya pun jadi. Hana pun segera mengeluarkan kue itu dari oven dan menyajikannya di atas piring panjang dan menunggu sampai kuenya dingin. Sedangkan Ana, ia membereskan semua peralatan membuat kue tadi dan mencucinya.
Saat Hana melepaskan celemek yang melekat di badannya, dari arah luar terdengar bel rumahnya berbunyi. Segera Hana menggantung celemek tadi dan berjalan ke depan untuk membuka pintu.
Ternyata yang bertamu di rumahnya adalah pak Rt. Tapi tumben-tumbenan pak Rt bertamu di rumahnya. Kira-kira ada apa, bisiknya di dalam hati.
__ADS_1
"Assalamualaikum, mbak, Hana."
"Waalaikumsalam, pak." Hana tersenyum kepada pak Rt, namun pak Rt tidak membalas senyumnya dan seperti memikirkan sesuatu.
"Ada apa ya, pak. Tumben banget pak RT pagi-pagi sudah bertamu?"
"Mmm... Begini mbak, Hana, saya mau memberitahu sesuatu tapi saya harap ibu jangan kaget, ya."
Mendengar ucapan pak Rt entah mengapa membuat Hana merasa resah. Hana mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan berfikir positif. Semoga saja bukan berita buruk.
"Tergantung, apa yang mau bapak sampaikan. Memangnya ada apa ya, pak?"
Pak Rt terdiam sebentar dan terlihat ia menarik nafas dalam sebelum ia berucap.
"Anak ibu, Jihan, dia...dilarikan ke rumah sakit, mbak!"
Hana tersentak mendengar ucapan pak Rt. Kakinya serasa lemas mendengar anaknya yang tadi pagi masih sehat wal afiat tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dan kakinya serasa tak mampu menopang berat tubuhnya.
"Anak saya kenapa, pak?" Tanyanya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Pak Rt tak tega melihat kesedihan yang terpancar dari raut wajah Hana.
"Nanti saja di rumah sakit dijelaskan, mbak. Mending sekarang mbak Hana menyusul anak dan suami mbak ke rumah sakit."
"Anak saya dibawa ke rumah sakit mana, pak?"
"Rumah sakit XX, mbak!"
Setelah pak RT pulang dari rumah Hana, Hana segera menyuruh Ana untuk memesan taksi. Sebenarnya di garasi terparkir mobil suaminya, namun karena Hana tidak mengetahui mengendarai mobil oleh karena itu ia hanya bisa kemana-mana menaiki taksi saat suaminya itu tidak bersamanya.
10 menit kemudian, taksi yang ia pesan tadi akhirnya datang. Hana segera menuju taksi diikuti oleh Ana dibelakangnya.
Selama perjalanan Hana hanya bisa terdiam dan menerka-nerka kondisi anaknya. Hatinya sangat resah dan perasaannya tidak enak sejak tadi. Semoga saja anaknya itu tidak kenapa-napa, batinnya mengatakan.
__ADS_1
20 menit kemudian mereka pun sampai di depan rumah sakit XX yang tadi pak Rt katakan. Setelah membayar biaya taksi, Hana segera berjalan cepat menuju meja reseptionis.
"Mbak saya cari pasien yang baru masuk tadi. Anak kecil usia 5 tahun, atas nama Jihan Maulida Fariz."
"Pasien atas nama Jihan, sekarang masih berada di ruangan operasi, mbak."
Deg....
Jantung Hana berdetak dua kali lebih cepat. Kakinya seakan lemas. Hana memegang ujung meja, tak kuat dengan apa yang didengarnya. Anaknya masuk ruangan operasi! Apa yang terjadi pada anaknya sehingga tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit dan sekarang sudah berada di ruangan operasi.
"Mbak enggak kenapa-napa?" Tanya Ana saat memegang bahu majikannya yang menutup mata sambil memegang ujung meja reseptionis.
Hana menggeleng lemah."Mbak, enggak apa-apa, An!"
"Antar mbak ke ruangan operasi, An!" Ucapnya dengan nada lirih. Badannya seketika melemas dan kepalanya pusing. Tapu sekuat tenaga ia tahan karena ingin melihat kondisi anaknya.
Setelah diberitahu arah menuju ke ruangan operasi oleh suster tadi, kini Ana mengantar majikannya menuju ke ruangan operasi.
Dari jauh Hana sudah melihat suaminya yang berdiri menyandarkan badannya di tembok sambil memejamkan matanya. Suaminya itu sudah tidak mengenakan baju. Penampilannya sudah acak-acakan dan terdapat bercak darah di badan dan tangan suaminya.
Dengan langkah lemah, Hana mendekati suaminya. Suara langkah kaki Hana dan Ana yang semakin mendekat membuat Revan membuka matanya dan menatap ke arah sumber suara. Revan yang melihat kehadiran istrinya segera menghapus air mata di pipinya dan berjalan mendekati istrinya.
Segera ia mendekat dan memeluk tubuh istrinya.
"Jihan kenapa, mas?" Tanyanya saat Revan melepaskan pelukannya.
"Maafkan aku, sayang. Jihan... Jihan tadi ketabrak mobil dan...." Revan sudah tidak sanggup lagi menceritakan perihal kejadian tadi.
Dunia Hana seakan runtuh mendengar kabar tragis yang menimpa anaknya. Ia pun sudah tidak sanggup lagi menahan isakannya. Ia menangis terisak dan tanpa ia duga suaminya itu sudah menarik tubuhnya di dalam pelukan.
"Maafkan aku. Ini semua salah aku karena tidak menjaga Jihan dengan baik. Aku lalai menjaganya." Ucapnya sama-sama menangis. Revan menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa yang menimpa anaknya.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
__ADS_1