Hati yang Patah

Hati yang Patah
Dua Ayah


__ADS_3

Setelah bercengkerama dengan keluarga kecilnya di ruang keluarga, Revan dan Hana kini sudah berada di dalam kamar. Waktu sudah


menunjukkan pukul 22.30 Wib, namun Revan dan Hana masih asyik berbincang-bincang di atas ranjang. Revan menggunakan lengannya sebagai bantalan kepala istrinya, sedangkan Hana, ia tidur sambil memeluk tubuh suaminya. Perbincangan mereka malam itu sangat random dan membahas mengenai banyak hal.


"Bunda!" Ucap Revan kepada istrinya.


Hana yang mendengarnya seketika mengerutkan keningnya. Ia lalu mendongakkan kepalanya menatap suaminya.


"Mulai sekarang kita ganti kata, aku, kamu, menjadi panggilan, Ayah dan Bunda, gimana, Cocok kan!" Ucapnya sumringah dan menatap manik mata istrinya.


"Kok Hana dengernya rada-rada geli yah, Mas!" Ucapnya sambil terkekeh. Malu juga kalau harus manggil Ayah dan Bunda. Kenapa tidak manggil biasa saja, pikirnya.


"Kok gitu sih. Kan bagus, sayang kalau panggilan sayangnya itu pake Ayah dan Bunda."


"Biar apa?"


"Biar orang-orang tahu kalau kamu itu punya aku."


Hana hanya bisa geleng-geleng kepala mendengarnya. Alasan yang sangat klise. Biarpun ia tidak menjelaskannya pada orang-orang, mereka pun akan tahu saat melihat cincin kawin masing-masing melingkar manis di jari mereka.


"Harus dibiasakan dari sekarang sayang, agar nanti saat kita punya anak lagi kita udah terbiasa. Kan bagus tuh kalau kita manggil Ayah, Bunda."


"Aku ngikut apa maunya, Mas Revan aja."


"Ayah, sayang!" Ucap Revan mengulangi ucapannya.


"Iya, A-ayah." Ucapnya terbata karena ia tidak terbiasa dan tidak begitu menyukai dengan panggilan seperti itu. Walaupun sebagian besar pasangan ingin melakukan itu, namun berbeda dengan Hana yang tidak menyukai panggilan seperti itu. Namun ia tidak ingin mengecewakan suaminya.


"Iya, B.U.N.D.A" Ucapnya lalu setelah itu ia memeluk tubuh istrinya dan mencium keningnya lama. Hana memejamkan matanya meresapi ciuman hangat suaminya. Hana yang diperlakukan seperti itu merasa seperti wanita yang sangat dicintai.


"Kira-kira nanti anak kita bakalan mirip siapa yah, Bunda?" Tanyanya antusias sambil menerawang ke depan.


"Entahlah, yah." Hana masih merasa kikuk dengan panggilan itu, namun ia harus membiasakan dari sekarang, "Biasanya sih, kalau anaknya cowok bakalan mirip sama Ibu nya. Kalau anak cewek akan mirip sama Ayahnya. Biasanya sih gitu, tapi enggak semua juga sih kayak gitu."


"Anak kita nanti pasti bakalan mirip deh sama aku."


"Yakin? Jangan sampai anaknya keluar miripnya sama aku, gimana?"


"Harus yakin dong! Kan, aku yang nanam benih itu pastinya anaknya juga bakalan mirip sama aku. Gen aku pasti yang lebih dominan, secara aku kan ganteng banget." Ucapnya penuh percaya diri.


"Iya, iya. Semaunya Ayah aja deh." Ucapnya mengiyakan ucapan suaminya yang sangat percaya diri. Belum juga keluar udah yakin seperti itu. Tapi yang paling penting adalah anak mereka nantinya sehat dan tidak kekurangan satupun.


Ditengah perbincangan mereka tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Suara yang terdengar dari luar sudah membuat mereka mengetahui siapa yang mengetuk pintu.


"Ayah, Bunda!" Ucap Jihan sambil mengetuk pintu kamar orang tuanya.


Revan segera membuka pintu dan terlihatlah anaknya yang sangat lucu menggunakan piyama minions dan boneka yang selalu menemaninya tidur.

__ADS_1


Revan berjongkok menyamakan tingginya dengan anaknya.


"Ada apa, sayang?" Tanyanya sambil membelai rambut hitam anaknya.


"Jihan pengen tidur sama, Ayah dan Bunda. Jihan takut tidur di kamar. Gorden di kamar Jihan terbang-terbang, Yah." Benar saja seperti itu, karena diluar mau hujan dan angin kencang membuat gorden di kamar anaknya seperti itu.


Revan tersenyum dan setelah itu ia beralih menggendong anaknya.


"Yasudah, Jihan boleh tidur malam ini sama, Ayah dan Bunda." Mendengar ucapan Ayahnya membuat Jihan tersenyum senang. Segera ia memeluk dengan gemas dan mencium pipi Ayahnya.


Revan dibuat tertawa oleh anaknya. Segera ia menutup pintu dan membawa anaknya menuju kasur. Segera ia menurunkan anaknya di kasur. Jihan segera memeluk erat Bundanya. Sudah lama juga ia tidak tidur bareng dengan Bundanya.


"Anak ompong Bunda kenape nih?" Ucapnya menirukan suara anak kecil di serial anak-anak yang sering anaknya tonton.


Jihan tertawa mendengar cara bicara Bundanya.


"Jihan takut tidur di kamar, Bunda. Kamarnya Jihan ada hantunya." Ucapnya berdigik ngeri,"Gorden kamar Jihan juga pada terbang-terbang." Jihan memeluk Bundanya erat, ngeri saat mengingat kejadian di kamarnya.


Hana yang mengetahui pokok permasalahannya dibuat tertawa oleh anaknya.


"Gordennya terbang karena ada angin sayang. Di luar mau hujan deras, makanya anginnya buat gordennya Jihan seperti itu."


Jihan yang mendengarnya perlahan melonggarkan pelukannya dan menatap manik mata Bundanya.


"Beneran enggak ada hantu, Bunda?"


Jihan pun menganggukkan kepalanya.


"Tapi, Jihan boleh kan tidur di sini, Bunda?" Ucapnya menampakkan puppy eyes nya.


"Iya, sayang."


Setelah itu Hana menyelimuti anaknya yang menguap pertanda anaknya itu sudah mengantuk, mengingat sekarang sudah pukul 23 lewat beberapa menit.


Jihan tidur di tengah-tengah mereka sambil memeluk Bundanya erat.


Revan sangat bersyukur bisa menjadi pelindung untuk dua orang yang sangat ia cintai. Segera ia mencium kening istri dan anaknya, setelah itu mereka tertidur dengan hati yang hangat.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


"Ayah, kejar Jihan." Ucap Jihan di tengah taman.


Melihat Ayahnya yang sudah berdiri dari duduknya membuatnya segera berlari menghindari kejaran Ayahnya dengan tawa riang menghias di wajahnya.


Mereka berlari ke sana kemari di tengah ramainya pengunjung di taman. Hari weekend mereka isi dengan melakukan piknik keluarga di taman.


Hana duduk di atas tikar yang mereka gerai di atas rumput. Menyaksikan suami dan anaknya yang bercanda ria di tengah taman. Cukup lama mereka berada di sana hingga mereka berjalan kembali kearahnya dengan peluh membanjiri kening mereka.

__ADS_1


"Ayah mau ke kafe beli minuman. Bunda mau ikut?"


Hana menggelengkan kepalanya.


"Bunda tunggu kalian disini saja. Jangan lama, yah!"


"Siap." Ucap keduanya.


Setelah itu Revan dan Jihan menyeberang jalanan menuju kearah kafe. Saat sudah sampai mereka bertemu dengan Arlan yang juga ada di sana.


"Ayah!" Ucap Jihan antusias dan segera turun dari gendongan Revan.


Jihan berlari kearah Ayahnya dan segera memeluknya. Arlan membalas pelukan anaknya dan menciumi seluruh wajah anaknya.


"Ayah ngapain disini sendirian."


"Ayah lagi tunggu pesanan, sayang." Ucapnya karena ia memesan minuman dan cemilan untuk ia makan di taman bersama istrinya.


"Sama dong, yah. Jihan sama Ayah juga mau beli minuman."


Dari arah depan, Revan menghampiri mereka. Jihan yang melihatnya segera meminta di turunkan dari gendongan Ayahnya.


Sekarang Jihan berada di tengah-tengah mereka yang terlihat melempar tatapan tajam.


"Mmm, biar Jihan aja yang pesan minumannya, Ayah." Ucap Jihan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sengaja melakukan itu agar bisa memberi ruang kepada kedua Ayahnya untuk bisa dekat, pikirnya.


"Jihan bisa?"


Dengan cepat Jihan menganggykkan kepalanya.


"Ayah sama Ayah duduk aja dulu." Bingung juga karena ia sekarang punya dua Ayah di depannya.


Revan dan Arlan pun menganggukkan kepalanya dan segera duduk saling berhadap-hadapan dengan tatapan tidak bersahabat.


Jihan pun berjalan ke depan untuk segera memesan minuman. Jihan memesan 3 jenis minuman untuknya dan kedua orang tuanya. Setelah memesan minuman, ia ingin bertanya kepada Ayahnya apakah Ayahnya mau membeli beberapa cemilan. Ia pun berbalik dan meneriaki Ayahnya.


Tak disangka oleh Jihan, kedua Ayahnya pun menatapnya dan sama-sama menyahuti panggilannya.


Jihan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat dua Ayahnya menatapnya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading😘


Jangan lupa yak di vote. Vote nya kk readers semakin hari semakin sedikit😢


Aku tunggu yah! jejak kalian.

__ADS_1


Salam story from By_me


__ADS_2