Hati yang Patah

Hati yang Patah
Adik Untuk Jihan


__ADS_3

"Mas Revan mau ngapain?"


"Aku mau kayak bule itu, sayang." Ucap Revan dengan nada sensual.


Seketika Hana dibuat merinding mendengarnya. Hana mengambil ancang-ancang dan segera berlari dari sana menghindari suaminya. Mereka berlari kejar-kejaran di atas pasir putih. Karena sudah sangat ngos-ngosan akhirnya Hana pun berhasil ditangkap dan dipeluk dari belakang oleh Revan. Kejadian selanjutnya, Revan mengangkat tubuh istrinya dari belakang dan memutarnya.


Mereka berdua tertawa lepas. Ibarat dunia hanya milik berdua dan yang lainya hanya numpang, mereka terbawa suasana dan tak memperdulikan orang-orang yang menatap mereka.


Karena sudah kelelahan, akhirnya Revan memberhentikan aksinya dan menurunkan tubuh istrinya untuk duduk bersamanya. Revan memeluk tubuh istrinya dari belakang sambil mencium puncak kepala istrinya yang dilapisi hijab berulang kali.


"I love you!"


"I love you more, Mas!" Ucapnya lembut di dalam pelukan suaminya.


"Pulang, yuk, sayang." Ucapnya, karena ia ingin menghabiskan waktu dengan istrinya di kamar.


"Nanti, aja, Mas. Aku mau ngelihat matahari tenggelam."


Karena tidak mau mengecewakan istrinya, akhirnya Revan mengalah dan menuruti keinginan istrinya. Keinginannya untuk berdua, harus ia pendam dulu, sabar, sabar, batinnya mengatakan.


Matahari perlahan mulai tenggelam dan sinar kemerahan di langit mulai terlihat. Suasana romantis dan desiran angin membuat Revan semakin mengeratkan pelukannya di tubuh istrinya.


"Kenapa kamu suka sekali melihat matahari tenggelam, sayang?" Tanyanya, karena setiap membawa istrinya itu ke pantai maka ia akan selalu melihat matahari tenggelam.


Hana terdiam untuk sesaat. Ia menghela nafasnya sebelum kembali berbicara.


"Hana sangat suka dengan matahari tenggelam karena membuatku mengingat kenangan indah dengan Ayah dan Ibuku dulu."


Hana menghela nafas dan menghembuskannya.


"Sewaktu kedua orang tuaku masih hidup, mereka selalu punya waktu menemaniku bermain di pantai. Walaupun dengan uang pas-pasan, mereka tetap mengutamakan kebahagiaanku. Bermain air, bermain pasir, kejar-kejaran sampai melihat matahari tenggelam bersama-sama. Setiap melihat matahari tenggelam selalu mengingatkanku pada kedua orang tuaku. Melihat matahari temggelam, aku merasa kalau kedua orang tuaku yang berada disana dan tersenyum kepadaku."


"Tuh, kan. Hana jadi mellow. Mas Revan sih, mancing-mancing Hana. Ucap Hana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Jujur saja, saat ini Hana sangat rindu dengan kedua orang tuanya. Ditinggalkan sendiri tanpa saudara yang menemani. Walaupun ada pamannya, namun semuanya tak sama.

__ADS_1


Hana sangat rindu kasih sayang orang tuanya. Sakit rasanya ditinggalkan di saat masa pertumbuhannya menginjak masa remaja, dimana semua teman sebayanya masih memiliki orang tua utuh dan ada yang menemani mereka di saat hari kelulusan. Namun berbeda dengan Hana, ia sendiri tanpa dampingan orang tuanya.


Hana mulai terisak dan menundukkan pandangannya. Revan tak tega melihat istrinya menangis. Hatinya terasa ngilu melihat kesedihannya. Setelah mendengar curahan isi hati istrinya membuat Revan sadar bahwa istrinya yang periang dan selalu tersenyum ternyata dibalik itu semua ada kesedihan yang mendalam.


Revan membalikkan tubuh istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya. Membelai rambutnya pelan sambil menenangkannya. Sakit rasanya melihat orang yang dicintai bersedih seperti ini.


Hana membenamkan wajahnya di dada suaminya. Memeluknya erat dan menuangkan tangis kesedihannya di sana. Ia terus menangis di pelukan suaminya.


"Tidak apa-apa kan, Hana nangisin mereka, Mas. Hana sangat rindu mereka sampai-sampai dada ini sakit."


Mendengar penuturan istrinya membuat air mata jatuh di pipinya. Revan mengeratkan pelukannya.


"Enggak apa-apa. Asalkan nangisnya jangan yang meraung-raung, sayang. Rindu kepada orang yang telah meninggalkan kita itu adalah hal wajar. Menangislah, jangan ditahan."


Hana mengeluarkan semua sedihnya. Selama ini ia berusaha menguatkan dirinya dan menyembunyikan kesedihannya di balik senyumannya. Hari ini setelah bertahun-tahun lamanya Hana sok kuat dan tegar, akhirnya tangisnya keluar juga. Ia tak pernah mencurahkan kerinduan akan orang tuanya kepada orang lain, tidak juga kepada mantan suaminya sekalipun. Namun tidak dengan Revan, ia mencurahkan segalanya dan menunjukkan sisi sedihnya itu di depan suaminya.


Lama mereka berpelukan seperti itu. Hana menangis dengan sesenggukan di pelukan suaminya, sedangkan Revan juga ikut menangis namun tanpa terdengar isakan keluar dari mulutnya.


Setelah tangisnya reda, mereka kembali duduk seperti awal tadi sambil memandang matahari tenggelam.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Hana mengirimkan doa tulus kepada kedua orang tuanya berharap doanya diijabah dan kedua orang tuanya bersama dengan orang-orang yang Allah kasihi.


Setelah selesai sholat isya dan makan malam, kini mereka telah berada di atas ranjang dan menyaksikan tayangan televisi di depan mereka.


Tiba-tiba ponsel milik Revan berbunyi. Revan segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas dan melihat panggilan di ponselnya. Ternyata yang menghubunginya adalah Papa Surya. Papa Surya melakukan panggilan video call dari ponselnya. Segera Revan menggeser ke atas tombol hijaunya.


"Bunda, Ayah!" Teriakan kegirangan Jihan di layar ponsel milik Revan. Seketika Hana berbinar dan mempwrhatikan layar ponsel suaminya yang memperlihatkan wajah anaknya yang sangat ia rindukan.


"Hy, sayang." Ucap keduanya.


"Bunda, Ayah, Jihan kangen banget sama kalian. Kapan kalian pulang." Rengek anaknya di balik pangggilan video. Terlihat jelas kerinduan anaknya kepada mereka.


"Bunda sama Ayah akan pulang lusa, sayang. Sabar yah! Nanti Bunda sama Ayah pulang bakalan bawa oleh-oleh buat anak Bunda yang ompong ini." Ucapnya gemas merasa ingin mencubit pipi temben dan memeluk anaknya.

__ADS_1


Jihan tampak berbinar mendengar Bunda dan Ayahnya akan segera pulang dan membawa oleh-oleh yang banyak.


"Yeay, Bunda sama Ayah akan pulang. Jangan lupa sama hadiahnya yah, Bunda!"


"Iya, sayang."


Lama mereka berbincang-bincang melepas rindu dengan Jihan. Setelah cukup lama, sekarang gantian Papa Surya dan Mama Ajeng yang mengajak mereka berbicara.


"Bagaimana kabar kalian disana, sayang?" Tanya Mama Ajeng.


"Alhamdulillah, kita sehat wal afiat disini, Ma, Pa. "


"Baguslah kalau begitu. Papa sama Mama bahagia mendengarnya."


"Bagaimana dengan program kalian di sana?" Tanya Mama Ajeng to the point.


"Program? Program apaan, Ma?" Tanya Revan yang tidak mengerti dengan maksud Mamanya.


"Kamu ini. Maksud Mama tuh, program bulan madunya. Gimana? Kami berharap setelah pulang dari sana, akan ada adek buat Jihan."


Hana yang mendengarnya seketika terbatuk-batuk.


Revan membantu istrinya dengan memberikan air putih.


"Mama kok, nanya kagak gitu. Ya, pastilah kalau itu kami selalu bertarung setiap malam. Jangan takut. Berita baiknya pasti akan segera datang."


Wajah Hana sudah memerah mendengar jawaban suaminya yang seakan tak malu membicarakan itu di depan kedua orang tuanya.


Papa dan Mama tersenyum mendengarnya. Karena tak ingin mengganggu bulan madu anak mereka, akhirnya Mama Ajeng menutup panggilan video mereka agar anak dan menantunya bisa program dan memberikan mereka cucu.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Yuhuu kk readers semua. Jangan lupa tinggalin jejak yah. Klik like, komen dan beri vote sebagai bentuk dukungan kalian pada novel yang kalian baca. Ingat, jangan pelit!😊😊😊😀


Salam story from By_me

__ADS_1


__ADS_2