
Pada pukul 07.25 Hana sudah sampai di perusahaan. Hana berjalan masuk menuju lobi kantor yang kala itu sangat banyak sekali karyawan yang lalu lalang.
Hana berjalan menuju lift namun tiba-tiba ada seseorang yang dengan sengaja menyenggolnya dari samping, sehingga membuatnya tak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Alhasil, ia jatuh tersungkur ke lantai.
Hana menegok ke atas melihat siapa yang telah tega membuatnya terjatuh. Ternyata dia adalah Farah, karyawan divisi keuangan yang pernah menjadi sekertaris Revan selama seminggu saat Hana sedang cuti.
Entah apa motif Farah melakukan hal itu pada Hana, sedangkan Hana tak pernah mencari gara-gara dengannya.
Hana berusaha memungut berkas-berkas yang berantakan akibat tadi ia terjatuh. Bukannya menolong Hana, Farah malah tinggal berdiri di sampingnya sambil bersedekap.
Hana hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dan perilaku wanita di sampingnya ini. Saat semua berkas telah ia bereskan, ia bangkit dan merapikan pakaiannya yang agak sedikit kusut akibat kejadian tadi.
Hana memandang wanita di depannya berharap agar dia mau minta maaf padanya, namun bukannya minta maaf Farah malah tersenyum mengejek kearah Hana sambil bersedekap di sampingnya.
" Mbak nggak mau minta maaf sama saya?"
" Memangnya kamu siapa hah? yang salah itu kamu sendiri kenapa jalan tidak pake mata."
" Kalau mbak nggak tahu nama saya, kalau begitu perkenalkan nama saya Hana, Farhana Almeera. Sekertarisnya pak Revan. Dan satu hal lagi, saya kalau jalan itu pakai kaki bukan pakai mata."
" Banyak bicara yah, kamu ini. Dasar, cuma wanita murahan aja belagu."
Hana merasa panas mendengar wanita yang tidak tahu apa-apa tentang dirinya tiba-tiba mengatakan kalau ia wanita murahan. Hana berusaha menahan amarahnya dengan menarik nafas panjang.
" Mohon maaf mbak, tapi saya harus pergi. Saya tidak punya waktu meladeni omongan mbak.Permisi." Hana berbalik badan dan
berjalan menuju lift. Tidak ada juga gunanya meladeni omongan Farah, bisa-bisa kalau ia masih tinggal ia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.
Hana berbalik badan dan kembali berjalan menjuju lift.
" Dasar wanita murahan, kami semua tahu kalau kamu itu menjual tubuhmu agar bisa menjadi sekertarisnya pak Revan. Dasar!"
Mendengar hal itu membuat Hana memberhentikan langkahnya. Ia berbalik badan melihat ke arah Farah. Saat ia melihat ke samping, ternyata banyak pasang mata yang melihat mereka. Hana tak memperdulikan tatapan mereka. Ia berjalan mendekat ke arah Farah. Saat jarak mereka setengah meter, barulah Hana berhenti.
" Mbak jangan menguji kesabaran saya yah, saya dari tadi disenggol sama mbak nggak marah. Saya dikatain murahan sama mbak, juga nggak marah. Tapi melihat tingkah mbak yang sudah merendahkan harga diri saya membuat saya tidak bisa tinggal diam."
" Terus lo mau apa hah? memang lo itu cuma wanita simpanannya bos."
" Jangan sampai saya melaporkan mbak ke polisi karena telah melakukan tindakan fitnah dan pencemaran nama baik. Sebelum saya melakukan itu, lebih baik mbak tarik kembali kata-kata mbak yang tadi!"
__ADS_1
" Kalau saya nggak mau, kamu mau apa?" Farah berkata sambil melototkan matanya ke arah Hana.
Hana sudah tidak tahu tindakan apa lagi yang harus dilakukannya kepada wanita ini.
Semua mata sekarang tertuju ke arah mereka berdua. Tidak ada yang berusaha menengahi mereka. Mereka hanya tinggal diam dan sebagian juga berbisik-bisik.
Hana sudah berusaha menahan amarahnya karena ucapan wanita di depannya. Ia berjalam semakin mendekat hingga tersisa beberapa senti jarak mereka.
" Mbak punya bukti kalau saya ini wanita simpanannya pak Revan. Mbak sekarang tinggal pilih, mau minta maaf sama saya dan saya tidak akan melaporkan hal ini kepada pak Revan. Bagaimana?"
" Kamu mengancam saya hah?" Ia berteriak dan mendorong Hana dengan keras ke belakang. Hana tak bisa mengendalikan keseimbangannya namun untung saja ada yang menahan badannya sehingga ia tak jatuh.
" Kamu tidak kenapa-napa?" Suara seorang wanita yang menolong Hana.
Hana melihat siapa orang itu, ternyata ia adalah sahabatnya, Andin.
" Iya, nggak apa-apa!"
Hana kembali berdiri tegak setelah dibantu oleh Andin. Andin menatap dengan kesal ke arah rekan satu divisinya. Ia tak heran kalau Farah berbuat seperti itu kepada Hana, karena memang dia dikenal suka cari gara-gara dengan orang lain.
" Sebenarnya masalah kamu apa hah?" Katanya dengan nada marah. Ia tak terima sahabatnya diperlakukan seperti itu oleh wanita ular ini.
" Bagaimana saya mau diam kalau sahabat saya diperlakukan seperti ini. Kalian semua juga sama saja dengan wanita ini. Bukannya bantu, malah asik menonton. Heran saya." Andin meneriaki para karyawan yang dari tadi hanya melihat tanpa menengahi mereka.
" Andin udah, mending kita pergi dari sini. Ayo."
Hana berusaha menarik tangan sahabatnya untuk menjauh dari sana. Ia tak ingin hanya gara-gara dia, sahabatnya juga ikut terlibat.
Andin melepaskan pegangan tangan Hana.
" Ini nggak bisa dibiarin Han, dia ini sudah keterlaluan sama kamu. Dia sudah kelewat batas."
" Udah ndin. Kali ini aku bakalan maafin dia, tapi kalau nanti dia melakukannya lagi aku sendiri yang akan memeberinya jerah." Mendengar penuturan Hana membuat emosi Andin mereda.
" Lo kira lo siapa hah, mau melakukan itu sama saya." Si Farah kembali berbicara dengan keangkuhannya.
Sumpah, ni wanita ular memang mau di bikin dendeng balado kayaknya. Batin Andin.
" Lo emang nggak tahu malu yah. Liat aja, gue bakalan laporin lo ke pak direktur. Biar sekalian dipecat aja. Nggak ada gunanya juga punya karyawan yang mulutnya nggak di sekolahin."
__ADS_1
" Emang lo berani, laporin aja sana. Lagian juga pak Revan itu suka sama saya, jadi tidak mungkin dia melakukan itu." Dia berkata dengan sombongnya.
"Lo..."
Tiba-tiba....
" Diam..." Tiba-tiba ada suara laki-laki yang berteriak. Semua menatap ke arah sumber suara. Dan deg, semua orang tampak menunduk. Revan berjalan ke arah Hana dan menatap dengan kesal ke arah Farah.
" Mulai hari ini saya memecat Anda secara tidak hormat, jadi silahkan Anda bereskan semua barang-barang Anda."
Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Revan membuat Farah seketika dibuat syok.
" P...Pak Revan, kenapa saya dipecat. Apa salah saya?"
" Kamu masih belum sadar juga dengan kesalahan kamu?. Baik, akan saya jelaskan kesalahan kamu."
" Yang pertama, kamu sudah membuat keonaran di perusahaan saya. Yang ke dua, kamu sudah memfitnah atasan kamu sendiri dengan gosip murahan kamu itu. Jadi, sudah jelas kan, alasan saya."
" T...Tapi pak, ini semua tidak seperti yang bapak fikirkan. Saya..."
" Kamu kira saya buta hah?. Saya sudah melihat apa yang telah kamu lakukan tadi kepada sesama rekan kerja kamu. Jadi, saya mau sekarang kamu bereskan barang-barangmu dan jangan pernah lagi injakkan kaki di perusahaan saya. Mengerti?"
Mendapat perlakuan seperti itu membuat Farah menangis dan segera berlalu dari sana. Revan memandang dengan tajam karyawannya yang masih diam di sana.
" Kalian juga mau saya pecat?. Bubar sekarang juga. Satu, dua..." Revan meneriaki mereka semua. Belum selesai Revan berbicara mereka semua sudah lari dari sana.
Hana kembali memandang kearah Hana.
" Hana, kamu ikut sama saya sekarang!"
" Baik pak."
Revan berjalan duluan dan Hana mengikutinya dari belakang. Hana menegok ke belakang dan melambaikan tangannya kearah Andin setelah itu ia masuk ke dalam lift bersama Revan.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guys nya😘
Jangan lupa like dan kasi vote nya, karena vote gratis kok😊
__ADS_1
Salam story from By_me...