
Jihan memesan 3 jenis minuman untuknya dan kedua orang tuanya. Setelah memesan minuman, ia ingin bertanya kepada Ayahnya apakah Ayahnya mau membeli beberapa cemilan. Ia pun berbalik dan meneriaki Ayahnya.
Tak disangka oleh Jihan, kedua Ayahnya pun menatapnya dan sama-sama menyahuti panggilannya.
Jihan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat dua Ayahnya menatapnya.
"Ada apa, sayang?" Ucap kedua Ayah Jihan bersamaan. Mereka yang baru menyadari itu seketika saling menatap dengan tajam.
"Mmm, Jihan manggilnya Ayah itu." Tunjuknya pada Revan.
Revan langsung menatap Arlan dengan senyum miring ia tampakkan di wajahnya. Arlan sangat geram melihat senyum mengejek dari lelaki yang telah menjadi Ayah sambung dari anaknya.
"Ada apa, sayang?" Tanyanya saat kembali menatap anaknya.
"Mmm...Ayah enggak mau pesan makanan?"
"Pesan aja yang Jihan mau makan, sayang!"
"Biar Ayah saja yang bayar, yah, sayang?" Ucap Arlan berharap anaknya mengiyakan
ucapannya.
"Biar Ayah saja yang bayar!" Ucap Revan kepada anaknya.
"Biar Ayah saja yang bayar!" Ucap Arlan tak mau kalah dari Revan.
Persaingan pun terjadi di dalam sana. Dua lelaki tadi saling sahut-sahutan tak mau kalah siapa yang membayar untuk anaknya.
Jihan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kepalanya pusing menatap kedua Ayahnya yang sama-sama tak mau mengalah. Jihan yang melihatnya pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Stop. Ayah Revan, Ayah Arlan, stop!" Ucap Jihan menegaskan menyebut nama kedua Ayahnya di belakang kata Ayah. Mulai sekarang jika kedua Ayahnya ini bersama maka ia akan memanggil nama Ayahnya dengan mengikutsertakan nama mereka masing-masing karena ia sekarang punya dua Ayah. Pusing juga berada di situasi seperti ini. Kedua Ayahnya itu tidak tahu tempat, layaknya seperti anak kecil tidak ada yang mau mengalah.
Berhasil. Kedua Ayahnya terdiam dan menatap Jihan penuh tanda tanya.
"Begini saja, karena Ayah Revan dan Ayah Arlan tidak ada yang mau mengalah, biarkan Jihan yang mengatur. Ayah Revan bayar minumannya Jihan dan Ayah Arlan bayar makanannya Jihan. Adil kan!"
__ADS_1
Keduanya saling pandang dalam diam. Detik berikutnya mereka menyahut dan menyetujui saran dari anaknya.
"Good boy!" Ucap Jihan mengangkat dua jempolnya kearah kedua Ayahnya.
pengunjung yang melihatnya tertawa melihat kepintaran anak usia lima tahun yang bisa memediasi dua lelaki yang dari tadi berdebat dan membuat sebagian pengunjung menatap kearah mereka. Gadis kecil yang lucu bisa membuat kedua lelaki yang tadi berdebat seketika diam layaknya kerbau yang dicocol hidungnya.
Pesanan Arlan dan Revan pun akhirnya datang. Mereka mengambil pesanan mereka masing-masing di salah satu tangan mereka. Revan memegang pesananya di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk memegang tangan anaknya.
Tanpa ia duga, Arlan sudah berada di dekat mereka dan juga menggandeng tangan Jihan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk memegang pesanannya tadi.
Revan menatap Arlan tajam. Arlan yang tak mau kalah menatap Revan sama tajamnya.
Jihan lagi-lagi harus memediasi keduanya agar tidak terjadi perdebatan. Ia mendengus kesal diantara keduanya, namun ia berusaha menahan egonya agar kedua Ayahnya itu bisa akur.
"Ayo, jalan!" Ucapnya menarik kedua tangannya di dalam pegangan kedua Ayahnya agar para Ayahnya itu tak lagi saling menatap tajam.
Lagi-lagi berhasil. Kedua Ayahnya itu jalan menatap ke depan sambil memegang tangannya. Mereka menyeberang jalan dengan masih saling pegangan tangan. Mereka layaknya keluarga kecil bahagia. Di fikirannya mereka layaknya Ayah, anak dan Ibu. Jihan ingin sekali tertawa tapi sebisa mungkin ia tahan.
Tujuan mereka sama-sama ingin menuju ke taman, makanya Arlan ikut dan juga memegang tangan anaknya.
"Ada di sana." Tunjuknya di pinggir taman di bawah pohon rindang. Indah ada di sana sedang duduk bersila diatas tikar.
Jihan pun menganggukkan kepalanya dan pamit pada Ayah Arlan untuk kembali menghampiri Bundanya.
"Lama banget. Pesanannya pasti banyak banget sampai-sampai baru datang." Ucapnya saat suami dan anaknya sudah duduk di sampingnya.
"Enggak, ini aja. Tapi tadi kebetulan kita ketemu sama si laki itu." Ucapnya setengah berbisik takut anaknya dengar.
Hana mengerutkan keningnya mendengar ucapan suaminya. Ia pun bertanya dengan gerakan kepada suaminya.
"Mantan kamu." Ucapnya berbisik kepada istrinya. Ia memang tidak suka menyebut nama Arlan.
"Oh." Ucapnya sambil menganggukkan kepalanya. Ia sudah tidak perduli dan tidak mau tahu mengenai mantan suaminya. Sudah lama juga mereka tidak bertemu, pikirnya.
"Pelan-pelan, sayang." Ucap Hana karena melihat anaknya makan dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Iya, Bunda. Ucap Jihan sambil mengunyah makanannya. Setelah makannya sudah ia telan, segera ia minum dan menyimpannya kembali ke atas tikar.
"Jihan mau nyamperin, Ayah Arlan dulu, Bunda."
"Dimana, sayang?"
"Di sana, Bunda." Tunjuknya pada arah Ayahnya yang berada di pinggir taman bersama Indah.
"Yaudah, habis dari sana langsung ke sini yah!"
"Siap, Bunda."
Setelah pamit pada Ayah dan Bundanya Jihan segera berlari kearah Ayah dan Ibu tiri nya. Hana dan Revan memperhatikan anaknya dari kejauhan.
Jihan menghampiri mereka dan terlihat berbincang-bincang dan sesekali bercanda dengan Ayahnya. Selanjutnya Jihan terlihat mengajak Indah berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan, namun anaknya itu pasti akan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang akan membuat Ayah dan Ibu tirinya itu bingung mau jawab apa. Terlihat saat Jihan berbicara, Arlan dan Indah saling pandang dan menggaruk tengkuk mereka yang tidak gatal.
"Jihan pasti nanya nya aneh-aneh, deh, yah. Liat aja mereka kayak kebingungan gitu."
Revan menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan istrinya.
"Biarin aja, Bun. Biarin mereka mikir dulu." Ucapnya sambil terkekeh. Hana ikut tertawa bersama suaminya.
Hana dan Revan berbincang-bincang sambil menatap kearah anaknya. Tak lupa minuman dan cemilan ikut masuk ke mulut mereka. Jihan masih berada di sana. Mulut anaknya itu terlihat tak pernah berhenti berbicara.
"Kira-kira Jihan nanya apa, yah?" Tanyanya penasaran.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy readingš
Jangan lupa tinggalin jejak dengan like, komen dan vote nya.
Mungkin lebih baik cerita Hana dan Revan segera di tamat in aja yah. Terus diganti sama ceritanya Rafael dan Alisya, sahabatnya Revan yang udah lama nyari Alisya si tomboy. Kalian masih ingat kan sama babang Rafael sahabatnya Revan. Komen di bawah, lanjut ceritanya Revan dan Hana atau di ganti aja sama ceritanya Refael dan Alisya.ā¤
Salam story from By_me
__ADS_1