Hati yang Patah

Hati yang Patah
Mendapat Restu dari Ibu


__ADS_3

" Aku serius Hana, aku maunya kamu yang menjadi istriku. Bukan orang lain! "


Hana langsung memberhentikan langkah kakinya mendengar hal itu, Hana berbalik badan dan menatap ke arah Revan, mereka saling memandang dalam diam dan tiba-tiba...


" Hana " suara Ibu memanggil Hana.


Hana langsung berbalik badan menatap ke arah Ibu. Hana berjalan ke arah Ibu dan meninggalkan Revan di belakang.


" Ibu kenapa diluar?"


" Nggak, Ibu tadi dengar suara kamu dari dalam rumah, tapi sampai sekarang belum juga kelihatan, makanya Ibu ke depan."


" Oh, kalau gitu kita masuk yah, Bu. Udah mau maghrib."


Hana merangkul pundak Ibu dan berniat membawanya masuk, namun Ibu menghentikan langkahnya.


" Ada apa lagi, Bu?"


" Teman kamu nggak kamu suruh masuk dulu? udah dari tadi loh, dia disitu Nak."


Mendengar penuturan Ibu membuat Hana kembali berbalik ke arah Revan. Sebenarnya Hana sangat malas mengajak Revan masuk, nanti dia berbicara yang tidak- tidak kepada Jihan.


" Oh iya, Ibu duluan aja masuknya. Nanti Hana nyusul."


Ibu menganggukkan kepalanya dan sekilas tersenyum kearah Revan, setelah itu barulah ia masuk.


Revan berjalan ke arah Hana. Jas yang ia kenakan sudah ia letakkan di pundaknya.


" Aku nggak kamu suruh masuk nih?"


" Walaupun aku larang, Mas Revan tetap aja bakalan masuk. Jadi, nggak ada gunanya aku ngomong."


Revan menanggapinya dengan tersenyum. Setelah itu, ia mengikuti Hana masuk ke dalam rumah.


Jihan yang berada di ruang keluarga dengan Ana dan neneknya, seketika langsung berdiri dan memeluk Revan saat melihat Revan datang bersama Bundanya.


" Om Revan, Jihan kangen banget sama om Revan!"


" Om Revan juga sama, kangen banget sama Jihan."


Setelah itu Jihan menarik tangan Revan dan membawanya duduk di sofa.


" Om, kenalin ini neneknya Jihan."


Revan menyalami tangan Ibu suri dan memperkenalkan diri. Setelah itu mereka berbincang- bincang sekedar basa- basi.


Jihan kembali menarik tangan Revan dan mengajaknya duduk dan bermain boneka dengannya beserta Ana.


Ibu Suri merasa bahagia dan juga sedih melihat Jihan dengan Revan. Bahagia karena Revan terlihat sangat menyayangi cucunya, namun ia merasa sedih karena anaknya sudah menyia- nyiakan tanggungjawabnya terhadap anak dan istrinya.

__ADS_1


Hana dari tadi memperhatikan interaksi antara Jihan dan juga Revan. Hana melihat bahwa anaknya sangat dekat dengan Revan. Tiba-tiba, Hana berfikir yang tidak-tidak. Hana segera menggelengkan kepalanya mengusir pemikiran itu.


" An, kamu buatin Mas Revan minum yah, mbak mau ke atas dulu."


" Iya mbak."


Setelah itu Hana berjalan ke arah tangga dan naik ke kamarnya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


15 menit kemudian Hana telah selesai dan kembali ke ruang keluarga. Mereka menonton sambil bercengkerama.


Revan melihat jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 17.50. Ia melirik kearah Hana dan pamit untuk pulang, namun Ibu tak mengizinkan Revan pulang sekarang.


" Kenapa buru- buru sekali nak, ini juga mau maghrib. Tidak baik berkendara saat menjelang maghrib. Mending sekarang nak Revan ambil air wudhu dulu. Setelah itu, kita sholat maghrib sama- sama."


Akhirnya Revan mengiyakan permintaan dari Ibu Suri dan mengambil air wudhu di temani oleh Jihan.


Kali ini, Revan bertugas sebagai imam sholat, diikuti oleh Hana, Ibu Suri, Ana dan Jihan yang menjadi makmumnya. Mereka pun menunaikan ibadah sholat maghrib dengan tuma'ninah. Saat telah selesai sholat, Hana tidak menyangka bahwa suara Revan sangat merdu saat tadi menjadi imam sholat.


Ya, suara Revan memang sangat merdu karena ia adalah lulusan pesantren. Ia dikirim masuk pesantren saat masih SD-SMP karena dulu dia termasuk anak yang nakal, jadi orang tuanya mengirim Revan masuk pesantren berharap ia akan menjadi anak yang penurut.


Karena orang tua Revan melihat sudah ada perubahan pada anaknya maka dari itu saat


masuk SMA, barulah Revan di sekolahkan di sekolah negeri. Karena alasan itu pulalah, sampai sekarang Revan tak pernah berpacaran dan dekat dengan wanita. Ia ingin langsung mengkhitbah anak orang katanya.


Selesai sholat, Revan menyalami tangan Ibu Suri. setelah itu, mereka kembali ke ruang keluarga.


" Nggak jauh kok bu, apartemen saya dekat dari sini."


" Oh, kalau begitu nak Revan nanti aja pulangnya. Kita makan malam dulu sama-sama."


Revan tak langsung menjawab, ia memandang ke arah Hana ingin meminta persetujuan dan akhirnya Hana pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah itu, barulah Revan menjawab ajakan makan malam dari Ibu.


Hana dan Ana memasak untuk makan malam di dapur. Sedangkan Ibu, Revan dan Jihan duduk di ruang keluarga. Jihan mengabaikan Revan dan neneknya karena ia sedang asyik memainkan game di ponsel milik Revan.


Tiba- tiba Ibu Suri mengajukan pertanyaan kepada Revan.


" Kamu temannya Hana yah, nak?"


" Iya bu, saya teman dan juga sekaligus bosnya di tempat kerja Hana sekarang."


" Oh, jadi nak Revan ini bosnya Hana di kantor?"


" Iya, bu."


" Nak Revan sudah lama kenal dengan anak Ibu?"


" Baru beberapa bulan bu. Saya kenal sama Hana saat dia baru ke Jakarta. Saat itu Hana tinggal di rumah orang tua saya. Seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat dan orang tua saya juga sangat sayang kepada Hana dan Jihan. Mereka sudah kami anggap seperti keluarga sendiri. "

__ADS_1


Ibu tampak menganggukkan kepalanya mendengar penuturan Revan.


" Bisa Ibu minta tolong sama kamu satu hal!"


" Ibu mau minta tolong apa? kalau Revan bisa, pasti akan Revan bantu!"


" Ibu minta tolong supaya nanti saat Ibu sudah balik ke kampung, kamu jagain anak dan cucu Ibu. Karena di sini mereka tidak punya siapa- siapa. Ibu harap kamu bisa jaga mereka untuk Ibu yah, nak!"


Revan menganggukkan kepalanya mendengar permintaan Ibu.


" Pasti bu, Revan akan jagain mereka. Ibu bisa percaya sama saya."


" Ibu percayakan mereka sama kamu nak, karena kepercayaan Ibu sama anak Ibu sendiri sudah hilang. Ibu berkata seperti ini, karena Ibu bisa lihat kalau kamu sangat menyayangi anak dan cucu Ibu."


Revan tersentak oleh penuturan Ibu Suri, mengapa Ibu suri bisa tahu itu?, batinnya.


Ibu tersenyum melihat ekspresi Revan. Sebenarnya saat tadi Revan dan Hana berbicara di depan, Ibu mendengar semua percakapan mereka.


" Nak Revan nggak usah tanya dari mana Ibu bisa tahu, tapi dari tatapan matanya nak Revan kepada Hana sudah bisa membuat Ibu mengerti."


" Jadi, Ibu tidak masalah kalau saya nantinya yang menggantikan anak Ibu menjaga Hana dan Jihan?"


Ibu tersenyum hangat kearah Revan, "Kebahagiaan anak dan cucu Ibu itu nomer satu nak Revan. Hana dan Jihan berhak bahagia. Anak Ibu sudah meninggalkan berlian demi mengejar pecahan beling. Jadi, ibu harap kamu tidak seperti anak Ibu nantinya!"


" Jadi, Ibu sudah merestui kalau misalnya saya melamar Hana?"


Ibu tersenyum dan kembali menganggukkan kepalanya. Melihat hal itu membuat Revan sangat bahagia. Setelah itu Revan menggenggam tangan Ibu dan mencium tangan Ibu berkali kali.


" Terima kasih bu, Revan janji!, Revan akan menjaga Hana dan Jihan di samping Revan dengan baik."


" Ibu percaya sama kamu."


Mendengar penuturan Ibu membuat Revan tersenyum sumringah. Ia telah mendapatkan restu dari Ibu, tinggal menunggu keputusan dari Hana. Tidak sia- sia ia tadi mampir, pikirnya di dalam hati.


Namun tak lama setelah itu, suara Hana menginterupsi pembicaraan Revan dan Ibu Suri.


" Makanannya sudah siap Bu, Mas Revan. Ayo, kita makan."


Revan dan Ibu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja makan.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Happy reading guys ny😘😘


Mohon maaf karena beberapa hari ini tidak up, Karena ada beberapa urusan yang tidak bisa di tinggal.


Jangan lupa like, komen dan kalau kk berkenan beri juga vote nya yah!!


Wassalam.

__ADS_1


Salam story from By_me...


__ADS_2