Hati yang Patah

Hati yang Patah
Jalan Tengah


__ADS_3

Revan dan keluarga kecilnya, kini telah berada di dalam mobil. Mobilnya melaju dengan kecepatan sedang. Selama perjalanan tidak ada yang memulai pembicaraan. Suasan hening mengisi perjalanan pulang mereka. Hana terdiam, melamunkan setiap ucapan mantan suaminya tadi. Revan pun mengerti akan apa yang membuat istrinya itu bungkam.


Sebelum berangkat tadi, rencananya Hana ingin sekalian membeli keperluan dapur dan juga keperluan anak-anaknya yang sudah hampir habis. Namun karena insiden tadi di restoran, membuatnya mengurungkan niatnya untuk berbelanja. Mood nya sudah hilang dengan apa yang baru saja terjadi.


Suara celotehan dari anak-anak mereka pun tidak lagi terdengar. Karena kelelahan, akhirnya semua anaknya kini telah tertidur dengan lelapnya di jok belakang.


30 menit berkendara, akhirnya kendaraan Revan pun memasuki halaman rumahnya. Revan membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu belakang untuk mengangkat anak-anaknya memasuki rumah. Hana langsung mengangkat Jihan ke dalam gendongannya dan membawanya langsung menuju kamar.


Diletakkannya anak gadisnya dengan perlahan di atas kasur. Hana ikut membaringkan tubuhnya di samping anaknya dan membawa anak gadisnya itu ke dalam pelukannya. Hana menutup matanya sambil memeluk dengan erat anak gadisnya. Ia tidak rela kalau sampai anaknya ini dibawa pergi darinya.


Hana meregangkan pelukannya dan merapikan rambut anaknya ke belakang. Diciumnya kening anaknya dengan penuh kasih sayang.


"Jihan hanya anak, Bunda!" Gumamnya lirih. Hal itu ia ucapkan berkali-kali sambil membelai dengan sayang anaknya.


Perasaan tidak rela kini menghinggapi hatinya. Bagaimana tidak, setelah bertahun-tahun lamanya hilang tanpa kabar bak di telan bumi, kini dengan entengnya sosok ayah kandung datang ingin mengambil anaknya.


Bukannya Hana egois atau lebih memikirkan dirinya sendiri, namun apabila ada sosok ibu yang mengalami hal yang sama dengan yang ia rasakan, pastilah ibu itu juga akan melakukan hal yang sama. Memiliki perasaan tidak rela dipisahkan dengan sang buah hati.


Berkali-kali Hana menciumi anaknya dan membelainya dengan sayang. Tanpa Hana sadari, sudah dari tadi Revan memperhatikannya dari balik pintu.


"Sayang!" Ucap Revan pelan sambil menyentuh pundak istrinya.


Hana yang mendengar panggilan suaminya pun bangun dari tidurnya. Setelah menyelimuti anaknya dan mematikan lampu kamar, mereka pun keluar dari sana.


Kini Hana dan Revan telah membaringkan badannya di atas ranjang. Hana menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Lagi-lagi Hana kembali memikirkan akan permintaan dari mantan suaminya tadi.


Revan yang menyadari istrinya itu belum tidur pun memulai pembicaraan.


"Masih mikirin yang tadi?" Tanya nya dengan suara pelan.

__ADS_1


Hana menjawab dengan anggukan kepala di pelukan suaminya, "Hana takut, mas..." Jawabnya dengan nada lirih.


"Takut kenapa lagi, sayang?"


Hana terdengar menghela napas


"Hana takut jangan sampai Jihan dibawa pergi sama Ayahnya, mas! Hana enggak bisa jauh-jauh dari Jihan! Hana enggak rela kalau sampai nanti Jihan..." Belum sempat Hana menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh suaminya.


"Ssstt... Jihan enggak akan di bawa jauh-jauh dari kamu, sayang. Kamu ibu-nya, Arlan pasti enggak akan bawa Jihan jauh dari kamu."


"Tapi, mas, kamu kan dengar sendiri tadi mas Arlan ngomong apa. Dia mau ambil Jihan dari aku, mas. Aku enggak akan rela kalau sampai itu terjadi!"


Revan merubah posisinya menghadap ke arah istrinya. Di belainya dengan lembut punggung istrinya, "Kamu udah maafin, Arlan?"


Hana terdiam untuk sesaat setelah mendengar pertanyaan suaminya. "Dari awal aku udah maafin dia, mas. Tapi setiap mengingat apa yang dulu dia lakukan padaku dan terutama pada anaknya, rasanya... luka yang dulu itu kembali berdarah, mas. Mengingat dulu dia dengan teganya meninggalkan anaknya tanpa memberikan nafkah sedikitpun... rasanya sangat tidak adil, mas. Dan sekarang dia datang dan ingin mengambil anak yang dulu dia telantarkan."


"Kamu tahu kan, mas, bagaimana aku dulu berjuang sendiri untuk membesarkan anak aku!" Suara Hana terdengar berat dan kini sudut matanya telah digenangi dengan bulir bening.


"Aku tahu, sayang! Aku tahu. Sudah, jangan sedih lagi. Jihan enggak akan dibawa pergi jauh sama ayahnya." Ucapnya berusaha menenangkan istrinya.


"Aku tahu yang kamu rasakan. Aku sangat paham. Tapi, berilah Arlan kesempatan untuk menebus semua dosa yang dulu dia lakukan dengan memberikan kasih sayang pada anaknya, sayang."


Hana seketika melonggarkan pelukannya mendengar ucapan suaminya. Ia mendongakkan kepalanya menatap dalam pada bola mata suaminya.


"Jadi maksud mas Revan, berikan kesempatan pada mas Arlan dengan cara memberikan Jihan padanya, begitu?" Tanyanya dengan kening yang berkerut. Ada rasa tidak rela mendengar ucapan suaminya.


"Kamu tega sama aku, mas!" Hana melepaskan pelukannya dan berniat ingin mengubah posisinya membelakangi suaminya.


Namun dengan sigap Revan menahan tangan istrinya agar tetap pada posisinya.

__ADS_1


"Bukan begitu, sayang! Dengarkan aku! Aku hanya ingin yang terbaik untuk semuanya. Berilah kesempatan pada Arlan untuk menebus waktu yang telah terbuang dengan memberikan kasih sayang pada Jihan. Jujur saja, mungkin ini karma atas apa yang dulu dia lakukan. Tapi, aku bisa melihat rasa bersalah dan penyesalan yang dalam saat menatap matanya, sayang. Aku bisa melihat dari matanya rasa bersalah itu. Kasihan dia. Berikan dia kesempatan."


"Aku takut jangan sampai Jihan dibawa kabur sama dia, mas."


"Aku yakin, Arlan enggak akan melakukan itu, sayang. Atau begini saja...kita cari jalan tengahnya!"


"Apa itu?"


"Begini saja, kita kasih izin pada Arlan untuk membawa Jihan setiap hari weekend saja. Setiap hari senin sampai jum'at, Jihan di sini dan setiap sabtu dan ahad, Jihan bisa ikut sama ayahnya. Bagaimana sama usulan aku, sayang?"


Hening untuk sesaat. Hana berusaha mencerna ucapan suaminya tadi dan berusaha menimbang atas usulan suaminya.


Setelah cukup lama menimbang akan ucapan suaminya, dengan pelan Hana menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas usulan suaminya tadi.


Kalau difikir-fikir, memang benar apa yang suaminya tadi katakan. Hana juga dapat melihat rasa penyesalan yang mendalam pada diri mantan suaminya. Namun karena ego yang besar, membuat Hana menyingkirkan segala rasa belas kasih pada mantan suaminya itu.


Setelah berbicara dengan suaminya tadi, perlahan ego yang dulu besar perlahan terkikis setelah mencerna dan menimbang akan ucapan suaminya. Mungkin ia harus mencoba untuk ikhlas dan memberikan kesempatan pada mantan suaminya itu. Biar bagaimanapun, Jihan tetaplah darah daging dari mantan suaminya. Walau bagaimanapun Hana berusaha untuk membatasi pertemuan anak dengan ayahnya, tetap saja, anaknya nanti akan tetap mencari ayah kandungnya.


Sekarang ia harus bersikap legowo dan memberikan kesempatan pada mantan suaminya. Walau bagaimanapun, darah tetaplah lebih kental daripada air.


Semoga dengan begini, mantan suaminya itu dapat mengambil pelajaran dari apa yang dulu telah dilakukan dan tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama, harapnya.


^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^


Mohon maap yak kakak" semua kalau selama sebulan lebih deh kayaknya aku enggak up. Pekerjaan yang numpuk dan juga ide untuk nulis yang stuck serta mood yang berubah-ubah membuat aku enggak up sampai sekarang.


Tapi walaupun begitu, setiap hari aku selalu dihantui rasa bersalah karena ngegantung ceritanya. Pengen banget nulis, tapi ya begitulah!😄


Semoga kakak enggak ada yang marah yak😉😚

__ADS_1


Salan damai from By_me


__ADS_2