
Sudah pukul 11 malam tapi Hana belum juga bisa memejamkan matanya. Dalam beberapa menit maka ia akan berpindah posisi. Posisinya tidur sungguh membuatnya tidak nyaman, namun ia juga tidak tahu karena apa. Walaupun begitu ia masih mencoba memejamkan matanya.
Suaminya masih setia di ruangan kerjanya. Banyak sekali kerjaannya yang harus ia selesaikan. Sebenarnya Hana ingin membantu dan menemani suaminya itu menyelesaikan kerjaannya, namun suaminya menolak dengan alasan wanita hamil jangan banyak gerak dan banyak fikiran nanti mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin. Alhasil, Hana pun kembali ke kamarnya karena tidak diberi izin oleh suaminya.
Ia juga lebih sering ke kamar mandi untuk buang air kecil selama masa kehamilan. Dokter sudah memberitahukan perubahan apa saja yang akan terjadi selama masa kehamilan trimester I, termasuk apa yang sedang ia alami sekarang.
Sampai pukul 12 malam ia masih belum bisa tidur. Hana pun tidur miring ke kiri membelakangi pintu kamarnya. Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. Ia sudah tahu bahwa itu adalah suaminya, namun ia masih memejamkan matanya.
Revan langung naik ke atas kasur dan bergabung dengan istrinya itu di dalam selimut. Di peluknya tubuh istrinya dari belakang. Tiba-tiba, Hana membalikkan badannya, "Kenapa mas lama sekali?"
"Kenapa belum tidur, sayang? Ini sudah jam 12 malam loh!"
"Hana enggak bisa tidur, mas."
"Kenapa enggak bisa tidur?"
"Enggak tahu!"
"Yasudah, sini sayang, aku peluk biar kamu tidur." Ucapnya menyelipkan tangannya ke bawah leher istrinya dan membawa istrinya ke dalam pelukannya. Hana pun menyandarkan kepalanya di dada suaminya dan tangannya ia lingkarkan di perut suaminya.
Di hirupnya aroma tubuh suaminya yang akhir-akhir ini membuatnya selalu ingin berada di dekatnya.
"Akhir bulan ini aku bakalan ke luar kota untuk mengecek perusahaan cabang di kota K."
Hana yang mendengarnya seketika mendongakkan kepalanya menatap manik mata suaminya. Revan pun balik menatap istrinya.
"Hana ikut!."
"Enggak boleh! Kehamilan kamu masih sangat muda, sayang. Kamu beluk bisa naik pesawat. Aku khawatir nanti kamu dan dedek bayi kenapa-napa!"
"Terus bagaimana kalau Hana tidak ikut, mas, aku kan sekertaris kamu. Yang bakalan bantuin kamu di sana siapa kalau enggak ada aku?"
"Aku sudah memikirkan ini seminggu yang lalu semenjak mengetahui tentang kehamilan kamu, mulai besok bakalan ada yang gantiin kamu sebagai sekertaris aku."
"Siapa?" Tanyanya penuh selidik. Jangan sampai sekertaris suaminya nanti adalah wanita yang cantik dan seksi. Karena setahunya kebanyakan direktur menggunakan sekertaris wanita sebagai sekertaris mereka.
__ADS_1
Revan terkekeh melihat respon istrinya. Ia sudah tahu kemana arah fikiran istrinya. Apakah istrinya itu sedang cemburu?! Ah, bahagianya kalau ada yang mencemburuinya. Itu berarti Hana sangat mencintainya, Gumamnya dalam hati penuh percaya diri.
Menjahili Hana sedikit mungkin akan seru! gumamnya dalam hati sambil senyum-senyum.
"Dia sekertaris baru yang aku rekrut. Dia seorang wanita dengan sepak terjangnya juga sangat bagus. Sahabatku langsung yang merekomendasikannya."
"Sahabat mas, siapa?" Tanyanya penuh selidik. Walau dalam cahaya kamar yang temaram, namun Revan dapat melihat kilatan cemburu di mata istrinya.
"Rafael!"
"What, Rafael! Rafael, kan terkenal dengan sikap playboy nya. Jangan sampai sekertaris yang ia rekrut itu adalah mantan sekertarisnya. Ini tidak bisa dibiarin!" Gumamnya dalam hati.
"Aku enggak mau kalau kamu pakai sekertaris rekondasi si Rafael itu!"
Revan tahu istrinya ini sudah marah, karena bicaranya sudah aku kamu. Biasanya istrinya ini akan marah kalau sudah seperti ini. Namun Revan masih mau menjahili istrinya ini.
"Emang kenapa sayang sama sekertaris rekomendasi sahabat aku? Dia kan sudah jelas bahwa berkompeten, jadi aku enggak usah mengajarinya lagi dari awal."
Hana berfikir sejenak. Benar juga yang dikatakan oleh suaminya itu, namun ia masih tidak terima kalau sekertaris suaminya itu adalah seorang wanita dan rekomendasi dari sahabat suaminya yang terkenal playboy.
"Tetap enggak bisa. Aku mau kamu cari sekertaris yang lain. Sekertarisnya harus laki-laki." Ucapnya dengan tegas."
Hana menatap manik mata suaminya sebentar, lalu setelah itu ia alihkan pandangannya ke arah lain.
"Jadi enggak bisa, diganti?"
Revan menjawab dengan gelengan kepala.
Mendapat jawaban dari suaminya membuatnya seketika melepaskan pelukannya dan berniat berbalik badan. Namun belum sempat ia berbalik, suaminya itu sudah tertawa keras dan kembali membawanya ke dalam pelukan.
Entah mengapa akhir-akhir ini ia merasa sangay sensitif. Mudah marah, kesal, tersinggung, ngambekan dan mudah menangis. Mungkin karena efek dari hormon kehamilannya sehingga membuatnya menjadi lebih mellow.
"Maafkan, masmu ini, sayang. Aku hanya bercanda!" Ucapnya terkekeh dan memeluk badan istrinya erat.
Hana yang merasa kesal sudah dikerjai oleh suaminya pun memukul dada suaminya namun tak membuat Revan kesakitan karena tenaga Hana yang memukul sangat pelan.
__ADS_1
"Seru kerjain Hana, mas, hmm?"
"Maaf, maaf, sayang." Ucapnya dan mencium kening istrinya berulang kali.
"Jangan marah, sayang. Ok, aku salah. Maaf, ya!"
"Dimaafkan."
"Gitu dong." Ucapnya sambil tersenyum
Revan pun memberi jarak sedikit dan memandangi wajah istrinya dan kembali memulai pembicarannya.
"Jadi, benar kalau sekertaris yang baru itu adalah rekomendasi dari sahabat aku, si Rafael. Dia dulu adalah teman sekolah aku sama Rafael sewaktu SMA. Yang salahnya itu di jenis kelaminnya, dia itu laki-laki, sayang."
"Aku sengaja nyari sekertaris laki-laki karena aku pengen nyari aman. Yang pertama, aku takut kamu cemburu kalau sekertarisnya itu perempuan. Yang kedua, aku akan merasa nyaman sama dia, karena sekertaris baru itu termasuk teman dekat aku sewaktu SMA. Yang ketiga, dia juga lelaki cerdas dan berkompeten, jadi akan sangat memudahkan pekerjaan aku nantinya."
"Maafkan, Hana!" Ujarnya merasa bersalah karena sempat marah pada suaminya tadi.
"Kamu enggak salah. Aku yang udah buat kamu marah." Ucapnya mencium bibir istrinya sekilas.
"Aku sudah memikirkan itu jauh-jauh hari, sayang. Jangan pernah perfikiran yang tidak-tidak sama aku. Dimanapun aku pergi, aku harap kamu jangan pernah berfikiran yang tidak-tidak sama suami kamu, sayang. Aku sudah janji dihadapan tuhan, jadi aku enggak akan mungkin menghianati janji suci pernikahan kita."
Hana menganggukkan kepalanya dan mendekati suaminya itu untuk dipeluk. Hana bukannya tidak percaya pada suaminya, namun trauma di masa lalu membuatnya sedikit berhati-hati.
"Maafkan Hana, mas." Ucapnya mengeratkan pelukannya.
Revan membalas pelukan istrinya tak kalah erat. Di belainya punggung istrinya pelan.
"Jangan minta maaf terus, sayang. Aku yang salah."
"Hana masih trauma, mas, dengan apa yang terjadi dahulu. Makanya Hana..."
Ucapan Hana terpotong karena Revan kembali berbicara.
"Sudah, sayang, aku paham. Kunci dari sebuah hubungan itu adalah sebuah kepercayaan. Aku tidak akan mungkin melakukan hal yang sama seperti lelaki itu." Ucapnya tak menyebutkan nama mantan suami dari istrinya, karena ia benci menyebutkan nama Arlan, "Aku sudah janji dihadapan Tuhan dan para malaikatnya dan aku akan mempertanggungjawabkannya kelak di akhirat kalau aku mengingkari janjiku sendiri."
__ADS_1
"Aku percaya sama, mas!"
"Harus, sayang!" Mereka pun mengutarakan perasaaan dengan saling memeluk malam itu. Dalam sebuah hubungan yang paling penting adalah kepercayaan dan komunikasi. Kalau kepercayaan sudah hilang dan kurang komunikasi untuk menyelesaikan masalah, maka akhirnya hubungan itu akan renggang dan berlarut-larut hingga berbuah perceraian. Walaupun tidak semua akan berakhir dengan perceraian, namun hubungan itu akan terasa hambar karena tidak menemukan pemecahan masalahnya.