
Hana bangun pagi-pagi sekali karena ia akan melakukan perjalanan bisnis ke luar kota bersama Revan. Jadwal penerbangan mereka nanti pada pukul 08.35 Wib. Ia telah selesai berpakaian dan menyeret kopernya keluar dari kamar.
Di ruang tamu sudah ada Revan yang duduk berbincang-bincang dengan Ibu Suri sembari menunggu Hana selesai. Hana menyeret kopernya sampai di ruang tamu.
" Bu, Hana pergi dulu yah. Hana titip Jihan. Kalau ada apa-apa atau ada keperluan mendesak segera hubungi Hana."
" Iya, nak. Kamu tenang saja. Fokus saja sama kerjaan kamu di sana. Jihan aman sama Ibu di sini."
"Terima kasih, Bu."
Ibu Suri pun menganggukkan kepalanya.
" Kalau sudah sampai di sana, segera hubungi Ibu, nak."
" Iya, Bu. Kalau begitu Hana pergi dulu. Assalamualaikum." Hana menyalami tangan Ibu Suri dan setelah itu ia memeluknya sebentar. Ibu Suri membalas pelukan Hana dan mengelus punggungnya pelan. Setelah pelukannya terlepas, giliran Revan yang pamit kepada Ibu Suri. Tak lupa Ibu Suri memberi sedikit wejangan kepada Revan agar sebisa mungkin menjaga jarak dengan Hana. Walaupun mereka nantinya akan menikah, namun sebisa mungkin agar mereka tidak terlalu sering berduaan. Takutnya mereka akan kebablasan, kata Ibu Suri. Revan yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
" Semoga tidak kebablasan, Bu. Kecuali kalau Hana yang meminta." Katanya dalam hati. Revan ingin tertawa karena fikiran bodohnya itu, segera Revan menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin juga Hana yang meminta. Selama ini kalau Revan menjahili Hana dengan menggodanya pasti Hana selalu menghindar dan mengancamnya.
Hana dan Revan berjalan keluar menuju mobil diantar oleh Ibu Suri. Hana dan Revan masuk ke dalam mobil. Hana menurunkan kaca mobil dan melambaikan tangannya kepada Ibu Suri. Revan segera menyalakan mobilnya dan berlalu dari sana.
Jihan tidak menyadari kepergian Bundanya, karena Hana dan Revan berangkat pagi-pagi sekali saat ia masih tertidur.
20 menit kemudian akhirnya mereka telah sampai di Bandara Soekarno Hatta. Tak menunggu waktu lama mereka telah masuk ke dalam karena mereka menaiki kelas bisnis untuk mempercepat perjalanan mereka.
50 menit kemudian mereka sampai di Bandung. Di luar bandara sudah ada anak buah Revan yang menunggu mereka di depan mobil. Revan dan Hana segera masuk ke dalam mobil dan mereka pun diantar menuju hotel tempat mereka akan menginap.
Saat sudah sampai di hotel berbintang lima di kota itu, mereka segera diantar ke kamar masing-masing. Rencananya pada pukul 2 siang mereka akan bertemu dengan klien mereka yang jaraknya cukup jauh dengan hotel tempat mereka menginap.
Hana menggunakan waktu itu untuk beristirahat sebentar sebelum bertemu dengan klien. Hana membaringkan badannya di atas kasur dan membuka ponselnya mengecek beberapa email yang masuk. Saat sudah membuka beberapa pesan masuk, Hana beralih membuka akun media sosialnya.
__ADS_1
Saat waktu menunjukkan pukul 11.30 siang, Hana segera bersiap-siap untuk mandi dan berpakaian rapi. 30 menit kemudian akhirnya ia telah selesai. Ia mengambil tas jinjing hitamnya dan berlalu dari sana. Hana sudah berada di depan kamar Revan, ia mengetuk pintu di depannya namun tak kunjung pintu itu terbuka. Hana mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menekan nomor ponsel Revan, namun lagi-lagi Revan tak mengangkat panggilannya. Hana pun mengirimi Revan pesan bahwa ia akan menunggunya di lobi.
Setelah mengiriminya pesan Hana segera berjalan menuju lift dan menekan angka 1. Hana menunggu Revan di lantai satu. Ia duduk di atas sofa dan menunggu Revan di sana.
10 menit kemudian Revan sudah berada di lantai satu, namun yang Hana lihat Revan sedang berbincang santai dengan seorang wanita berparas manis yang juga menggunakan hijab. Hana menajamkan matanya menatap lekat-lekat dua orang di depannya, entah apa yang mereka bicarakan namun mereka terlihat sangat dekat dan mereka juga tertawa lepas di depan sana.
Hana yang cemburu melihat kedekatan mereka dan juga sialnya wanita itu terlihat sangat anggun. Hana memalingkan pandangannya kearah lain, karena tak sanggup melihat kedekatan mereka berdua. Melihat hal itu membuat Hana terbakar cemburu.
Sekitar lima menit akhirnya Revan sudah berada di depannya. Hana mengacuhkan Revan dan masih fokus menatap kearah luar. Revan yang sudah berdiri di sana namun seakan tak terlihat oleh pandangan Hana.
" Hana, ayo, kita berangkat. Perjalanannya jauh jadi kita harus cepat!"
Hana menatap dengan kesal Revan, "Ck, kenapa enggak sekalian nanti saja jam dua baru berangkat. Tinggal aja terus ngobrol sama wanita tadi." Cibirnya dalam hati.
Hana menghentakkan kakinya dan berjalan meninggalkan Revan di sana. Revan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat sikap Hana tadi.
" Lagi datang bulan kali, yah?" Tanyanya dalam hati. Setelah itu Revan mengukuti Hana di belakangnya. Saat sudah sampai di depan mobil, segera Revan masuk dan memasang sabuk pengamannya. Hari ini Revan yang akan mengendarai sendiri kendaraannya menuju tempat pertemuan mereka.
Selama perjalanan diisi dengan keheningan. Hanya suara deru mesin yang terdengar. Hana tak mengeluarkan sepatah kata pun karena ia sibuk dengan fikirannya mengenai siapa kira-kira perempuan tadi.
Maafkan sikap Hana yang seperti ini, tetapi semua itu karena ia masih trauma dengan yang namanya penghianatan dan kebohongan. Hana tak ingin hal itu terjadi lagi di hubungan mereka. Hana cemburu dengan wanita berhijab tadi yang terlihat sangat anggun dan Revan juga terlihat sangat nyaman dengannya. Revan pernah mengatakan bahwa ia tak pernah dekat dengan wanita manapun, tapi mengapa yang Hana lihat tadi tak seperti itu.
Revan sesekali melirik kearah Hana. Ia jadi bertanya-tanya mengapa Hana mendiaminya seperti ini. Perasaan sebelum mereka berangkat Hana masih baik-baik saja, namun mengapa sekarang malah sebaliknya.
Mereka menempuh perjalanan selama satu setengah jam lamanya dengan ditemani keheningan. Revan sesekali bertanya namun hanya dijawab seadanya oleh Hana.
Mereka sampai di depan gedung perusahaan F&P Corp. Saat memasuki lobi mereka telah di tunggu oleh sekertaris dari klien Revan. Mereka di bawa menuju ruangan meeting yang ada di lantai 10. Saat sudah sampai di sana, mereka berjabat tangan dan memperkenalkan diri lalu memulai meeting mereka siang itu.
satu jam kemudian akhirnya rapat telah selesai. Mereka akan melanjutkan meeting mereka besok pada jam yang sama.
__ADS_1
Hana dan Revan keluar dari sana dan berjalan menuju mobil. Revan menyalakan mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan sedang.
Revan melihat jam yang melingkar di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 03. 15 Wib, namun mereka belum mengisi perut.
" Kita mampir makan dulu, yah. Udah laper banget nih!"
" Hm." Hanya dijawab deheman oleh Hana.
" Kamu mau makan apa?
" Terserah, Mas saja."
Revan pun menganggukkan kepalanya. Selama perjalanan sesekali Revan melihat ke kanan dan ke kiri warung makan yang cocok. Akhirnya Revan memarkirkan mobilnya di depan warung makan padang. Revan dan Hana bersama-sama berjalan memasuki warung makan dan memesan makanan mereka.
Tak lama kemudian akhirnya pesanan mereka pun sampai. Mereka lagi-lagi makan dengan hening, hanya suara dentingan sendok yang terdengar.
Setelah selesai makan mereka pun melanjutkan perjalanan menuju hotel.
Hari semakin gelap dan mereka masih berada di dalam mobil. Saat masuk waktu maghrib mereka singgah di mesjid untuk menunaikan ibadah sholat maghrib. Setelah selesai, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju hotel.
Tiba-tiba mobil yang mereka kendarai mesinnya mati. Revan berusaha menghidupkan mobilnya namun nihil, tidak bisa. Revan keluar dari mobil dan mengecek mesinnya di depan. Saat ia buka, asap mengepul dari dalam sana. Revan mencoba memegang salah satu kabel mesin namun ternyata sangat panas.
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Happy reading guysnya.
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak dan berikan votenya untuk mendukung author.
Jangan pelit-pelit, yak😊
__ADS_1
Salam story from By_me